Update gak nentu !
Area 21+ harap bijak dalam membaca
Bagaimana jika orang indonesia jiwanya nyasar ke suatu negeri asing, yang tidak pernah ia kenali.
Lisa seorang karyawan bank swasta, si gadis bar-bar itulah sebutan untuknya. Lisa yang sudah berumur 30 tahun wajahnya pas-pasan ia belum memiliki pasangan. Hingga suatu hari ia di desak oleh kedua orang tuanya menemui teman kencannya dan menyebabkan Lisa kecelakaan.
Hingga jiwanya memasuki tubuh wanita yang hanya di gunakan sebagai tempat melahirkan bagi keturunan Kaisar.
Kaisar Kristoffer, seorang Kaisar yang terkenal kekejamanya, Kaisar Kristoffer memiliki sebuah kutukan di mana ia akan kehilangan istrinya jika sang istri memiliki seorang anak. Hingga ia memutuskan mencari wanita simpanan dan tentunya atas persetujuan Permaisurinya. Kaisar Kristoffer membuat sebuah kesepakatan, jika setiap wanita yang ia tiduri sebanyak 3 kali tidak memiliki anak, maka ia akan memenggalnya atau membuangnya.
lalu apakah Lisa akan mau melahirkan keturunannya, atau malah melarikan diri ?
ig:@riiez.kha.37
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengadukan
"Huh, untung saja tidak ketahuan." Ava mengusap lembut dadanya dengan perasaan lega. Ava melihat kanan kiri, tidak ada orang sama sekali. Berarti dirinya aman. Ava membalikkan badannya, ia terkejut melihat seorang wanita di depannya menatap tajam.
"Ava, untuk apa kamu berada di sini?" Suara sombong dan angkuh itu langsung menggema di telinganya. Ava mengenal suara itu, suara pelayan sombong yang kemarin menemuinya. Ava membalikkan badannya seraya berdecak pinggang. "Apa !" balas Ava dengan ketus.
"Aku tanya, untuk apa kamu ada di sini?" bentaknya lagi.
Ava menunjuk ke arah tangannya, "Ini tangan siapa?"
Pelayan itu hanya menatap tak suka ke arah Ava, tapi ia tetap ingin menjawab pertanyaan konyol itu. "Tangan mu."
"Kaki ini," Ava menunjuk ke arah kedua kakinya.
"Kaki mu."
"Lalu ada apa urusan mu dengan ku. Kemanapun aku pergi, aku menggunakan tubuh ku, bukan menggunakan tubuh mu. Jadi kenapa kamu yang sewot." Ucap Ava tersenyum sinis.
"Kau.."
Ava berdecak pinggang, kedua pakaian lengannya ia lipat ke atas. Ia sudah siap menggempur pelayan sombong di depannya.
"Apa? hah." Bentak Ava.
"Dasar wanita tak tau diri, masih saja bersikap sok padahal hanya simpanan."
Ava mengepalkan tangannya, ia ingin berjalan mendekatinya. "Sejelek-jeleknya aku, aku masih bisa bersamanya, tidurnya dengannya. Lah kamu," Ava tersenyum sinis.
"Cih, jadi wanita simpanan saja bahagia. Dia hanya ingin membuat mu melahirkan keturunannya bukan mencintai mu."
Buhg
Ava melayangkan tinjunya ke hidung pelayan itu, hingga pelayan itu pun mengerang kesakitan.
"Sialan ! beraninya kau melakukan ini pada pelayan Permaisuri. Aku akan mengadukan mu."
"Silahkan aku tidak takut, lagi pula siapa yang ingin melahirkan anak untuknya." Teriak Ava menatap tajam ke arahnya.
"Awas saja aku akan membuat perhitungan dengan mu," ancamnya seraya menggendong anjing kesayangan milik sang junjungannya.
"Siapa takut?" teriak Ava.
Setelah beradu mulut dengan pelayan itu, Ava
menendang pot di depannya, hingga pot itu pecah. "Sialan." Makinya dengan amarah naik pitam.
Sedangkan disisi lain.
Pelayan yang sudah Ava tonjok, menuju ke kamar Permaisurinya. Ia mengetuk pintu itu dengan hati-hati seraya menangis.
"Baginda Permaisuri." Panggilnya seraya menangis.
Pintu itu pun terbuka, memperlihatkan wanita cantik dan menatap tajam ke arahnya. Ia tidak suka saat ini ada yang mengganggu aktivitasnya. "Ada apa?" Bentaknya "Dan kenapa dengan hidung mu berdarah?" sambungnya melihat hidung pelayan itu mengeluarkan darah.
Pelayan itu menunduk, ia sungguh ceroboh mengadukan sekarang yang bukan waktu yang tepat. Ia hanya bisa menangis dan menangis menahan rasa sakit di hidungnya.
"Ava yang melakukannya Baginda Permaisuri. Hamba hanya ingin mengatakan pada dirinya agar tidak mengganggu Permaisuri."
"Baiklah aku akan menghukumnya nanti, siapkan cambuk dan panggil dia." Ucapnya dengan naik pitam. Ia tidak suka ada yang melawan pelayan setianya.
"Ada apa?" terdengar suara datar itu menuju ke tempatnya. Memeluknya dari arah belakang dan mencium mesra lehernya.
"Ava sudah berbuat keterlaluan Baginda, dia berani meninju hidung pelayan setia ku."
"Hukumlah dia, biar dia jera melakukan tindakan. Dan jangan marah sayang. Ayo kita lakukan lagi." Kaisar Kristoffer langsung menggendong Permaisuri Belia seraya mengecup mesra bibirnya. Permaisuri Belia pun mengalungkan tangannya ke leher Kaisar Kristoffer, ia membalas ciuman itu. Terjadilah desahan itu sekali lagi. Hingga mereka sama-sama mencapai puncak dan tidur berpelukan karna kelelahan.
Sementara Ava kini mengikuti pelayan sombong itu, ya, dia tidak takut di hukum. Lagi pula dia juga tidak salah.
"Sebentar lagi kamu akan di hukum, makanya jangan berani menentangku." Ucapnya dengan nada angkuh seraya berjalan lenggak lenggok.
"Nenek sihir." Gumam Ava menggunakan bahasa Hangul. Karna dirinya saat di dunian cerdas dalam bahas hangul jadi dia menggunakan bahasa itu, lagi pula semua orang tidak akan mengerti apa yang dia ucapkan.
"Apa kamu bilang?" pelayan itu menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya, melihat ke arah Ava.
"Nenek Sihir." Ava mendekatkan wajahnya ke wajah pelayan itu hingga pelayan itu pun mundur merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya.