NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 22

"Misya..." panggil Reyden dengan suara parau.

Mendengar suara itu, perlahan Misya mengangkat kepalanya. Wajahnya begitu pias, dengan mata yang bengkak, merah, dan sembab akibat menangis. Melihat keadaan Misya membuat hatinya merasa tercubit keras.

"Misya..."

"Jangan mendekat, Mas! Di sana saja kalau mau bicara," ucap Misya dengan suara bergetar.

"Misya... Apa kamu sudah melihat status WhatsApp Merlyn?" tanya Rey pelan, Misya mengangguk.

"Dia mantan pacar kamu kan, Mas. Kamu bahagia dan masih cinta sama dia? Sampai kamu nggak cerita sama aku, kalau kamu cerita sama aku, aku nggak akan jadi penghalang buat kamu..."

"Itu salah paham, Misya! Sumpah, itu cuma akal-akalan Merlyn!" sanggah Reyden setengah berlutut di hadapan istrinya, mencoba mendekat namun langsung dihalangi oleh gestur tangan Misya yang terangkat gemetar.

"Akal-akalan Merlyn katamu, Mas?" tanya Misya dengan tatapan tajam.

"Foto itu nyata, Mas! Kamu duduk berdampingan sama Aurelia, kalian rapat bersama, dan sepupu kamu sendiri dengan bangganya bilang kalau kalian adalah power couple dan aku cuma 'penghalang' yang harus disingkirkan dari jalan kalian!"

Misya menatap tajam mata Reyden, sorot mata yang penuh dengan keputusasaan mutlak.

"Apa kurangnya aku selama dua tahun ini, Mas? Aku belajar jadi istri yang kamu mau, aku nurut sama semua aturan rumah tangga kita, aku nggak pernah menuntut apa-apa dari kesibukan kamu... Kamu baik padaku selama kita menikah. Dan aku yang terlalu berlebihan dengan kebaikan dan sedikit perhatian kamu padaku. Aku kira kamu mulai emnerima aku. Tapi aku salah, karena ternyata selama ini kamu menahan diri dalam pernikahan kita. Ada hati yang sedang kamu jaga, hati Aurelia,"

"Tidak, Misya! Tidak seperti itu! Tolong dengar penjelasan saya!" Reyden akhirnya maju merangsek cepat, mengabaikan penolakan Misya, lalu langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya yang erat.

"Lepasin aku! Lepas, Mas!" teriak Misya histeris sambil memukul-mukul dada bidang Reyden dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Ia meronta, berusaha melepaskan diri. "

Aku capek! Aku capek jadi orang bodoh yang selalu berharap dengan pernikahan kita! Kalau kamu dari awal masih cinta sama Aurelia, kenapa harus nerima perjodohan ini?! Kenapa harus menyiksa aku selambat ini?!"

"Saya tidak cinta sama Aurelia, Misya! Demi Allah, saya sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi sama dia!" teriak Reyden frustrasi, mengeratkan pelukannya untuk mengunci rontaan sang istri, membiarkan tubuhnya dipukul dan dicakar habis-habisan.

"Maafkan karena saya salah. Saya belum mengatakan soal Aurelia sama kamu..."

Tangis Misya pecah semakin tak terkendali di dalam pelukan paksa suaminya. Tenaganya yang tersisa habis untuk meronta, memukul, dan mencakar dada bidang Reyden, hingga akhirnya ia hanya bisa terkulai lemas, membiarkan tubuhnya bergetar hebat dalam dekap Reyden yang begitu erat.

"Belum... kamu bilang belum mengatakannya, Mas?" bisik Misya parau, suaranya teredam oleh kain kemeja Reyden yang basah oleh air mata mereka berdua.

"Kamu tahu dia kembali ke Indonesia, kamu tahu dia bekerja sama dengan perusahaanmu di proyek besar, tapi kamu sengaja menyembunyikannya dari aku. Kenapa, Mas? Karena kamu takut aku bakal cemburu? Atau karena kamu takut kehadiran aku bakal merusak momen kalian?"

Reyden menggeleng kuat-kuat, mengeratkan dekapannya seolah takut kehilangan wanita itu untuk selama-lamanya. Wajahnya dibenamkan di ceruk leher Misya, menghirup aroma sabun bercampur isakan pilu dari istrinya.

"Bukan itu alasannya, Misya... Demi Tuhan, bukan itu!" rintih Reyden, suaranya benar-benar hancur.

"Saya menyembunyikannya bukan karena saya masih menyimpan perasaan pada Aurelia, tapi karena saya bodoh! Saya pengecut!"

Misya mendongakkan kepalanya perlahan, menatap mata suaminya dengan sorot penuh luka dan ketidakpahaman.

"Pengecut...?"

"Ya, saya pengecut, Misya!" aku Reyden tanpa ragu, tatapannya menghujam lurus ke manik mata istrinya dengan penuh kejujuran yang telanjang.

"Saya takut... saya takut kalau saya cerita soal Aurelia yang masuk ke dalam proyek kantor, kamu bakal salah paham. Saya terlalu fokus menjaga profesionalisme kerja sampai saya lupa menjaga perasaan istri saya di rumah ini. Saya salah besar karena mengira masalah di kantor bisa saya selesaikan sendiri tanpa melibatkan kamu."

Reyden mengangkat tangannya, dengan lembut namun gemetar menyeka jejak air mata di pipi pucat Misya. Ibu jarinya mengusap kulit pipi itu dengan penuh kelembutan, seolah takut benda rapuh di hadapannya akan hancur jika disentuh terlalu kasar.

"Dengar, Misya... dengar baik-baik kalimat saya," ucap Reyden dengan suara rendah, tegas, dan penuh penekanan.

"Perjodohan kita memang diatur oleh keluarga. Di awal pernikahan, ya, saya mengakui kalau hati saya masih tertinggal di masa lalu. Tapi seiring berjalannya waktu... hari demi hari, tahun demi tahun... kamu meruntuhkan benteng itu tanpa aku sadari, Misya."

Misya tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Kamu yang menyiapkan kopi saya tiap pagi, kamu yang selalu menunggu saya pulang larut malam dengan meja makan yang masih hangat, kamu yang sabar menghadapi sifat dingin saya..." suara Reyden bergetar hebat, air matanya kembali menetes jatuh.

"Perhatian kecil kamu, ketulusan kamu, cinta tanpa pamrih yang kamu berikan... itu semua berhasil mengambil alih seluruh isi hati saya tanpa saya tahu sejak kapan hal itu terjadi, Misya. Hari ini, di detik ini, tidak ada lagi nama Aurelia di masa depan saya, dia hanya masa lalu yang kebetulan saat ini menjadi rekan kerja saya. Yang ada cuma kamu. Hanya kamu istri saya, satu-satunya wanita yang saya cintai. Maaf karena saya tidak pandai memperlihatkan perasaan saya!"

Kalimat itu meluncur begitu tulus, begitu dalam, hingga mampu menembus pertahanan es yang sejak semalam membeku di dada Misya.

Namun, rasa sakit yang telanjur menghujam membuat Misya masih ragu untuk sepenuhnya percaya. Ia membuang muka sesaat, menggigit bibirnya yang bergetar.

"Jangan mengatakan cinta kalau hanya untuk membuat aku tenang, Mas. Aku lebih suka kalau kamu benar-benar jujur agar aku tak kembali berharap dan pada akhirnya malah akan merasakan sakit yang berlipat-lipat..."

"Saya tidak sedang mengarang dengan ucapan saya barusan. Saya mengatakan yang ada dalam perasaan saya sendiri. Sekali lagi maaf kalau saya tidak pandai mengatakan dan menunjukkannya. Saya tau kamu belum yakin dengan ucapan saya. Tapi saay mohon, tolong percaya kepada saya. Dan beri saya kesempatan, Misya,"

"Percaya pada kamu...?" cicit Misya pelan, suaranya terdengar begitu rapuh, menyiratkan sisa-sisa trauma yang belum sepenuhnya sirna. Ia menundukkan pandangannya, menatap jemarinya sendiri yang bertumpu di dada bidang Reyden.

"Bagaimana aku bisa percaya segampang itu, Mas, saat dunia luar terus-terusan meneriaki kalau aku ini bukan siapa-siapa di samping kamu? Sepupumu terang-terangan menyebutku sebagai penghalang..."

Reyden menggelengkan kepalanya lemah, jemarinya terulur untuk menyelipkan helaian rambut basah Misya yang berantakan ke belakang telinga wanita itu. Tatapannya menyorotkan ketulusan dan juga rasa bersalah. Melihat Misya yang biasanya selalu ceria dan memberi warna dalam hidupnya. Kini menangis seperti ini karena kebodohannya.

1
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
falea sezi
lemah amay sya🤣🤣 kayak elu gk ada harga diri aja suami gt buang mending dpet cowok biasa tp di cintai wong suami mu aja dr awal. liat aurelia. ketara bgt dia g move on🤣
Susan Paulina: Lanjut lagi Thor hari ini, ceritanya seru banget
total 1 replies
nely_48
syukurlah reyden msh membela misya , berarti otak reyden msh waras
nely_48
idih km knp misya,, sampe segitu hancurnya km nangisin suami n mantan nya ketemuan
nely_48
semoga misya aman² az d dlm kamar tamu, jgn menyiksa diri sendiri misya
nely_48
reyden km belajar tegas pd hati n diri mu sendiri ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!