Rizar Abran Maulana seorang pria tampan dan sholeh sudah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang dia temui di sebuah pesta tapi wanita itu tidak menyadarinya, hingga suatu saat sahabatnya ingin menjodohkannya dengan adik kandungnya sendiri yang ternyata adalah wanita yang selama ini Rizar cari.
Jihan Addara Puteri seorang wanita cantik yang merupakan seorang artis dan model papan atas, Jihan yang biasa dipanggil Darra tidak menyangka kalau hidupnya sangat menyedihkan, disaat pacar yang dia cintai mengkhianatinya dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri, sekarang Darra harus menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Akankah Rizar bisa membuat Darra jatuh cinta kepadanya dan menerima Rizar sebagai suami seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Satu bulan kemudian...
Semenjak pertemuannya di Caffe Pelangi, Darra dan Rizar tidak saling bertemu lagi.
Saat ini, Darra sedang di make-up, tepat pukul sembilan nanti Darra akan melaksanakan ijab kabul di rumahnya sendiri.
"Woi, cemberut aja senyum dong kan mau nikah," goda Amel.
"Mau senyum gimana, hari ini aku nikah tapi aku baru dua kali bertemu dengan calon suamiku, nyebelin banget tahu ga Mel. Mas Rizar itu kayanya orangnya cuek, katanya pengen cepet-cepet nikahin aku karena takut di gangguin sama mantan aku, tapi selama ini ga ada tuh dia yang ngehubungi aku," gerutu Darra.
"Sabar, mungkin dia sibuk."
"Sibuk apaan?"
"Jadi sopirlah, kejar target."
Darra hanya mencebikkan bibirnya mendengar kata sopir, sungguh tidak bisa Darra bayangkan kalau media sampai tahu dia menikah dengan sopir, bisa habis dia diledek dan dihina sama jeslin.
Penjagaan rumah Darra sangat ketat, Darra tidak mau sampai ada media yang tahu mengenai pernikahannya. Darra memang bernegosiasi dengan keluarganya kalau pernikahannya jangan sampai ada orang yang tahu.
Semua keluarga tampak dengan terpaksa mengabulkan permintaan Darra karena kalau tidak dituruti, Darra mengancam tidak akan mau menikah dengan Rizar.
Terdengar suara mobil memasuki pelataran rumah Darra, Amel langsung berlari menuju jendela untuk melihat siapa yang datang.
"OMG, Darra...itu ya yang namanya Mas Rizar, ya ampun tampan sekali kamu beruntung tahu dapetin Mas Rizar," seru Amel antusias.
"Jangan tertipu sama penampilan, ingat dia itu hanya seorang sopir."
"Yaelah Dar, kalau tampangnya kaya gitu mau dia sopir kek atau pun tukang gorengan di jalan, aku mah mau-mau aja."
"Ya sudah sana, gantiin aku jadi pengantinnya."
"Yakin, mau aku gantiin? aku bukannya ga mau, tapi Mas Rizarnya yang ga mau sama aku."
Tok..tok..tok..
"Dek, ayo keluar Rizar sudah datang tuh," seru Anggi.
"Iya Mbak."
Darra pun keluar dengan di gandeng oleh Amel..
"Masyaalloh, cantik banget kamu, Dek."
"Onty cantik."
"Luna juga cantik," seru Darra dengan mengecup pipi tembem keponakannya itu.
"Pasti Rizar terpesona melihat kamu, Dek."
"Iya, Mas Rizar dapat anugerah sedangkan aku dapat musibah," ketus Darra.
"Sudah ah jangan cemberut mulu."
Darra pun perlahan menuruni anak tangga, Rizar memperhatikan calon istrinya itu dengan seksama dan tanpa berkedip.
"Wuidih calon istrimu cantik banget, Zar," seru sahabat Rizar.
"Ingat, jaga pandangan," tegas Rizar.
"Siap Pak Kapten."
Rizar menatap tajam ke arah sahabatnya itu, pasalnya Rizar menyembunyikan identitasnya dan sahabatnya mengetahui itu.
Rizar hanya di dampingi oleh sahabatnya yang sama-sama merupakan Pilot. Rizar adalah anak yatim piatu jadi Rizar tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
Sebenarnya tujuan Rizar ingin cepat-cepat menikahi Darra karena selama ini Rizar merasa kesepian tidak ada orang yang bisa diajak berbagi cerita dan keluh kesahnya.
Darra pun duduk di samping Rizar, dia terus saja menundukkan kepalanya tidak berani menatap ke arah pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya itu.
Rizar mengucapkan ijab kabul dengan tegas dan lancar, membuat semuanya mengucapkan hamdallah. Kini giliran Darra mencium tangan Rizar, kedua pasang mata itu bertemu. Rizar tersenyum sangat manis kepada Darra membuat jantung Darra kembali berdegub kencang.
"Ya ampun, tampan sekali," batin Darra.
Rizar pun memegang pundak Darra dan mencium kening Darra begitu sangat lama membuat Darra memejamkan matanya.
"Kamu cantik sekali hari ini, istriku," bisik Rizar di telinga Darra membuat Darra langsung membuka matanya.
Lagi-lagi jantung Darra tidak bisa di ajak kompromi. Setelah selesai ijab kabul, semuanya pun berkumpul di ruangan keluarga.
"Zar, bagaimana rasanya sudah sah menjadi seorang suami?" tanya Jiyyad.
"Sangat lega sekali, Yad."
"Ada rencana bulan madu kemana nih?" goda Anggi.
"Bulan madu? memang Mas Rizar sanggup mengajak aku bulan madu?" batin Darra.
"Kalau aku sih terserah Darra saja, dia maunya kemana," sahut Rizar sembari melirik ke arah Darra.
"Kalau Darra maunya ke luar negeri, Mas Rizar bisa tidak mengabulkannya?" tanya Darra dengan sinisnya.
"Dek, kok gitu ngomongnya?" kesal Jiyyad.
"Apaan sih Kak, Darra cuma mengungkapkan keinginan Darra saja," ketus Darra.
"Memangnya kamu ingin pergi kemana?" tanya Rizar lembut dan tidak lupa senyuman selalu terpatri di bibirnya.
"Darra pengen ke New Zealand, sanggup ga Mas mengabulkannya?" seru Darra dengan angkuhnya.
"Insyaalloh sanggup, tapi ga sekarang-sekarang soalnya Mas ada kerjaan dulu untuk dua minggu ke depan," sahut Rizar.
"Kata Mbak Anggi, Mas Rizar mau pergi ke luar kota. Mas Rizar itu sopir truk antar kota ya?" seru Darra dengan polosnya.
Uhuk..uhuk..uhuk..
Galih yang merupakan sahabat Rizar sampai tersedak ludahnya sendiri di saat Darra mengatakan kalau dia seorang sopir truk antar kota, sedangkan yang lainnya tampak menahan tawanya supaya tidak meledak.
"Bisa dikatakan seperti itu," sahut Rizar dengan senyumannya.
Luna saat ini berada di pangkuan Rizar, dari tadi Luna sangat nyaman berada di pangkuan pria tampan yang ramah dan murah senyum itu.
"Luna, sini yuk sama Bunda. Kasihan Uncle Rizarnya capek ingin istirahat," seru Anggi.
"Tidak apa-apa, Nggi. Oh iya Yad, Mama sama Papa mana? aku mau minta izin membawa Darra langsung ke rumahku saja," seru Rizar.
"Uhuyyy...biar ga ada yang ganggu ya, Zar." goda Galih sahabat Rizar.
Rizar hanya menyunggingkan senyumannya...
"Kok pindah sih, Mas? Darra ga mau, Darra ingin disini saja," tolak Darra.
"Dek, kamu sudah menjadi seorang istri dan istri itu harus mengikuti kemana pun suamimu pergi," seru Jiyyad.
"Tapi----"
"Tidak ada tapi-tapian!!" sentak Jiyyad.
Setelah pamitan kepada Mama dan Papa Darra, akhirnya Rizar pun mengajak Darra untuk pergi ke rumahnya. Selama dalam perjalanan, Darra tampak cemberut.
"Kenapa kamu cemberut? kan sudah perjanjian kalau kamu mau tinggal di rumahku, kamu lupa?"
"Iya, tapi kan Mas bukannya mau pergi? terus aku mau ditinggalin sendiri gitu di rumah," ketus Darra.
"Kamu harus belajar mandiri, Darra. Kamu kan tahu pekerjaanku apa? kamu akan sering aku tinggal dan kamu harus terbiasa dengan semua itu."
Darra tidak menjawab lagi, pokoknya hari ini Darra benar-benar kesal. Sedangkan Galih yang sekarang menjadi sopir hanya diam saja tanpa mau ikut campur dengan urusan kedua pengantin baru itu.
"Mas yang di depan, temannya Mas Rizar?" tanya Darra dengan tiba-tiba.
"Iya, kenalkan namaku Galih."
"Mas sama sopir antar kota juga?"
Galih melirik Rizar dari kaca spion yang ada di tengah, dan Rizar tampak melotot dan tersenyum penuh arti.
"Iya Ra, aku juga sopir."
"Terus besok kalian berangkat bersama?" tanya Darra kembali.
"Iya."
"Kemana?"
"Surabaya."
"Semarang."
Rizar dan Galih menjawab bersamaan tapi jawaban mereka berbeda.
"Lah, kok beda jawabannya?"
"Maksudnya, kita ke Surabaya dulu habis itu ke Semarang," sahut Rizar.
"Nah, iya gitu Ra," sambung Galih cengengesan.
Tidak lama kemudian, mobil Rizar pun berhenti di sebuah rumah sederhana namun terlihat nyaman.
"Ayo kita turun," ajak Rizar.
Darra hanya memperhatikan rumah itu, dia tidak menyangka kalau dia akan tidur dan tinggal di rumah sederhana dan kecil menurut Darra.
Rizar menggeret koper Darra dan membuka pintu rumahnya.
"Ayo masuk, maaf ya rumahnya sederhana."
Darra tidak menjawab, lagi-lagi Darra hanya memperhatikan setiap sudut rumah itu. Rumah itu memang kecil tapi sangat bersih dan nyaman.
"Ini kamarnya."
"Mas, harus ingat sama perjanjian kita."
Rizar mengerti arah pembicaraan Darra...
"Iya, Mas tidak akan tidur disini. Mas akan tidur di kamar sebelah, kamar bekas Ayah dan Ibuku."
"Baguslah, ya sudah Darra mau istirahat dulu."
Tiba-tiba, Rizar melangkah mendekati Darra dan otomatis Darra memundurkan langkahnya hingga tubuh Darra terbentur dinding.
"M--mas mau ngapain?" tanya Darra terbata.
Rizar mengungkung tubuh Darra, bahkan saat ini napas Rizar sudah terasa menyapu wajah Darra membuat jantung Darra lagi-lagi berdegub sangat kencang seolah-olah ingin loncat dari tempatnya.
Rizar mulai mendekatkan wajahnya dan itu membuat Darra memejamkan matanya.
Cup...
Rizar mengecup kening Darra dan Darra langsung membuka matanya.
"Selamat istirahat, semoga tidur kamu nyenyak."
Rizar pun meninggalkan Darra dan keluar dari kamar itu. Darra memegang dadanya, benar-benar membuat Darra jantungan kalau terus-terusan seperti ini.
Rizar menghampiri Galih yang sedang duduk di kursi yang berada di teras.
"Baru saja aku mau pergi, ngapain kamu kesini? bukannya senang-senang. Wanita secantik Darra jangan di anggurin terlalu lama, ga baik."
"Apaan sih, pokoknya aku minta sama kamu jangan sampai Darra tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya ingin Darra benar-benar menerima aku apa adanya," seru Rizar dengan tatapan lurus ke depan.
"Iya Zar, aku juga tahu kok. Jangan lupa besok kita berangkat pagi-pagi."
"Iya, jadwal kita kemana?"
"Indonesia-Jepang, Jepang-Belanda, Belanda-Korea, dan terakhir Korea-Indonesia. Masing-masing empat hari total dua belas hari, setelah itu seperti biasa setelah penerbangan kita ada waktu istirahat sebelum pulang ke rumah."
"Oke..."
"Oh iya, kamu yakin mau mengabulkan permintaan Darra mengenai dia ingin ke New Zealand?"
"Entahlah Lih, tapi aku ingin membahagiakan Darra."
"Yakin masih ingin menginjakan kaki di Negara yang penuh luka itu."
Rizar tampak menghembuskan napasnya secara kasar.
"Itu sudah sangat lama Lih, aku sudah melupakannya. Sekarang yang ada di otakku hanya ingin membahagiakan istriku walaupun Darra untuk saat ini belum mencintaiku tapi aku akan berusaha membuat Darra mencintaiku dengan caraku sendiri."
"Terserah kamu saja, aku sebagai sahabat hanya bisa mendukungmu."
Rizar tersenyum ke arah Galih, setelah itu Galih pun pamit dan Rizar menyuruh Galih untuk membawa mobilnya.
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU