NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Audit Hutan Hujan

Perjalanan dari kemewahan Geneva ke kelembapan mencekam di Mana hus, Brasil, ditempuh Arum dan Baskara dalam penyamaran sebagai tim peneliti biodiversitas dari sebuah yayasan nirlaba. Namun, di balik tas kamera dan tabung sampel tanah mereka, tersimpan perangkat E-DNA Square encer dan pemindai LiDAR jarak jauh yang telah dimodifikasi.

"Tujuannya adalah Bendungan Rio Negro 2," Arum berbisik saat perahu motor mereka membelah sungai yang berwarna gelap seperti kopi. "Secara resmi, bendungan ini menyuplai listrik untuk tiga negara bagian. Tapi audit energi jarak jauhku menunjukkan ada kehilangan daya (power leak age) sebesar 40% yang tidak tercatat dalam laporan transmisi nasional."

Arum menyadari bahwa pencurian energi ini bukan dilakukan dengan kabel manual, melainkan melalui Induksi Nirkabel skala besar yang menyuplai pusat data bawah tanah di bawah struktur bendungan.

"Mas, pasang sensor akustik ini di akar-akar pohon bakau sepanjang pinggiran bendungan," perintah Arum. "Server raksasa membutuhkan sistem pendingin. Jika mereka menggunakan air sungai, akan ada getaran frekuensi rendah yang dihasilkan oleh pompa sirkulasi air panas mereka."

Saat malam tiba, Arum mengaktifkan pemindai termal. Di layar tabletnya, hutan Amazon yang seharusnya dingin di malam hari menunjukkan bercak-bercak oranye yang mengikuti jalur pipa bawah tanah. Ini adalah Audit Termodinamika metode di mana Arum membuktikan kejahatan bukan melalui kwitansi, melainkan melalui hukum fisika yang tidak bisa disuap.

"Dapat!" Arum mengepalkan tangan. "Pompa pendingin mereka bekerja di frekuensi 60 Hz. Itu terlalu stabil untuk sebuah proyek pembangkit listrik yang diklaim sedang mengalami gangguan teknis."

Tiba-tiba, sonar di perahu mereka mendeteksi pergerakan di bawah air. Bukan ikan piranha atau lumba-lumba sungai, melainkan ROV (Remotely Operator Vehicle) bersenjata milik The Global Ledger.

"Mereka sudah tahu kita di sini, Rum!" Baskara segera memutar kemudi perahu saat sebuah tembakan gelombang kejut air (water-pulse) menghantam lambung perahu mereka.

"Mas, arahkan ke wilayah yang banyak akar pohon! Aku butuh perlindungan alami untuk mengalihkan sinyal kontrol mereka!" Arum berteriak sambil meluncurkan drone kecil miliknya, The Dragonfly, yang dirancang khusus untuk peperangan elektronik di bawah kanopi hutan yang rapat.

Arum melakukan Audit Spektrum. Ia melacak frekuensi yang digunakan untuk mengendalikan ROV tersebut dan menemukan bahwa sinyalnya dipancarkan dari menara komunikasi "palsu" yang disamarkan sebagai pohon buatan di atas bendungan.

"Aku tidak akan menyerang robot mereka," Arum tersenyum cerdik di tengah desingan tembakan. "Aku akan melakukan Audit Otoritas. Aku akan mengirimkan sinyal 'shut down' darurat dengan meniru identitas protokol keamanan pusat mereka yang kudapat dari Geneva kemarin."

Arum mengirimkan paket data over ride. Dalam hitungan detik, ROV yang mengejar mereka mendadak berhenti dan tenggelam ke dasar sungai. Menara komunikasi palsu di atas bendungan mulai mengeluarkan asap setelah Arum memicu overload pada sistem transmisinya.

"Sekarang, selagi sistem mereka reboot, kita masuk ke pintu masuk ventilasi udara di sektor C," Arum menunjuk ke arah tebing beton bendungan yang tersembunyi di balik air terjun.

Di sana, Arum menemukan apa yang selama ini menjadi misteri "Aset No. 05" yang lebih besar. Di dalam ruang bawah tanah yang dingin, berderet ribuan rak server yang sedang memproses Smart Contract untuk perdagangan karbon global yang palsu.

"Mereka mencuri oksigen dari hutan ini, mengubahnya menjadi 'Kredit Karbon' fiktif, dan menjualnya kembali ke perusahaan-perusahaan di Eropa," Arum menggeleng ngeri. "Ini adalah Audit Kematian Hijau. Mereka menguangkan kehancuran alam sambil berpura-pura menyelamatkannya."

Arum segera menghubungkan laptopnya ke backbone server mereka. Ia tidak menghapus data. Ia justru melakukan Audit Injeksi. Ia memasukkan koordinat satelit asli yang menunjukkan penggundulan hutan secara real-time ke dalam setiap sertifikat karbon yang mereka terbitkan.

"Besok pagi, setiap pembeli kredit karbon ini di London dan New York akan melihat foto hutan yang gundul di sertifikat mereka, bukan foto hutan hijau yang palsu," ujar Arum. "Pasar mereka akan hancur dalam satu detik."

Namun, suara langkah sepatu berat mulai terdengar di koridor beton. Pintu kedap suara di belakang mereka terkunci. Di layar utama ruang server, wajah Julian pria dari Geneva muncul kembali.

"Luar biasa, Arum. Kau baru saja menghancurkan pasar karbon senilai 500 miliar dolar. Tapi tahukah kau siapa pembeli terbesar kredit palsu ini? Pemerintah-pemerintah yang kau pikir ingin kau bantu. Kau tidak hanya menghancurkan penjahat, kau sedang menghancurkan sistem kepercayaan global."

Arum menatap kamera dengan berani. "Jika sistem kepercayaan itu dibangun di atas kebohongan, maka ia memang harus hancur, Julian. Audit tidak mengenal kompromi, bahkan untuk stabilitas dunia."

Lampu-lampu merah di ruang server bawah tanah mulai berkedip liar, memantul pada deretan rak server yang menderu kencang. Julian, melalui layar besar, menatap Arum dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara kekaguman dan vonis mati.

"Kau terlalu terpaku pada angka di layar, Arum," suara Julian menggema di ruang beton itu. "Kau lupa bahwa di dunia nyata, gravitasi dan air lebih berkuasa daripada algoritma."

Seketika, suara gemuruh terdengar dari balik dinding. Arum merasakan getaran hebat di bawah kakinya. Julian tidak mengirim pasukan; ia mengaktifkan protokol penghancuran diri dengan membuka pintu air darurat (spil way) yang diarahkan langsung ke ruang turbin bawah tanah.

"Dia mau menenggelamkan bukti ini bersama kita, Rum!" Baskara menarik tangan Arum, namun Arum justru berjongkok di depan terminal utama.

"Baskara, cari katup manual di sektor navigasi udara! Aku butuh waktu tiga menit untuk melakukan Audit Integritas Data!" Arum berteriak di tengah suara air yang mulai merembes masuk dari sela-sela kabel.

Arum menyadari bahwa jika ia pergi sekarang, Julian akan mengklaim ini sebagai "kecelakaan teknis" dan mendapatkan klaim asuransi triliunan dolar, sementara data penipuan karbonnya akan hilang selamanya. Arum harus memastikan data tersebut terkirim ke Global Public Ledger sebuah sistem arsip digital yang tidak bisa dihapus bahkan oleh banjir sekalipun.

"Sedang mengunggah... 60%... 70%..."

Air setinggi mata kaki mulai terasa dingin dan berminyak, bercampur dengan cairan pendingin server. Arum menggunakan laptopnya untuk meretas sistem penutup darurat (bulkhead) di lorong keluar.

"Dapat! Mas, pintunya terbuka!"

Mereka berlari menembus lorong yang kini berubah menjadi sungai jeram. Arum memegang tas kedap airnya erat-erat. Di belakang mereka, ledakan arus pendek mulai memicu percikan api yang menyambar gas hidrogen dari ruang baterai.

Tepat sebelum air memenuhi seluruh lorong, Arum dan Baskara berhasil memanjat tangga monyet menuju ventilasi udara di puncak tebing bendungan. Mereka muncul ke permukaan, terengah-engah di tengah lebatnya hujan hutan tropis, menyaksikan bagian bawah bendungan Rio Negro II mengeluarkan busa putih raksasa akibat tekanan air yang tak terkendali.

Arum membuka tablet kecil di lengannya. Sebuah notifikasi hijau muncul: "BROADCAST COMPLETE. CLOUD Replikasi ACTIVE."

"Kita melakukannya, Mas," Arum menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. "Julian boleh menenggelamkan servernya, tapi dunia sudah melihat 'sidik jari' karbon mereka."

Namun, di tengah kegelapan hutan, Arum melihat sesuatu yang membuatnya merinding. Di layar monitornya, muncul sebuah koordinat baru yang dikirim secara otomatis oleh server Julian tepat sebelum hancur. Koordinat itu tidak merujuk ke lokasi fisik di bumi, melainkan ke sebuah satelit komunikasi yang mengorbit tepat di atas Indonesia.

"Mas... ini belum selesai. Julian bukan pemilik The Global Ledger," bisik Arum. "Dia hanya salah satu administrator. Otak sebenarnya dari sistem ini... ada di luar angkasa. Mereka menggunakan satelit sebagai bank data yang tidak bisa disentuh oleh hukum negara mana pun."

Arum menatap langit malam yang tertutup awan mendung. Ia menyadari bahwa auditnya kini harus melampaui batas atmosfer. Musuhnya tidak lagi berpijak di tanah, melainkan melayang di hampa udara, mengawasi setiap transaksi dunia dari ketinggian.

1
Ris Tanti
seperti sebuah kisah nyata..
Wanita Aries
keren thor
Wanita Aries
seruu dan menegangkan
Wanita Aries
keren thorr
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!