PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama di Surat Disiplin
Axel Pratama baru saja meletakkan tas di meja ketika seorang staf sekolah menghampirinya.
“Axel, kamu diminta datang ke ruang kesiswaan sebelum pelajaran pertama.”
Dimas yang duduk di bangku belakang langsung mengangkat kepala.
“Bikin masalah lagi?”
“Kalau gue bikin masalah, lo pasti ikut terseret,” jawab Axel.
“Benar juga.”
Axel mengabaikan tawa kecil temannya dan meninggalkan kelas.
Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang pantas membuatnya dipanggil. Belakangan, ia bahkan berusaha menghindari pertengkaran yang tidak perlu.
Namun, ketika staf sekolah menyebutkan alasan pemanggilannya, langkah Axel melambat.
“Pak Hendra sedang memeriksa arsip disiplin tahun lalu,” jelasnya. “Ada dokumen tentang insiden di gedung olahraga yang perlu dikonfirmasi.”
Axel tidak menjawab.
Insiden itu sudah setahun berlalu. Ia telah lama berhenti berharap orang-orang akan mengubah pendapat mereka tentang kejadian tersebut.
Tetapi rupanya, ada sesuatu yang belum selesai.
---
Pak Hendra menyambut Axel di ruang kesiswaan dengan sebuah map cokelat di atas meja.
“Terima kasih sudah datang. Sekolah sedang merapikan arsip lama dan menemukan ketidaksesuaian dalam dokumen insiden yang melibatkan kamu tahun lalu.”
Axel duduk.
“Ketidaksesuaian apa, Pak?”
Pak Hendra membuka map itu dan mengeluarkan dua lembar kertas.
“Laporan awal menyebutkan kamu diduga memulai perselisihan dengan seorang siswa lain. Namun, ada pernyataan saksi tambahan yang diterima setelah keputusan awal dibuat. Keterangan itu menunjukkan bahwa urutan kejadian mungkin berbeda dari yang tercatat dalam laporan pertama.”
Axel membaca dokumen tersebut.
Ia mengenali tanggalnya. Ia juga mengenali beberapa kalimat yang pernah didengarnya dari guru-guru setelah kejadian itu.
Namun, ada satu catatan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Pernyataan saksi tambahan diterima. Pemeriksaan lanjutan diperlukan.
Di bawahnya, kolom tindak lanjut tidak berisi keterangan penyelesaian.
Axel mengangkat wajah.
“Jadi, pemeriksaan lanjutan ini tidak pernah diselesaikan?”
“Berdasarkan arsip yang kami temukan, tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa prosesnya selesai,” jawab Pak Hendra. “Ada pergantian petugas kesiswaan pada periode tersebut. Kami belum bisa memastikan bagaimana dokumen ini terlewat.”
Axel kembali menatap kertas itu.
Setahun lalu, ia dipanggil ke ruang yang sama setelah sebuah perselisihan di gedung olahraga. Ia menjelaskan apa yang terjadi, tetapi keterangannya dianggap sebagai upaya membela diri. Beberapa siswa yang tidak melihat seluruh kejadian ikut menyampaikan pendapat, dan namanya telanjur dikaitkan dengan masalah tersebut.
Ia menerima konsekuensi dari keputusan sekolah tanpa mengetahui bahwa masih ada keterangan yang belum diperiksa dengan semestinya.
“Apakah catatan itu masih digunakan?” tanyanya.
“Kami belum bisa memastikan. Itulah salah satu hal yang ingin kami periksa.”
“Kalau begitu, bagaimana sekolah bisa memastikan keputusan awal sudah benar?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
“Kami tidak bisa menjanjikan hasil sebelum memeriksa seluruh dokumen. Namun, kami bisa meninjau kembali catatan yang ada dan menentukan apakah diperlukan klarifikasi tambahan.”
Axel mengembuskan napas perlahan.
Ia ingin mengatakan bahwa peninjauan ulang tidak akan mengembalikan satu tahun reputasi yang telanjur rusak. Namun, ia tahu Pak Hendra bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Ia kembali melihat halaman kedua.
Di bagian bawah, beberapa nama tercantum dalam daftar saksi.
Satu nama membuatnya berhenti membaca.
Nadine Kirana.
Axel tidak segera mengalihkan pandangan.
Ia tahu Nadine pernah memberikan keterangan. Gadis itu sendiri tidak pernah menganggap tindakannya istimewa. Namun, ia tidak tahu bahwa namanya tercatat dalam dokumen yang tidak pernah dituntaskan.
“Apakah Nadine akan dipanggil?” tanyanya.
“Belum tentu. Kami akan memeriksa berkasnya terlebih dahulu. Jika keterangannya masih diperlukan, sekolah akan menghubunginya.”
Axel mengangguk.
“Baik, Pak. Kalau saya diminta memberikan keterangan lagi, saya bersedia.”
“Silakan. Jika ada hal yang menurutmu tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya, sampaikan berdasarkan apa yang kamu ingat.”
Axel berdiri setelah Pak Hendra menutup map.
Sebelum keluar, ia sempat melihat kembali nama Nadine pada halaman kedua.
Kali ini, masa lalu yang selama ini ia anggap sudah selesai ternyata masih menyimpan bagian yang belum diperiksa.
---
Nadine sedang mengeluarkan buku dari tas ketika Axel kembali ke kelas XII-2.
Ia langsung menyadari bahwa laki-laki itu terlihat berbeda. Bukan marah, tetapi seperti sedang menahan sesuatu yang belum siap dibicarakan.
“Lo dipanggil ke mana?” tanyanya.
“Kesiswaan.”
“Kenapa?”
Axel menarik kursi di sebelah mejanya.
“Sekolah sedang memeriksa arsip insiden tahun lalu.”
Gerakan tangan Nadine yang sedang merapikan buku terhenti.
“Insiden di gedung olahraga?”
Axel mengangguk, kemudian menunjukkan catatan yang sempat ia buat setelah membaca dokumen tersebut.
“Mereka menemukan bahwa pemeriksaan lanjutan tidak tercatat selesai. Nama lo juga tercantum sebagai saksi tambahan.”
Nadine membaca catatan itu.
Ia masih ingat hari ketika memberikan keterangan kepada sekolah. Ia menjelaskan apa yang dilihatnya, menjawab pertanyaan guru, lalu kembali ke kelas. Setelah itu, ia tidak pernah menerima kabar mengenai kelanjutan pemeriksaan.
Ia mengira masalah tersebut sudah ditutup.
“Jadi, selama ini mereka belum menyelesaikannya?” tanyanya.
“Sepertinya begitu. Pak Hendra belum bisa memastikan apa yang terjadi pada dokumen itu.”
Nadine mengembalikan kertas tersebut.
“Kalau mereka meminta keterangan lagi, gue akan datang.”
Axel menatapnya.
“Lo masih ingat kejadiannya?”
“Gue ingat apa yang gue lihat. Mungkin gue nggak ingat setiap kalimat yang diucapkan orang hari itu, tapi gue nggak akan mengarang sesuatu yang sudah lupa.”
Jawaban itu membuat Axel terdiam.
Nadine melanjutkan, “Gue nggak tahu apa yang akan mereka putuskan. Tapi kalau sekolah ingin memeriksa ulang, biarkan mereka melakukannya dengan benar.”
“Gue akan memberikan keterangan juga.”
“Bagus.”
Axel mengerutkan kening.
“Cuma itu?”
“Memangnya lo mengharapkan apa?”
“Gue nggak tahu.”
Nadine menatapnya dengan tenang.
“Axel, gue mengatakan kebenaran waktu itu karena memang itu yang gue lihat. Lo nggak perlu membalasnya dengan apa pun.”
“Gue nggak sedang membicarakan balas budi.”
“Kalau begitu, jangan perlakukan ini seperti utang yang harus lo bayar.” Nadine menutup buku catatannya. “Kalau lo ingin meluruskan masalahnya, lakukan karena lo juga ingin masalah itu diselesaikan.”
Axel menunduk sebentar, lalu mengangguk.
“Gue mengerti.”
Percakapan mereka terhenti ketika guru memasuki kelas.
Nadine kembali membuka buku pelajarannya. Axel melakukan hal yang sama, tetapi perhatiannya sesekali tertuju pada kertas yang telah ia simpan di dalam tas.
Ia dahulu mengingat Nadine sebagai orang yang berani menyampaikan kebenaran ketika orang lain memilih diam.
Sekarang, ia mengetahui bahwa kesaksian itu ternyata tidak cukup untuk memastikan proses pemeriksaan berjalan sampai selesai.
Ia tidak tahu apakah ada orang yang sengaja mengabaikannya. Dokumen yang ada belum membuktikan hal tersebut.
Namun, ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
---
Saat istirahat, Axel menghampiri Dimas di dekat tangga menuju lapangan.
“Lo masih ingat insiden gue di gedung olahraga tahun lalu?”
Dimas mengangguk.
“Yang bikin lo dipanggil kesiswaan itu? Ingat. Kenapa?”
Axel menjelaskan temuan sekolah.
Dimas mendengarkan tanpa menyela, kemudian mengernyit.
“Berarti selama ini masih ada bagian laporan yang belum diselesaikan?”
“Begitulah kata Pak Hendra.”
Dimas mengusap tengkuknya.
“Gue ingat setelah kejadian itu, orang-orang terus membicarakan lo. Ada yang bilang lo memang cari masalah. Ada juga yang bilang lo selalu bisa lolos karena keluarga lo punya uang.”
Axel tertawa pendek.
“Gue ingat.”
“Lo nggak pernah mencoba menjelaskan lagi?”
“Pernah. Tapi waktu itu semua orang sudah punya kesimpulan sendiri.”
Dimas tidak segera menjawab.
Mereka sama-sama tahu bahwa reputasi Axel di sekolah tidak terbentuk hanya dari satu kejadian. Sikapnya yang sering melawan aturan membuat tuduhan tersebut mudah dipercaya orang lain.
Namun, itu tidak berarti semua tuduhan terhadapnya benar.
“Kalau sekolah memperbaiki catatannya, belum tentu semua orang langsung percaya,” kata Dimas akhirnya.
“Gue tahu.”
“Lo tetap mau melanjutkan?”
Axel memandang lapangan yang mulai ramai oleh siswa.
“Gue nggak ngejar supaya semua orang suka sama gue. Gue cuma nggak mau catatan yang belum diperiksa dianggap sebagai kebenaran akhir.”
Dimas mengangguk pelan.
“Kalau begitu, tunggu hasilnya. Jangan membuat kesimpulan sebelum mereka selesai memeriksa.”
Axel meliriknya.
“Sejak kapan lo bijak?”
“Sejak gue sadar punya teman keras kepala.”
Axel mendengus, lalu berjalan kembali ke kelas.
Untuk sementara, ia tidak punya pilihan selain menunggu. Namun, setidaknya kali ini ia tidak berniat menghindari persoalan tersebut hanya karena mengingatnya membuat ia kesal.
---
Sore hari, Nadine bekerja seperti biasa di tempat fotokopi Pak Udin.
Ia menyusun dokumen pesanan, memeriksa jumlah halaman, lalu membantu pelanggan yang ingin mencetak berkas dari ponsel mereka. Pekerjaan itu cukup menyibukkan sehingga ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan arsip sekolah.
Sampai ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor administrasi SMA Garuda.
Staf Kesiswaan: Selamat sore, Nadine. Sekolah sedang meninjau kembali insiden kesiswaan di gedung olahraga tahun lalu. Nama Anda tercatat sebagai saksi tambahan. Kami ingin mengonfirmasi beberapa keterangan yang pernah Anda berikan. Apakah Anda bersedia mengikuti pertemuan singkat setelah jadwalnya ditentukan?
Nadine membaca pesan itu dua kali.
Pak Udin yang sedang merapikan kertas di meja sebelah memperhatikan wajahnya.
“Ada apa?”
“Sekolah menghubungi saya, Pak. Mereka ingin mengonfirmasi keterangan tentang kejadian tahun lalu.”
“Perlu kamu datangi?”
“Mungkin. Saya akan menunggu jadwalnya.”
Pak Udin mengangguk.
“Kalau memang perlu, atur waktunya baik-baik. Pekerjaan di sini bisa kita sesuaikan.”
“Terima kasih, Pak.”
Nadine membalas pesan sekolah, menyatakan kesediaannya mengikuti pertemuan setelah jadwal dikonfirmasi.
Setelah itu, ia menyimpan ponselnya dan kembali bekerja.
Ia tidak merasa takut menghadapi pemeriksaan tersebut. Ia hanya ingin memastikan bahwa apa yang disampaikannya nanti benar-benar sesuai dengan ingatannya.
Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya.
Jika pemeriksaan tahun lalu memang belum selesai, mengapa tidak ada seorang pun yang pernah memberitahunya?
---
Malamnya, Axel menerima pesan dari Nadine.
Nadine: Sekolah menghubungi gue. Mereka mau menjadwalkan pertemuan untuk mengonfirmasi keterangan tahun lalu.
Axel: Gue juga sudah diberi tahu.
Nadine: Kalau jadwalnya sudah keluar, gue akan datang.
Axel: Oke. Gue juga akan memberikan keterangan kalau diminta.
Beberapa menit kemudian, pesan baru muncul.
Nadine: Ada satu hal yang mau gue pastikan.
Axel: Apa?
Nadine: Kalau ternyata ada bagian kejadian itu yang belum gue ketahui, gue harap lo tidak menyembunyikannya hanya karena merasa ingin melindungi gue.
Axel membaca pesan itu dengan saksama.
Ia ingin segera menjawab bahwa tidak ada yang ia sembunyikan. Namun, ia tidak bisa mengatakan bahwa dirinya mengetahui seluruh kejadian. Bahkan, dokumen yang baru diperlihatkan kepadanya pagi tadi mengandung bagian yang belum ia pahami.
Akhirnya, ia mengetik dengan hati-hati.
Axel: Gue akan menjelaskan semua yang benar-benar gue tahu. Kalau ada yang belum gue ketahui, gue nggak akan berpura-pura punya jawabannya.
Balasan Nadine datang tidak lama kemudian.
Nadine: Baik. Gue akan melakukan hal yang sama.
Axel meletakkan ponselnya.
Ia belum tahu apa yang akan ditemukan sekolah. Bisa jadi masalah itu hanya akibat kelalaian administrasi. Bisa juga ada keterangan lain yang belum masuk ke dalam laporan.
Untuk sekarang, ia tidak memiliki bukti untuk menyimpulkan apa pun.
Tetapi ia akan menghadapi pemeriksaan tersebut, apa pun hasilnya nanti.
Bukan karena Nadine pernah membelanya. Bukan pula karena ia ingin membuktikan bahwa dirinya selalu benar.
Ia hanya tidak ingin membiarkan catatan yang belum lengkap terus dianggap sebagai jawaban akhir.
Sementara itu, Nadine memasukkan dokumen beasiswanya ke dalam tas untuk persiapan sesi informasi hari Sabtu. Pemeriksaan sekolah mungkin akan menambah satu urusan dalam jadwalnya, tetapi ia tidak berniat membiarkan persoalan lama menggeser rencana yang telah diperjuangkannya.
Sebelum tidur, ia memeriksa ponselnya sekali lagi.
Belum ada jadwal pertemuan dari sekolah.
Namun, ada satu hal yang berbeda sekarang: setelah sekian lama, persoalan yang sempat dianggap selesai akhirnya diperiksa kembali.
Dan kali ini, Nadine ingin memastikan bahwa apa yang benar-benar terjadi tidak hilang di antara catatan yang belum lengkap.