Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
.
Malam terasa begitu panjang bagi Rania. Sejak melangkah keluar dari rumah mertuanya, ia tidak tahu harus melangkahkan kaki ke mana. Kakinya bergerak begitu saja, menyusuri trotoar yang makin lama makin sepi oleh lalu lintas dan orang-orang yang pulang ke rumah masing-masing.
Lampu-lampu kota menyala terang memancarkan cahaya kuning keemasan, kendaraan berlalu-lalang dengan riuh, dan setiap orang tampak sibuk dengan urusan hidupnya sendiri. Namun bagi Rania, semua warna seolah telah memudar menjadi kelabu.
Ponsel yang ada dalam tas tangannya terus berdering. Rania tahu itu dari Arga. Terkadang panggilan masuk, terkadang notif pesan. Namun, Rania sama sekali tidak ingin mengangkat atau membacanya. Sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.
Air mata kembali mengalir perlahan di pipinya yang terasa dingin. Tanpa sadar, pikirannya melayang entah ke mana, membuatnya melangkah menyeberang jalan tanpa memperhatikan keadaan lalu lintas di sekelilingnya.
Hingga tiba-tiba...
TIIIINNNN!!!
Suara klakson mobil yang keras dan panjang memecah kesunyian malam. Rania tersentak kaget, baru sadar ketika sebuah kendaraan melaju cepat dan nyaris saja menabrak tubuhnya. Sopir itu segera menurunkan kaca jendela dan terlihat marah.
"Woe! Kalau mau bunuh diri, jangan di depan mobil saya dong!" bentaknya.
Rania tertegun, Ia refleks mundur tergesa beberapa langkah sambil menarik napas yang terasa terputus-putus sambil mengusap dadanya. Pikirannya benar-benar kosong. Seandainya sopir itu terlambat menginjak rem sedikit saja... mungkin semuanya sudah berakhir malam ini.
Rania jatuh terduduk di tepi jalan lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisannya pun pecah bukan karena ketakutan nyaris tertabrak, melainkan karena merasakan ia tidak memiliki siapapun lagi di dunia.
Menjelang tengah malam, Rania akhirnya sampai di rumah orang tuanya. Meski hubungan mereka tidak pernah terlalu dekat dan hangat, tapi mereka satu-satunya keluarga yang bisa dituju.
Rumah sederhana itu masih tampak terang ketika ia tiba. Lampu ruang tamu menyala, suara televisi masih terdengar samar, dan ayah serta ibunya duduk bersantai di atas sofa. Keduanya langsung menoleh dengan wajah terkejut begitu melihat Rania berdiri di ambang pintu sendirian.
"Rania? Kok kamu datang malam-malam gini?" tanya ibunya dengan nada bingung.
Rania mencoba tersenyum, namun senyum itu langsung runtuh seketika. Air matanya kembali jatuh membasahi pipi.
"Aku..." suaranya bergetar menahan isak tangis. "Aku ingin menginap malam ini, Bu."
Kedua orang tuanya saling berpandangan sesaat, dan tatapan itu saja sudah cukup membuat hati Rania terasa tidak nyaman.
"Ada apa sebenarnya?" tanya ayahnya dengan nada datar.
Rania menunduk dalam, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku..."
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, raut wajah ibunya sudah berubah menjadi tegang.
"Jangan bilang kamu membuat ibu mertuamu marah lagi?" potong ibunya cepat.
Rania menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis lebih keras. "Bu... Aku dan Arga sudah bercerai."
"Apa?!" pekik ibu dan ayahnya bersamaan.
Suasana di ruangan itu langsung menjadi sunyi senyap. Beberapa detik terasa berjalan begitu lambat. Rania menunggu, berharap mendengar kata-kata penghiburan, pelukan, atau setidaknya ucapan yang menyatakan bahwa ia tidak sendirian dan semuanya akan baik-baik saja. Namun kenyataan yang datang justru jauh berbeda dari dugaannya.
Ibunya menghela napas panjang, dan menatapnya dengan wajah kesal
"Kamu benar-benar anak tidak berguna," ucapnya terdengar ketus.
Dada Rania terasa seperti dihantam benda berat. "Ibu? Kenapa Ibu bicara begitu?"
"Cuma hamil saja tidak bisa, dan sekarang malah dicerai. Benar-benar sia-sia kami membesarkanmu!"
Tenggorokan Rania terasa tercekat, seolah ada benang yang mengikatnya rapat-rapat. "Jadi... Ibu juga menyalahkanku?"
"Lalu mau menyalahkan siapa?" tanya ibunya sambil menatapnya tajam. "Kenyataannya kamu memang tidak bisa hamil. Padahal kalau kamu punya anak, anak itu nanti bisa menjadi pewaris keluarga Pratama."
Rania merasa bagai ditampar dengan keras. Tubuhnya membeku, air matanya yang baru beberapa saat lalu mengering kini kembali mengalir bahkan semakin deras. Rasanya sakit bukan main.
"Menurut Ibu ini salahku?" bisiknya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Kamu memang salah," jawab ibunya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Rania tertawa kecil, namun tawanya terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan. "Aku juga ingin punya anak, Bu. Tapi kenapa semua kesalahan selalu dibebankan padaku? Aku juga sudah berusaha. Melakukan apapun saran orang minum segala obat dan vitamin, ikut segala macam terapi. Kalau Tuhan belum memberikan aku bisa apa?"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut ibunya. Dan itu membuat Rania merasa lebih sakit. Bahkan orang yang melahirkannya pun menyalahkan ketidakmampuannya memberikan keturunan.
Ayahnya yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suara, namun ucapannya justru membuat hati Rania makin hancur.
"Sudahlah, yang sudah terjadi biarlah berlalu. Besok coba bicara baik-baik dengan Arga."
Rania menatap ayahnya dengan secercah harapan yang masih tersisa. "Maksud Ayah?"
"Kalau dia memang mertuamu menyuruh Arga menikah lagi, lebih baik kamu mengalah saja. Yang penting kamu sama Arga harus rujuk lagi. Supaya kita tidak kehilangan semuanya."
Dunia seolah berhenti berputar mendengar ucapan itu. Rania tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. "Ayah berpikir seperti itu?"
"Ya, lebih baik menjadi istri pertama daripada kita semua tidak dapat apa-apa sama sekali nantinya."
Rania memandang bergantian ke arah ayah dan ibunya, perlahan mulai memahami kenyataan pahit ini. Mereka sama sekali tidak memikirkan perasaan atau kebahagiaannya. Mereka hanya takut kehilangan menantu yang kaya dan berpengaruh, kehilangan status sosial, dan kebanggaan yang selama ini mereka rasakan. Mereka rela mengorbankan perasaan putri mereka sendiri.
Tangan Rania mengepal erat hingga kuku menekan telapak tangan, dan seluruh tubuhnya terasa gemetar hebat.
"Jadi Ayah ingin aku berbagi suami dengan wanita lain? Ayah rela aku selalu dihina oleh mertuaku?" tanyanya dengan suara yang bergetar menahan amarah dan kesedihan.
"Apa salahnya?" pertanyaan itu jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Rania tersenyum pahit, matanya sudah terasa kering. Kini ia benar-benar merasa sendirian. Tidak ada satu pun yang benar-benar berdiri untuknya. Tidak Arga, keluarga mertua, dan bahkan keluarganya sendiri.
"Aku pergi," ucapnya singkat lalu berdiri tegak.
"Rania! Sudah malam begini, menginap saja dulu di sini," seru ibunya berusaha menahan.
Rania hanya menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya namun tidak sampai menyentuh matanya. "Tidak perlu."
"Lalu kamu mau pergi ke mana?" tanya ayahnya dengan nada cemas yang terasa terlambat.
Pertanyaan itu membuat langkah kakinya terhenti sejenak. Ia mau ke mana? Tidak mungkin pulang ke rumah Arga. Rumah orang tuanya pun kini terasa asing. Lalu ke mana ia akan pulang?
Untuk pertama kalinya seumur hidupnya, Rania sadar bahwa ia tidak lagi memiliki tempat untuk kembali. Ia menahan air mata yang hampir tumpah lagi, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun penuh keteguhan.
"Aku akan mencari tempatku sendiri."
Setelah itu, ia melangkah keluar, meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman baginya.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁