OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Bima hampir tersedak ketika melihat Raka memeriksa ponselnya untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari lima menit.
“Gue mau tanya sesuatu,” katanya sambil meletakkan botol minum di meja ruang istirahat ASTRAL.
“Kalau tentang pertandingan kemarin, statistiknya sudah gue kirim ke Arman.”
“Bukan.”
“Kalau tentang strategi latihan—”
“Raka.”
Raka akhirnya mengangkat wajah.
Bima menyipitkan mata. “Lo sedang menunggu pesan seseorang?”
“Gue sedang memeriksa ponsel.”
“Wah. Penemuan yang luar biasa. Ternyata ponsel memang bisa dipakai untuk melihat pesan.”
Raka kembali menatap layar.
Bima menggeser kursinya mendekat.
“Siapa?”
“Tidak ada.”
“Kalau tidak ada, kenapa lo senyum?”
“Gue tidak senyum.”
“Lo baru saja senyum ke layar seperti orang yang baru menang undian rumah.”
Raka mengunci ponselnya.
“Bukannya lo punya latihan tambahan?”
“Punya. Tapi kehidupan percintaan kapten gue jauh lebih menarik.”
“Tidak ada kehidupan percintaan.”
“Belum,” koreksi Bima cepat. “Kata yang tepat adalah belum.”
Raka melempar bantal sofa ke arahnya.
Bima menangkapnya sambil tertawa.
“Tenang, Kapten. Gue tidak akan mengganggu. Tapi kalau nanti lo datang latihan dengan senyum-senyum sendiri, setidaknya kasih tahu gue siapa yang bertanggung jawab.”
Raka berdiri dan mengambil tasnya.
“Kalau gue menang turnamen berikutnya, gue akan mempertimbangkan untuk memecat lo.”
“Sayangnya, lo tidak punya wewenang itu.”
“Gue bisa mencoba.”
“Silakan. Gue akan mengadu kepada Nadira.”
Langkah Raka terhenti.
Bima tertawa semakin keras.
Sial.
Nama itu memang terlalu mudah membuatnya bereaksi.
Sabtu siang, Nadira berdiri di depan sebuah kedai mi ayam kecil di kawasan Jakarta Selatan.
Tempatnya tidak mewah. Meja-meja kayu memenuhi ruangan sederhana, kipas angin berputar di langit-langit, dan aroma kaldu memenuhi udara.
Nadira menyukai tempat itu karena satu alasan sederhana: rasanya konsisten.
Ia juga sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai oleh penggemar esports.
Setelah foto mereka di acara peluncuran turnamen sempat beredar, Nadira tidak ingin makan siang biasa berubah menjadi bahan spekulasi di media sosial.
Ponselnya bergetar.
Raka: Aku sudah sampai.
Nadira melirik pintu.
Laki-laki itu muncul beberapa detik kemudian, mengenakan kaus hitam, jaket abu-abu, dan celana panjang sederhana. Tidak ada pakaian bermerek mencolok atau pengawal yang membuatnya tampak seperti pewaris konglomerat.
Hanya Raka.
Dan, tentu saja, senyum menyebalkan yang langsung muncul ketika melihatnya.
“Kamu datang lebih awal,” kata Nadira.
“Katamu jangan terlambat.”
“Aku tidak menyuruhmu datang sebelum waktunya.”
“Aku mencoba menjadi warga negara yang patuh.”
“Sejak kapan?”
“Sejak aku mengenal wartawan yang suka mengkritik segala sesuatu.”
Nadira mendengus.
“Duduklah sebelum aku berubah pikiran.”
Raka menarik kursi di hadapannya.
“Jadi, ini tempat mi ayam terbaik di Jakarta?”
“Aku tidak pernah mengatakan terbaik. Aku bilang enak.”
“Perbedaan yang sangat penting.”
“Bagus. Kamu mulai belajar mendengarkan.”
Seorang pelayan datang membawa dua buku menu. Nadira memesan mi ayam dengan pangsit goreng dan kuah tambahan. Raka memesan menu yang sama, tetapi meminta sambal terpisah.
Nadira memperhatikannya dengan alis terangkat.
“Kamu meniru pesananku?”
“Aku mengikuti rekomendasi ahli.”
“Kalau tidak suka, jangan menyalahkanku.”
“Kalau suka, boleh menyalahkanmu?”
Nadira terdiam sesaat sebelum menyadari jebakannya.
“Pesan makananmu, Raka.”
Laki-laki itu tertawa kecil.
Percakapan mereka mengalir lebih mudah daripada yang Nadira perkirakan.
Mereka membicarakan hal-hal ringan: film yang gagal mereka selesaikan karena tertidur, kebiasaan buruk ketika bekerja, sampai perdebatan serius tentang apakah nanas pantas berada di atas pizza.
Raka ternyata tidak suka film horor.
Nadira menganggap fakta itu sebagai kelemahan karakter yang cukup serius.
“Kamu bisa menghadapi puluhan ribu penonton di stadion, tetapi takut menonton film hantu?”
“Gue tidak takut.”
“Kamu tidak mau menonton.”
“Karena gue tidak melihat manfaat membayar orang untuk membuat gue susah tidur.”
“Itu namanya takut.”
“Itu namanya pengelolaan risiko.”
Nadira tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan.
Raka terdiam ketika melihatnya.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari tawa Nadira ketika perempuan itu tidak sedang berusaha menyembunyikan perasaannya di balik komentar tajam.
Ia ingin mendengar tawa itu lebih sering.
Pikiran tersebut muncul begitu saja, tanpa izin.
Dan untuk sekali ini, Raka tidak buru-buru mengusirnya.
Setelah makan, mereka berjalan menyusuri deretan pertokoan di dekat kedai.
Nadira berhenti di sebuah toko buku kecil.
“Aku mau melihat sesuatu sebentar.”
Raka mengangguk dan mengikutinya masuk.
Di dalam, Nadira langsung menuju rak buku nonfiksi. Ia mengambil sebuah buku tentang sejarah jurnalisme, membalik beberapa halaman, lalu membaca bagian belakang sampul.
“Kamu suka membaca?” tanya Raka.
“Kalau punya waktu.”
“Buku apa yang biasanya kamu baca?”
“Macam-macam. Jurnalisme, psikologi, kadang novel.”
“Novel romantis?”
Nadira meliriknya.
“Kenapa? Kamu mau memeriksa apakah aku punya referensi tentang hubungan yang sehat?”
“Tidak. Aku cuma ingin tahu apakah kamu percaya pada kisah cinta yang ditulis orang.”
Nadira menutup buku yang dipegangnya.
“Percaya pada cerita bukan berarti percaya semua orang bisa mendapatkan akhir yang sama.”
Raka mengangguk perlahan.
“Masuk akal.”
“Kamu sendiri?”
“Aku jarang membaca novel.”
“Jadi, kamu tidak punya referensi sama sekali.”
“Aku punya referensi tentang strategi permainan.”
“Sayang sekali. Strategi permainan tidak bisa digunakan untuk memahami perempuan.”
Raka tersenyum.
“Kalau begitu, aku harus belajar dari sumber lain.”
Nadira mengembalikan buku ke rak.
“Semoga kamu menemukan sumber yang bersedia menjelaskan.”
“Sejauh ini, aku sudah menemukan satu.”
Tatapan mereka bertemu.
Kali ini, tidak ada yang langsung melontarkan lelucon.
Nadira merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Bukan perasaan besar yang datang dengan kepastian, melainkan kesadaran kecil bahwa Raka sedang berusaha mengenalnya tanpa memaksanya memberikan jawaban.
Ia menyukai itu.
Mungkin lebih daripada yang seharusnya.
Untuk memecah keheningan, Nadira mengambil sebuah buku tipis dari rak terdekat dan menyerahkannya kepada Raka.
“Beli ini.”
Raka membaca judulnya.
Komunikasi Efektif dalam Hubungan Interpersonal.
Ia menatap Nadira dengan ekspresi tidak percaya.
“Ini jebakan.”
“Ini investasi.”
“Untuk siapa?”
“Untuk orang yang perlu belajar mendengarkan.”
Raka memasukkan buku itu ke keranjang belanja.
“Baiklah.”
Nadira berkedip.
“Kamu benar-benar membelinya?”
“Kalau suatu hari aku berhasil memahami maksudmu tanpa harus menebak-nebak, aku akan menganggap uang ini tidak sia-sia.”
Nadira menunduk, pura-pura sibuk mencari buku lain.
Senyumnya terlanjur muncul.
Mereka baru keluar dari toko ketika ponsel Raka berdering.
Nama Adrian Adhitama muncul di layar.
Senyum Raka perlahan menghilang.
Nadira melihat perubahan itu. Ia tidak bertanya, tetapi memilih berdiri sedikit menjauh agar Raka bisa berbicara dengan leluasa.
Raka mengangkat telepon.
“Ada apa, Yah?”
“Kamu di mana?” Suara Adrian terdengar tegas.
“Di luar.”
“Ayah membutuhkanmu di rumah. Ada beberapa dokumen yang harus kamu pelajari sebelum rapat dewan pekan depan.”
Raka memejamkan mata sejenak.
“Aku sudah bilang akan memeriksanya setelah latihan.”
“Ini bukan sesuatu yang bisa terus kamu tunda. Kamu perlu mulai memahami tanggung jawabmu.”
“Aku memahami tanggung jawabku.”
“Kalau begitu, buktikan.”
Raka menahan rahang agar tidak mengeras.
“Aku akan datang besok pagi. Hari ini aku punya urusan pribadi.”
Hening sejenak di seberang.
“Urusan pribadi apa?”
“Urusanku.”
Nada suaranya membuat Nadira menoleh.
Adrian mengembuskan napas berat.
“Jangan biarkan pilihanmu hari ini menghancurkan masa depanmu.”
Telepon berakhir tanpa ucapan selamat tinggal.
Raka menurunkan ponsel.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di trotoar, menatap layar yang sudah gelap.
Nadira mendekat perlahan.
“Masalah keluarga?”
Raka mengangguk.
“Kamu harus pergi?”
“Tidak. Aku sudah bilang akan mengurusnya besok.”
Nadira memperhatikannya.
“Kamu tidak perlu menjelaskan kalau belum ingin membicarakannya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, Raka mengingat betapa sulitnya dulu ia memberikan ruang kepada orang lain tanpa merasa harus mempertahankan dirinya.
Nadira tidak memaksanya bercerita. Ia juga tidak berpura-pura tidak melihat bahwa sesuatu sedang membebaninya.
Ia hanya memberinya pilihan.
“Terima kasih,” kata Raka.
Nadira mengangguk.
“Jangan berterima kasih dulu. Kamu masih harus membuktikan bahwa rekomendasi mi ayamku layak dipercaya.”
Raka tertawa pelan.
“Enak sekali.”
“Bagus.”
“Bukunya juga akan kubaca.”
“Sekarang aku mulai khawatir.”
Mereka kembali berjalan.
Kali ini, jarak di antara mereka terasa sedikit lebih dekat.
Di depan mobil yang akan mengantar Nadira pulang, Raka berhenti.
“Aku senang hari ini.”
Nadira menatapnya. “Karena mi ayam?”
“Karena aku bisa menghabiskan waktu denganmu tanpa membicarakan pekerjaan.”
Jawaban itu membuat Nadira kehilangan kalimat balasan selama beberapa detik.
Ia terbiasa menghadapi pertanyaan sulit, menyusun argumen, dan menanggapi orang yang berusaha menghindari jawabannya.
Namun, menghadapi kejujuran sederhana seperti ini ternyata jauh lebih sulit.
“Aku juga senang,” katanya akhirnya.
Raka tersenyum, tetapi tidak mencoba mengambil langkah lebih jauh.
“Boleh kita melakukan ini lagi?”
Nadira menatapnya sedikit lebih lama.
“Boleh.”
“Baik. Aku akan mencari tempat berikutnya.”
“Jangan pilih restoran mahal hanya karena kamu bisa membayarnya.”
“Aku tidak pernah mengatakan akan membayar.”
“Bagus. Kemajuan.”
Raka tertawa.
Nadira membuka pintu mobil, lalu berhenti sebelum masuk.
“Raka?”
“Ya?”
“Terima kasih karena hari ini kamu tidak mencoba menjadi orang lain.”
Senyum Raka perlahan memudar menjadi sesuatu yang lebih tenang.
Ia tahu Nadira masih mengingat kebohongannya. Ia tahu satu makan siang tidak akan menghapus semua keraguan yang pernah muncul.
Namun, hari ini Nadira memberinya kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya ketika tidak sedang bersembunyi di balik nama keluarga, sorotan kamera, atau reputasi sebagai pemain terbaik.
“Aku akan berusaha tetap seperti ini,” jawabnya.
Nadira mengangguk, kemudian masuk ke mobil.
Raka berdiri di trotoar sampai kendaraan itu menjauh.
Ia tidak tahu kapan tepatnya Nadira akan mempercayainya lagi sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mencari jalan pintas menuju jawaban itu.
Ia hanya ingin terus datang, terus mendengarkan, dan membiarkan hal-hal kecil membuktikan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Sementara itu, di dalam mobil, Nadira membuka ponselnya.
Ada pesan baru dari nomor tak dikenal.
Kamu mulai mempercayainya lagi. Apa kamu yakin ingin mengulangi kesalahan yang sama?
Senyum Nadira lenyap.
Ia membaca pesan itu dua kali, lalu mengambil tangkapan layar.
Nomor tersebut sama dengan nomor yang sebelumnya mengirimkan petunjuk tentang operasi ibunya.
Nadira menatap jalanan Jakarta yang bergerak di balik jendela.
Seseorang sedang mengawasi penyelidikannya.
Dan seseorang itu tampaknya tidak ingin ia semakin dekat dengan Raka.
Kali ini, Nadira tidak membalas pesan tersebut.
Ia hanya menyimpan ponselnya dan menarik napas panjang.
Hubungan mereka mungkin sedang menemukan jalan untuk tumbuh kembali.
Namun, rahasia yang menghubungkan keluarga Adhitama dengan masa lalu ibunya belum selesai menuntut jawaban.