Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari Minggu pagi biasanya dihabiskan keluarga Ayodhya untuk bersantai di rumah.
Namun hari ini Bastian sudah rapi dengan kemeja kasual dan celana bahan berwarna gelap.
Lula juga sudah didandani rapi oleh pelayan memakai gaun selutut berwarna hijau muda.
"Kak Bastian serius mau bawa Lula ke pameran sains yang membosankan itu?" keluh Cakra dari sofa ruang tengah.
"Di sana cuma ada fosil batu tua dan bapak-bapak botak yang suka ceramah," tambah Cakra sambil memakan keripik kentang.
Dewa mengangguk setuju dari meja makan sambil mengunyah roti tawarnya dengan malas.
"Kau akan membuat otaknya meledak karena kebosanan Bastian," komentar Dewa sinis.
Bastian membetulkan letak kacamatanya dan menatap kedua adiknya dengan tatapan meremehkan.
"Itu karena kapasitas otak kalian berdua memang tidak sampai ke sana," balas Bastian pedas.
"Pameran ini adalah pameran biologi dan botani terbesar se-Asia, Lula pasti suka melihat hewan dan tumbuhan langka."
Lula melompat-lompat kecil sambil memegang erat tangan Bastian.
"Lula mau lihat pohon yang bisa makan nyamuk Kak Cakra!" seru Lula antusias.
Bastian tersenyum puas dan menuntun Lula berjalan keluar rumah menuju garasi mobil.
"Tuh dengar sendiri, Lula jauh lebih pintar dari kalian berdua," ejek Bastian sebelum menutup pintu utama.
Gedung konvensi di pusat kota itu sangat ramai dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai kalangan.
Ada banyak stan yang memamerkan teknologi pertanian mutakhir, tanaman langka, dan hewan eksotis dari penjuru dunia.
Lula menatap sekeliling dengan mulut terbuka lebar karena merasa takjub luar biasa.
Bastian menggandeng tangan adiknya dengan sangat erat agar tidak terpisah dari kerumunan orang dewasa.
"Kita ke area botani dulu ya, di sana ada pameran anggrek langka dari hutan Papua," ajak Bastian menunjuk sebuah ruangan kaca.
Lula mengangguk patuh dan mengikuti langkah kaki kakaknya yang panjang.
Di area botani, suasananya sedikit lebih sepi dan udaranya terasa sangat lembab seperti di dalam rumah kaca.
Banyak pot kaca berukuran besar yang berisi tanaman dengan bentuk yang sangat aneh.
Bastian berhenti di depan sebuah papan informasi dan mulai membaca penjelasannya dengan suara pelan.
"Ini adalah Nepenthes, tanaman kantong semar yang memakan serangga untuk bertahan hidup," jelas Bastian layaknya seorang guru.
Lula mendekatkan wajahnya ke kaca pembatas dan menatap tanaman berbentuk kantong itu lekat-lekat.
"Halo Tuan Kantong, hari ini sudah makan banyak nyamuk belum?" sapa Lula di dalam hati.
"Belum anak kecil, di ruangan ini udaranya terlalu bersih tidak ada serangga sama sekali," balas tanaman itu dengan nada lesu.
Lula tertawa kecil mendengar keluhan lucu dari tanaman karnivora tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah stan utama yang berada di tengah ruangan.
Seorang pria tua berambut putih berteriak memarahi beberapa asisten berpakaian jas laboratorium putih.
"Bagaimana bisa media tanamnya dibiarkan terlalu lembab semalaman hah?!" bentak pria tua itu dengan wajah merah padam.
"Anggrek Hitam Kalimantan ini adalah spesimen terakhir kita yang sedang sekarat!"
Para asisten itu hanya bisa menunduk ketakutan dimarahi habis-habisan oleh profesor mereka.
Bastian mengenali wajah pria tua berambut putih yang sedang marah-marah itu.
"Itu Profesor Kusuma, beliau adalah ahli biologi kenalan lama Papa," bisik Bastian sambil berjongkok di dekat Lula.
Lula menatap pot kaca besar di depan profesor itu yang berisi sebuah bunga anggrek berwarna hitam legam.
Daun anggrek itu sudah layu dan batangnya terlihat sangat kering seperti kerupuk.
"Lula, kita sapa Profesor Kusuma sebentar ya," ajak Bastian sambil berdiri dan berjalan mendekat.
Profesor Kusuma mengusap wajahnya yang keriput dengan sangat frustrasi.
"Kalau anggrek ini mati, penelitian kita selama sepuluh tahun akan berujung sia-sia," keluh profesor itu dengan nada putus asa.
Bastian berdiri di dekat meja pameran dan berdeham pelan untuk mencari perhatian.
"Selamat pagi Profesor Kusuma, sudah lama kita tidak berjumpa," sapa Bastian sopan.
Profesor Kusuma menoleh dan mengerutkan keningnya menatap Bastian dari balik kacamata tebalnya.
"Oh, kau anak kedua Baskoro kan? Si calon dokter yang terlalu kaku itu," balas Profesor Kusuma blak-blakan.
Bastian hanya tersenyum canggung mendengar sindiran yang sangat tepat sasaran dari orang tua itu.
"Profesor sedang sibuk? Sepertinya ada masalah serius dengan spesimen anggreknya," tanya Bastian sopan.
Profesor Kusuma menghela nafas kasar dan menunjuk pot kaca besar itu dengan jarinya yang gemetar.
"Akar anggrek ini tiba-tiba membusuk padahal semua nutrisinya sudah diberikan sesuai standar laboratorium," jelasnya pusing.
Lula yang sejak tadi diam melepaskan gandengan tangan Bastian dan melangkah maju mendekati pot kaca itu.
Bastian baru saja ingin melarang tapi dia teringat akan keajaiban adiknya dalam menyembuhkan tanaman kakeknya dulu.
Lula berjinjit dan menempelkan telinganya ke dinding kaca inkubator tersebut.
Semua asisten laboratorium langsung panik melihat ada balita yang mendekati meja pameran.
"Hei anak kecil, jangan sentuh kacanya, itu spesimen sangat berharga!" tegur seorang asisten wanita dengan panik.
Profesor Kusuma mengangkat sebelah tangannya menyuruh asisten itu untuk diam.
"Biarkan saja, dia cuma menempelkan telinga ke kaca, lagipula anggrek itu sudah tidak bisa diselamatkan," kata Profesor Kusuma pasrah.
Di telinga Lula, terdengar suara tangisan yang sangat lemah dan menyayat hati dari arah anggrek hitam itu.
"Sakit sekali... akarku digigit cacing merah kecil... tolong bersihkan tanahku."
Suara anggrek itu terdengar sangat tersiksa seolah sedang kesulitan bernafas di dalam sana.
Lula mundur selangkah lalu membuka matanya dan menatap Profesor Kusuma dengan wajah sangat serius.
"Kakek Profesor, bunga hitamnya menangis karena sakit digigit cacing dari bawah," ucap Lula dengan suara jernihnya yang khas.
Profesor Kusuma dan para asistennya saling berpandangan dengan raut wajah sangat bingung.
"Bicara apa kau ini nak? Tanah yang kami pakai itu sudah disterilkan dari semua hama dan kuman," bantah asisten wanita tadi.
Lula menggelengkan kepalanya dengan kuat tanda tidak setuju.
"Tidak Kak, cacingnya warna merah dan bentuknya sangat tipis seperti benang, mereka sembunyi di akar paling bawah," jelas Lula ngotot.
Bastian melangkah maju dan menatap Profesor Kusuma dengan pandangan yang penuh keyakinan.
"Profesor, saya rasa tidak ada salahnya mengecek bagian akar paling bawah seperti yang adik saya bilang," bujuk Bastian.
Profesor Kusuma menatap wajah Bastian lalu beralih menatap wajah polos Lula.