NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:135
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Mobil masuk perlahan ke properti saat malam baru dimulai. Perjalanan pulang berlangsung tenang, dan Bintang sebagian besar tertidur di kursi bayinya.

Drilon memarkir dan mematikan mesin. Nadira menoleh ke belakang dan tersenyum melihat si kecil terlelap dalam pelukan selimut kecilnya.

"Dia bahkan tak sadar kita sudah sampai."

"Kurasa jalan-jalan tadi membuat putri kecil kita capek."

"Hari ini dia tahu bahwa ada dunia luas di luar rumah ini."

Drilon membuka pintu belakang dengan hati-hati dan melepas sabuk kursi bayi, lalu mengangkat Bintang dengan lembut.

Gadis kecil itu hanya merengek pelan, menyandarkan kepala di bahu ayahnya, dan kembali tidur. Nadira tersenyum menyaksikannya.

"Dia suka tidur di pangkuanmu."

"Kurasa dia sudah tahu itu tempat paling nyaman."

Keduanya masuk rumah. Begitu melewati pintu, mereka menemukan Hana yang hampir selesai menata piring di meja. Agim sudah duduk, sementara Altin menuangkan air untuk orang tuanya.

"Cucuku sudah terlelap."

"Tertidur di tengah jalan."

"Berarti dia menikmati jalan-jalannya," kata Agim.

"Menikmati sekali," jawab Nadira.

"Dia cepat sekali tumbuh," kata Altin.

"Terlalu cepat," sahut Drilon.

"Bawa Bintang ke kamarnya dulu. Setelah itu turun makan malam," kata Hana.

"Kami segera kembali."

Keduanya menaiki tangga tanpa suara. Nadira membuka pintu kamar putrinya, dan Drilon berjalan pelan ke ranjang bayi, membaringkan Bintang dengan hati-hati di kasur.

Gadis kecil itu hanya mendesah, memalingkan wajah mungilnya ke samping dan terus tidur nyenyak. Nadira merapikan selimut di tubuhnya.

"Selamat tidur, Sayang."

Drilon membelai rambut putrinya.

"Tidur yang nyenyak, Putri."

Keduanya meninggalkan kamar dan kembali turun. Beberapa menit kemudian semua duduk di meja.

Makan malam dimulai dengan obrolan ringan. Agim memperhatikan putra-putranya dengan senyum tipis.

"Nah, Altin... persiapan pernikahannya sudah beres?"

Altin langsung tersenyum.

"Akhirnya beres."

"Kamu menghitung hari, ya," kata Hana.

"Memang."

"Tak pernah kusangka melihatmu setidaksabar ini."

"Aku juga." Ia tertawa. "Rasanya makin dekat, waktu malah makin lambat."

"Setiap calon pengantin begitu," kata Hana.

"Semoga Sabtu depan cepat datang."

"Kamu jatuh cinta," kata Agim.

"Entahlah. Aku hanya tahu dia memesonaku."

Hana tersenyum penuh kasih pada putranya.

"Sudah lama Ibu tidak melihat binar itu di matamu."

"Kurasa aku menemukan orang yang tepat."

"Itu yang terpenting," kata Agim.

Nadira menyimak percakapan itu dalam diam. Aneh, tapi menenangkan, melihat keluarga itu berkumpul dalam makan malam biasa.

Beberapa menit kemudian, Drilon berdeham pelan.

"Sekalian soal ini..." Semua menoleh padanya. "Aku juga punya kabar."

"Silakan," kata Altin.

Drilon melirik sekilas ke Nadira sebelum melanjutkan.

"Setelah pernikahanmu..." Ia tersenyum. "Aku dan Nadira juga akan menikah."

Hana memegang dadanya.

"Benarkah?"

Nadira tersenyum malu-malu.

"Ya."

Agim tersenyum lebar.

"Itu kabar yang sangat baik."

Altin berdiri dan memeluk adiknya.

"Selamat."

"Terima kasih."

Lalu ia menoleh pada Nadira.

"Selamat bergabung dengan keluarga."

"Terima kasih."

Hana bangkit dan menghampirinya.

"Kamu sudah jadi bagian rumah ini karena Bintang." Ia menggenggam tangan Nadira dengan lembut. "Sekarang kamu resmi jadi putri kami."

Mata Nadira berkaca-kaca.

"Terima kasih sudah menyambutku dengan begitu baik."

"Siapa pun yang membahagiakan anak-anak kami akan selalu punya tempat di keluarga ini," kata Agim.

Drilon tersenyum tipis.

"Berarti kita akan punya dua pernikahan berurutan," kata Altin.

"Rumah ini akan berpesta," kata Agim.

"Sudah lama kita tak punya alasan sebanyak ini untuk berpesta," kata Hana.

Sisa makan malam berlalu dengan cerita, tawa, dan rencana untuk hari-hari mendatang. Selesai makan, satu per satu mulai beranjak.

Drilon berdiri bersamaan dengan Nadira.

"Ayo?"

"Ayo."

Mereka menaiki tangga berdampingan. Ketika melewati kamar Bintang, Nadira membuka pintunya pelan.

Gadis kecil itu masih tidur lelap. Drilon mendekat ke ranjang bayi dan membetulkan selimut yang melorot.

"Dia sama sekali tak bergerak."

"Kurasa ia bermimpi sepanjang jalan."

Keduanya tersenyum. Beberapa saat mereka hanya memandangi putri mereka, lalu menutup pintu hati-hati.

Mereka terus berjalan di koridor hingga berhenti di depan kamar Nadira. Ia memegang kenop sebelum menoleh padanya.

"Terima kasih untuk hari ini."

"Suka kejutannya?"

"Sangat." Ia tersenyum. "Aku benar-benar mengira tak akan pernah lagi menginjak rumah sakit sebagai dokter."

"Kamu lahir untuk merawat orang."

"Sudah lama sekali aku tidak sebahagia ini."

Drilon tersenyum puas.

"Kalau begitu sepadan."

Nadira mendekat selangkah.

"Sepadan." Mereka diam beberapa detik. "Selamat malam, Drilon."

"Selamat malam, Nadira."

Dengan penuh hormat, ia mendekat dan mengecup lembut pipinya. Nadira tersenyum, kaget oleh kelembutan gerak itu.

"Selamat tidur."

"Kamu juga."

Ia masuk ke kamar dan menutup pintu perlahan.

Drilon masih berdiri beberapa detik memandangi pintu yang tertutup sebelum menuju kamarnya sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tantangan terbesarnya bukan lagi menghadapi musuh-musuh mafia, melainkan memenangkan, dengan sabar dan hormat, hati perempuan yang sebentar lagi akan membangun keluarga bersamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!