"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Tuan Muda dan Misteri Rumah Mewah
Suasana di teras aula yang tadinya dipenuhi bisik-bisik penasaran seketika mendadak hening. Delapan wanita yang berdiri berbaris—termasuk Sandra yang masih berdiri dengan pakaian basah dan lutut terluka—langsung menegakkan punggung mereka. Udara malam di halaman mansion mewah itu seolah membeku, tersedot oleh aura intimidatif dari pria paruh baya bersetelan jas eksekutif yang baru saja berbicara.
Pria paruh baya itu—yang tampak sebagai kepala pelayan atau pengawas rumah tangga—menyapu pandangannya dengan tajam ke arah barisan wanita di hadapannya, memastikan semuanya mendengarkan instruksinya dengan baik.
"Tuan Dante dan Tuan Muda Elzard akan segera ke sini," ucap sang laki-laki paruh baya itu dengan nada tegas, mengisyaratkan agar tidak ada satupun yang membuat keributan atau bertindak lancang.
Belum sempat para wanita itu mencerna informasi tersebut lebih jauh, pintu kayu jati berukuran raksasa di belakang sang kepala pelayan terbuka lebar. Dari dalam ruangan yang diterangi cahaya lampu kristal yang gemerlap, sosok yang dinanti-nantikan akhirnya muncul.
Benar saja, sesosok laki-laki bertubuh tegap dengan kemeja putih lengan digulung sebatas siku melangkah keluar dengan tenang. Auranya begitu mendominasi, memancarkan wibawa dan ketegasan yang kontras dengan kelembutan gesturnya saat ini. Di dalam gendongannya, seorang anak laki-laki berumur sekitar empat atau lima tahun tampak melingkarkan tangan mungilnya di leher sang pria. Anak kecil itu menyembunyikan wajahnya di bahu sang ayah, tampak kelelahan namun enggan lepas dari dekapan pria tersebut.
Pria berkemeja putih itu adalah Tuan Dante. Wajahnya tampan rupawan dengan rahang tegas, namun sorot matanya menyiratkan kelelahan mendalam yang ditutupi oleh benteng pertahanan yang kokoh. Kehadirannya seketika membuat seluruh wanita yang berdiri di barisan menahan napas, terpesona sekaligus ciut ketakutan oleh karisma yang ia pancarkan.
Sandra, yang berdiri di ujung barisan, mendongakkan kepalanya perlahan. Matanya menangkap sosok pria dan anak kecil itu. Ada sebersit rasa iba yang terbit di dadanya saat melihat bocah kecil di gendongan Dante. Bocah itu tampak begitu rapuh, berbeda jauh dengan kemegahan mansion tempat mereka tinggal.
"Kalian semua sudah membaca persyaratannya," suara berat namun dingin meluncur dari bibir Tuan Dante. Pria itu tidak langsung menatap para wanita di depannya, melainkan fokus menepuk-nepuk punggung kecil putranya yang mulai merengek pelan. "Aku tidak butuh wanita yang hanya tahu cara berdandan atau mencari perhatian. Aku butuh seseorang yang benar-benar tulus bisa mendampingi dan merawat Elzard."
Mendengar nama Elzard disebut, anak kecil di gendongan Dante sedikit mendongak. Mata bulat bocah itu menyapu barisan wanita di depannya dengan tatapan kosong dan penuh curiga, seolah ia sudah terbiasa melihat banyak wajah asing datang dan pergi dari rumah itu tanpa hasil.
Sandra mengerjap pelan. Jadi, anak sekecil itu yang membutuhkan seorang ibu? Di mana ibu kandungnya? Pikirannya berputar cepat, namun ia memilih diam dan mengamati situasi. Keadaan hidupnya yang baru saja hancur lebur membuat naluri keibuannya yang selama ini terpendam—karena dituduh mandul oleh keluarga Anton—tiba-tiba bergolak hebat di dalam dada.
Langkah kaki tegap Tuan Dante bergema halus di atas ubin marmer teras. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian namun tegas, Dante menurunkan Elzard dari dalam gendongannya. Bocah laki-laki berusia lima tahun itu kini mendarat sempurna di atas kakinya sendiri.
"Elzard sendiri yang akan memilih ibu baru untuknya," ucap Dante dengan suara berat dan dingin yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Ia melipat kedua tangannya di dada, menyerahkan sepenuhnya keputusan malam itu kepada putra tunggalnya.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati