NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 022 : Ikatan Ghaib Di Benua Seberang

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela kamar rawat nomor 212 tampak berkilauan, menyinari butiran debu yang menari di udara Roma.

Di dalam ruangan, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan horor semalam, namun udara di dalamnya tetap terasa berat oleh bau antiseptik yang tajam.

Adio, dengan mata yang masih nampak lelah namun penuh ketelatenan, sedang memegang semangkuk bubur hangat. Ia menyendoknya perlahan, lalu menyodorkannya ke arah Rachel.

​"Sedikit lagi, Chel. Kamu butuh energi. Tubuhmu dipaksa menanggung beban luar biasa semalam, itu bukan hal sepele bagi metabolisme manusia," bujuk Adio lembut.

​Rachel membuka mulutnya, menerima suapan itu dengan patuh. Ia duduk bersandar pada tumpukan bantal.

Wajahnya masih pucat, namun ketenangan yang ia tunjukkan seolah menutupi badai yang baru saja ia lalui.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki ramai terdengar dari koridor. Pintu kayu kamar itu terbuka perlahan, menampakkan seluruh anggota Gautama Family.

Marsya berada di barisan paling depan, matanya merah dan sembab. Di belakangnya, Cak Dika, Mbak Rara, Bella, Peterson, dan dua kameramen setia mereka mengekor dengan raut wajah yang campur aduk antara lega dan cemas.

Mereka baru saja tiba setelah semalaman berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait insiden di gereja tua.

​"Mbak... Mbak Rachel..." Marsya menghambur ke sisi ranjang, suaranya bergetar hebat karena rasa bersalah yang membukit.

"Mbak nggak apa-apa? Katakan pada Marsya, Mbak nggak apa-apa, kan?"

​Rachel menoleh, memberikan senyuman tipis yang paling menenangkan yang ia punya.

"Gak apa, santai aja! Aku masih nafas, kan? Berarti gak apa!" jawab Rachel tenang.

​"Tapi Mbak semalam... Mbak muntah darah banyak sekali," Marsya terisak, tak mampu melanjutkan kalimatnya.

​Adio menghentikan aktivitasnya menyuapi Rachel. Ia meletakkan mangkuk bubur di atas nakas, lalu berdiri dengan tegak.

Wajahnya berubah serius, seolah sedang menyiapkan mental untuk sesuatu yang berat. Ia menatap rekan-rekannya satu per satu dengan sorot mata dokter yang harus menyampaikan vonis pahit.

​"Selain Marsya, bisa nggak kalian ikut aku sebentar ke luar? Ada yang perlu aku bicarakan," ujar Adio, suaranya terdengar sangat berat.

​Cak Dika dan yang lainnya saling pandang. Raut kebingungan dan firasat buruk mendadak menyeruak di dada mereka.

Namun, saat Adio hendak melangkah menuju pintu, pergelangan tangannya ditahan oleh jari-jari pucat Rachel.

Rachel menggeleng pelan sambil tetap mempertahankan senyum tipisnya. Ia tidak ingin Adio memikul beban untuk menyampaikan berita buruk itu sendirian di luar sana.

​Rachel menoleh ke arah keluarganya, menatap satu per satu wajah-wajah yang sangat ia sayangi itu.

​"Cak, Mbak Rara, Bella, Peterson, Marsya... maaf," suara Rachel terdengar jernih, menghentikan seluruh gerakan di ruangan itu.

"Aku lumpuh."

​Hening seketika.

​Kalimat itu seolah merobek udara. Marsya membeku di tempatnya, tangannya yang tadi memegang selimut Rachel mendadak lemas.

Cak Dika yang biasanya tegar, kini tampak terguncang hebat; matanya membelalak tak percaya menatap kaki Rachel yang tak bergerak sama sekali di bawah selimut putih itu. Konsekuensi atas tindakan nekat Rachel semalam ternyata sebesar ini.

​"Chel... jangan bercanda. Ini bukan waktunya untuk humor gelap," bisik Mbak Rara dengan suara yang hampir hilang.

"Kita bisa cari dokter terbaik, kita bisa..."

​"Nggak perlu, Mbak," potong Rachel dengan nada yang sangat tenang.

"Ini bayaran yang aku pilih. Saraf tulang belakangku hangus karena aku memaksakan kapasitas yang nggak sanggup ditanggung raga manusia. Itu keputusanku, dan aku sudah ikhlas."

​Marsya menjerit kecil, ia jatuh berlutut di samping ranjang Rachel, menyembunyikan wajahnya di tangan kakaknya.

"Maafin Marsya, Mbak! Ini salahku! Harusnya aku yang mati saja semalam, jangan Mbak yang begini! Kenapa Mbak harus berkorban sampai seperti ini!"

​Melihat Marsya yang histeris dan anggota timnya yang mulai berkaca-kaca, Rachel justru terkekeh pelan. Ia sengaja melontarkan tawa untuk memecah suasana yang terlalu dramatis itu.

​"Aduh, aduh... tolong ya, ini rumah sakit, bukan lokasi syuting sinetron," celetuk Rachel sambil menjitak pelan kening Marsya.

"Bisa nggak jangan pada nangis gitu? Jelek tahu! Lagian aku cuma nggak bisa jalan, bukan mati. Kenapa mukanya kayak lagi melayat semua sih? Aku nggak mau ditangisi seperti ini, aku sudah ikhlas!"

​"Rachel, tapi ini serius..." Peterson mencoba bicara, namun suaranya tercekat.

​"Peterson, lihat aku," Rachel menatapnya tajam namun tetap santai.

"Aku masih punya mulut buat kasih perintah, masih punya tangan buat ngetik, dan masih punya otak buat mikir strategi. Kalian keberatan kalau pemimpin kalian ini duduk terus? Enak tahu, nggak bakal capek kalau kita eksplorasi lokasi angker nanti. Aku tinggal duduk manis, kalian yang gotong. Keren, kan?"

​"Chel, kamu beneran... nggak sedih?" tanya Bella ragu, mengusap air matanya.

​"Sedih buat apa? Marsya selamat, kalian selamat. Itu sudah lebih dari cukup," Rachel menaikkan alisnya ke arah Adio.

"Lagian, aku sudah punya asisten pribadi yang siap sedia jadi kaki aku. Ya kan, Pak Dokter?"

​Adio yang tadinya tegang kini terpaksa tersenyum tipis, meski hatinya masih perih. Ia mengangguk pelan.

"Iya, aku yang tanggung jawab."

​Cak Dika menghela napas panjang, mencoba menelan pahitnya kenyataan.

"Kau adalah pemilik otoritas tertinggi yang paling keras kepala yang pernah kukenal, Chel. Fisikmu mungkin terbatas sekarang, tapi jangan pernah berpikir kau akan sendirian. Kami adalah kakimu. Kami adalah tumpuanmu."

​"Nah, gitu dong! Bagus! Jadi, kapan kalian belikan aku kursi roda yang paling mahal? Yang ada mesinnya ya, biar aku bisa balapan sama Peterson di bandara nanti!" seloroh Rachel lagi.

​Tawa kecil akhirnya pecah di antara isak tangis yang mulai mereda. Meski mereka tahu konsekuensi ini sangat berat, ketegaran Rachel memaksa mereka untuk tetap berdiri kuat.

​Sementara itu, ribuan kilometer dari Roma, suasana tenang menyelimuti kediaman Aldo dan Laras.

Angin sore berembus pelan, menggoyahkan tirai tipis di ruang tengah tempat pasangan itu sedang menemani putra mereka yang sedang aktif-aktifnya.

​Arka Kumitir Gautama. Balita laki-laki yang kini telah menginjak usia dua tahun itu sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan di atas karpet. Arka tumbuh menjadi anak yang tampan dengan sorot mata yang tajam, sangat mirip dengan ayahnya.

​Laras, yang dunianya diselimuti kegelapan karena kebutaannya, duduk bersimpuh sambil tersenyum mendengarkan suara tawa Arka dan gesekan roda mainan di lantai. Aldo berada di sampingnya, sesekali membantu Arka menyusun balok-balok kayu yang berantakan.

​Tiba-tiba, Arka berhenti bermain. Mobil-mobilan di tangannya terlepas begitu saja. Balita itu berdiri tegak, matanya yang jernih menatap lurus ke arah jendela yang terbuka, seolah-olah ia melihat seseorang sedang berdiri di sana, menyeberangi samudera dan benua.

​Mulut kecil Arka terbuka, dan sebuah nama keluar dengan nada yang sangat jelas, dalam, dan penuh kerinduan—suara yang seketika membekukan suasana di ruangan itu.

​"Rachel..."

​Aldo tersentak. Ia menghentikan gerakannya dan menatap putranya dengan mata membelalak. Arka tidak pernah menyebut nama itu sebelumnya secara tiba-tiba seperti ini.

​"Rachel..." ucap Arka lagi, kali ini dengan artikulasi yang jauh lebih mantap, seolah ia sedang menyapa seseorang yang ada di depan matanya.

​"Rachel!" Untuk ketiga kalinya, bocah dua tahun itu menyerukan nama sang bibi, sang pemegang titah Nyai Ratu, dengan nada yang hampir menyerupai sebuah panggilan darurat.

​Laras tertegun. Kepalanya menoleh cepat ke arah suara Arka, wajahnya menunjukkan ekspresi luar biasa terkejut.

"Mas... Mas Aldo? Aku nggak salah dengar, kan? Barusan anak kita manggil nama Rachel?"

​Aldo masih mematung, jantungnya berdegup kencang. Ia mengusap wajahnya, mencoba mencerna fenomena yang baru saja terjadi.

​"Kamu nggak salah dengar, Sayang!" ujar Aldo dengan suara bergetar karena bingung.

"Dia manggil Rachel... tiga kali. Jelas banget, seolah Rachel ada di sini."

​Laras meraba udara, mencari tangan Aldo dan menggenggamnya erat.

"Tapi, dari mana dia tahu nama itu? Rachel sama Arka, kan belum pernah ketemu lagi sejak Arka masih bayi! Kita bahkan belum sempat bercerita banyak tentang Rachel belakangan ini. Kenapa tiba-tiba dia menyebut namanya dengan cara seperti itu?"

​Aldo menggelengkan kepala. Pikirannya melayang pada hubungan batin yang kuat di dalam keluarga Gautama.

"Aku nggak tahu, sayang," bisik Aldo pelan.

"Mungkin... ini ikatan darah. Rasanya dadaku mendadak sesak." jelas Laras.

​Setelah meneriakkan nama itu, Arka tampak lunglai. Ia mendadak menguap lebar, matanya terlihat sangat lelah seolah ia baru saja menggunakan seluruh energinya untuk melakukan kontak batin yang berat.

Tubuh mungilnya perlahan merosot ke pangkuan Aldo, dan dalam hitungan detik, Arka sudah jatuh tertidur pulas karena kelelahan bermain.

​Aldo menatap putranya yang terlelap dengan perasaan was-was. Ia menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di meja, menunggu sebuah kabar yang ia harap tidak pernah ia dengar.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dio dapat lampu hijau tuh, gass lah😉
Lexy¹⁰⁵
meskipun di roma, hal serem tetap ada
Lexy¹⁰⁵
merinding disko bacanya
Dony ¹⁰4
lanjut thor, semangat buatmu
Dony ¹⁰4
sukak banget sama jalan ceritanya
Rafi¹⁰³
crazy up thor
Rafi¹⁰³
bagus banget
Memet¹0²
tawaran yg keren
Memet¹0²
"Dari season 1-Season 2. Gautama Family tetap gak hilang sisi horornya. Diksinya beneran diolah dengan baik. Minim typo, yang baca jadi enak."
Rizky¹⁰¹
crazy up thor
Rizky¹⁰¹
"Dari season 1-Season 2. Gautama Family tetap gak hilang sisi horornya. Diksinya beneran diolah dengan baik. Minim typo, yang baca jadi enak."
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Emang sih sambal terasi paling ngangenin diantara sambal² yg lain nya🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Nggak lah, makasih. Aku baca ini aja udah mual/Proud/
Arini
ini horornya serem tapi penasaran
Arini
lanjut ya thor
Alya
yg suka horor, ini rekomend banget buat kalian
Alya
tulisannya bagus. setiap kata seperti bermakna
Rina
untung ada aido
Rina
novelnya bagus no typo
ranty
horornya seperti fakta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!