Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Jes jes jes.
Suara roda besi kereta api bergesekan dengan rel menggema di sepanjang perjalanan menuju ibukota provinsi.
Bara menempelkan wajahnya ke kaca jendela kereta dengan mata berbinar-binar kagum.
"Gila, gedung-gedung di ibukota ini tingginya nggak ngotak semua ya, Rico."
Rico mengangguk antusias sambil terus memotret pemandangan luar menggunakan kamera ponselnya.
"Bener Bos, rasanya kayak kita lagi masuk ke negara lain aja dibanding kota kita yang kecil dan sempit."
Nisa yang duduk di kursi seberang mereka hanya membalik halaman buku catatannya dengan sangat tenang.
Srek srek.
"Norak sekali kalian berdua ini, simpan energi kalian untuk lomba besok pagi daripada terus berteriak."
Husen tersenyum tipis melihat interaksi murid-muridnya sambil menyeruput teh hangat dari gelas kertas.
Sruput.
"Biarkan saja mereka menikmati pemandangan perjalanan ini, Nisa."
"Mental yang rileks sebelum bertanding sama pentingnya dengan hapalan materi tingkat tinggi di kepalamu itu."
Tiba-tiba, seorang pria berkemeja rapi berjalan mendekati kursi mereka dari arah gerbong sebelah.
Tap tap tap.
"Selamat siang semuanya, maaf Bapak baru bisa bergabung dengan kalian di gerbong ini sekarang."
Dimas tersenyum sangat manis sambil meletakkan tas ranselnya di kursi kosong tepat di sebelah Husen.
Bara dan Rico langsung bertukar pandang dengan ekspresi malas yang sengaja mereka sembunyikan rapat-rapat.
"Loh, Pak Dimas kok tiba-tiba ikut rombongan kita ke tingkat provinsi juga?"
Rico bertanya dengan nada suara polos yang sudah dilatihnya dengan sangat baik sejak kemarin.
Dimas mengelus bahu Rico pelan dengan gaya sok akrab yang membuat Nisa hampir mendengus jijik mendengarnya.
"Dinas Pendidikan tiba-tiba menugaskan Bapak sebagai panitia pendamping tambahan untuk tim Garuda Kelam."
"Bapak akan memastikan kalian semua mendapat fasilitas hotel dan makanan terbaik selama lomba berlangsung."
Husen menatap Dimas dengan tatapan yang sangat tenang dan terlihat seolah sangat bersahabat.
"Terima kasih banyak atas bantuan tenaga tambahannya, Pak Dimas."
"Kehadiran Bapak pasti akan sangat meringankan beban fisik saya dalam mengawasi anak-anak hiperaktif ini."
Ting!
[Laporan Radar Sabotase Pasif]
[Target Dimas Anggara berbohong mengenai asal usul surat tugasnya]
[Surat tugas tersebut dipalsukan secara sepihak oleh Yayasan Pendidikan Arunika agar target bisa memantau pergerakan Host dari dekat]
Husen membaca tulisan di layar biru transparan itu tanpa mengubah ekspresi senyum di wajahnya sedikit pun.
"Silakan masuk lebih dalam ke jaring laba-labaku, Dimas."
Husen membatin dengan aura dingin yang tersembunyi sangat rapi di balik raut wajah tenangnya sebagai seorang guru.
Nisa melirik sekilas ke arah Husen dan bisa langsung menebak jalan pikiran wali kelasnya itu dari senyumannya.
"Pak Dimas pasti bakal nangis darah kalau tahu dia cuma dijadiin boneka mainan sama Pak Husen."
Nisa bergumam pelan dalam hatinya lalu kembali fokus membaca modul buku pelajaran fisika kuantumnya.
Ngiing.
Suara decitan rem kereta api terdengar memekakkan telinga saat mereka akhirnya tiba di stasiun besar ibukota provinsi.
Mereka semua turun membawa tas masing-masing dan langsung disambut oleh bus panitia khusus olimpiade.
Brum brum.
Perjalanan dari stasiun menuju hotel pusat karantina lomba memakan waktu hampir satu jam menembus kemacetan ibukota.
Begitu mereka melangkah masuk ke lobi hotel bintang lima tersebut, suasana intimidasi langsung terasa sangat kental.
Ratusan murid dari puluhan sekolah elite se-provinsi sudah berkumpul di sana dengan jas almamater mewah mereka masing-masing.
Tatapan merendahkan langsung tertuju pada seragam putih abu-abu polos milik tim SMA Garuda Kelam.
"Wah, lihat tatapan mata mereka ke kita, bener-bener kayak ngeliat gembel masuk ke istana raja."
Bara berbisik pelan pada Husen sambil mengedarkan pandangan buasnya membalas tatapan murid-murid elite tersebut.
"Abaikan saja tatapan mereka, Bara, fokus pada tujuan utama kita datang ke gedung ini."
Husen menepuk punggung Bara pelan untuk meredam insting jalanan muridnya yang selalu mudah tersulut.
"Perhatian kepada seluruh peserta Olimpiade Sains dan Debat Tingkat Provinsi tahun ini!"
Suara panitia menggema keras dari pengeras suara di sudut lobi hotel yang sangat luas tersebut.
"Sebelum kalian mendapatkan kunci kamar masing-masing, akan ada ujian tertulis penyaringan tahap awal."
Suara keluhan dan kebingungan langsung meledak dari ratusan murid yang baru saja menempuh perjalanan jauh itu.
"Ujian tertulis apa lagi ini, di jadwal acara resmi tidak ada disebutkan ujian seperti ini sama sekali!"
Seorang murid dari sekolah unggulan daerah lain berteriak memprotes perubahan jadwal yang sangat mendadak tersebut.
Panitia yang berdiri di depan meja resepsionis hanya tersenyum tipis dan mengangkat tangannya meminta ketenangan.
"Ini adalah Ujian Integritas Hukum dan Moralitas Tata Negara."
"Ujian ini dirancang untuk menyaring peserta yang memiliki pola pikir radikal atau berpotensi merusak keamanan nasional."
Mata Husen langsung menyipit tajam mendengar penjelasan aneh dari panitia berjas rapi tersebut.
"Ujian penyaringan dadakan yang membahas integritas hukum negara?"
"Ini pasti ulah Pak Surya yang menggunakan koneksinya di kementerian daerah untuk menjegal langkah Bara sejak awal."
Husen membatin sambil menatap tajam ke arah Dimas yang kebetulan sedang tersenyum licik dari kejauhan.
Dimas mengira Husen tidak menyadari rencananya, padahal Husen bisa melihat dengan jelas seringai kepuasan di wajah mata-mata itu.
"Bagi peserta yang gagal mencapai skor minimum di ujian psikologi hukum ini, timnya akan langsung didiskualifikasi hari ini juga."
Suara panitia kembali bergema dan membuat suasana lobi hotel berubah menjadi sangat mencekam.
"Silakan masuk ke aula utama hotel sekarang juga, waktu pengerjaan hanya tiga puluh menit untuk lima puluh soal logika."
Para peserta langsung berdesakan masuk ke dalam ruangan aula besar yang sudah dipenuhi deretan meja ujian.
Husen harus menunggu di luar bersama guru pendamping lainnya karena aturan sterilisasi ruangan.
Bara, Nisa, dan Rico duduk di barisan belakang dengan lembar soal tebal yang baru saja dibagikan dengan kasar oleh panitia.
Srek srek.
Bara membalik lembar pertama dan matanya langsung membelalak lebar melihat kalimat pertanyaan di sana.
"Jika sebuah aturan hukum daerah terbukti merugikan kelompok masyarakat ekonomi bawah, apakah tindakan demonstrasi anarkis dapat dibenarkan secara moral pembelaan diri?"
Bara menggertakkan giginya membaca pilihan ganda yang sangat menjebak pemikiran jalanannya.
Pilihan A menyatakan ya demi keadilan, sementara pilihan B menyatakan tidak karena hukum harus ditegakkan mutlak.
"Soal apaan ini, kalau gue jawab A gue pasti dianggap radikal dan didiskualifikasi panitia sialan ini."
"Tapi kalau gue jawab B, rasanya gue kayak ngekhianatin prinsip keadilan jalanan gue sendiri."
Bara bergumam frustrasi dalam hatinya dan mulai memegang kepalanya yang mendadak pusing hebat.
Nisa yang duduk di sebelahnya juga mengerutkan kening melihat soal-soal jebakan psikologis yang sangat kotor tersebut.