Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20: Restu yang Tidak Pernah Ada
____🌺
Mobil taksi yang ditumpangi Nayara berhenti tepat di depan gerbang besi menjulang milik kediaman utama keluarga Mahendra.
Tiga jam setelah kedatangan Selena di rumahnya, sebuah panggilan singkat dari ibu mertuanya, Marissa, memaksanya datang ke rumah mewah itu.
Nayara turun dari mobil, lalu melangkah melewati taman depan yang luas. Udara siang terasa begitu panas, tetapi begitu kakinya menginjak ruang keluarga keluarga Mahendra yang berlantai marmer, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya.
Marissa duduk bersilang kaki di atas sofa kulit berwarna cokelat tua. Perempuan paruh baya itu mengenakan gaun sutra rumahan yang rapi. Cincin berlian di jemarinya berkilau setiap kali ia menggerakkan tangan untuk mengaduk teh di dalam cangkir.
Di atas meja kaca di hadapannya, tergeletak sebuah amplop putih berlogo rumah sakit.
Amplop yang sama persis dengan yang ditinggalkan Selena di rumah Nayara pagi tadi.
"Duduk, Nayara," perintah Marissa datar tanpa mengangkat wajahnya.
Nayara menarik napas pendek sebelum duduk di sofa seberang. Punggungnya ditegakkan, sementara pandangannya langsung tertuju pada amplop tersebut.
"Mama memanggilku ke sini untuk membahas amplop itu?" tanyanya langsung ke inti persoalan. Ia tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi.
Marissa meletakkan cangkir tehnya perlahan.
Tring!
Bunyi porselen yang beradu dengan tatakan terdengar jelas di tengah kesunyian ruangan.
Barulah setelah itu ia mengangkat wajah dan menatap menantunya.
"Selena datang ke sini tadi pagi sambil menangis," ucapnya tenang. "Dia menceritakan semuanya kepada Mama. Hubungannya dengan Adrian, pertengkaran kalian semalam, sampai bagaimana kamu mengusirnya dari rumahmu hari ini."
Nayara mengatupkan bibir.
Ia sudah menduga Selena akan mencari dukungan. Namun, sebagian kecil hatinya masih berharap bahwa Marissa akan menunjukkan kekecewaan terhadap putranya sendiri.
Bagaimanapun, Marissa adalah seorang perempuan sekaligus seorang ibu. Nayara berharap ibu mertuanya bisa memahami betapa menyakitkannya dikhianati oleh orang yang selama ini ia percaya.
"Adrian selingkuh, Ma," kata Nayara. Suaranya sedikit bergetar meskipun ia berusaha mengendalikannya. "Dia membohongiku selama ini. Dia menjalin hubungan dengan mantan pacarnya di belakangku, dan sekarang perempuan itu hamil."
Nayara menatap Marissa, mencari sedikit saja tanda bahwa ibu mertuanya memahami penderitaannya.
"Mama pasti kecewa sekali kepada Mas Adrian, kan?"
Marissa terdiam beberapa detik. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Kecewa?" ulangnya. "Tentu saja Mama kecewa karena Adrian bertindak ceroboh sampai semuanya terbongkar dan menimbulkan keributan di rumah tangganya sendiri."
Nayara sempat merasa lega mendengar kalimat pertama itu.
Namun, kalimat berikutnya langsung meruntuhkan harapannya.
"Tapi soal bayi itu, masalahnya berbeda."
Kening Nayara berkerut. "Maksud Mama?"
"Nayara, dengarkan Mama baik-baik." Nada suara Marissa berubah tegas. "Bayi di dalam kandungan Selena adalah darah daging keluarga Mahendra. Dia cucu Mama. Keluarga ini tidak akan pernah membuang keturunannya sendiri."
Nayara mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Mama membela perempuan itu?" serunya. "Dia selingkuhan Mas Adrian, Ma! Dia masuk ke kehidupan kami dan merusak rumah tangga anak Mama sendiri!"
"Adrian itu laki-laki, Nayara."
Marissa mengucapkannya seolah-olah sedang menjelaskan sesuatu yang sangat sederhana.
"Terkadang, laki-laki melakukan kesalahan ketika merasa tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan di rumah."
Nayara tertegun.
Beberapa detik kemudian, rasa tidak percaya itu berubah menjadi kemarahan.
"Tidak mendapatkan apa yang dia butuhkan?" ulangnya dengan suara meninggi. "Aku berhenti bekerja demi melayani Mas Adrian! Aku mengurus semua keperluannya setiap hari, seperti yang Mama minta sejak awal, sebelum kami menikah, Ma!"
Ia menunjuk dadanya sendiri.
"Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku menuruti semua keinginan keluarga ini. Jadi, apa lagi yang kurang dari diriku sampai dia selingkuh dengan perempuan lain?”
Marissa tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Sebaliknya, pandangannya justru turun ke arah perut Nayara.
Tatapan tersebut membuat hati Nayara terasa mencelos.
"Sudah dua tahun kalian menikah," ujar Marissa dingin. "Sampai sekarang, kamu belum juga memberikan keluarga ini seorang keturunan."
Nayara kehilangan kata-kata.
Ia meremas jemarinya sendiri di atas lutut, berusaha menahan luka yang kembali terbuka.
"Perusahaan keluarga membutuhkan pewaris. Kami membutuhkan cucu laki-laki," lanjut Marissa tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah. "Mama sudah berkali-kali menanyakan soal ini sama kamu. Namun, kamu selalu mengatakan belum diberi rezeki atau masih menundanya."
Marissa melirik amplop di atas meja.
"Sekarang, Selena datang membawa sesuatu yang selama ini tidak bisa kamu berikan kepada keluarga ini. Seharusnya kamu bisa melihat situasi ini dengan lebih logis."
"Logis?"
Air mata akhirnya mengalir di pipi Nayara.
Ia menggelengkan kepala, sulit menerima kenyataan bahwa ibu mertuanya sendiri menggunakan persoalan keturunan untuk membenarkan pengkhianatan Adrian.
"Mama membenarkan perselingkuhan Mas Adrian hanya karena Selena hamil?" tanyanya dengan suara bergetar. "Mama menyalahkan aku karena belum punya anak, lalu menjadikan itu alasan, bagi suamiku untuk tidur dengan perempuan lain?"
"Turunkan suaramu, Nayara! Jangan berteriak di rumahku!"
Marissa membetulkan letak selendang di bahunya. Sikapnya tetap tenang, seolah-olah air mata Nayara sama sekali tidak berarti.
"Mama tidak membenarkan cara Adrian berselingkuh. Namun, semuanya sudah terjadi. Bayi itu sudah ada. Sekarang, yang terpenting adalah menyelesaikan masalah ini tanpa mempermalukan nama keluarga Mahendra di mata publik."
"Tidak ada yang perlu diselesaikan!" Nayara langsung menyahut. "Kalau Mama dan Mas Adrian ingin menerima Selena beserta bayinya, silakan. Tapi aku tidak akan ikut campur lagi. Aku akan keluar dari keluarga ini dan menggugat cerai Mas Adrian secepatnya!"
Seketika, raut wajah Marissa mengeras.
Ia meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit lebih keras, lalu menatap Nayara dengan sorot mata penuh peringatan.
"Jangan bertindak bodoh," tergurnya.
"Aku serius, Ma."
"Kalau kamu menggugat cerai Adrian sekarang, apalagi dengan alasan perselingkuhan, saham perusahaan bisa anjlok. Nama baik keluarga kita akan hancur."
Marissa mencondongkan tubuhnya ke depan. "Mama tidak akan membiarkanmu merusak urusan bisnis keluarga hanya karena masalah sepele seperti ini."
Nayara mengusap air matanya dengan kasar.
"Itu bukan urusanku! Semua ini terjadi karena perbuatan anak Mama sendiri!" balasnya. "Aku tidak mau hidup berbagi suami. Aku juga tidak mau menanggung semua ini sendirian!"
"Kamu tidak perlu berbagi suami!"
Suara Marissa meninggi, memotong ucapan Nayara.
"Adrian sudah bicara kepada Mama. Dia tidak mau berpisah denganmu. Dia tetap menjadikan kamu sebagai istri sahnya!"
Nayara menatapnya dengan getir.
Marissa justru melanjutkan penjelasannya tanpa menyadari betapa kejamnya rencana yang sedang ia tawarkan.
"Selena hanya akan melahirkan anak itu. Setelah bayinya lahir, kita bisa mengambil dan mengurusnya. Selena akan diberikan uang serta fasilitas yang cukup besar agar dia tetap diam di luar sana."
Ia mengangkat dagunya dengan penuh keyakinan.
"Posisimu sebagai Nyonya Adrian Mahendra tidak akan pernah tergantikan."
Nayara terdiam.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap ibu mertuanya, berusaha memahami bagaimana seseorang bisa menyampaikan rencana sekejam itu, dengan wajah setenang orang yang sedang membicarakan urusan rumah tangga biasa.
Ternyata, pemikiran Marissa tidak jauh berbeda dengan putranya.
Bagi mereka, Selena adalah jalan untuk mendapatkan pewaris.
Sementara itu ...
emang lu doang yang bisa 🤣🤣