NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Ruang lift yang melesat naik ke lantai empat terasa semakin menyempit di setiap detiknya. Naya berdiri kaku, menatap angka digital di atas pintu logam yang terus berubah. Tangannya mencengkeram tali tas selempangnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bau antiseptik dari pengharum ruangan lift justru membuat perutnya semakin mual.

Di sebelahnya, Kafka berdiri menjulang dalam diam. Pria itu menempati ruang yang cukup besar, tidak hanya secara fisik dengan bahunya yang lebar, tetapi juga dengan kehadirannya yang mendominasi. Sesekali, ekor mata Naya menangkap pergerakan dada Kafka yang naik turun secara teratur. Ketenangan pria itu adalah satu-satunya jangkar yang menahan Naya agar tidak pingsan karena serangan panik.

Ting.

Pintu lift bergeser terbuka, menyuguhkan pemandangan lorong panjang dengan karpet bercorak geometris kemerahan. Lorong yang selama tiga tahun terakhir ini menjadi saksi bisu langkah kaki Naya yang penuh harap sepulang kerja, kini terasa seperti jalan menuju blok eksekusi.

Langkah pertama Naya keluar dari lift terasa seberat berton-ton baja. Kakinya gemetar. Melihat hal itu, Kafka perlahan menempatkan telapak tangannya kembali di punggung bawah Naya. Tidak ada remasan, tidak ada usapan yang tidak pantas. Hanya sebuah tekanan lembut dan stabil, mengalirkan kehangatan dari balik kemeja flanelnya yang entah bagaimana berhasil menembus lapisan pakaian Naya dan menenangkan saraf-sarafnya yang menegang.

"Napas, Kak," bisik Kafka pelan. "Aku di sini."

Naya mengangguk patah-patah, menarik napas panjang, dan memaksa kakinya melangkah menyusuri lorong hingga mereka tiba di depan pintu bernomor 402. Pintu kayu berwarna cokelat gelap itu berdiri angkuh, seolah menantang Naya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Naya membuka penutup panel digital sandi pintu. Ia menekan enam angka—tanggal jadiannya dengan Reno—dan bunyi klik mekanis terdengar, menandakan pintu tak terkunci. Belum sempat Naya memutar kenop, pintu itu ditarik terbuka dari dalam.

Naya terkesiap, mundur selangkah hingga punggungnya nyaris menabrak dada Kafka.

Di ambang pintu, berdirilah Reno. Pria itu tampak sangat kacau. Kemeja putihnya kusut masai dan tidak dikancingkan setengah, rambutnya berantakan, dan kantung matanya menghitam. Aroma alkohol murah yang bercampur dengan bau asap rokok langsung menyeruak keluar dari dalam apartemen, menampar indera penciuman Naya.

Mata Reno yang memerah melebar seketika saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.

"Naya...?" suara Reno serak dan terdengar putus asa. Matanya langsung tertuju pada wajah Naya, menyapu penampilan wanita itu dari atas ke bawah sebelum beralih ke belakang Naya, menatap tajam ke arah Kafka. Keterkejutan di wajah Reno seketika berubah menjadi kernyitan tidak suka. "Kamu... kamu dari mana aja? Aku telepon puluhan kali nomor aku kamu blokir! Dan... siapa laki-laki ini?"

Naya merasakan empedu naik ke kerongkongannya. Melihat wajah pria yang semalam menghancurkan hatinya berkeping-keping ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan. Pria ini, yang berdiri dengan tampang memelas, adalah pria yang sama yang tertawa di ranjang mereka bersama wanita lain.

Naya mencoba membuka mulutnya untuk membalas, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Ia terlalu syok, terlalu muak.

Merasakan ketidakmampuan Naya untuk bersuara, Kafka melangkah maju, memposisikan separuh tubuhnya di depan Naya, menjadi perisai yang kokoh.

"Minggir," ucap Kafka. Satu kata. Datar, dingin, dan sangat mengintimidasi. Tatapan mata Kafka pada Reno setajam silet, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.

Reno mendengus sinis, harga dirinya sebagai pemilik tempat itu merasa terusik. Ia menegakkan tubuhnya, mencoba menyamai tinggi Kafka meskipun ia masih kalah beberapa sentimeter. "Heh, lo siapa berani nyuruh gue minggir di apartemen gue sendiri? Naya, kamu bawa siapa ke sini? Preman sewaan?"

Kafka bahkan tidak repot-repot membalas provokasi murahan itu. Tanpa peringatan, Kafka mengangkat satu tangannya, mendorong dada Reno dengan sekali sentakan kuat yang tidak membutuhkan banyak tenaga. Dorongan itu cukup untuk membuat Reno terhuyung ke belakang hingga menabrak dinding koridor di dalam apartemennya.

"Masuk, Kak. Ambil barang-barangmu sekarang," Kafka menoleh sedikit ke arah Naya, suaranya kembali melembut saat berbicara pada wanita itu.

Naya menelan ludah, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu melangkah masuk ke dalam apartemen. Pemandangan di ruang tamu membuat dadanya kembali berdenyut perih. Ruangan itu berantakan. Botol wine kosong tergeletak di atas karpet. Dan di atas meja pantry, kotak Tiramisu yang ia bawa semalam masih berada di sana, belum tersentuh. Cincin peraknya masih tergeletak bisu di atas kotaknya yang mulai mengering.

"Sayang, dengerin aku dulu!" Reno berusaha mengejar Naya, mengabaikan rasa sakit di punggungnya akibat dorongan Kafka. "Semalam itu nggak seperti yang kamu pikirin! Aku mabuk, Nay. Aku stres kerjaan lagi hancur, dan Vina... dia cuma kebetulan ada di sana. Aku bersumpah, aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia!"

Langkah Naya terhenti di depan pintu kamar. Amarah yang sejak tadi ia pendam akhirnya meledak, menghancurkan bendungan air matanya. Ia memutar tubuhnya, menatap Reno dengan sorot mata yang menyala-nyala oleh kebencian.

"Nggak seperti yang aku pikirin?!" Suara Naya melengking, bergetar menahan tangis. "Kamu bawa perempuan itu ke ranjang kita, Reno! Kamu desahkan namanya di malam anniversary kita saat aku rela terbang dari Surabaya demi bawain kamu kue kesukaanmu! Jangan berani-beraninya kamu bilang ini bukan seperti yang aku pikirin!"

"Nay, tolong..." Reno melangkah maju, mengulurkan tangannya hendak meraih bahu Naya. "Kasih aku satu kesempatan lagi. Tiga tahun kita sama-sama, masa kamu mau buang gitu aja cuma gara-gara satu kesalahan bodoh?"

Tepat sebelum jari-jari Reno menyentuh kemeja Naya, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol mencengkeram pergelangan tangan Reno di udara. Cengkeraman itu begitu kuat, mengunci tulang pergelangan tangan Reno bagaikan tang besi.

Kafka berdiri di samping Naya. Rahangnya mengeras, matanya berkilat memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

"Jangan. Sentuh. Dia," desis Kafka rendah, suaranya mengalun seperti geraman predator yang memperingatkan mangsanya. Urat-urat di leher Kafka menegang seiring dengan cengkeramannya yang semakin menguat, membuat Reno memekik tertahan dan wajahnya memucat karena kesakitan.

"Lepasin, brengsek! Lo siapa, hah?!" Reno meronta, namun tenaga Kafka jauh di atasnya.

"Aku Kafka. Adik Nessa," Kafka tersenyum miring, namun senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya. "Dan kalau kau berani menyentuh Kak Naya satu sentimeter saja, aku pastikan tangan ini tidak akan pernah bisa kau gunakan lagi untuk merangkul wanita mana pun."

Mendengar nama Nessa disebut, mata Reno membelalak. Ia tahu betul siapa Nessa, sahabat Naya yang gila dan berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh. Tiba-tiba saja, nyali pria itu menciut. Kafka menghempaskan tangan Reno dengan kasar seolah tangan itu adalah sampah yang menjijikkan, membuat Reno kembali terhuyung mundur.

"Ambil barangmu, Kak. Biar aku yang berjaga di sini," ucap Kafka tanpa menoleh pada Naya, matanya masih mengunci pergerakan Reno.

Naya mengangguk cepat, menyeka air mata di pipinya dengan kasar. Ia masuk ke dalam kamar tidur—kamar yang dulu terasa seperti rumah, kini terasa seperti tempat kejadian perkara yang menjijikkan. Naya menarik koper ukuran sedang dari atas lemari dan membukanya di lantai. Ia tidak peduli barang-barangnya akan kusut. Ia meraup semua pakaian kerjanya, dokumen-dokumen penting, laptop, dan tas-tasnya.

Naya melirik sekilas ke arah ranjang. Seprai yang biasanya tertata rapi kini kusut masai, menyisakan noda lipstik di salah satu bantalnya. Naya menutup mata, menarik napas dalam-dalam, menolak untuk membiarkan memori menjijikkan itu merusak kewarasannya lagi. Ia membiarkan barang-barang pemberian Reno—boneka beruang, gaun tidur, dan beberapa pasang sepatu—tetap berada di sana. Ia tidak menginginkan apa pun yang berasal dari pria itu.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, koper itu sudah tertutup rapat. Naya juga memasukkan sisa perlengkapan mandinya ke dalam tote bag besar. Ia menyeret koper itu keluar kamar.

Kafka yang sejak tadi berdiri bersedekap dada di depan pintu kamar, langsung mengambil alih koper dan tote bag itu dari tangan Naya seolah barang-barang itu seringan kapas.

"Sudah semua?" tanya Kafka lembut, sangat kontras dengan nada suaranya saat mengancam Reno beberapa saat yang lalu.

Naya mengangguk. Ia berjalan menuju meja pantry, mengambil kotak Tiramisu dan cincin perak itu. Reno yang berdiri mematung di sudut ruang tamu menatap Naya dengan mata memohon.

"Nay..." panggil Reno memelas.

Naya berjalan mendekati tempat sampah di dekat dapur, dan tanpa keraguan sedikit pun, ia menjatuhkan kotak Tiramisu beserta cincin di atasnya ke dalam tong sampah. Suara bunyi buk pelan dari benda yang jatuh itu seolah menjadi palu hakim yang meresmikan perpisahan mereka.

"Sandi pintunya, aku saranin kamu ganti, Reno," Naya menatap pria itu dengan sorot mata yang kini sepenuhnya kosong. Tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi amarah. Hanya kehampaan. "Biar selingkuhan-selingkuhanmu yang lain bisa masuk dengan tenang tanpa takut aku pergoki lagi. Mulai detik ini, kita tidak pernah saling kenal."

Naya membalikkan badan, berjalan keluar dari apartemen itu tanpa menoleh lagi. Kafka mengikutinya dari belakang, menutup pintu apartemen itu dengan bantingan keras yang menggema di seluruh lorong, memastikan batas antara masa lalu Naya dan masa depannya telah tertutup rapat.

Begitu pintu lift tertutup dan membawa mereka turun menuju area parkir basement, pertahanan Naya akhirnya benar-benar runtuh. Adrenalin yang sejak tadi memompa keberaniannya menguap begitu saja, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa hebat. Kakinya tidak lagi sanggup menopang berat tubuhnya. Naya merosot di sudut lift, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.

Tangisnya pecah. Bukan tangisan histeris yang meraung-raung, melainkan isakan pilu yang tertahan, yang justru terdengar jauh lebih menyakitkan. Naya menangisi waktunya yang terbuang sia-sia. Ia menangisi semua kebohongannya pada dirinya sendiri, semua pengorbanannya yang tidak dihargai.

Kafka segera meletakkan koper Naya. Pria itu berlutut di hadapan Naya, tidak peduli celana jeans-nya menyentuh lantai lift yang kotor. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu, kata-kata penenang seperti 'semua akan baik-baik saja' adalah omong kosong yang tidak dibutuhkan Naya saat ini.

Sebagai gantinya, Kafka menggeser posisinya mendekat. Ia melepaskan kemeja flanelnya yang tebal, menyisakan kaus hitam pendeknya, lalu menyampirkan kemeja itu ke atas bahu Naya yang bergetar hebat. Aroma cedarwood dan mint yang menguar dari kemeja itu seolah menjadi selimut pelindung yang menghangatkan Naya.

Dengan gerakan yang sangat perlahan dan berhati-hati, Kafka mengulurkan tangannya, meraih tangan kanan Naya yang terkepal dingin. Ia menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jari Kafka mengusap punggung tangan Naya dengan gerakan memutar yang ritmis dan menenangkan.

"Menangislah sampai kau lelah, Kak. Aku yang akan menjagamu," bisik Kafka, suaranya mengalun rendah di atas isakan Naya.

Hanya itu yang Kafka katakan, namun kalimat itu memiliki kekuatan magis yang membuat Naya merasa bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia tidak perlu berjuang sendirian.

Perjalanan kembali ke rumah Nessa dihabiskan dalam keheningan yang jauh lebih damai daripada saat mereka berangkat. Hujan deras kembali mengguyur Jakarta, seolah alam sedang mencucikan luka di hati Naya.

Di dalam kabin mobil yang remang-remang, Naya menyandarkan kepalanya ke kursi penumpang. Matanya bengkak dan merah, namun dadanya terasa jauh lebih ringan. Beban berton-ton yang sejak semalam menghimpit paru-parunya telah terangkat.

Naya menoleh ke samping, menatap profil samping wajah Kafka yang sedang fokus mengemudi. Garis rahangnya yang tegas disinari oleh cahaya lampu jalanan yang berkedip menembus rintik hujan di kaca mobil.

"Kaf," panggil Naya pelan, suaranya masih serak.

"Ya, Kak?" Kafka menoleh sekilas, tatapannya langsung melembut begitu bersirobok dengan mata Naya.

"Terima kasih," ucap Naya tulus. "Gue... eh, aku nggak tahu apa jadinya kalau kamu nggak ikut tadi. Aku mungkin nggak akan punya keberanian buat masuk ke sana."

Kafka tersenyum tipis. Ia menggeser persneling mobil dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang menganggur bergerak merayap di atas konsol tengah, perlahan meraih tangan Naya yang diletakkan di atas lutut wanita itu. Kafka menautkan jari-jarinya di sela-sela jemari Naya, menggenggamnya dengan kelembutan yang sangat bertolak belakang dengan kekuatannya saat menghajar Reno tadi.

Jantung Naya seketika berdebar kencang. Ia menatap tautan tangan mereka, lalu menatap Kafka dengan bingung. Tubuhnya merespons sentuhan itu dengan cara yang tidak seharusnya. Ada aliran listrik aneh yang merambat dari jemarinya, naik ke lengannya, dan meletupkan kembang api kecil di perutnya.

"Kamu tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya aku lakukan, Kak Naya," ucap Kafka. Suaranya terdengar berat, mengisi ruang sempit di dalam mobil dengan ketegangan baru yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ketegangan yang membuat Naya kesulitan menelan ludah.

Ibu jari Kafka kembali mengusap punggung tangan Naya dengan pelan, membelai kulit wanita itu dengan gerakan posesif yang membuat napas Naya tertahan.

"Mulai sekarang," lanjut Kafka, memutar setirnya memasuki area perumahan Nessa, lalu menatap Naya tepat di matanya di bawah penerangan lampu jalan yang temaram. "Apapun yang membuatmu takut, bersembunyilah di belakangku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu lagi. Siapa pun."

Mendengar ikrar yang diucapkan dengan nada rendah yang mendebarkan itu, Naya tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap mata legam Kafka yang menyala dalam gelap, menyadari bahwa adik sahabatnya ini telah menjadi ancaman baru bagi hatinya—ancaman yang jauh lebih berbahaya dan memabukkan daripada patah hatinya sendiri.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!