Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras Kepala
Raffasya memarkirkan motornya di garasi rumah orang tuanya. Kemudian dia melangkah memasuki rumah yang hampir jarang dikunjungi oleh kedua orang tuanya semenjak Papa dan Mamanya itu berpisah. Selama ini dia bersama Nenek dari pihak Papanya yang tinggal di rumah itu. Karena sejak kedua orang tuanya berpisah, Neneknya lah yang mengurus Raffasya sejak dia berusia delapan tahun. Kedua orang tuanya yang sama-sama sibuk hampir tak mempunyai waktu untuk memperhatikannya apalagi sejak kedua orang tuanya itu bercerai.
" Mas Raffa ..." sapa Bi Neng saat melihat kehadiran Raffasya yang sedang menaiki anak tangga. " Tadi Bu Mutia nungguin Mas Raffa pulang."
" Nenek sudah tidur?" tanya Raffasya kembali turun mendekati Bi Neng.
" Sudah, Mas." sahut Bi Neng. " Tadi Om nya Mas Raffa datang kemari dan berbincang dengan Bu Mutia."
Raffasya kemudian berjalan ke arah kamar Ibu dari Papanya itu. Dia membuka pintu kamar Neneknya yang tidak terkunci kemudian melangkah memasuki ruangan kamar Neneknya.
Raffasya menatap wanita yang sudah berusia tujuh puluh dua tahun yang sedang terlelap. Dia lalu mendekat dan duduk di tepi tempat tidur neneknya. Raffasya kemudian mencium wajah berkulit keriput itu hingga membuat Neneknya itu terbangun.
" Raffa, cucu Nenek sudah pulang?" Walau sudah berusia kepala tujuh namun penglihatan Neneknya itu masih bisa melihat apa yang ada di hadapannya.
" Raffa ganggu Nenek tidur, ya? Sebaiknya Nenek tidur lagi saja." Raffasya meminta agar Neneknya itu kembali tertidur.
" Kamu dari mana jam segini baru pulang, Raffa?" Nenek Mutia menoleh jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
" Raffa habis dari cafe, Nek." jawab Raffasya jujur.
" Tadi Om kamu kemari. Kamu bikin masalah apa lagi, Raffa?" Nenek Mutia menampakan wajah sedih saat mengucapkan kalimat tadi.
Raffasya menghela nafas panjang. Dia menyesali sikap Om nya yang mengadukan ulahnya kepada Nenek Mutia. Bukan karena takut dimarahi tapi dia tidak ingin Neneknya itu ikut memikirkan setiap ulahnya yang kemungkinan akan mempengaruhi kesehatan Nenek Mutia.
" Om kamu bilang, kamu membuat masalah lagi dengan anaknya kakak ipar Om kamu. Raffa, jangan selalu berbuat masalah dengan orang lain, apalagi dengan perempuan. Dari dulu kalau Nenek ingat-ingat kamu selalu mengganggu keponakan Tante kamu itu. Apa kamu sebenarnya suka sama dia? Jadi kamu selalu mengganggunya." Nenek Mutia menerka-nerka.
" Hahh? Nggak mungkin Raffa suka sama cewek bar-bar seperti dia, Nek! Amit-amit, deh! Bakalan kiamat kalau sampai Raffa suka sama dia," tepis Raffasya cepat menampik apa yang diduga Neneknya.
" Jangan suka bicara seperti itu, Raffa! Tidak baik. " tegur Nenek Mutia.
" Tapi Raffa memang nggak suka sama dia, Nek!" tegas Raffasya mencoba meyakinkan agar Neneknya percaya. " Raffa justru suka sama sepupu dia. Orangnya cantik, kalem, tutur katanya sopan dan berhijab. Benar-benar sosok wanita idaman, Nek." Raffasya menggambarkan sosok Rayya kepada Neneknya.
Tangan keriput Nenek Mutia mengusap wajah berahang tegas milik cucunya.
" Kamu benar-benar jatuh cinta sama wanita itu, Raffa. Nenek bisa merasakan dari kata-kata kamu dan aura wajah kamu saat menceritakan wanita itu. Siapa dia, Raffa? Siapa namanya?"
" Rayya, Nek. Rayya Faranisa Richard. Raffa memang sudah sejak lama menganggumi dia, Nek." Senyuman terkulum di bibir Raffasya.
" Bawalah kemari, Raffa. Nenek ingin mengenal wanita yang kamu sukai itu." Nenek Mutia nampak bersemangat.
" Raffa masih belum bisa dekati dia, Nek. Daddy terlalu posesif, belum lagi si nenek sihir itu yang selalu menghalangi Raffa kalau Raffa coba dekati dia," keluh Raffasya.
" Nenek sihir? Neneknya siapa, Raffa?" Nenek Mutia gagal memahami maksud dari ucapan Raffasya.
Raffasya terkekeh menanggapi pertanyaan Nenek Mutia.
" Nenek sihir itu keponakan istrinya Om Radit, Nek."
" Ya ampun, Raffa. Keponakan istri dari Om kamu itu pasti masih muda kenapa dipanggil nenek sihir?"
" Ya karena dia itu kayak seperti nenek sihir, Nek." Raffa kemudian bangkit merapihkan kembali bantal untuk Neneknya. " Sudah malam, sebaiknya Nenek istirahat lagi. Orang tua usia lanjut tidak baik tidur larut malam." Raffasya terkekeh meledek Nenek Mutia. Dia lalu membantu Neneknya merebahkan tubuhnya kembali. " Selamat malam, Nek." Raffasya mengecup kening Nenek Mutia kemudian dia berjalan menuju arah pintu kamar.
" Raffa ...."
Raffasya menghentikan langkahnya kemudian menolehkan wajahnya ke arah Nenek Mutia.
" Kamu berdoa, minta sama Allah SWT agar apa yang kamu harapkan bisa terkabul. Termasuk wanita yang kamu sukai itu." Nenek Mutia menasehati dan memberikan sarannya.
Raffasya hanya menanggapi nasehat Neneknya dengan sebuah senyuman lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar kamar Nenek Mutia.
Sesampainya di kamar, Raffasya lalu mengecek ponselnya. Sejak sore dia memang melihat Om nya itu beberapa kali menghubungi via telepon dan juga mengirimnya pesan.
Raffasya lalu membuka isi pesan dari Om Raditya.
" Raffa, kamu di mana? Om mau bicara sama kamu."
" Hubungi Om kalau kamu sudah membaca pesan Om."
" Raffa, Om tadi ke rumah sampai jam sembilan tapi kamu belum juga pulang"
" Om mau bicara masalah kamu soal Azkia."
" Dasar tukang mengadu!" umpat Raffasya.
Raffasya mendengus kesal lalu melempar ponselnya ke atas springbed. Sebelumnya dia sempat membalas pesan Om nya tersebut terlebih dahulu dengan kata-kata.
" Om, tolong jangan pernah cerita masalah apapun tentang Raffa di depan Nenek. Nenek bukan Oma Lastri yang cerewet. Raffa nggak ingin kesehatan Nenek terganggu karena Om mengadukan semua hal yang Raffa perbuat."
***
Acara resepsi khitanan Zyan, anak bungsu Amara dan Raditya diadakan di hotel milik Dad David. Beruntungnya Natasha dan Amara mempunyai saudara sepupu Gavin yang mempunyai ayah pemilik hotel berbintang hingga mereka tidak kesulitan mencari tempat jika mengadakan acara-acara resepsi seperti sekarang ini.
" Mas ..." Natasha menunjuk Raffasya yang terlihat sedang duduk di kursi dekat balkon sisi kiri ballroom.
" Biar aku saja yang bicara dengan Raffa. Kamu di sini saja mengawasi anak-anak," ujar Yoga meminta istrinya tidak turun tangan menghadapi Raffasya.
" Tapi aku kesal sama dia, Mas. Rasanya ingin aku sumpal mulutnya yang suka nyinyirin Kia."
" Sudah biar aku saja, Yank." Yoga mengusap punggung Natasha kemudian melangkah menuju arah balkon guna menemui Raffasya.
" Raffa ..." Yoga menyapa Raffasya yang terlihat sibuk dengan ponselnya dan tidak menyadari kehadiran di balkon itu.
Raffasya menoleh ke arah suara Yoga lalu kembali memusatkan perhatian pada ponselnya.
" Apa kabar kamu, Raffa?" Yoga yang menyadari dirinya diacuhkan Raffasya memcoba berbasa-basi.
" Baik." Singkat kata yang diucapkan Raffasya.
" Nenek kamu bagaimana? Sehat?" Yoga kemudian duduk di kursi yang ada di seberang Raffasya.
" To the point saja, ada apa Om temui saya? Kalau Om ingin saya minta maaf sama anak Om, sorry, Om. Saya nggak akan lakukan itu!" tegas Raffasya.
Yoga menarik nafasnya perlahan, sejauh ini terutama sejak dia menjadi seorang dosen, berbagai macam karakter mahasiswa yang sudah dia temui namun tidak pernah ada yang sekeras pemuda di hadapannya ini. Semua mahasiswa di tempat dia mengajar selalu bersikap santun dan respect terhadapnya. Tak sekalipun ada yang berani menentangnya dan berkata dengan nada sinis seperti yang Raffasya lakukan sekarang ini terhadapnya.
" Om nggak tahu apa sebenarnya masalah kamu dengan Azkia sampai kalian selalu saja terlibat konflik. Om tidak membenarkan sikap kasar Kia terhadap kamu, tapi Om sangat mengenal putri Om itu. Kia tidak akan bersikap atau berkata kasar kalau tidak ada yang hal yang mengusiknya."
" Kamu itu laki-laki, Raffa. Pantang untuk seorang laki-laki sejati berdebat dengan seorang wanita apalagi menggunakan kalimat yang tidak pantas diucapkan." Yoga seketika teringat akan masa lalunya. Saat awal-awal dia bertemu istrinya yang akhirnya membuahkan sebuah tamparan dari Natasha karena dia berkata yang mempermalukan Natasha hingga membuat wanita itu meradang. Yoga menyadari kesalahan dia saat itu.
Raffasya lalu berdiri dan berkata, " Saya bukan mahasiswa Om, jadi Om nggak usah repot-repot menasehati saya." Raffasya pun langsung melangkah menjauh meninggalkan Yoga yang hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi sikap keras kepala Raffasya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️