NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga 2

Gulungan Dewa Naga 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Wush.

Angin pagi berhembus dingin melewati celah-celah jendela Istana Penguasa Kota.

Yang Zhen berdiri menatap lukisan leluhur keluarga Ye di dinding lorong dengan senyum meremehkan.

Hari kedua sejak pengambilalihan istana telah dimulai dengan sangat tenang.

Wang Hao dan Mulan sedang sibuk mengatur ulang sistem penjagaan di pelataran depan bersama pasukan Asosiasi Alkemis.

Namun, Yang Zhen memiliki agenda yang jauh lebih mendesak daripada sekadar mengurus administrasi bangunan tua ini.

Tap tap tap.

Langkah kaki Su Lin terdengar mendekat dari ujung lorong yang temaram.

Gadis berambut biru itu mengenakan pakaian tempur ringannya yang memancarkan aura es tipis.

"Kau sudah siap untuk turun ke bawah sana, Yang Zhen?" tanya Su Lin dengan nada serius.

"Energi dari segel iblis itu terasa semakin bergejolak sejak kau menyerap kebocorannya semalam."

Yang Zhen menganggukkan kepalanya dan berjalan memimpin arah menuju ruang kontrol rahasia.

"Kebocoran energi itu bagaikan remah-remah roti yang jatuh dari meja makan," ucap Yang Zhen dengan tenang.

"Aku tidak ingin menjadi tikus yang hanya memungut remah-remah tersebut seumur hidupku."

Mereka berdua menuruni tangga batu yang mengarah jauh ke kedalaman tanah di bawah istana.

Semakin dalam mereka melangkah, udara di sekitar mereka menjadi semakin berat dan panas.

Ngiing.

Suara dengungan energi yang sangat pekat membuat telinga mereka terasa sedikit sakit.

Dinding-dinding batu di lorong ini mulai memancarkan cahaya merah darah yang berdenyut layaknya detak jantung raksasa.

Bloop bloop.

Uap merah yang menyerupai darah mendidih mulai merembes keluar dari sela-sela lantai batu.

"Tekanan energi di sini bisa meremukkan organ dalam seorang kultivator Tahap Bumi dalam hitungan detik," analisis Su Lin.

Gadis itu mengalirkan Inti Es Berat miliknya untuk menciptakan pelindung udara beku di sekitar mereka.

Sring.

Kabut es langsung menetralkan hawa panas yang mencoba membakar kulit mereka berdua.

"Kerja bagus, Istriku," puji Yang Zhen tanpa menghentikan langkahnya.

Mereka akhirnya tiba di ruangan bawah tanah tempat altar batu yang dihancurkan oleh Ye Ming sebelumnya berada.

Di bawah altar yang terbelah itu, terdapat sebuah lubang menganga yang terus memuntahkan aura merah.

Yang Zhen tidak berhenti di ruangan tersebut, melainkan langsung melompat turun ke dalam lubang gelap itu.

Tap.

Pemuda itu mendarat di dasar gua prasejarah dengan sangat ringan, disusul oleh Su Lin beberapa detik kemudian.

Pemandangan di dasar gua ini jauh lebih mengerikan dari apa yang mereka lihat di perbendaharaan kuno.

Ratusan pilar batu tertanam melingkar, masing-masing diikat oleh rantai besi raksasa yang bercahaya merah terang.

Di tengah lingkaran pilar tersebut, terdapat sebuah pintu perunggu raksasa yang tertanam kuat di lantai batu.

Pintu itu memancarkan aura membunuh yang sangat brutal, seolah ada jutaan nyawa yang meraung di baliknya.

"Ini adalah pusat dari segel pelindung yang dibangun oleh leluhur keluarga Ye," gumam Yang Zhen dengan mata berbinar-binar.

Su Lin menyipitkan matanya mencoba melihat ukiran di atas pintu perunggu tersebut.

"Ada susunan formasi pelindung absolut yang menolak segala jenis elemen alam di atas pintu itu," lapor Su Lin.

Gadis itu mundur satu langkah saat merasakan tekanan aura dari pintu tersebut mencoba menembus pikiran sadarnya.

"Bahkan elemen esku tidak bisa menembus lapisan pelindungnya."

Yang Zhen tertawa pelan dan berjalan mendekati pintu perunggu raksasa itu dengan sangat santai.

Hahaha.

"Leluhur keluarga ini mungkin jenius dalam menciptakan segel penyerap elemen," puji Yang Zhen.

"Tapi mereka lupa bahwa ruang dan gravitasi bukanlah sebuah elemen yang bisa diserap."

Pemuda itu merentangkan kedua telapak tangannya di atas pintu perunggu tersebut tanpa menyentuh permukaannya.

Wush.

Yang Zhen memusatkan seluruh tenaga spiritual dari Inti Emas Empat Elemen miliknya ke kedua tangannya.

Ia mengosongkan udara di sekitar pintu itu menggunakan elemen angin, lalu membalikkan titik berat bumi menggunakan elemen tanah.

"Pusaran Gravitasi Terbalik," rintih Yang Zhen menahan tekanan energi yang luar biasa besar.

Bum bum bum.

Pintu perunggu seberat ribuan ton itu mulai bergetar hebat melawan tarikan gravitasi buatan Yang Zhen.

Suara retakan terdengar bergema ke seluruh penjuru gua bawah tanah saat segel prasejarah itu dipaksa terbuka dari luar.

Kreeek.

Dengan satu tarikan napas terakhir, Yang Zhen menarik tangannya ke atas.

Pintu perunggu raksasa itu terangkat dari lantai batu dan melayang di udara, memperlihatkan sebuah lorong bercahaya keemasan di bawahnya.

Hembusan angin purba yang membawa aroma kehidupan masa lalu langsung menyapu wajah mereka berdua.

Wuuush.

"Jalan menuju inti segel yang sesungguhnya telah terbuka," ucap Yang Zhen sedikit terengah-engah.

Mata hitam pemuda itu memancarkan kilatan ambisi yang tidak bisa dihentikan oleh apa pun.

"Mari kita lihat rahasia apa yang disembunyikan oleh pendiri kota ini ratusan tahun yang lalu, Su Lin."

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam lorong keemasan tersebut tanpa keraguan sedikit pun.

Batas antara masa kini dan masa lalu perlahan memudar seiring langkah kaki mereka yang semakin dalam.

Tap tap tap.

Langkah kaki Yang Zhen dan Su Lin menggema pelan menyusuri lorong keemasan yang terasa tidak berujung tersebut.

Dinding di kiri dan kanan mereka memancarkan cahaya hangat yang aneh, seolah-olah batu-batu itu hidup dan bernapas.

"Lorong ini tidak dibangun menggunakan batu bata biasa, Yang Zhen," ucap Su Lin mengusap dinding dengan ujung jarinya.

Gadis berambut biru itu menarik tangannya saat merasakan ada energi spiritual yang mengalir di balik permukaan batu tersebut.

"Ini adalah formasi ilusi ruang yang dibuat untuk membingungkan penyusup."

Yang Zhen hanya mendengus pelan dan terus berjalan tanpa ragu sedikit pun.

"Ilusi hanya bekerja pada mereka yang matanya bisa ditipu oleh cahaya," balas Yang Zhen dengan nada santai.

"Di mataku, lorong ini hanyalah sebuah garis lurus yang terhubung ke satu titik pusat massa yang sangat besar."

Wush.

Tiba-tiba, hembusan angin dingin menyapu wajah mereka berdua, membawa aroma kuno yang sangat pekat.

Lorong keemasan itu akhirnya berakhir, membuka jalan menuju sebuah ruangan bundar raksasa yang terbuat dari batu giok putih.

Ruangan itu sangat luas, ukurannya bahkan setara dengan alun-alun kota di atas mereka.

Bloop bloop.

Di tengah-tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah kolam kecil yang berisi cairan merah kental yang terus menggelegak.

Di atas kolam darah itu, melayang sebilah pedang hitam berkarat yang dililit oleh puluhan rantai energi berwarna biru terang.

Sring.

Cahaya biru dari rantai itu berdenyut seirama dengan detak energi merah yang mencoba keluar dari dalam kolam.

"Itu pasti senjata pusaka yang menahan kebocoran energi iblis dari bawah sana," analisis Su Lin menyipitkan matanya.

Gadis itu bisa merasakan tekanan udara yang sangat mengerikan hanya dengan menatap pedang berkarat tersebut dari kejauhan.

"Senjata yang sangat efisien, tapi cara penggunaannya sangat bodoh," komentar Yang Zhen melipat tangannya di dada.

Pemuda itu melangkah maju memasuki ruangan bundar tersebut dengan wajah bosan.

Syuut.

Tepat saat kaki Yang Zhen menginjak lantai giok putih, puluhan rantai energi biru itu tiba-tiba bergetar hebat.

Asap putih mulai mengepul dari ujung pedang hitam tersebut dan berkumpul di udara.

Wush wush.

Asap itu perlahan membentuk siluet manusia tembus pandang yang melayang beberapa meter di atas lantai.

Siluet itu kemudian memadat, memperlihatkan sosok seorang pria tua berjanggut panjang dengan jubah kuno yang terlihat sangat agung.

Mata pria tua itu memancarkan kebijaksanaan dan wibawa yang mampu membuat kultivator biasa berlutut ketakutan.

"Siapa yang berani mengganggu tempat peristirahatan abadi ini?" tanya pria tua itu dengan suara yang bergema di seluruh ruangan.

Suaranya tidak terdengar keras, namun entah bagaimana langsung menusuk langsung ke dalam pikiran mereka berdua.

Yang Zhen tidak berlutut atau pun menundukkan kepalanya seperti yang diharapkan oleh sosok tersebut.

Pemuda itu justru memiringkan kepalanya dengan senyum meremehkan yang sangat khas.

"Aku adalah pemilik baru dari istana yang ada di atas kepala kita ini," jawab Yang Zhen dengan suara lantang.

"Lalu kau ini siapa? Penjaga pintu, tukang bersih-bersih, atau sekadar hantu penasaran?"

Pria tua transparan itu membelalakkan matanya mendengar jawaban yang sangat tidak sopan tersebut.

"Bocah kurang ajar! Jaga mulutmu di hadapan leluhurmu!" raung pria tua itu melepaskan tekanan spiritual yang sangat kuat.

Bum.

Gelombang udara menyapu ruangan, namun Yang Zhen dan Su Lin bahkan tidak bergeser satu milimeter pun.

"Aku adalah Ye Chen, pendiri Kota Awan Merah dan pencipta segel mutlak ini!" perkenal pria tua itu dengan bangga.

"Aku mengorbankan nyawaku dan puluhan ribu pengikutku ratusan tahun lalu untuk mengurung iblis ini demi umat manusia!"

Yang Zhen langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkenalan yang sangat dramatis tersebut.

Hahaha.

Suara tawa pemuda itu bergema memantul di dinding giok putih, membuat Ye Chen mengerutkan keningnya karena bingung.

"Apa yang lucu, Anak Muda?!" bentak Leluhur Ye dengan wajah memerah menahan marah.

"Kau menertawakan pengorbanan suci yang menyelamatkan nyawa jutaan orang di benua utara ini?!"

Yang Zhen menghentikan tawanya dan mengusap setitik air mata di sudut matanya.

"Aku menertawakan kebodohanmu, Kakek Tua," jawab Yang Zhen menunjuk tepat ke wajah transparan tersebut.

"Mengorbankan puluhan ribu nyawa hanya untuk mengurung satu ekor monster iblis? Itu adalah bisnis dengan kerugian paling besar yang pernah kudengar."

Leluhur Ye terdiam sejenak, otaknya mencoba memproses sudut pandang yang sangat aneh dari pemuda di depannya ini.

"Kau bicara seperti seorang pedagang yang serakah, bukan seperti seorang kultivator yang menjunjung tinggi kebenaran," kecam Leluhur Ye dengan nada muak.

"Aku memang seorang pedagang," sahut Yang Zhen tanpa rasa malu sedikit pun.

Pemuda itu berjalan mondar-mandir di depan Su Lin sambil terus menatap jiwa leluhur tersebut.

"Jika aku hidup di zamanmu, aku tidak akan membuang nyawa pasukanku untuk menyegel energi gratis sebesar ini."

"Aku akan mengekstrak energinya, memurnikannya, dan menjualnya dalam bentuk pil kekuatan kepada sekte-sekte bodoh di ibu kota."

Leluhur Ye langsung memegangi dadanya yang transparan, merasa hampir terkena serangan jantung untuk kedua kalinya.

"Pikiranmu sangat sesat! Kau adalah pengikut aliran iblis!" tuduh Leluhur Ye menunjuk Yang Zhen dengan jari gemetar.

Su Lin yang sedari tadi diam akhirnya melangkah maju dan berdiri di samping suaminya.

"Kalian orang-orang kuno terlalu mudah memberikan label iblis kepada hal-hal yang tidak mampu kalian pahami," ucap Su Lin dengan suara sedingin es.

1
mbono keling
💪👍💪👍💪👍💪💪
Predi Siswanto
agak membosan kan sampai sekarang cuman berkutat disatu kota
DD
kok diulang Thor 😅
iwakali
RoboCop
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow jlebz 🔥🌽
Yan Panungkek
lanjutkan karyanya author kami tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!