Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Di dalam sebuah ruangan luas dengan jendela kaca setinggi langit-langit, Adam Lorenzo Maxnore berdiri membelakangi pintu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tatapan matanya tertuju pada pemandangan kota Singapura yang terbentang di luar sana.
Biasanya, pemandangan itu mampu membuat pikirannya tenang. Namun, hari ini semuanya terasa berbeda.
Veronika, nama itu terus berputar di kepalanya, membawa kembali kenangan yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Adam memejamkan mata sejenak. Dia dan Veronika telah mengenal satu sama lain sejak kecil. Keduanya tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, melewati masa-masa sulit bersama, dan saling menemani ketika dunia seolah-olah tidak memberikan tempat bagi mereka.
Saat Adam belum memiliki apa-apa, Veronika adalah satu-satunya orang yang tetap berada di sisinya. Ketika semua orang meragukan kemampuannya, wanita itu justru percaya bahwa suatu hari Adam akan menjadi seseorang yang disegani, dan Adam membuktikannya.
Dia membangun kekuasaannya dari bawah, menghadapi berbagai pengkhianatan, serta menaklukkan orang-orang yang berani menghalangi jalannya. Hingga akhirnya, dia menjadi salah satu pria paling berkuasa dan ditakuti di Asia Tenggara. Namun, di balik semua kekayaan dan kekuasaannya, Adam selalu menyimpan satu janji untuk Veronika. Dia akan menikahi wanita itu. Dia akan memberinya kehidupan yang layak, rumah yang nyaman, dan segala sesuatu yang tidak pernah mereka miliki saat kecil.
Sayangnya, sebelum janji itu terwujud, maut lebih dahulu memisahkan mereka. Adam mengepalkan tangannya di dalam saku.
"Veronika...." Suaranya terdengar begitu pelan, nyaris tenggelam di antara keheningan ruangan.
"Aku sudah berjanji akan menikahimu."
Rahangnya mengeras, "tapi kenapa kau meninggalkanku?"
Tidak ada jawaban selain keheningan. Adam membuka matanya. Tatapannya kembali dingin, seolah-olah dia baru saja mengubur semua perasaan yang hampir membuatnya kehilangan kendali.
Ketukan pintu terdengar.
"Masuk!"
Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria berpakaian hitam yang merupakan salah satu orang kepercayaannya. Pria itu berjalan mendekat, lalu menundukkan kepala.
"Tuan, kami sudah memeriksa rekaman CCTV di lokasi kejadian."
Adam tidak langsung menoleh, "Lalu?"
"Tidak ada orang lain di dalam mobil selain wanita yang sekarang berada di kediaman ini."
Adam perlahan berbalik.
"Jadi, rekaman itu membuktikan dia yang mengemudikan mobil?"
Bawahannya terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Rekaman yang kami peroleh belum memperlihatkan dengan jelas siapa yang berada di balik kemudi saat tabrakan terjadi, Tuan. Namun, wanita itu berada di dalam mobil ketika kecelakaan berlangsung."
Tatapan Adam berubah tajam.
"Dia berada di dalam mobil yang membunuh Veronika."
"Benar, Tuan."
Adam melangkah mendekati meja kerjanya. Dia mengambil segelas air, tetapi tidak jadi meminumnya. Bayangan wajah Gia yang terus bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah kembali terlintas di benaknya. Wanita itu bahkan berani menatap matanya dan membantah tuduhannya.
Adam tidak menyukai orang yang menentangnya, terlebih lagi seseorang yang dianggapnya telah merenggut nyawa wanita yang paling berarti dalam hidupnya.
"Kalau begitu, aku akan mengurusnya sendiri."
Bawahannya mengangkat kepala, "Tuan?"
Adam meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja.
"Aku akan membuatnya mengaku bahwa dialah yang menabrak Veronika. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan."
"Baik, Tuan."
Belum sempat pria itu melangkah mundur, pintu kembali terbuka. Seorang bawahan lainnya masuk dengan wajah serius.
"Permisi, Tuan. Sudah waktunya memakamkan Nona Veronika. Persiapan di pemakaman telah selesai, dan semua orang sedang menunggu kedatangan Anda."
Kata itu terasa begitu menyakitkan ketika menyangkut Veronika. Wanita yang seharusnya berdiri di sampingnya sebagai seorang istri, kini harus dibawa ke pemakaman sebelum sempat mengenakan cincin pernikahan mereka.
Adam mengalihkan pandangan ke arah jendela.
"Siapkan semuanya. Aku akan datang."
"Baik, Tuan."
Pria itu hendak meninggalkan ruangan ketika suara Adam kembali menghentikan langkahnya.
"Tunggu."
Dia berbalik, "Kurung wanita itu di ruangan pribadi Veronika di lantai atas."
Bawahan tersebut tampak terkejut, tetapi segera menundukkan kepala.
"Di ruangan pribadi Nona Veronika, Tuan?"
"Ya."
Adam menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku ingin dia berada di sana sampai aku memutuskan apa yang harus ku lakukan terhadapnya."
"Tapi, Tuan, ruangan itu—"
"Kenapa? Kau ingin membantah perintahku?"
"Tidak, Tuan."
Pria itu langsung menundukkan kepala lebih dalam. Dia tahu ruangan tersebut merupakan tempat paling pribadi bagi Veronika. Tidak seorang pun diperbolehkan masuk tanpa izin Adam, bahkan para pelayan yang bertugas membersihkan kediaman itu sekalipun.
Namun, kali ini Adam justru memerintahkan agar wanita yang dituduh membunuh Veronika ditempatkan di sana.
"Pastikan dia tidak keluar tanpa izinku," lanjut Adam. "Jangan biarkan siapa pun menemuinya."
"Baik, Tuan. Perintah akan segera dilaksanakan."
Kedua bawahannya meninggalkan ruangan, membiarkan Adam kembali sendirian. Pria itu berdiri diam selama beberapa saat sebelum mengambil jas hitam yang tergantung di sandaran kursi. Tatapannya kemudian beralih ke arah pintu.
Di lantai atas, Bianca Gia Conti sedang menanggung akibat dari kematian Veronika. Adam ingin wanita itu merasakan penderitaan yang sama seperti dirinya. Dia ingin Gia memahami bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti.
"Kau akan membayar semuanya sampai sisa hidupmu, Giana Bianca Conti,"
ap Dy punya rencana sendri???