Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 34
Suasana yang tadinya penuh dengan keterkejutan mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk suara kemarahan. Bu Chintya, yang merasa posisinya sebagai "ratu" di perusahaan ini benar-benar terancam, berdiri dengan gebrakan meja yang keras. Wajahnya yang elegan kini distorsi oleh amarah yang meluap-luap.
"Damian! Cukup sandiwara ini!" teriak Bu Chintya dengan suara melengking, jarinya menunjuk tepat ke wajah putranya.
"Kamu pikir kamu siapa bisa mempermalukan ibumu sendiri di depan para direksi? Kamu anak tidak tahu diri! Selama ini Ibu yang bekerja keras menutupi ketidakmampuanmu di kursi direktur, dan ini balasan yang kamu berikan?"
Bu Chintya memutar pandangannya ke arah para direksi yang menatapnya dengan pandangan dingin.
"Jangan dengarkan dia! Dia sedang mengalami gangguan mental karena tekanan rumah tangga! Dia hanya berhalusinasi tentang korupsi ini untuk menutupi ketidakbecusannya!"
Melihat Bu Chintya mulai terdesak dan mencoba mengalihkan isu, Berlian yang sedetik sebelumnya tampak seperti tikus terpojok segera mengubah strateginya. Air mata buaya mulai membasahi pipinya yang dipoles makeup mahal. Dia berdiri dengan bahu yang digetarkan, berusaha tampil sebagai sosok yang terzalimi.
"Damian... bagaimana bisa kamu tega melakukan ini padaku?" isak Berlian dengan suara yang dibuat bergetar.
"Aku... aku hanyalah korban! Pak Kuncoro, Papa memaksaku! Papa bilang ini demi kerja sama perusahaan, dan Bu Chintya... Bu Chintya yang terus-menerus menekan saya untuk mengikuti setiap arahan yang kalian berikan."
Berlian menunduk, isakannya semakin keras.
"Aku sama sekali tidak tahu soal transfer fiktif atau invoice ganda itu! Aku hanya diminta menandatangani dokumen-dokumen yang menurut mereka adalah prosedur standar. Saya dijebak! Saya adalah pihak yang dimanipulasi di sini, sama seperti Damian! Karena memang saya memiliki perasaan yang tulus kepada Damian!" Berlian menangis sesegukan mencoba mencari perhatian semua orang di sana.
Pak Kuncoro, yang melihat putrinya mulai "cuci tangan", matanya membelalak tak percaya.
"Apa? Berani-beraninya kamu, Berlian! Kamu yang dari awal meminta komisi lebih besar! Kamu yang terus mendesak agar transfer itu dipercepat!"
"Itu bohong!" potong Berlian cepat, kini menunjuk ke arah Pak Kuncoro dengan tatapan penuh kebencian.
"Papa dan Bu Chintya yang melakukan semuanya! Papa yang membawa dokumen-dokumen itu ke rumah Bu Chintya setiap malam! Saya hanya anak yang patuh pada orang tua, saya tidak tahu menahu soal detail busuk ini!"
Ruangan itu kini menjadi ajang saling lempar tanggung jawab. Bu Chintya yang tadinya membela Berlian, kini berbalik mencaci wanita itu karena merasa dikhianati.
"Berlian! Jangan mencoba memutarbalikkan fakta! Kamu menikmati setiap rupiah dari uang yang kamu ambil, jangan sekarang berlagak suci! Kamu juga yang bahkan selalu merengek dan menekanku agar segera menikahkan kamu dengan Damian!" hardik Bu Chintya.
"Ibu juga! Ibu yang merancang semuanya agar Damian terlihat tidak kompeten!" balas Berlian tak kalah sengit.
Damian berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan datar yang menakutkan. Di matanya, mereka hanyalah sekumpulan orang rakus yang kini mulai mencakar satu sama lain demi menyelamatkan leher sendiri. Rian, di sebelahnya, hanya berdiri tegak dengan tangan yang memegang tablet berisi rekaman suara asli dari berbagai pertemuan mereka. Bukti yang lebih dari cukup untuk membungkam akting murahan tersebut.
"Sudah cukup," suara Damian memecah keributan, namun kali ini nadanya jauh lebih rendah dan dingin.
"Kalian tidak perlu membuang energi untuk saling menyalahkan. Karena di mata hukum dan di hadapan bukti-bukti yang sudah saya pegang, kalian semua berada di dalam satu kapal yang sama," Damian memberi isyarat kepada Rian.
"Rian, putarkan rekaman tanggal 14 Januari lalu. Biarkan semua orang di ruangan ini mendengar bagaimana 'ketidaktahuan' Berlian dan 'ketidakbersalahan' Ibu dirancang dengan sangat rapi."
Seketika, ruangan yang tadinya penuh dengan teriakan saling tuduh itu kembali hening. Wajah Bu Chintya memucat seketika, sementara Berlian membeku, menyadari bahwa permainan aktingnya telah berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin. Rian menekan tombol play pada perangkatnya. Suara jernih mulai memenuhi setiap sudut ruang rapat, memecah kepalsuan yang baru saja dibangun Berlian.
"Berlian, pastikan catatan transfer untuk komisi unit bulan ini sudah masuk ke rekening luar negeri yang biasa kita pakai. Jangan sampai Damian mencium bau-bau mencurigakan di laporan bulanan nanti," suara Bu Chintya terdengar jelas, dingin dan penuh otoritas.
"Tenang saja, Tante," sahut suara Berlian, kali ini tanpa isak tangis, melainkan dengan nada angkuh yang familiar.
"Aku sudah mengatur semuanya dengan Papa. Damian itu terlalu penurut dan percaya kepada ibunya. Dia benar-benar boneka yang bisa kita mainkan sesuka hati. Tinggal satu yang belum terwujud, pernikahan aku dan Damian! Bu Chintya harus segera menepati janji untuk segera menyingkirkan Wanita itu dan anak Damian! Aku tak suka ada anak kecil! Ibu Chintya sudah janji padaku!'
"Iya tenang saja, aku akan segera melakukannya. Anak kecil itu terlalu dekat dengan Alysia. Dan dia pasti akan ikut dengannya. walau Alysia bukan ibu kandungnya. Kamu tenang saja! Kamu tak akan di ganggu dan perlu repot mengurus anak itu!"
Suara tawa kecil dari Pak Kuncoro menyusul, diikuti oleh obrolan yang merinci bagaimana mereka memanipulasi vendor dan menggelembungkan biaya proyek.
Rekaman itu berhenti. Hening total menyambut mereka.
Bu Chintya mematung. Wajahnya yang semula memerah karena marah, kini kehilangan seluruh warnanya, meninggalkan ekspresi ketakutan yang berusaha ia tutup-tutupi. Berlian yang tadi bersimpuh sambil menangis, kini terdiam dengan mulut ternganga, matanya menatap perangkat di tangan Rian dengan sorot horor. Akting mereka telah hancur berkeping-keping.
Damian melangkah maju, menghampiri meja utama. Ia tidak menatap ke arah ibunya, melainkan menyapu pandangannya ke seluruh dewan direksi yang kini menatap ketiga orang itu dengan pandangan jijik.
"Bagaimana, Ibu? Apakah ini masih fitnah? Atau mungkin Anda ingin mengatakan bahwa rekaman ini hasil rekayasa teknologi?" tanya Damian dengan suara tenang, namun setiap katanya seperti sabetan cemeti.
Bu Chintya mencoba membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Keangkuhannya sebagai pemilik perusahaan runtuh saat melihat para direktur mulai berbisik dan mengeluarkan ponsel mereka, sebagian besar mungkin untuk menghubungi pengacara perusahaan atau pihak berwenang.
"Aku... aku hanya ingin yang terbaik untuk masa depanmu, Damian!" pekik Bu Chintya, mencoba berpegang pada alasan terakhirnya.
"Yang terbaik dengan cara menguras kekayaan perusahaan yang dibangun Kakek?" Damian memotong dengan tajam.
"Ibu tidak sedang menjaga masa depanku. Ibu sedang menyiapkan kursi panas untukku duduk, sementara Ibu, Berlian, dan Pak Kuncoro melarikan diri dengan uang perusahaan."
Pak Kuncoro, yang menyadari bahwa tamatlah riwayatnya, mencoba berdiri untuk menyerang secara fisik, namun dua orang petugas keamanan yang dipanggil Rian segera menahannya dengan keras.
"Lepaskan saya! Kalian tidak tahu siapa saya!" teriak Pak Kuncoro, namun suaranya tenggelam oleh kebisingan di ruang rapat.
Damian kembali menatap ibunya, tatapannya menyiratkan rasa sakit yang tak terperi.
"Ibu, selama enam tahun saya menelan semua hinaan Ibu terhadap Alysia. Saya diam saat Ibu merendahkan martabat istri saya dan meragukan kebahagiaan kami. Saya pikir, itu adalah bentuk pengabdian saya sebagai anak. Tapi ternyata, di balik topeng Ibu, ada monster yang bahkan tak segan mengorbankan darah dagingnya sendiri demi tumpukan angka di rekening."
Damian memberi kode pada Rian untuk membuka pintu ruang rapat lebar-lebar. Di koridor, terlihat beberapa orang berseragam polisi yang dipandu oleh kepala keamanan kantor.
"Hari ini, sandiwara ini berakhir," ujar Damian final.
"Bawa mereka. Saya akan mengurus detail tuntutan hukumnya. Dan kepada para direksi yang hadir, saya akan mengaudit ulang seluruh departemen mulai besok pagi. Siapa pun yang terlibat dalam konspirasi ini, silakan mengundurkan diri sekarang sebelum polisi membawa Anda keluar dari ruangan ini dengan borgol."
mau yg alami atau buatan ,,
sebelum jantung anda kehilangan pasokan oksigen Selama rapat ,,
😏😏😏😏😏 ,,
kejahatan Dan kecurangan anda cukup di enam tahun aj bu ,, udh terlalu kenyang ,,
gx baik klo sampe kkenyangan bisa jdi penyakit ,,
penyakit serakah 😏😏😏😏😏😏