"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18: BAYANG-BAYANG DI ATAS KOTA PARIS
" Apa kau lihat-lihat?!" geretak Aleeza tajam.
Ia memotong waffles di piringnya dengan gerakan kasar, lalu menusuk potongan makanan itu menggunakan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut dengan ekspresi kesal yang luar biasa.
Namun yang membuat Aleeza makin mendidih, Austin justru duduk di seberangnya sambil tersenyum geli. Pria itu memperhatikan gerak-gerik Aleeza seolah sedang menonton pertunjukan sirkus yang menghibur. Rasa sakit di pipi akibat tamparan dan ngilu di tulang kering bekas tendangan Aleeza kemarin seolah lenyap begitu saja tanpa bekas di wajah Austin.
"Sebelum ini, empat kali tamparan sudah mendarat di pipiku, Aleeza. Dan entah berapa kali tendangan maut di tulang keringku kau layangkan," ucap Austin dengan nada santai yang mengejek. "Tapi kelihatannya hal itu sama sekali tidak membuatmu jera."
"Diam! Atau kubur hidup-hidup di bawah Menara Eiffel ini!" ancam Aleeza ketus, wajahnya memerah padam.
Austin terkekeh pelan. "Makan sarapanmu dengan benar, Mi Amor. Jangan sambil marah-marah. Lagipula, kau sudah menghajarku, kan?"
"Don't call me Mi Amor! I'm not your lover!" bentak Aleeza spontan, merasa terganggu dengan panggilan mesra itu.
Austin menyeringai jahil, menaik-turunkan alisnya menggoda. "Yes, you are. Wanita yang sudah kucium berkali-kali adalah wanitaku."
Aleeza mendengus geram, hendak membalas umpatan, namun ia mendadak tersedak hebat akibat potongan makanan yang salah jalur. Melihat itu, Austin dengan sigap mendorong segelas air putih ke hadapan Aleeza, lalu menatapnya dengan tawa tertahan.
Aleeza mengabaikan tatapan mengejek itu, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela kaca transparan restoran mewah di lantai teratas hotel internasional milik keluarga Vanderbilt tersebut.
Restoran berdesain interior emas dan putih itu menawarkan pemandangan kota Paris di pagi hari yang sangat menakjubkan. Di tengah kesunyian kelas atas tempat itu, perhatian Aleeza mendadak terusik oleh pemandangan di meja seberang.
Sepasang anak kecil sedang berkejar-kejaran dengan ceria, membuat suasana meja mereka sedikit marak. Sang anak laki-laki tampak menggoda anak perempuan hingga anak perempuan itu mengadu pada orang tuanya.
Melihat interaksi polos itu, sudut bibir Austin terangkat membentuk senyuman hangat yang jarang sekali ditunjukkannya. Dan jujur, ekspresi tulus di wajah Austin itu membuat debar jantung Aleeza bergejolak aneh sensasi yang persis sama seperti saat pria itu menciumnya di lorong apartemen.
Perasaan apa ini? batin Aleeza ngeri, buru-buru menepis bayangan itu.
"Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan anak kecil," suara bariton Austin memecah lamunan Aleeza. Pria itu menoleh, menatap Aleeza dengan sorot mata lembut yang asing. "Hanya saja melihat mereka mengingatkanku pada caraku menggoda seseorang di masa lalu."
Deg!
Jantung Aleeza berdetak lebih kencang dari yang seharusnya. Namun dengan cepat, akal sehatnya menarik Aleeza kembali ke jurang kenyataan.
Ingat Julian, Aleeza Ingat pria yang menderita karenamu!
Aleeza meneguk cokelat hangatnya, berusaha menormalkan napasnya. Di dalam hatinya, pertarungan batin berkecamuk hebat.
Bagaimana mungkin ia bisa lupa? Lelaki di hadapannya ini Austin Vanderbilt mencintai Angeline Stevano. Semua kemewahan, ciuman, dan sandiwara pertunangan palsu ini hanyalah bagian dari rencana balas dendam Austin untuk menghancurkan hidupnya. Austin ingin membuat Aleeza jatuh cinta, lalu membuangnya di titik nadir kehancuran sebagai bentuk pembalasan atas masa lalu.
Karena itu, aku tidak boleh mencintai pria ini, batin Aleeza memperingatkan dirinya sendiri dengan air mata yang hampir tumpah di sudut mata. Mencintai Austin hanya akan membawaku pada kematian perlahan. Aku sudah memiliki Julian pangeran sejatiku yang sedang menunggu di kegelapan.
"Terus saja goda Angeline kalau begitu," ucap Aleeza dingin, memasang topeng acuh tak acuh untuk menutupi kerapuhannya. "Mungkin saja dia akan membatalkan pernikahannya jika kau terus merayunya."
Austin terdiam sejenak. Ia menumpukkan dagunya di atas kedua tangan, menatap Aleeza lekat-lekat dengan binar yang sulit diartikan.
"Tidak, aku baru sadar," bisik Austin menyeringai tipis. "Menggodamu ternyata jauh lebih menyenangkan. Lagipula aku hanya pernah mencium Angeline satu kali. Jadi, hanya kaulah satu-satunya wanita yang pantas kupanggil dengan sebutan khusus."
Aleeza membelalakkan matanya, merona merah, sementara senyuman penuh rahasia terukir di wajah sang billionaire di bawah langit pagi kota Paris.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!