CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU PERI PENDAMPING
Sore itu, Awen sedang duduk di depan cermin kamarnya. Berkali-kali dia memandangi wajahnya sendiri sambil tersenyum, memiringkan kepala, memijat pipi, bahkan memainkan alisnya.
Dia mulai tak henti-hentinya mengagumi wajah cantik yang kini dimilikinya.
Setelah puas memperhatikan wajahnya, Awen bangkit dan mencoba beberapa pakaian. Dia berganti-ganti gaya, berpose di depan cermin, lalu tersenyum lebar ketika menemukan penampilan yang menurutnya menarik.
Namun, setelah beberapa saat, perhatiannya beralih ke tubuhnya sendiri.
Dia mengamati tubuh barunya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pandangannya kemudian berhenti pada bagian dadanya.
Awen menyentuhnya sambil mencoba beberapa pose. Akan tetapi, kali ini senyumnya tak selebar tadi. Ada sesuatu yang membuatnya merasa bagian itu kurang menarik, meskipun dia sendiri tak tahu apa penyebabnya.
Dia pun berganti pakaian dan mencoba berbagai gaya lain. Namun, perasaannya tetap sama.
Tiba-tiba, Ling Ling muncul di belakangnya dengan senyum manis.
Karena sudah pernah bertemu dengannya, Awen tidak lagi merasa takut ataupun canggung.
“Ling Ling, gue suka banget sama penampilan gue sekarang. Wajah gue cantik, pakaian gue juga bagus. Tapi, ada satu bagian yang menurut gue masih kurang menarik.”
Ling Ling mengikuti arah pandangan Awen, lalu tersenyum geli.
“Perempuan itu bukan cuma soal wajah cantik dan pakaian yang mempesona, Awen. Ada juga pakaian pendukung yang bisa membuat penampilan lebih menarik, seperti pakaian dalam, aksesori, bahkan stocking atau kaus kaki panjang.”
Awen mengangguk pelan, mencoba memahami penjelasan itu.
“Tapi, ada satu hal lagi yang bikin gue bingung,” katanya. “Dulu, leher gue kelihatan jenjang dan agak berotot. Sekarang, benjolan di tenggorokan gue juga nggak ada. Kenapa, ya?”
Mendengar pertanyaan itu, Ling Ling tak kuasa menahan tawa.
Awen mengerutkan kening.
“Kenapa lo malah ketawa?”
“Sudahlah, Awen. Ada hal yang perlu lo ketahui tentang diri lo sendiri.”
Ling Ling kemudian mengangkat tangannya dan membacakan mantra. Dia meniupkan sihir ke arah wajah Awen.
Dalam sekejap, pandangan Awen berubah.
Awen melihat kembali lingkungan kampusnya. Di seberang kampus terdapat pos keamanan, sementara di sampingnya berdiri sebuah minimarket.
Saat itu, dia sedang berdiri di depan minimarket sambil memegang payung hitam.
Dari kejauhan, tampak dua orang datang berboncengan menggunakan sepeda motor. Awen tersenyum ketika mengenali mereka.
Alu mengendarai motor, sementara Afu duduk di belakangnya.
Setelah tiba di hadapan Awen, Alu menghentikan motornya. Awen segera mendekat dan memayungi mereka berdua.
“Halo, Wen!” sapa Alu dengan percaya diri setelah turun dari motor. “Tugas gue jadi tukang ojek udah selesai. Sekarang, gue serahin Afu sama lo.”
Alu melirik saudara kembarnya yang masih duduk di atas motor.
“Silakan kalau kalian mau menikmati hari ini. Gue mau main game dulu di minimarket.”
Awen hanya tersenyum. Namun, tatapannya justru tertuju kepada Afu yang belum juga turun dari motor.
Sebelum pergi, Alu sempat mendekat dan berbisik di telinga Awen.
“Saudara kembar gue itu orangnya agak pemalu. Lo harus lebih agresif. Kalau enggak, sampai kiamat pun lo bakal selamanya cuma jadi sahabat baiknya.”
Mendengar perkataan itu, Awen langsung menundukkan wajah. Pipinya terasa panas menahan malu.
Setelah Alu pergi, Awen menghampiri Afu.
Benar saja, seperti yang dikatakan Alu, Afu hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Awen menarik napas, berusaha mengumpulkan keberanian.
“Afu, kita pergi ke taman, ya?”
Afu mengangguk kecil, tetapi tetap duduk di jok belakang motor.
Awen kembali teringat pesan Alu. Kalau ingin hubungan mereka berkembang, dia harus berani mengambil inisiatif.
Dia menyerahkan payung dan tas yang dibawanya kepada Afu. Setelah itu, dia merapikan rok panjangnya dan melonggarkan gulungan celana panjang yang dikenakannya di balik rok tersebut.
Entah dari mana datangnya keberanian itu, Awen kemudian mengambil posisi di depan dan mencoba mengendarai motor.
Namun, Afu tampak masih canggung. Dia duduk agak jauh dari tubuh Awen, membuat keseimbangan motor sesekali oleng.
Beberapa saat kemudian, Afu menyadari bahwa Awen tidak terlalu mahir mengendarai kendaraan itu.
Dia menepuk bahu Awen.
“Wen, berhenti dulu. Biar gue aja yang nyetir.”
Awen pun menghentikan motor di tepi jalan.
Afu turun, lalu mengambil alih posisi pengemudi. Sementara itu, Awen berdiri tak jauh dari motor yang terparkir.
“Udah, gue aja yang jadi drivernya,” ujar Afu.
Awen mengangguk , kemudian Afu menyerahkan payung serta tasnya Awen kepadanya.
Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan perjalanan, terdengar suara klakson keras dari arah belakang.
TIN! TIN!
Sebuah truk melaju ke arah mereka. Kecepatannya tidak terlalu tinggi, tetapi kedatangan kendaraan itu membuat keduanya terkejut.
Awen panik. Alih-alih berlari ke tepi jalan, dia justru mundur karena tak tahu harus menghindar ke mana.
Afu segera menjatuhkan motornya dan berusaha meraih tangan Awen.
Namun, semuanya terjadi terlalu cepat.
Truk itu menghantam tubuh Awen.
Dunia seketika menjadi gelap.
Awen tersentak kembali ke dunia nyata.
Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Kedua kakinya gemetar, sementara air mata mengalir deras di pipinya.
Dia mencoba mengatur napas, tetapi bayangan kecelakaan tadi terus terputar di benaknya.
Kini, dia mengingat semuanya.
Rasa takut, benturan keras, dan kegelapan yang menyelimuti dirinya seolah kembali terasa nyata.
Awen menangis semakin kencang.
Ling Ling segera merengkuhnya dalam pelukan.
“Maafkan gue, Awen,” ucap Ling Ling lirih. “Kejadian itu sebenarnya terjadi karena kesalahan gue. Gue salah menuliskan takdir kematian Alu.”
Awen masih terisak dalam pelukannya.
“Seharusnya Alu yang mengalami kecelakaan itu, sementara lo dan Afu bisa berkencan di minimarket. Kalau gue nggak salah menuliskan takdir, semua kejadian itu seharusnya nggak terjadi.”
Namun, Awen belum mampu mencerna penjelasan tersebut. Dia masih larut dalam ketakutan dan kesedihan akibat ingatan yang baru saja kembali.
Beberapa saat kemudian, dia mulai teringat akan sesuatu.
Dirinya dulu adalah seorang laki-laki bernama Alu. Lantas, bagaimana mungkin sekarang dia menjadi Awen?
Awen perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Ling Ling.
“Tunggu, Ling Ling. Gue ini Alu, kan? Kenapa gue bisa menjadi Awen?”
Ling Ling menarik napas sebelum mulai menjelaskan.
“Karena gue melakukan kesalahan saat menuliskan takdir, gue mendapat hukuman untuk memperbaikinya. Gue harus mencari tubuh yang cocok untuk jiwa lo agar lo bisa hidup kembali.”
Dia berhenti sejenak, memastikan Awen mendengarkan penjelasannya.
“Masalahnya, gue nggak menemukan tubuh perempuan yang cocok untuk jiwa lo. Satu-satunya tubuh yang memiliki kecocokan justru tubuh Alu sendiri. Tapi, energi yin di dalam tubuh itu terlalu kuat. Setiap kali gue mencoba memasukkan jiwa lo, jiwa lo selalu tertolak.”
Awen terdiam, berusaha memahami setiap perkataan Ling Ling.
“Karena itu, gue terpaksa menukar tubuh kalian menggunakan sihir bangsa peri. Jiwa Alu gue pindahkan ke tubuh lo, sedangkan tubuh Alu mulai berubah menjadi tubuh Awen.”
“Namun, ternyata masalahnya nggak sesederhana itu,” lanjut Ling Ling. “Jiwa Alu terlalu dominan di dalam tubuh lo. Kesadaran lo sebagai Awen nggak bisa pulih sepenuhnya. Akhirnya, gue memasukkan jiwa Awen ke dalam tubuh yang sama dan menggunakan sihir untuk menyatukan kedua jiwa kalian.”
Ling Ling menatap Awen dengan sungguh-sungguh.
“Semua itu membutuhkan proses. Makanya, sampai sekarang kesadaran lo sebagai Awen belum pulih sepenuhnya.”
Awen memandang Ling Ling. Perlahan, dia mulai memahami berbagai hal yang selama ini membuatnya bingung.
“Jadi, kenapa pada awalnya gue masih merasa sebagai cowok yang maskulin, keren, dan ganteng, itu karena kesadaran Alu masih ada di dalam tubuh gue?”
“Betul sekali, Awen.”
“Terus, kenapa sekarang gue mulai merasa lebih feminin? Bahkan gue jadi suka mengagumi kecantikan gue sendiri. Apa itu karena kesadaran Awen mulai menguasai tubuh ini?”
“Belum sepenuhnya,” jawab Ling Ling. “Saat ini, kesadaran Alu masih bercampur dengan kesadaran Awen. Jadi, ketika lo mengagumi kecantikan lo sendiri atau merasa bingung memilih penampilan, itu karena kedua kesadaran tersebut masih dalam proses menyatu.”
Ling Ling kemudian menyentuh bahu Awen dengan lembut.
“Kalau prosesnya sudah selesai, lo akan semakin memahami siapa diri lo sebenarnya. Ingatan dan perasaan dari masa lalu juga akan kembali dengan lebih jelas.”
Awen mengangguk pelan. Dia mulai bisa menerima kenyataan yang selama ini terasa begitu aneh.
“Terima kasih, Ling Ling. Lo udah menceritakan semuanya kepada gue. Mulai sekarang, gue akan menerima diri gue sebagai Awen.”
Dia terdiam sejenak, menundukkan wajah sebelum kembali mengangkat kepalanya.
“Tapi, kalau lo memang peri cinta, gue mau tanya sesuatu.”
“Apa itu?”
Awen menatap Ling Ling penuh harap.
“Siapa sebenarnya orang yang harus gue cintai?”
Ling Ling terdiam.
Awen menunggu jawaban, tetapi beberapa saat berlalu tanpa sepatah kata pun terdengar. Dia pun mengangkat wajah dan menoleh ke kanan serta ke kiri.
“Ling Ling?”
Tak ada jawaban.
Awen memutar tubuhnya, mencari sosok peri yang tadi memeluknya. Namun, Ling Ling sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Awen menghela napas pelan.
Pertanyaan terakhirnya masih belum terjawab.