Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
...`[🚧 🔞AREA DEWASA ONLY 🚧]`...
Pintu baja penthouse mewah bernuansa modern-minimalist itu tertutup dengan bunyi klik yang menggema dingin. Kegelapan dan keheningan seketika menyergap mereka, hanya disinari pendar samar lampu-lampu pencakar langit New York yang menembus dinding kaca raksasa di ruang utama.
Ester berdiri membeku di dekat pintu, mantel tuxedo milik Dominic masih melingkupi bahunya yang bergetar.
Tangannya meremas kain tebal itu rapat-rapat. Jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam dada hingga rasanya menyakitkan.
Di usianya yang baru 22 tahun, keputusannya malam ini terasa bagaikan melompat ke dalam jurang tanpa dasar.
Pria di hadapannya bukan sekadar majikan yang memberinya gaji, melainkan pria matang berusia 32 tahun—paman dari-muridnya yang selama ini selalu ia hormati dari kejauhan.
Dominic melempar kunci mobil ke atas meja konsol. Ia membalikkan badan, menatap Ester di dalam remang.
Sisa-sisa alkohol di dalam darahnya menyatu dengan amarah, kekecewaan, dan keputusasaan yang tertahan selama bertahun-tahun.
Dominic—putra dari Kaetos Ashford dan Parrie Ashford yang dikenal paling lembut, penuh kesabaran, dan amat menghargai wanita—malam ini telah kehilangan seluruh kendali dirinya.
"Buka mantelmu, Ester," perintah Dominic. Suaranya amat berat, dingin, dan parau.
Ester menelan ludah yang terasa sesak di tenggorokan.
Dengan jemari yang gemetaran hebat, ia meloloskan mantel hitam itu dari bahunya, membiarkannya jatuh terpuruk ke lantai. Gaun maroon minim bahan itu kini terekspos sepenuhnya, memamerkan kulit mulusnya yang berkilau di bawah temaram kota.
Dominic melangkah mendekat.
Langkah kakinya terdengar memburu, menghapus jarak di antara mereka hingga napas hangat beraroma whisky menghantam wajah Ester.
Pria itu menangkup rahang Ester, mendongakkan wajah gadis itu, dan kembali menyambar bibirnya dengan brutal.
Tidak ada kelembutan dalam ciuman kali ini.
Dominic melumat, menyesap, dan menguasai bibir Ester dengan kelaparan yang tak tertahankan.
Ester menahan desahannya, jemarinya canggung meremas kemeja di dada Dominic. Rasa asing dan mendominasi ini membuatnya pusing.
Ketika tangan besar Dominic bergerak mengusap pinggangnya dan menyusup ke balik gaunnya, Ester tersentak pelan, mengeluarkan rintihan canggung di sela tautan bibir mereka.
Dominic mengangkat tubuh Ester dalam satu gerakan mudah, membuat gadis itu refleks melingkarkan kakinya di pinggang kokoh Dominic.
Langkah lebar Dominic membawa mereka menuju kamar utama, melempar tubuh molek itu ke atas tempat tidur berukuran king-size yang empuk.
Di atas ranjang yang luas itu, ketegangan makin membakar udara. Dominic menindih tubuh Ester, menatap manik mata cokelat yang berkaca-kaca itu di dalam remang kamar.
Demi Tuhan, Dominic bukan pria munafik yang tidak memiliki gairah.
Selama sepuluh tahun menjalin kasih dengan Florence Nightingale Berres, hubungan mereka telah melangkah amat jauh.
Mereka pernah bermesraan gila-gilaan, berpelukan di atas ranjang yang sama, bahkan berulang kali berada dalam kondisi hampir telanjang bulat.
Namun, setiap kali Dominic berada di puncak gairahnya dan berniat melakukan penyatuan penuh, Florence selalu menahannya.
Florence selalu menolak dengan alasan belum siap terikat, dan Dominic—dengan segala rasa hormat dan cintanya yang begitu dalam—selalu mengalah. Ia tidak pernah mau memaksa.
Berakhirlah hari-hari frustrasinya di kamar mandi. Bibit unggul yang dikagumi banyak orang itu bertahun-tahun harus menahan hasratnya sendiri, memuaskan diri secara mandiri di bawah kucuran air dingin seraya membayangkan wajah Florence.
Namun malam ini, semua kesabaran itu hancur berantakan.
Untuk pertama kalinya dalam 32 tahun hidupnya, Dominic Ashford akan menyerahkan mahkota keperjakaannya—dan Ester Alba, gadis 22 tahun yang merupakan guru privat keponakannya, menjadi wanita pertama yang menyaksikan runtuhnya pertahanan seorang Ashford.
Dominic menanggalkan kemejanya dengan kasar, memamerkan dada bidang dan otot tubuhnya yang terukir sempurna. Ester menahan napas, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di balik kedua tangannya.
"J-Jangan lihat aku seperti itu, Tuan..." bisik Ester, suaranya kecil dan sangat canggung.
Dominic menarik kedua tangan Ester dari wajahnya, menguncinya di atas kepala gadis itu. "Lihat aku, Ester. Kau yang memilih ini malam ini."
"Tapi... aku tidak tahu harus melakukan apa," cicit Ester polos.
Rasa canggung yang luar biasa melingkupinya. Menyerahkan kesuciannya pada pria sekelas Dominic Ashford yang pantas menjadi pamannya terasa begitu tidak nyata.
Dominic terkekeh miris, sebuah tawa tipis yang dipenuhi keputusasaan. "Aku juga tidak tahu, Ester. Kita sama-sama bodoh malam ini."
Gaun maroon itu terlepas, meninggalkan mereka berdua dalam kondisi tanpa sehelai benang pun. Saat jemari Dominic menyentuh area terlarang Ester, gadis itu melonjak kaget dan memejamkan mata erat-erat.
"A-Apakah akan sakit?" tanya Ester dengan nada kepanikan, membuat gerakan Dominic terhenti sejenak.
"Sangat," jawab Dominic jujur, napasnya berembus kasar di leher Ester. "Tapi aku tidak bisa berhenti lagi."
Penyatuan itu dimulai dengan kecanggungan yang nyata dari dua insan yang sama-sama baru pertama kali melakukannya.
Dominic meringis pelan saat mencoba menyatukan tubuh mereka, mendapati penyatuan ini jauh lebih sempit dan sulit dari apa yang pernah ia bayangkan.
Ester menjerit pelan, mencengkeram bahu kokoh Dominic hingga kuku-kukunya menancap dalam, menahan rasa perih yang melintas tajam saat batas kesuciannya terobek sempurna.
Namun perlahan, dorongan rasa sakit itu berganti menjadi gelombang hangat yang memabukkan.
Putra Kaetos yang biasanya dikenal lembut dan tenang itu berubah menjadi sosok yang brutal dan penuh penuntutan.
Setiap dorongan dan pergerakan Dominic di atas tubuh Ester adalah bentuk pelepasan atas rasa sakit hati.
Penyatuan mereka makin panas dan intens. Gesekan kulit, deru napas yang memburu, dan derit halus tempat tidur memenuhi kamar yang megah itu.
Ester yang awalnya canggung mulai terbawa oleh arus gairah liar yang diajarkan Dominic. Ia mendongak, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi bercak merah akibat ulah Dominic.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Dominic Ashford, bibir tebalnya yang biasa mendesahkan nama Florence di dalam kesendirian kamar mandi, kini merintih pasrah mengeluarkan nama wanita lain di atas ranjang.
"Ester... Ahhh!" desah Dominic parau, menanamkan wajahnya di celah leher Ester saat pelepasan gila itu akhirnya menghantam seluruh kesadarannya.
Ester meremas rambut tebal Dominic, membiarkan pria dewasa itu menumpahkan seluruh gairah, keputusasaan, dan air matanya di atas dadanya.
Ya, di tengah puncak penyatuan mereka, Dominic meneteskan air mata—air mata duka atas cintanya yang mati bersama Florence, dan air mata atas batas suci yang kini telah ia lewati bersama gadis muda di pelukannya.
Suara deru napas yang berat perlahan mulai mereda di dalam kamar yang sunyi itu. Gelombang gairah yang beberapa saat lalu membakar ruangan kini tergantikan oleh rasa canggung yang teramat pekat.
Dominic membaringkan tubuhnya di samping Ester, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Keheningan yang menindas mendadak merayap di antara mereka.
Ester berbaring membelakangi Dominic, memeluk selimut erat-erat hingga ke dada. Rasa perih di tubuh bagian bawahnya masih terasa nyata, menjadi bukti bahwa kepolosannya telah hilang malam ini.
Air mata menetes pelan menyusuri pipinya, membasahi bantal. Ia merasa asing dengan dirinya sendiri, namun di sisi lain, bayangan biaya pengobatan ayahnya yang terbayar membuat dadanya sedikit lega meski diwarnai rasa penyesalan.
Dominic menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Tangannya diletakkan di atas dahi.
Sensasi penyatuan pertama dalam hidupnya masih membekas kuat di seluruh saraf tubuhnya. Ia telah melakukannya. Ia telah menodai guru privat keponakannya sendiri—seorang gadis polos yang terdesak kebutuhan ekonomi.
"Ester..." panggil Dominic, suaranya amat parau.
Ester tidak menoleh, hanya bahunya yang naik turun menahan isak tangis yang tertahan.
"Ya, Tuan?"
Dominic memejamkan matanya rapat-rapat. Kesadaran akan perbuatannya kini menghantam kepalanya dengan rasa bersalah yang amat besar.
"Besok pagi... semua uang yang kau butuhkan untuk operasi ayahmu akan ada di rekeningmu."
"Terima kasih, Tuan Ashford," jawab Ester lurus, suaranya bergetar tipis. "Sesuai perjanjian... ini hanya untuk satu malam."
Dominic mengepalkan tangannya di balik selimut.
Kata-kata Ester tentang 'satu malam' entah mengapa terasa menampar wajahnya. Pria itu membalikkan badan, menatap punggung mulus Ester yang tak tertutup selimut sepenuhnya.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏