“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Peluru untuk Bianca
Malam di Roma terasa lebih dingin dari biasanya.
Dante berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandangi hujan yang mulai turun. Panggilan Gabriel beberapa menit lalu masih terngiang di kepalanya.
Temui aku di makam Alessandro. Datanglah sebelum tengah malam.
Di belakangnya, Bianca sedang membaca ulang pesan tersebut.
“Menurutmu, apakah Gabriel bisa dipercaya?” tanyanya.
Dante berbalik.
“Dia pernah bekerja untuk ayahku. Tetapi itu tidak berarti dia tidak menyimpan rahasia.”
“Dia mengatakan seseorang telah menukar bayi-bayi itu.”
“Aku tahu.”
“Dan sekarang dia ingin bertemu di makam Alessandro.”
Dante mengangguk.
Bianca meletakkan ponselnya.
“Aku ikut.”
Dante langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Dante, kita sudah membicarakan ini.”
“Tempat itu bisa menjadi jebakan. Aku tidak akan membawamu ke sana tanpa mengetahui siapa yang menunggu.”
Bianca mendekat.
“Gabriel mungkin satu-satunya orang yang bisa menjelaskan siapa ayah kandungku. Aku tidak akan membiarkan kesempatan itu hilang.”
Dante menatapnya beberapa saat.
“Aku tidak ingin kehilanganmu hanya karena kita terlalu terburu-buru mencari jawaban.”
Bianca menyentuh tangannya.
“Kalau kau terus berusaha melindungiku dengan menjauhkan aku dari semuanya, suatu hari aku justru akan pergi mencarinya sendiri.”
Dante menghela napas.
Akhirnya ia mengangguk.
“Baik. Tapi kali ini kita tidak akan mengikuti permainan mereka. Marco akan menyiapkan pengamanan.”
Pukul sebelas malam, mobil hitam mereka memasuki pemakaman keluarga Vieri.
Tempat itu sunyi. Pepohonan tinggi bergoyang tertiup angin, sementara cahaya lampu jalan menerangi batu-batu nisan yang berjejer.
Dante turun lebih dahulu, lalu mengulurkan tangan kepada Bianca.
Mereka berjalan menuju makam Alessandro.
Namun, sesampainya di sana, tidak ada siapa pun.
“Gabriel belum datang,” gumam Bianca.
Dante mengeluarkan ponselnya.
“Marco, bagaimana situasinya?”
Suara Marco terdengar melalui alat komunikasi.
“Tim kami sudah berada di sekitar pemakaman. Belum ada pergerakan mencurigakan.”
Dante mematikan panggilan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari balik pepohonan.
“Dante.”
Seorang pria tua muncul dengan mantel panjang berwarna gelap.
Gabriel Moretti.
Bianca segera menghampirinya.
“Anda baik-baik saja?”
Gabriel mengangguk.
“Tidak banyak waktu. Kalian harus mendengarkan aku.”
Dante mengarahkan pandangan tajam kepadanya.
“Siapa yang menukar bayi-bayi itu?”
Gabriel menunduk.
“Aku.”
Bianca membeku.
“Apa?”
Gabriel memandangnya dengan mata penuh penyesalan.
“Aku yang mengubah catatan rumah sakit malam itu.”
Dante melangkah maju.
“Kenapa?”
Gabriel menarik napas panjang.
“Karena Alessandro memintaku menyelamatkan seorang bayi dari orang-orang yang ingin membunuhnya. Tetapi aku tidak pernah berniat memisahkan anak-anak itu selamanya.”
Bianca menatapnya dengan air mata tertahan.
“Jadi, selama ini Anda tahu siapa saya?”
“Aku tahu Elena melahirkan dua bayi. Tetapi aku tidak tahu apakah catatan terakhir yang kuterima benar-benar menunjukkan identitas mereka.”
“Siapa ayah kandungku?”
Gabriel mengeluarkan sebuah amplop dari dalam mantelnya.
“Di sini ada hasil pemeriksaan yang asli. Alessandro memerintahkanku menyimpannya.”
Dante mengambil amplop tersebut.
Namun, sebelum ia sempat membukanya, terdengar suara tembakan.
“MERUNDUK!”
Dante menarik Bianca ke belakang batu nisan.
Kaca lampu di dekat mereka pecah.
Gabriel terjatuh sambil memegangi bahunya.
“Gabriel!” seru Bianca.
Dante mengangkat pistol dan membalas tembakan ke arah pepohonan.
“Marco! Kita diserang!”
Suara Marco terdengar panik.
“Don, ada beberapa penembak di sisi utara!”
Dante melihat Gabriel yang tergeletak.
“Bertahanlah!”
Gabriel berusaha berbicara.
“Mereka… datang untuk mengambil dokumen itu.”
Dante memasukkan amplop ke dalam jasnya.
“Aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkannya.”
Bianca berusaha membantu Gabriel berlindung.
Namun, ketika ia bergerak sedikit dari balik batu nisan, sebuah peluru melesat dan menghantam lengan kirinya.
“Ah!”
Dante menoleh.
“BIANCA!”
Ia segera menarik istrinya ke dalam pelukan dan menekan luka di lengannya.
Darah mulai membasahi kain gaun Bianca.
“Lihat aku,” perintah Dante dengan suara bergetar. “Tetap buka matamu.”
Bianca meringis.
“Aku tidak apa-apa…”
“Jangan berbohong kepadaku.”
Dante melepas jasnya dan menekan kain itu pada luka Bianca.
Matanya berubah gelap.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa melihat darah. Ia tidak pernah gentar menghadapi kematian. Tetapi melihat Bianca terluka membuat seluruh kendalinya hampir runtuh.
“Marco!” teriaknya.
Beberapa detik kemudian, Marco dan anak buahnya berhasil mendekat.
“Bawa Nyonya ke mobil!” perintah Dante.
“Bagaimana dengan Anda?”
“Aku akan mengurus mereka.”
Bianca mencengkeram lengan Dante.
“Jangan pergi.”
Dante menunduk.
“Aku harus menghentikan mereka.”
“Jangan biarkan kemarahan menguasaimu.”
Dante mengecup keningnya.
“Aku akan kembali.”
Setelah memastikan Bianca dibawa menuju mobil, Dante berdiri dan mengarahkan senjatanya ke arah para penyerang.
Malam itu, sang Don tidak lagi terlihat seperti pria yang sedang mencari jawaban.
Ia terlihat seperti seseorang yang siap menghancurkan siapa pun yang telah menyakiti istrinya.
Beberapa menit kemudian, para penyerang berhasil melarikan diri.
Dante kembali ke makam Alessandro dan menemukan Gabriel masih hidup, meskipun kondisinya semakin lemah.
“Dokumen itu,” bisik Gabriel.
Dante mengeluarkan amplop.
“Aku memilikinya.”
Gabriel mengangguk.
“Bacalah. Kau harus mengetahui semuanya.”
Dante membuka dokumen tersebut.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan DNA dan sebuah surat dari Alessandro.
Matanya bergerak membaca setiap baris.
Kemudian ia terdiam.
“Tidak mungkin…”
Gabriel menatapnya.
“Apa yang tertulis?”
Dante mengangkat wajah.
“Hasil pemeriksaan ini menyatakan Rafael Moretti adalah ayah biologis Bianca.”
Gabriel mengangguk pelan.
“Benar.”
“Lalu mengapa Alessandro menyimpan sampel DNA miliknya?”
“Karena dia pernah diminta membandingkan hasil pemeriksaan itu. Alessandro ingin memastikan Bianca bukan anak kandungnya.”
Dante melanjutkan membaca surat tersebut.
Dante, jika suatu hari kau mengetahui bahwa Bianca adalah putri Rafael, jangan salahkan Elena. Dia hanya berusaha melindungi anaknya dari perang keluarga yang tidak pernah dia pilih.
Rafael adalah pria yang dicintai Elena sebelum aku mengenalnya. Namun, setelah Elena mengetahui bahwa Luciano dan Vittorio mengincar anak-anaknya, dia meminta bantuanku.
Dante mengepalkan surat itu.
“Jadi Elena dan Rafael adalah orang tua Bianca. Lalu siapa bayi kedua?”
Gabriel menatapnya lemah.
“Itulah bagian yang tidak pernah sempat kujelaskan.”
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka.
“Biar aku yang menjelaskannya.”
Dante berbalik.
Seorang pria berdiri di antara pepohonan.
Luciano Vieri.
Di tangannya terdapat pistol.
“Selama ini kalian sibuk mencari anak yang hilang,” katanya sambil tersenyum sinis. “Padahal jawabannya sudah berada di depan mata.”
Dante mengangkat senjatanya.
“Turunkan pistolmu, Luciano.”
Luciano tertawa.
“Kau masih saja menganggap dirimu Don. Padahal kau bahkan tidak tahu siapa yang sebenarnya mewarisi darah Alessandro.”
Gabriel berusaha bangkit.
“Luciano, jangan lakukan ini.”
Luciano mengarahkan pistol kepadanya.
“Kau seharusnya tetap mati dua belas tahun lalu.”
Dante berdiri di depan Gabriel.
“Jika kau ingin membunuh seseorang, hadapi aku.”
Luciano menggeleng.
“Aku tidak datang untuk membunuhmu malam ini, Kakak.”
Ia menatap amplop di tangan Dante.
“Aku datang untuk mengambil bukti bahwa aku adalah anak yang seharusnya mewarisi keluarga Vieri.”
Dante terdiam.
“Jadi, bayi kedua itu adalah kau?”
Luciano tersenyum lebar.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Di dalam mobil, Bianca sedang mendapat perawatan darurat dari salah satu petugas medis keluarga Vieri.
Lukanya tidak terlalu dalam, tetapi darah yang keluar cukup banyak membuatnya lemas.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Jangan percaya kepada Luciano. Dia bukan anak Alessandro.
Bianca membaca pesan itu dengan kening berkerut.
Pesan kedua menyusul.
Jika kau ingin menyelamatkan Dante, katakan kepadanya bahwa bayi kedua bukan Luciano. Ada orang lain yang selama ini disembunyikan.
Bianca mencoba menelepon Dante, tetapi panggilannya tidak tersambung.
Ia menoleh kepada Marco yang baru kembali ke mobil.
“Marco, aku harus kembali.”
“Tidak bisa, Nyonya. Don memerintahkan saya membawa Anda ke rumah sakit.”
“Tapi Dante dalam bahaya!”
Marco ragu.
Bianca menunjukkan layar ponselnya.
“Lihat ini. Ada seseorang yang mengirimkan informasi penting.”
Marco membaca pesan tersebut.
Wajahnya langsung berubah.
Ia segera menghubungi Dante melalui alat komunikasi.
“Don! Kami menerima informasi baru. Luciano mungkin bukan bayi kedua!”
Namun, sebelum ia sempat melanjutkan, terdengar suara tembakan dari arah makam.
Kemudian komunikasi terputus.
Dante berdiri berhadapan dengan Luciano.
“Jika kau bukan anak Alessandro, lalu siapa sebenarnya bayi kedua itu?”
Luciano mengangkat bahu.
“Kau akan mengetahuinya.”
Ia mundur beberapa langkah.
“Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui, Dante. Alessandro menghabiskan seluruh hidupnya untuk melindungi seseorang. Dan orang itu bukan kau.”
Luciano melepaskan sebuah foto ke tanah.
Dante menunduk.
Foto itu memperlihatkan seorang bayi yang sedang digendong Elena.
Di belakangnya tertulis:
Untuk anakku yang hilang. Suatu hari, kita akan bertemu lagi.
Dante mengangkat wajah.
Namun, Luciano sudah menghilang di antara pepohonan.
Dante mengambil foto itu dan menatap wajah bayi di dalamnya.
Kemudian ia melihat sesuatu di sudut foto.
Sebuah gelang kecil dengan lambang delapan kelopak.
Lambang yang sama dengan cincin milik para pengkhianat keluarga Vieri.
Ponselnya berdering.
Suara Marco terdengar terputus-putus.
“Don… Bianca… dia menerima pesan. Ada informasi bahwa bayi kedua bukan Luciano.”
Dante langsung menegang.
“Apa maksudmu?”
Marco menarik napas.
“Pesan itu menyebutkan ada seseorang yang selama ini disembunyikan. Dan orang itu mungkin masih hidup.”
Dante menatap foto di tangannya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa musuh mereka mungkin bukan hanya Luciano dan Vittorio.
Seseorang dari masa lalu Alessandro sedang bergerak di balik semua peristiwa ini.
Dan orang itu mengetahui bahwa Bianca adalah putri Rafael Moretti.
Bersambung…
jangan lupa mampirr🤭