Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34: Semprotan cabai dan kompensasi atap yang bocor
Srek! Srek!
Suara gesekan di atas genteng itu terdengar makin jelas. Ruozi yang baru saja memegang baskom obat langsung membeku. Alih-alih gemetar ketakutan layaknya gadis biasa di dunia kultivasi, sepasang mata matrenya justru langsung mendongak ke langit-langit langit toko.
"Astaga... genteng giok premiumku," gumam Ruozi dengan wajah horor. "Kalau sampai bocor atau pecah, itu biayanya mahal banget!"
PRAAAANG!
Belum sempat Ruozi menyelamatkan jemuran obatnya, langit-langit apoteknya jebol. Tiga bayangan hitam mendarat dengan mulus di lantai kayu. Mereka mengenakan pakaian serba hitam ketat dengan topeng kain yang hanya menyisakan sepasang mata dingin berdarah dingin. Aura membunuh (killing intent) tingkat tinggi langsung memenuhi ruangan, membuat suhu udara drop drastis.
"Nona Ruozi, utusan dari neraka datang menjemputmu atas perintah..."
"Heh! Neraka-neraka matamu!" potong Ruozi, berkacak pinggang dengan wajah super galak. "Kalian tahu tidak, harga renovasi atap di ibu kota ini lagi naik? Masuk lewat pintu depan kan bisa, kenapa harus merusak properti orang, hah?!"
Ketiga pembunuh bayaran dari Sekte Bayangan Hitam itu sempat melongo di balik topeng mereka. Sepanjang karier mereka sebagai pembunuh elit, baru kali ini mereka dimarahi oleh target operasi karena masalah... harga genteng.
"Jaga mulutmu! Mati kau!"
Pembunuh pertama maju, menghunuskan pedang pendek yang dilapisi racun hijau pekat, bergerak secepat kilat ke arah leher Ruozi.
Namun, Ruozi bukanlah tabib biasa yang tidak punya persiapan. Sebagai manusia modern yang terdampar di dunia kultivasi tanpa bakat sihir, dia sudah memodifikasi alat pertahanan diri super curang. Dengan gerakan tak kalah cepat, Ruozi merogoh kantong tabibnya dan mengeluarkan sebuah botol tabung perak kecil.
PSSSSHHHHHH!
"Aakhhhhh! Mataku! Mataku terbakar!"
Pembunuh pertama langsung menjatuhkan pedangnya, berlutut sambil mencakar-cakar wajahnya sendiri yang mendadak merah padam. Ruozi baru saja menyemprotkan ekstrak cabai iblis konsentrasi lima ratus persen dicampur bubuk lada hitam murni langsung ke kornea mata sang pembunuh. Mau setinggi apa pun tingkat kultivasinya, mata tetaplah organ tubuh manusia biasa yang tidak punya pertahanan terhadap zat kimia sekorosif itu!
"Kurang ajar! Senjata gaib apa itu?!" Pembunuh kedua dan ketiga terkejut, mencoba mengepung Ruozi dari dua arah.
"Oh, mau nambah? Ini namanya teknologi masa depan, Malih!" seru Ruozi riang.
Ruozi berguling ke bawah meja konter demi menghindari tebasan pedang pembunuh kedua, lalu dari balik meja, ia mengeluarkan sebuah sumpit bambu kecil yang sudah dimodifikasi menjadi sumpit tiup (blowpipe) medis.
Fuuuuh!
Sebuah jarum suntik mikro melesat dan menancap tepat di leher pembunuh kedua. Jarum itu berisi dosis maksimal ramuan penenang gajah yang sudah diracik Ruozi menggunakan kompresi zat kimia modern. Hanya dalam waktu tiga detik, mata pembunuh kedua langsung berputar ke atas, dan tubuh kekarnya ambruk ke lantai, mendengkur dengan sangat keras.
"Satu tidur, satu buta. Sisa satu lagi," Ruozi menyembulkan kepalanya dari balik meja, menatap pembunuh ketiga yang kini gemetar ketakutan, memegangi pedangnya dengan tangan tidak stabil. Siapa sangka target yang katanya "gadis lemah tanpa kultivasi" ini justru lebih mengerikan dari iblis?
Tepat saat pembunuh ketiga hendak melarikan diri lewat jendela, pintu depan apotek didobrak kasar. Pemimpin pengawal Kediaman Jenderal Long bersama pasukannya masuk dengan senjata terhunus, wajah mereka penuh kepanikan. "Nona Ruozi! Apakah Anda baik-baik...eh?"
Langkah para pengawal itu langsung terhenti. Mereka melihat satu pembunuh sedang menangis berguling-guling sambil memegangi mata, satu pembunuh tertidur pulas sambil ngiler di lantai, dan pembunuh ketiga sudah angkat tangan di pojokan ruangan sambil menatap Ruozi seolah melihat monster.
Ruozi menghela napas lega, lalu menyimpan botol semprotannya kembali ke dalam saku. Ia menunjuk ketiga pembunuh itu dengan santai. "Nah, kebetulan kalian datang. Tolong ikat ketiga orang ini pakai tali jemuran yang paling kuat."
"N-Nona Ruozi... Anda merobohkan mereka sendirian?" tanya pemimpin pengawal dengan rahang yang hampir jatuh ke lantai.
"Tentu saja tidak, mereka roboh karena karma merusak atap saya," jawab Ruozi asal.
Ia kemudian berjalan mendekati pembunuh pertama yang masih mengerang, lalu dengan tidak tahu malunya mulai merogoh kantong baju pembunuh tersebut, mengambil kantong koin emas, belati pusaka, hingga batu energi berharga milik mereka.
"Nona, apa yang Anda lakukan?" pengawal itu bingung.
"Minta ganti rugi lah! Biaya benerin atap yang bolong itu mahal, belum lagi trauma psikologis saya karena dikagetkan malam-malam," sahut Ruozi penuh kemenangan sambil menimbang kantong emas curiannya maksudnya, uang kompensasi.
Setelah menguras habis barang berharga dari ketiga pembunuh, Ruozi tersenyum licik, matanya berkilat penuh rencana busuk. Ia menatap pemimpin pengawal. "Pak Pengawal, besok pagi-pagi sekali, tolong antarkan ketiga orang ini bersama dengan pakaian dalam mereka saja ke depan gerbang Kediaman Perdana Menteri Li. Jangan lupa tempelkan papan besar di leher mereka bertuliskan: 'Paket gagal kirim. Atap saya bocor, dendanya lima ratus koin emas. Ditunggu transferannya, Sayang. Dari Ruozi.'"
Mendengar perintah itu, para pengawal Jenderal Long langsung bergidik ngeri. Mereka seketika bersumpah di dalam hati: Lebih baik menantang ratusan prajurit di medan perang daripada harus berurusan dengan Nona Tabib yang matre, licik, dan tidak punya urat takut ini!
Para pengawal dengan sigap melaksanakan perintah Ruozi, menyeret ketiga pembunuh yang sudah tak berdaya itu keluar lewat pintu belakang.
Sementara itu, Ruozi mengambil tangga lipat dan beberapa lembar kain terpal tebal untuk menutupi sementara lubang besar di atapnya agar angin malam tidak menusuk masuk.
Sambil mengencangkan ikatan terpal, mulutnya tidak berhenti mengomel, menghitung perkiraan kerugian material yang harus ia tagih berkali-kali lipat kepada Perdana Menteri Li esok hari.
Tepat ketika Ruozi baru saja turun dari tangga dan menyeka keringat di dahinya, sebuah hembusan angin yang sangat familier kembali berembus di dalam ruangan. Sosok tinggi tegap berjubah hitam pekat tiba-tiba muncul dari balik bayangan jendela yang tadi sempat ditinggalkannya. Long Tianxu kembali dengan napas yang sedikit memburu, mata elangnya langsung menyapu seisi ruangan yang berantakan, lalu tertuju pada pecahan genteng di lantai dan terpal yang terpasang di langit-langit.
"Kau terluka?" tanya Long Tianxu dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kecemasan yang gagal disembunyikannya.
Sang Jenderal baru saja pergi beberapa blok ketika indra pengintipnya menangkap gelombang energi aneh dari arah apotek, membuatnya langsung berbalik arah secepat kilat tanpa memedulikan gengsi tingkat dewanya lagi.
Ruozi yang terkejut melihat kedatangan kembali sang Jenderal langsung mengubah ekspresi wajahnya dalam sedetik menjadi super melas yang dibuat-buat. Ia memegangi dadanya dengan dramatis, pura-pura terhuyung sedikit seolah-olah jiwanya baru saja terbang melayang karena ketakutan yang teramat sangat. "Aduh, Jenderal... Anda kembali? Jantung saya hampir copot rasanya! Tiga pembunuh berdarah dingin melompat dari atap dan ingin mencincang tabib sekurus triplek ini menjadi dendeng!" ratap Ruozi dengan nada yang sengaja dilebih-lebihkan.
Long Tianxu melangkah mendekat, sepasang tangannya yang kekar sempat terangkat seolah ingin memeriksa tubuh Ruozi dari luka, sebelum akhirnya tertahan di udara karena kesadarannya kembali.
Tatapan matanya mendadak berubah datar ketika melihat kantong sutra berisi koin emas dan beberapa belati pusaka mewah milik Sekte Bayangan Hitam tergeletak rapi di atas meja konter. "Jika kau seketakutan itu, lalu mengapa barang-barang jarahan para pembunuh itu bisa pindah ke atas tokomu dengan rapi, Nona Licik?" sindir sang Jenderal sambil melipat kedua tangannya di dada.
Ruozi langsung menghentikan akting melasnya dan menyengir tanpa dosa, menyadari bahwa triknya tidak mempan pada sang Dewa Perang yang bermata jeli. "Hehe, tahu saja Anda, Jenderal. Itu namanya biaya ganti rugi kesehatan mental dan fisik! Tapi serius, Perdana Menteri Li benar-benar tidak punya kesabaran, ya. Baru juga tadi siang dia melihat giwang ini, malamnya langsung mengirim pembunuh bayaran tingkat elit," ucap Ruozi sambil menyentuh giwang giok darah di telinganya yang masih berkilau aman.
Long Tianxu menatap giwang itu, lalu beralih menatap wajah Ruozi dengan ekspresi yang perlahan melembut namun tetap terlihat tegas. "Aku sudah memperingatkanmu tadi. Li bertindak cepat karena dia tahu giok darah ini adalah simbol bahwa kau berada di bawah perlindungan mutlak Kediaman Jenderal Long. Mulai besok, aku akan menempatkan dua pengawal bayangan tingkat tinggi di dalam tokomu secara permanen, dan kau tidak boleh menolaknya," tegas sang Jenderal dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
Ruozi mengerjapkan matanya beberapa kali, mendadak merasa ada sesuatu yang aneh yang menggelitik di dalam hatinya mendengar kata 'perlindungan mutlak' dari pria berdarah dingin ini. Namun, dasar berjiwa matre sejati, pikiran pertamanya langsung beralih ke masalah finansial yang paling krusial. "Wah, pengawal bayangan permanen? Itu gratis kan, Jenderal? Jangan sampai nanti di akhir bulan Anda malah mengirimkan tagihan gaji mereka ke apotek saya, bisa bangkrut pasaran obat saya!" canda Ruozi sukses memecah ketegangan malam itu, membuat Long Tianxu hanya bisa menggelengkan kepala pasrah menghadapi kelakuan ajaib tabib pribadinya.