NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

~DALAM TAHAP REVISI~

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — Regol Dalem (Revisi)

“Ndoro Raras! Ya Allah, Ndoro pulang!”

Mbok Jinem setengah berlari dari pos jaga di samping regol, kain jaritnya terangkat sedikit agar tidak tersandung. Lampu minyak di pintu gerbang berayun, melempar cahaya kuning pada daun-daun jati yang berderak. Malam sudah turun penuh. Di balik tembok batu, bau gabah kering menyeruak dari gudang, bau yang tidak pernah berubah sejak Raras kecil.

“Mbok.” Raras turun dari taksi dengan satu tas kecil. Ia tersenyum, dan senyum itu nyaris berhasil. “Raras cuma mampir.”

“Mampir kok wengi-wengi (malam-malam), tanpa kabar?” Mbok Jinem menggenggam kedua lengannya, menatapnya dari atas sampai bawah, lalu berhenti di tangan kanan yang terbalut kasa. “Tangan Ndoro kenapa?”

“Mas Danang mboten sareng (tidak ikut), Ndoro?”

“Mas Danang sibuk, Mbok.”

Mbok Jinem tidak bertanya lagi. Matanya hanya mengecil sebentar.

“Teh panas, Mbok. Ceroboh.”

“Ndoro Raras tidak pernah ceroboh. Mbok yang momong Ndoro dari bayi.”

Raras tertawa pendek. Tenggorokannya terasa ditarik tali. “Mbok jangan bikin Raras nangis di depan gerbang.”

“Nangis nggak apa-apa. Gerbang ini sudah sering lihat Ndoro nangis, waktu jatuh dari sepeda dulu.” Mbok Jinem mengangkat tas itu, tidak mau dibantah. “Mangga, Ndoro, mangga lebet (silakan, Ndoro, silakan masuk). Ibu belum tidur, sedang di pendapa belakang.”

Mereka melewati halaman berbatu pipih. Raras menunduk, tidak sanggup menatap apa pun lama-lama.

“Raras!”

Retno berdiri di ambang pintu pendapa belakang dengan kebaya rumah berwarna kelabu. Rambutnya digelung rendah, wajahnya pucat oleh tidur yang tertunda. Ia tidak berlari. Ia hanya berdiri, dan tangannya terangkat pelan ke dada.

“Bu.”

“Kamu kok nggak bilang mau pulang?”

“Raras kirim pesan, Bu. Tadi sore.”

“Ibu lihat. Ibu pikir kamu cuma ingin kabar.” Retno melangkah turun dua anak tangga. “Kamu pucat sekali, Nduk.”

Nduk. Satu kata itu menembus lebih dalam dari seluruh kalimat yang Raras dengar sepanjang hari. Dagunya bergetar. Ia buru-buru mengangkat wajah.

“Bu, Raras mau menumpang kamar beberapa hari saja.”

“Menumpang?”

“Iya. Raras tidak mau merepotkan.”

“Kamar itu kamarmu, Nduk. Bukan penumpangan.” Retno berhenti tepat di depannya. Ia tidak bertanya apa pun. Matanya hanya menyapu wajah Raras, bahunya yang turun, dan balutan di tangannya. “Tanganmu kenapa?”

“Teh panas, Bu.”

“Teh panas itu tidak melepuh sendiri.” Suara Retno sangat halus. “Nanti Ibu lihat. Sekarang, sini.”

“Bu...”

“Sini.”

Raras melangkah satu kali, dan lututnya menyerah. Ia jatuh ke pelukan ibunya, dan tangis yang ia tahan sejak ketukan pintu semalam pecah sekaligus. Bukan tangis yang rapi. Bahunya terguncang, napasnya putus-putus, dan jemarinya mencengkeram kebaya ibunya.

“Mas Danang minta cerai, Bu.”

“Sst. Iya.”

“Bapak jangan dikasih tahu dulu, Bu. Bapak pasti marah.”

“Bapakmu sedang di Magelang, mengurus panen. Ibu bukan khawatir Bapakmu marah.” Retno tidak menyelesaikan kalimatnya. “Nanti saja.”

“Dia sudah punya perempuan lain. Enam bulan, Bu. Raras nggak tahu. Raras bodoh.”

“Kamu tidak bodoh.” Tangan Retno mengusap punggungnya perlahan, berulang, seperti dulu ketika Raras demam. “Kamu hanya percaya pada orang yang kamu cintai. Itu bukan kebodohan.”

“Raras sudah coba bertahan. Raras sudah coba tanya baik-baik. Mereka bilang Raras yang gagal. Raras sempat berpikir, mungkin memang Raras yang kurang. Mungkin Raras terlalu diam.”

“Diam itu bukan kekurangan, Nduk.” Retno menahan wajah putrinya dengan dua tangan. “Diam itu cara orang menjaga. Yang salah itu orang yang mengira diam sama dengan tidak butuh.”

“Siapa mereka?”

“Keluarga Mas Danang.” Raras menarik napas yang tersangkut. “Ibunya bilang Raras masuk keluarga itu tanpa membawa apa-apa.”

Tangan Retno berhenti di punggungnya. Hanya sedetik, tetapi Raras merasakannya. Ketika tangan itu bergerak lagi, gerakannya lebih lambat.

“Perempuan yang tidak membawa apa-apa,” ulang Retno, datar. “Begitu katanya?”

“Iya, Bu.”

“Sudah makan?”

Raras menarik diri dan menatap ibunya. Ia tertawa di sela air mata. “Itu persis yang Mas Danang bilang semalam. Jangan lupa makan.”

“Orang yang sudah memilih pergi pun masih ingat kebiasaan lama.” Retno mengusap pipi Raras dengan ibu jarinya. “Tapi Ibu tidak sedang bicara kebiasaan. Ibu bertanya, kamu sudah makan atau belum.”

“Belum.”

“Mbok Jinem!”

“Sampun, Bu (sudah, Bu)!” suara Mbok Jinem terdengar dari dapur. “Wedang jahe lan sega goreng sampun wonten (wedang jahe dan nasi goreng sudah ada)!”

Mereka duduk di dipan kayu jati di pendapa belakang. Mbok Jinem datang membawa nampan, meletakkan gelas wedang jahe di depan Raras, lalu mundur dua langkah dan berdiri menunggu. Uap jahe naik dalam cahaya lampu.

“Terasinya masih sama, Mbok,” kata Raras setelah satu suap nasi goreng.

“Ndoro dulu minta ditambah. Katanya kurang nendang.”

“Raras bilang begitu?”

“Bilang. Umur sepuluh tahun, sambil nangis kepedesan.”

Retno nyaris tersenyum. Raras menatap gelas wedang itu cukup lama.

“Kenapa, Nduk?”

“Wedang jahe ini yang Raras buatkan untuk Mas Danang waktu kontraknya pertama kali ditolak. Dia duduk di teras sendirian, hujan deras. Raras cuma menaruhnya di sebelahnya.” Suaranya mengecil. “Dia bilang, cuma Raras yang nggak maksa dia cerita.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang dia bilang Raras datar.”

Retno diam beberapa saat. “Kamu merasa begitu, Nduk?”

“Raras tidak tahu, Bu. Raras cuma berusaha menjaga.” Ia meraih gelas itu dengan tangan kiri, lalu meminumnya perlahan. Panasnya menjalar sampai dada, dan entah kenapa ia merasa lebih sanggup bernapas. “Tapi Raras tidak akan memohon. Raras nggak mau jadi perempuan yang menahan laki-laki yang sudah memilih pergi.”

“Ibu tidak akan menyuruhmu memohon.”

“Raras juga nggak mau pura-pura baik-baik saja.”

“Ibu juga tidak akan menyuruhmu berpura-pura.” Retno menatapnya lurus. “Sekarang makan, tidur, dan menangis kalau perlu. Urusan lain kita pikirkan nanti.”

“Kamu masih mencintainya?” tanya Retno.

“Masih, Bu.” Suaranya nyaris hilang. “Itu yang paling menyakitkan. Raras masih sayang, padahal sudah tahu begini.”

“Ya wajar, Nduk. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar.”

“Raras tidak tanda tangan, Bu.”

“Surat cerainya?”

“Ada satu kalimat yang bohong. Mereka menulis Raras penyebabnya.” Jari Raras mengetuk pinggir gelas. “Raras minta kalimat itu dicabut. Mereka bilang tanda tangan dulu.”

“Dan kamu bilang?”

“Raras bilang Raras tidak pernah menandatangani sesuatu yang tidak benar.”

Retno mengangguk. Ada sesuatu yang bergeser di wajahnya, bukan marah yang meledak, melainkan kebanggaan yang diam dan tidak ingin dipamerkan.

“Suratnya kamu bawa?”

“Salinannya ada di tas, Bu.”

“Besok Ibu yang simpan.”

“Perempuan itu siapa? Kamu sudah bertemu?”

“Sudah, Bu. Tadi pagi dia datang ke rumah bawa lapis legit.”

“Lapis legit.”

“Kesukaan Mas Danang.”

“Dan kamu suguhi dia teh?”

“Iya, Bu. Tangan Raras gemetar, jadi tumpah.”

“Anak Ibu.” Retno menggeleng pelan, antara ingin tertawa dan ingin menangis. “Kamu masih menyuguhkan teh pada perempuan yang datang membawa kue untuk suamimu.”

“Raras cuma tidak mau tidak sopan, Bu.”

“Sopan itu bagus. Tapi jangan sampai sopanmu dipakai orang untuk menginjak.” Retno menoleh. “Mbok Jinem, ambilkan kasa baru dan minyak kelapa. Tangan Raras biar Ibu yang rawat.”

“Raras nggak apa-apa, Bu.”

“Ibu yang menentukan apa-apa atau tidak.”

“Mbok,” kata Retno pada Mbok Jinem, “siapkan kamar Raras. Ganti seprai yang kain mori, yang dingin.”

“Sampun, Bu. Naliko sonten dalem sampun siapaken (sudah, Bu. Sejak sore saya sudah menyiapkan).”

“Sejak sore?”

“Inggih, Bu. Mbok ngrasa Ndoro Raras badhe kondur (iya, Bu. Mbok merasa Ndoro Raras akan pulang).”

Raras menutup mulutnya dengan telapak tangan yang terbalut. Air matanya jatuh lagi, tetapi kali ini lebih tenang.

“Terima kasih, Mbok. Terima kasih, Bu.”

“Kamu pulang ke rumahmu, Nduk. Tidak perlu terima kasih.”

“Eyang sudah tahu Raras datang, Bu?”

“Belum. Tapi rumah ini tidak pernah punya rahasia dari Eyangmu.”

“Besok saja, Bu. Hari ini Raras sudah habis. Raras belum siap ditanya.”

“Eyangmu tidak suka menunggu, tapi tidak ada yang meminta kamu siap, Nduk. Beliau cuma ingin melihat kamu. Ibu juga.”

Dari arah pendapa depan terdengar bunyi pelan. Tak, tak, tak. Tongkat kayu beradu dengan lantai batu, teratur dan tak tergesa. Bunyi itu semakin dekat.

Mbok Jinem langsung menegakkan punggungnya. Retno menurunkan tangannya dari bahu Raras. Cahaya lampu menggoyang bayang-bayang di dinding.

Raras menahan napas dan menegakkan punggung.

“Eyang bangun,” bisik Retno.

Bunyi itu berhenti tepat di ambang pintu, di belakang punggung Raras.

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!