Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.
Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.
Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.
Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.
Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.
BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pekerjaan Sampingan
Dia tahu, lembaran baru kehidupan tenangnya di pinggiran kota telah robek, digantikan oleh labirin penuh ketegangan di bawah kendali sang mantan suami yang kini siap menuntut balas atas masa lalu mereka yang kelam.
Safira hanya bisa berdoa di dalam hati, memohon agar sisa-sisa kekuatannya cukup untuk bertahan di dalam sarang predator ini, tanpa harus membongkar rahasia besar yang selama ini ia lindungi dengan seluruh taruhan hidupnya.
Lampu-lampu neon di langit-langit kantor PT Sinar Abadi Mandiri mulai dimatikan satu per satu ketika jarum jam dinding menunjukkan pukul lima sore.
Suasana kantor cabang di pinggiran kota itu terasa berbeda sore ini. Tidak ada tawa renyah yang biasanya terdengar menjelang jam pulang kerja.
Di sudut kubikel bagian data dan keuangan, beberapa staf tampak berkumpul mengelilingi meja Safira Angela.
Safira memasukkan beberapa barang pribadinya yaitu sebuah botol minum termos kecil, buku catatan kecil berbahan kertas daur ulang, dan beberapa pulpen ke dalam tas kain jinjingnya.
Gerakannya sangat tenang, anggun, dan teratur, seolah-olah dia hanya bersiap untuk pulang ke rumah seperti hari-hari biasanya, bukan untuk meninggalkan tempat yang telah menjadi tempat bernaungnya selama hampir tiga tahun ini.
"Fir, beneran nih mulai besok kamu sudah nggak duduk di sebelah aku lagi?" tanya Rani dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia meremas selembar tisu di tangannya, menatap kosong ke arah kubikel Safira yang kini sudah bersih dari berkas-berkas pribadi.
Safira menghentikan gerakannya sejenak, lalu menoleh dan menyunggingkan senyuman manis yang begitu tulus. Dia menepuk pelan bahu Rani untuk menenangkannya.
"Hanya mutasi tugas sementara untuk sinkronisasi data, Rani. Kantor pusat kan tidak terlalu jauh kalau diakses dengan kereta. Kita masih bisa berhubungan lewat ponsel, bukan?" ujarnya menghibur rekan kerjanya.
"Tapi suasananya pasti beda, Fir." keluh Bu Lastri yang ikut mendekat sambil membawa sebuah kotak makan berisi kue basah.
"Ini, bawa untuk camilanmu besok di sana. Fir... jujur saja, Ibu berat melepas kamu. Kamu itu staf yang paling rajin, tidak pernah mengeluh, dan paling pintar merapikan draf keuangan yang berantakan. Ibu cemas kamu akan ditekan habis-habisan oleh manajemen pusat yang sedingin es itu, terutama setelah melihat sikap Tuan Gavin tadi siang." ucap Bu Lastri mengutarakan kekhawatirannya.
Mendengar nama Gavin disebut, dada Safira berdenyut nyeri sesaat, namun dia dengan cepat menyembunyikan ekspresi tersebut di balik senyumannya.
"Terima kasih banyak, Bu Lastri. Kue-nya pasti akan saya makan. Ibu tidak perlu cemas berlebihan. Saya akan berusaha bekerja seprofesional mungkin di sana agar tidak menyusahkan posisi Bapak dan Ibu di kantor cabang ini." sahutnya.
Pak Bambang berjalan keluar dari ruangannya, melangkah mendekati kerumunan kecil tersebut. Pria tua itu menatap Safira dengan tatapan penuh rasa hormat dan haru.
"Safira, terima kasih atas dedikasimu selama tiga tahun ini di sini." ucap Pak Bambang dengan suara yang agak berat.
"Saya tahu tugas di gedung pusat itu tidak akan mudah. Tekanannya pasti berkali-kali lipat. Tapi saya percaya pada kemampuan dan ketenangan jiwamu. Jaga dirimu baik-baik di sana."
Safira membungkukkan badannya cukup dalam, memberikan penghormatan tertinggi kepada pria paruh baya yang dulu telah menerimanya bekerja tanpa banyak bertanya tentang latar belakang keluarganya yang sudah hancur.
"Terima kasih kembali, Pak Bambang. Terima kasih atas bimbingan dan kebaikan Bapak selama saya berada di sini. Saya permisi untuk pamit terlebih dahulu." pamitnya sebelum pergi.
Setelah bersalaman dan berpelukan hangat dengan Rani dan rekan-rekan kerja lainnya, Safira menyampirkan tas kainnya di bahu, lalu melangkah keluar dari gedung kantor kecil itu.
Begitu kakinya melewati pintu gerbang luar, Safira menghentikan langkahnya sejenak. Dia menoleh ke belakang, menatap papan nama PT Sinar Abadi Mandiri untuk terakhir kalinya.
Tempat ini adalah zona nyamannya, benteng persembunyiannya yang damai.
Mulai besok, dia harus meniti jalan di atas bara api di bawah pengawasan langsung sang mantan suami.
Namun, Safira tidak memiliki waktu untuk meratapi nasib atau larut dalam ketakutan. Hari sudah mulai meremang, dan dia memiliki tanggung jawab lain yang jauh lebih mendesak yang harus segera ia penuhi malam ini.
Safira berjalan cepat menuju stasiun kereta terdekat. Alih-alih pulang ke arah rumah kosnya di nomor enam, dia justru naik kereta yang mengarah kembali ke pusat kota Jakarta.
Kereta komuter malam itu sangat padat, dipenuhi oleh para pekerja kantoran yang tampak lelah. Safira berdiri di dekat pintu kereta, berdesakan dengan penumpang lain, sambil terus memikirkan draf catatan keuangan pribadinya di dalam kepala.
Gaji sebagai staf senior administrasi di kantor cabang pinggiran kota memang cukup untuk membiayai makan sehari-hari dan membayar sewa kamar kos kecilnya. Namun, gaji itu sama sekali tidak cukup untuk menutup cicilan utang peninggalan almarhum sang ayah dan juga utang sang kakak akibat penipuan tiga tahun lalu, serta biaya rumah sakit sang kakak yang sekarang terbaring koma di rumah sakit akibat kecelakaan tiga tahun lalu setelah sang ayah meninggal.
Hantaman silih berganti menghantui Safira namun dia harus berdiri tegak karena bagaimanapun sang kakak adalah keluarga satu-satunya yang tersisa dan dia harus berjuang sampai titik darah penghabisan.
Setiap bulan, bunga dari utang tersebut terus berjalan dan membengkak karena pihak pemberi pinjaman adalah lembaga keuangan swasta non-bank yang sangat ketat. jika dia terlambat membayar satu minggu saja, teror demi teror akan datang menghantui sisa keluarga besarnya yang masih bertahan, atau bahkan bisa melacak keberadaannya di sini.
Oleh karena itu, selama dua tahun terakhir, Safira terpaksa mengambil pekerjaan sampingan malam hari yang tidak diketahui oleh siapa pun di kantor lamanya.
Pukul tujuh malam, Safira tiba di sebuah kawasan hiburan malam yang cukup mewah di daerah Jakarta Selatan. Dia berjalan menyusuri trotoar, lalu masuk melalui pintu belakang sebuah kelab malam eksklusif bernama The Velvet Room.
Suasana di dalam area belakang kelab itu tampak sibuk. Safira langsung menuju ruang loker khusus karyawan wanita.
Dia membuka lokernya, melepas kemeja putih dan rok kerja sederhananya, lalu menggantinya dengan seragam kerja kelab yaitu sebuah gaun hitam selutut dengan potongan leher persegi yang rapi, dilengkapi dengan celemek kecil berwarna putih di bagian pinggang.
Penampilannya tetap terlihat sopan dan anggun, jauh dari kesan vulgar, karena kelab ini adalah tempat hiburan kelas atas yang mengutamakan pelayanan berkelas. rambut panjangnya yang semula disanggul rapi kini ia biarkan tergerai lurus, memberikan kesan yang sedikit berbeda dari penampilannya di kantor pagi tadi.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kasian ny safira😭😭😭😭