Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Narapidana
Pukul empat pagi.
Annabella baru saja meletakkan sapu setelah membersihkan ruangan selama berjam‑jam. Punggungnya terasa pegal sekali, lengannya nyeri, dan matanya sembap karena menangis sepanjang malam.
Lantai yang dulunya penuh debu kini tampak bersih. Meski begitu, bangunan itu tetap terasa seperti gudang kosong: dindingnya kusam dan udaranya terus‑menerus dingin menusuk tulang.
“Setidaknya sekarang lebih bersih,” gumamnya pelan.
Ia membentangkan karpet tua yang sudah compang‑camping, lalu menjadikan tas kecilnya sebagai bantal. Tanpa kasur maupun selimut, ia meringkuk di atas lantai, berusaha mencari posisi yang agak nyaman.
Sebelum memejamkan mata, pikirannya melayang ke sosok Aditya.
“Paman, Bella akan bertahan. Apa pun yang terjadi, Bella akan berusaha menyelamatkan Paman.”
Setelah mengucapkan janji itu, kelelahan membuat Annabella tertidur lelap sampai pagi.
Tok! Tok! Tok!
“Annabella! Bangun!”
Annabella tersentak kaget. Belum sempat ia bangkit, pintu sudah didorong terbuka dan Ranti masuk dengan wajah tidak sabar.
Wanita itu melemparkan sebuah bungkusan ke arahnya.
“Pakai itu.”
Annabella membuka bungkusan itu. Di dalamnya ada gaun putih sederhana, sepasang sepatu, dan kerudung tipis.
“Ini…”
“Baju yang disiapkan Tuan Lucian untukmu,” potong Ranti cepat.
“Hari ini kau menikah, jadi jangan sampai mempermalukan beliau dengan penampilanmu yang berantakan.”
Annabella mengangkat wajahnya.
“Ranti, aku boleh bertanya sesuatu?”
Tapi Ranti sudah berbalik menuju pintu.
“Kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan langsung kepada Tuan Lucian. Aku bukan pelayan pribadimu.”
“Sebentar, aku hanya ingin—”
BRAK!
Pintu tertutup sebelum Annabella menyelesaikan ucapannya. Ia mengepalkan tangan kuat‑kuat, menahan amarah yang mulai muncul. Lalu ia teringat kembali janjinya kepada Aditya.
“Tenang, Bella. Jangan terpancing.”
Ia menarik napas panjang, lalu meletakkan gaun itu dengan hati‑hati.
“Aku harus bertahan demi Paman.”
Setelah merapikan barang‑barangnya, Annabella pergi ke kamar mandi para pelayan untuk membersihkan diri. Seusai mandi, ia mengenakan pakaian yang ia bawa dari penjara, dan menyimpan gaun pemberian Lucian untuk acara pernikahan nanti.
Saat melewati dapur, aroma masakan yang harum membuat perutnya yang sudah kosong sejak kemarin terasa semakin perih.
Melihat beberapa pelayan sibuk menyiapkan sarapan, Annabella berinisiatif mendekat.
“Biar aku bantu,” ucapnya pelan.
Salah satu pelayan menoleh, tapi sebelum sempat menjawab, Ranti tiba‑tiba muncul.
“Kau mau melakukan apa?”
Annabella berhenti di tempat.
“Aku hanya ingin membantu menata piring.”
Ranti mendengus sinis.
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Tidak ada. Aku cuma melihat kalian sibuk, jadi kupikir—”
“Jangan ikut campur!” bentak Ranti sambil mendorong lengan Annabella hingga perempuan itu mundur beberapa langkah.
“Aku tidak bermaksud buruk,” ujar Annabella berusaha menjelaskan.
“Memangnya siapa yang bisa menjamin itu?” decak Ranti sambil menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Kau pikir kami sudah lupa siapa dirimu? Kau adalah mantan narapidana, orang yang pernah menculik anggota keluarga majikan kami.”
Beberapa pelayan saling bertukar pandang, lalu salah satunya tertawa kecil.
“Benar juga. Kita harus berhati‑hati. Jangan‑jangan dia sengaja ingin memasukkan sesuatu ke dalam makanan.”
“Racun, misalnya?” sahut pelayan lain sambil terkekeh.
Ranti menyeringai lebar.
“Dengar, Annabella. Kami tidak sebodoh itu sampai membiarkan perempuan jahat sepertimu menyentuh makanan keluarga Winston. Siapa tahu kau masih menyimpan niat busuk di dalam kepalamu.”
“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu,” jawab Annabella dengan suara lirih.
“Semua penjahat juga bisa berkata begitu.”
Ranti melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kau tahu apa yang paling lucu? Dulu kau tinggal di rumah ini, menikmati semua kemewahan, berpura‑pura menjadi putri keluarga Winston. Kau makan makanan mahal, memakai pakaian bermerek, dan menerima kasih sayang mereka.”
Ia tertawa sinis.
“Sekarang lihat dirimu. Kau bahkan tidak punya tempat tidur yang layak, hahaha…”
Beberapa pelayan ikut tertawa bersama‑sama.
“Benar‑benar menyedihkan,” timpal seorang pelayan.
“Kalau aku jadi dia, aku pasti malu menunjukkan wajahku di sini.”
“Orang seperti dia memang pantas tinggal di kandang,” ujar yang lain.
Annabella menunduk dalam‑dalam, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Ranti kembali menyindirnya.
“Dan jangan terlalu berharap hanya karena sebentar lagi kau akan menjadi istri Tuan Lucian. Jangan salah paham. Beliau menikahimu bukan karena mencintaimu.”
Annabella mengangkat wajahnya perlahan.
“Aku tahu.”
“Bagus kalau kau tahu.” Ranti mendekatkan wajahnya. “Kau hanya perempuan yang sedang dipakai untuk memuaskan dendamnya. Setelah Tuan bosan, kau akan dibuang seperti sampah.”
Dada Annabella terasa sesak. Ia sudah menyadari kemungkinan itu ada, tapi mendengarnya secara langsung tetap terasa sangat menyakitkan.
“Aku tidak akan menyentuh apa‑apa di sini,” ucapnya akhirnya. “Aku hanya ingin membantu.”
“Kalau begitu, pergilah! Jangan mengotori dapur ini dengan kehadiranmu.”
Annabella menelan ludah. Di dalam hatinya ada keinginan untuk membalas semua penghinaan itu, tapi lagi‑lagi ia teringat Aditya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan meninggalkan dapur. Tawa para pelayan masih terdengar di belakangnya.
Sesampainya di lorong yang sepi, Annabella menyandarkan punggungnya ke dinding.
“Kenapa semuanya harus seperti ini?” bisiknya pelan.
Ia tidak meminta mereka untuk menyayanginya atau melupakan kesalahannya. Ia hanya ingin diberi kesempatan memperbaiki diri tanpa terus‑menerus dihina.
Namun tampaknya harapan itu terlalu besar.
Bagi mereka, dirinya akan selalu menjadi mantan narapidana yang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan.
_
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???