NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan ke Tanah Air

Hari-hari berjalan seperti biasa hingga tanpa disadari waktu menunjukkan bulan keenam. Ravela dan Tim (pasukan) Garuda XXIII telah menyelesaikan masa tugas mereka di Lebanon.

Situasi yang semula penuh ketegangan perlahan berubah. Patroli tak lagi sepadat awal penugasan, koordinasi dengan aparat setempat lebih lancar, dan aktivitas warga mulai kembali normal.

Laporan resmi menyebutkan kondisi sudah cukup kondusif. Artinya penugasan mereka telah selesai.

Banyak hal tertinggal di sana. Tawa singkat di sela patroli, lelah yang dibagi tanpa kata, luka-luka yang harus disembuhkan perlahan, dan beberapa prajurit TNI yang gugur.

Beberapa perwira juga sempat mendekati Ravela, bahkan seorang perwira dari kontingen negara lain terang-terangan menunjukkan ketertarikannya.

Tapi ia tetap fokus pada tugas, menahan diri dari urusan pribadi meski dirinya sudah terikat dengan pria yang sama sekali tidak pernah dilihatnya.

Hari terakhir di Lebanon tiba dengan suasana yang berbeda.

Di area kumpul sebelum penarikan pasukan, warga sekitar berdatangan. Anak-anak yang selama ini akrab dengan Tim Garuda XXIII berdiri berkelompok.

Ada yang menggenggam tangan prajurit, ada yang memeluk kaki mereka, ada pula yang menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

Youssef memeluk Ravela paling erat. Anak itu menempelkan wajahnya ke perut Ravela, kedua tangannya mencengkeram seragam loreng Ravela seolah takut dilepaskan. Tangisnya tertahan, tapi bahunya bergetar.

Ravela berjongkok perlahan agar sejajar dengan Youssef. Ia memegang kedua bahu anak itu dengan lembut. “Youssef,” ucapnya pelan. “Jangan nangis lagi.”

Youssef menggeleng kecil, masih terisak.

“Sebagai anak laki-laki, kamu harus kuat,” lanjut Ravela dengan suara tenang. “Aku memang harus pulang sekarang. Tapi suatu hari nanti, aku akan ke sini lagi.”

Youssef mengangkat wajahnya. Matanya merah, napasnya tersendat. “Beneran?” Ia lalu mengacungkan jari kelingkingnya. “Janji, Kapten?”

Ravela terkekeh kecil. Ia mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Youssef. “Janji!”

Ravela kemudian merogoh saku kecil di seragamnya dan mengeluarkan sebuah kalung perak tanpa bandul terlihat sederhana dan polos.

“Ini buat kamu,” kata Ravela sambil memasangkannya ke leher Youssef. “Bukan apa-apa. Simpan saja. Biar kamu ingat, kamu pernah jadi anak yang kuat dan pemberani.”

Youssef menggenggam kalung itu, mengangguk pelan. Tangisnya mereda, meski matanya masih basah.

Tak lama kemudian, perintah keberangkatan diberikan. Tim Garuda XXIII bergerak menuju kendaraan. Lambaian tangan dan panggilan kecil mengiringi langkah mereka hingga menjauh.

Perjalanan pulang memakan waktu empat belas jam. Di dalam pesawat, sebagian prajurit tertidur kelelahan, sebagian menatap kosong ke depan, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Saat pesawat akhirnya mendarat di tanah air, Ravela berdiri lalu menunduk dan bersujud, mengucap syukur dalam diam. Di sekitarnya, rekan-rekannya berdoa dengan cara dan keyakinan masing-masing.

“Terima kasih, Tuhan. Kami bisa kembali dengan selamat. Meski tidak semua, tapi kami berusaha menjaga amanah ini sampai akhir,” batin Ravela.

Setelah itu mereka diarahkan naik ke bus militer yang sudah menunggu di sisi landasan. Bus bergerak perlahan meninggalkan bandara menuju markas.

Di sepanjang perjalanan, tak banyak yang bicara. Beberapa menatap keluar jendela, beberapa menyandarkan kepala, membiarkan tubuh beristirahat setelah perjalanan panjang.

Sesampainya di markas, barisan sudah tersusun rapi. Apel penyambutan berlangsung singkat namun khidmat.

Komandan upacara, Letkol Infanteri Armand Wirasatya, berdiri di depan barisan, tegap dan fokus. Seorang perwira laporan, Lettu Omar melangkah maju memberi hormat.

“Lapor, Komandan Upacara. Apel penyambutan Satgas Garuda XXIII siap dilaksanakan,” ucapnya tegas.

Letkol Armand mengangguk singkat. “Laksanakan.”

Sepatu pasukan menghentak serempak di lapangan, menandai apel dimulai.

Setelahnya, agenda belum selesai, ada pemeriksaan kesehatan dilakukan satu per satu. Tekanan darah, kondisi fisik, bekas luka, semuanya dicatat.

Setelah itu, evaluasi psikologis menyusul, dilakukan tertutup dan tenang. Laporan tugas mulai disusun, detail demi detail, sesuai prosedur.

Barulah setelah semua rangkaian itu selesai, para prajurit dan perwira dipersilakan keluar menuju area yang sudah disiapkan untuk bertemu keluarga.

Ravela melangkah keluar dari gedung pemeriksaan. Seragamnya rapi, wajahnya sedikit lebih tirus dari enam bulan lalu. Matanya langsung menangkap tiga sosok yang berdiri tak jauh dari pagar pembatas.

“Ravela!”

Arkana berlari lebih dulu. Tanpa banyak kata, ia langsung memeluk kakaknya erat. Tangisnya pecah begitu saja, bahunya bergetar. “Kak... akhirnya pulang juga,” ucapnya terputus-putus.

Ravela tersenyum kecil sambil mengusap punggung adiknya. “Sudah. Kakak di sini.”

Di belakang Arkana, Dharma dan Nadira melangkah mendekat. Dharma mengenakan seragam TNI AD purnawirawan, berdiri tegap seperti kebiasaan lamanya.

Nadira di sampingnya memakai seragam Persit purnawirawan, wajahnya berusaha tenang meski matanya berkaca-kaca.

Dharma berhenti tepat di depan Ravela. Ia menatap putrinya beberapa detik, dari ujung rambut hingga sepatu lars yang dikenakan.

“Lapor, Letnan Jenderal!” ucap Ravela spontan sambil memberikan hormat, senyum tipis terbit di sudut bibirnya.

Dharma menggeleng pelan. “Tidak perlu formal. Ayah bangga sama kamu. Kamu pulang dengan selamat. Itu yang paling penting,” ucap sang Jendral sambil menepuk kedua bahu putrinya.

Nadira sudah tak mampu menahan diri. Ia meraih tangan Ravela, lalu memeluknya erat. “Bunda tiap hari berdoa supaya kamu di sana selalu baik-baik saja. Sekarang Bunda bisa tenang. Bisa melihatmu pulang dengan selamat dan sehat,” katanya pelan.

Ravela membalas pelukan itu sebentar. “Maaf sudah bikin Bunda khawatir.”

“Kamu pulang tanpa satu pun yang kurang. Itu sudah cukup bagi Bunda,” jawab Nadira.

Di tempat lain, ratusan kilometer dari markas itu, Kaivan duduk di dalam sebuah tenda besar berwarna putih yang didirikan di tengah desa terdampak banjir dan longsor.

Sejak dua hari lalu, pemerintah daerah menunjuk Wirarama Group sebagai salah satu perusahaan konstruksi yang ditugaskan membantu pembangunan hunian sementara bagi warga.

Skala kerusakan yang besar membuat penanganan harus dilakukan cepat, dan Kaivan turun langsung memimpin timnya.

Di luar tenda, lumpur masih menutupi banyak bagian desa. Jalanan licin, sisa material longsor bercampur dengan puing rumah, dan genangan air belum sepenuhnya surut. Aktivitas alat berat dan relawan terus berlangsung tanpa jeda.

Di dalam tenda, sebuah meja lipat dipenuhi peta lokasi, dokumen teknis, dan daftar warga terdampak. Beberapa anggota tim Wirarama Group duduk mengelilinginya, sebagian masih mengenakan sepatu yang penuh lumpur.

“Sesuai arahan pemerintah, kita fokuskan hunian sementara di area ini,” kata Kaivan sambil menunjuk peta. “Lahannya lebih tinggi dan relatif aman dari aliran lumpur susulan.”

Salah satu staf membuka berkas di depannya. “Izin penggunaan lahan sudah keluar, Pak. Material bisa mulai masuk besok pagi.”

Kaivan mengangguk. “Baik. Prioritaskan warga yang rumahnya rusak total. Kita pastikan tempatnya layak, meskipun sifatnya sementara.”

Kaivan menyandarkan punggung sebentar ke kursi lipat, menatap kain tenda yang bergerak pelan tertiup angin. Di luar, suara mesin dan langkah kaki bercampur menjadi satu.

Di tengah semua itu, pikirannya sempat melayang pada seseorang yang berada jauh dari tempat ini.

Namun rapat belum selesai. Kaivan kembali mencondongkan tubuh ke meja.

“Kita lanjutkan,” katanya tenang

“Baik, Pak.”

1
Sinchan Gabut
lah, apa hub status tentara sama di gombalin suami Vel Vel... melemah d gombalin cwo lain baru salah 🤣🤣
Sinchan Gabut
Bangun Tari bangun... perlu di guyang air seember? 😏🤣
Kreatif Sendiri
terharu
Alessandro
pas mendung..... bab ini 🙈
Mutia Kim🍑: Hussttt😂
total 1 replies
Alessandro
kamu yg stromg aja meleleh, vela. gmn pembaca ini... meleyot lah pasti
Sunaryati
Kirain Kirana akan marah, syukur dia malah senang. Kalian jangan bersentuhan terlalu jauh sebelum sah di mata hukum.
Mutia Kim🍑: Huhuhu iya kak😭
total 1 replies
tami
plot twist nya bakal lucu kalo suaranya ga merdu 🤣
tami
jirr pede banget tuh si tari 😭
Sinchan Gabut
Gimana, gimana? Sudah SAH tp masih mikir di kira jd wanita gampangan? kalau km g hobah yg ada laki mu yg pindah haluan Vel...
Sinchan Gabut
Bagus Pak Kai, biar sekali2 Vella jg tau kalau lakinya jg butuh penjelasan 😏
Gisha Putri🌛
Tari kepedean bgt🥴
Aruna02
sabar buuu jangan ketus ketus loh 🤪
Aruna02
biarin atuh bangun juga 🤣🤣💋
Pengabdi Uji
Ah elah VELAA kentang bgt gue dibuatnya😌🤭
Pengabdi Uji
Yaudah lah Jovan nggak usah apasih namanya gitu gitu lagi, orangnya dh berkahwin😌
Sunaryati
Astaga Nak Kaivan, ngumpetin istri di kamar mandi adu mulut kalau kedengeran dari luar lenguhan Ravela gimana ? Aduh kaya orang selingkuh tak punya uang, 🤣🤣🤭
Alessandro
caper bgt ni jovan
Alessandro
tiba-tiba gerah thor.... 🔥
Mutia Kim🍑: Butuh AC kak? 😂
total 1 replies
Sunaryati
Haduh jadi seperti tebar pesona Nak Kaivan, padahal senyumnya hanya untuk istrinya Ravela. Kamu juga punya masa lalu, maka jangan marah jika Ravela juga memiliki masa lalu juga, bahkan masa lalunya berniat mengejarnya, namun jangan kuatir Nak Ravela teguh hatinya
Mutia Kim🍑: Bener kak, mereka berdua sama-sama punya masa lalu. Tapi tidak sama sekali Ravela untuk kembali bersama masa lalunya itu. Masa lalu tetaplah masa lalu🙂
total 1 replies
Sunaryati
Nak Kaivan tidak usah marah dan cemburu, Istrimu Nak Ravela, bisa jaga mata dan hati untukmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!