Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ardan masih berdiri di tempat yang sama beberapa saat setelah anak itu menghilang di ujung jalan. Suara desa kembali berjalan seperti biasa, sepeda lewat, ayam berkokok, angin menyapu dedaunan, tapi kepalanya tertinggal di satu titik.
Arbani. Nama itu berputar di kepalanya, anehnya terasa asing dan akrab sekaligus.
“Mustahil,” gumamnya pelan.
Ia menarik napas panjang, mencoba menata diri. Ia datang ke Desa Bunga untuk urusan lahan, untuk rencana vila yang sudah disiapkan berbulan-bulan. Bukan untuk bernostalgia. Bukan untuk mencari bayangan masa lalu.
Tapi langkah kakinya tetap berat saat melanjutkan jalan. Anak itu terlalu sopan, tenang dan mirip dengannya.
"Ini tidak mungkin besok aku harus tunggu bocah itu di sini lagi," gumamnya seolah tidak ingin melewatkan langkahnya.
☘️☘️☘️☘️
Sore itu, matahari belum sepenuhnya turun ketika Albi keluar kamar. Wajahnya sudah tidak sepucat pagi tadi, tapi langkahnya masih hati-hati, seperti orang yang sedang berdamai dengan tubuhnya sendiri.
Ia berhenti di ruang tengah.
Meja sudah rapi. Obatnya ada di tempat biasa. Tapi ada satu benda lain di sana. Segelas air hangat. Dan selembar kertas kecil, tulisan tangan yang agak miring.
Pak, nek ngombe obat ojo kesusu. Lungguhi sek.
Aku wis rampung PR.
Bani
(Jika minum obat jangan terburu-buru. Duduk dulu. Aku sudah selesai PR.)
Albi menelan ludah.
Ia duduk pelan, memegang kertas itu lebih lama dari yang perlu. Lalu ia mendengar suara langkah kecil dari dapur.
Arbani muncul sambil membawa kipas tangan dari anyaman bambu.
“Pak wes tangi?”
(Ayah sudah bangun?)
“Wis,” jawab Albi. “Kowe ngopo nggawa kipas?”
Arbani mendekat. “Wingi nek Pak pusing, keringetan. Iki ben adem.”
(Kemarin kalau Bapak pusing, keringatan. Ini biar adem.)
Ia mengipas pelan. Tidak terlalu dekat. Tidak berisik. Gerakannya hati-hati, seolah takut mengganggu.
Albi menutup mata sebentar.
“Le…” suaranya serak. “Kowe kuwi bocah, ora kudu mikir nganti ngene.”
(Kamu itu anak-anak, tidak harus mikir sejauh ini.)
Arbani berhenti mengipas. “Pak,” katanya pelan tapi mantap. “Nek aku isih bocah, aku ora ngerti lara. Tapi aku ngerti Pak kerep nyimpen rasa loro dewekan.”
(Jika aku masih anak-anak, mungkin aku tidak paham sakit. Tapi aku tahu Bapak sering menyimpan rasa sakit sendirian.)
Kalimat itu membuat dada Albi seperti ditekan pelan. “Kowe krungu saka ngendi?”
(Kamu dengar dari mana?)
Arbani menggeleng. “Aku ndelok.”
(Aku melihat.)
Sunyi turun. Dari ambang dapur, Nara menyaksikan semuanya. Tangannya menggenggam kain lap erat. Ia ingin masuk, ingin menghentikan percakapan itu, tapi ada sesuatu yang menahannya.
Ini bukan adegan anak mengasihani orang tua. Ini anak yang memilih hadir.
Sementara di ruang tengah Arbani kembali mengipas, gerakannya teratur, seolah ia bukan akan kecil.
“Pak, nek wes luwih apik, Pak ora usah kuat-kuat. Kuat kuwi ora kudu meneng.”
(Ayah, kalau sudah agak baikan, Ayah tidak perlu memaksakan diri. Kuat itu tidak harus diam.)
Albi membuka mata. Pandangannya buram.Ia menarik Arbani ke dalam pelukannya. Tidak lama. Tidak erat. Tapi cukup untuk membuat bahunya bergetar.
“Ngapunten, Le,” ucapnya lirih.
(Maaf, Nak.)l
Arbani menggeleng cepat. “Aku seneng nduwe Pak sing bali saben sore.”
(Aku senang punya Ayah yang pulang setiap sore.)
Di situlah Albi kalah. Bukan oleh penyakitnya.
Tapi oleh anak yang diam-diam sedang belajar takut kehilangan.
Dan Nara, dari kejauhan, menutup mata.
Bukan karena sedih semata tapi karena ia tahu: anak ini tumbuh bukan hanya dengan cinta, melainkan dengan kesadaran bahwa waktu itu berharga.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam turun pelan di rumah itu. Lampu ruang tengah menyala redup, tidak terang, tidak juga temaram, cukup untuk membuat segalanya terasa hangat.
Albi duduk di kursi, sepiring nasi dan sayur masih utuh di depannya. Ia sudah berniat makan, tapi tubuhnya meminta waktu. Nafasnya diatur pelan, seperti biasa.
Dari arah kamar, Nara keluar sambil membawa selimut kecil.
“Bi, mangan sek yo,” katanya lembut.
(Bi, makan dulu ya.)
“Iya,” jawab Albi. “Sek maneh.”
(Iya, sebentar lagi.)
Nara mengangguk, lalu kembali ke kamar Arbani. Beberapa menit berlalu. Albi masih di tempat yang sama. Dan tiba-tiba, langkah kecil terdengar di lantai.
“Le?” Albi menoleh.
Arbani berdiri di ambang pintu kamar. Piamanya sudah rapi, rambutnya masih sedikit basah, tapi matanya belum mengantuk.
“Kok durung turu?”
(Kok belum tidur?)
Arbani tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, matanya tertuju pada piring di meja.
“Pak durung mangan,” katanya pelan.
“Iyo, arep mangan iki.”
(Iya, mau makan ini.)
“Tapi durung,” bantah Arbani halus.
(Tapi belum)
Albi tersenyum kecil. “Le, turu sek. Pak iso mangan dhewe.” (Nak tidur dulu Bapak bisa makan sendiri)
Arbani menggeleng. Pelan tapi pasti.
“Aku durung ngantuk.” (Aku belum mengantuk.)
Nara muncul di pintu kamar. Ia sudah tahu. Anak itu keras kepala, tapi bukan keras yang ribut, dan hal itu selalu membuat dadanya serat akan kehangatan.
“Kok mbandel, Ban?” tanyanya lembut.
(Kok bandel, Ban?)
Arbani menoleh sebentar ke ibunya, lalu kembali menatap Albi.
“Bu, nek Pak durung mangan, aku ora iso turu.” (Bu, kalau Ayah belum makan, aku tidak bisa tidur.)
Kalimat itu jatuh tanpa nada drama. Tapi justru itu yang menyayat hati keduanya, termasuk Albi.
Albi terdiam “Le, kowe ora usah nunggu Pak,” ucapnya lirih. (Nak kaku gak usah menunggu ayah.
Arbani mendekat, menarik kursi kecil, lalu duduk di dekat meja. “Aku lungguh kene wae.”
(Aku duduk di sini saja.)
Sunyi menyelip. Nara memalingkan wajah sebentar, menelan emosi yang naik tanpa izin. Albi menatap piringnya lagi. Lalu menatap anak di depannya anak yang tidak menangis, tidak merengek, hanya menunggu.
Ia akhirnya meraih sendok. Suara sendok menyentuh piring terdengar pelan. Satu suap.
Lalu satu lagi.
Arbani memperhatikannya tanpa bicara. “Nek Pak wis rampung, aku turu,” katanya akhirnya.(Kalau ayah susah selesai aku tidur)
Albi berhenti makan sebentar. “Kowe ngapa nganti mikir ngene?” (Kaku kenapa berpikir sejauh ini)
Arbani menjawab tanpa ragu, seolah ini hal paling wajar. “Soale Pak iku omahku.” (Karena Ayah itu rumahku.)
Sendok Albi jatuh pelan ke piring. Ia mengusap wajahnya, lalu menelan ludah. Nafasnya bergetar sedikit, tapi ia tetap melanjutkan makan. Saat piring itu akhirnya kosong, Arbani berdiri.
“Wis?”
(Sudah?)
“Wis,” jawab Albi.
Arbani tersenyum kecil. Lega.
“Yo wis… aku turu.”
(Ya sudah… aku tidur.)
Ia berjalan ke kamar, berhenti sebentar di pintu, lalu menoleh.
“Pak…”
“Iya?”
“Sesuk mangan ojo ditunda maneh.”
(Besok jangan menunda makan lagi.)
Albi mengangguk. Tidak mampu berkata apa-apa. Setelah pintu kamar tertutup, Nara mendekat. Ia meletakkan tangannya di bahu Albi.
“Bi…” suaranya bergetar. “Anakmu iku… terlalu sayang.”
Albi menunduk. “Lan aku… terlalu egois nek terus pura-pura kuat.”
Nara tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan suaminya. Malam itu, rumah mereka sunyi. Tapi sunyi yang dijaga, oleh kehangatan dan perhatian seorang anak kecil yang tumbuh dengan baik.
Bersambung ....
Pagi semoga suka