Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 Ratu mafia istri dokter dingin
Suasana di pelataran drop-off hotel mewah itu masih menyisakan aroma mesiu yang menyengat dan serpihan kaca yang berserakan di atas aspal.
Di balik perlindungan pilar beton yang kokoh, Mike tertegun mematung. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah Sindi dengan tatapan penuh keterkejutan yang luar biasa.
Otak jenius seorang dokter bedah mendadak terasa macet.
Ia baru saja melihat istrinya—seorang wanita bergaun merah delima yang selama ini ia anggap sebagai sosialita manja—bersikap sangat tenang, tanpa sedikit pun rasa takut, di tengah hujan peluru dan bau darah yang menguar di sekeliling mereka.
Tidak ada histeris, tidak ada jeritan ketakutan; yang ada hanyalah ketenangan mengerikan seorang pemimpin yang terbiasa hidup di medan perang.
Sindi perlahan melepaskan dekapannya dari tubuh Mike, lalu menegakkan sedikit posisinya. Melihat istrinya hendak bergeser bangun, Mike yang dilanda rasa cemas luar biasa refleks mencengkeram pergelangan tangan Sindi.
"Sindi... kamu mau ke mana?!" seru Mike dengan suara tertahan dan panik, menarik tangan Sindi agar tetap bersembunyi di sampingnya.
"Di sini aja! Jangan ke mana-mana, di luar masih berbahaya!"
Alih-alih merasa gentar atau mendengarkan peringatan suaminya, Sindi justru tersenyum tipis. Sebuah senyuman menggoda yang sangat kontras dengan situasi tegang di hadapan mereka. Sindi menundukkan sedikit wajahnya, menatap Mike tepat di manik matanya.
"Suami kulkasku..." bisik Sindi dengan nada suara yang begitu lembut dan mengejek,
"apakah sekarang kamu mulai takut kehilangan aku?"
Belum sempat Mike merangkai kata-kata balasan untuk menepis ucapan Sindi, wanita itu sudah melontarkan kalimat berikutnya dengan nada yang jauh lebih tegas.
"Sudah, Mas, tunggu di sini saja. Biar aku yang selesaikan urusan tikus-tikus pengganggu ini," ujar Sindi dingin.
Sebelum Mike sempat mencegah atau menariknya kembali, Sindi sudah melangkah keluar dari balik pilar beton dengan gerakan yang sangat anggun namun mematikan.
Di area pelataran terbuka, Danu sedang berdiri siaga menembaki sisa-sisa mobil jip musuh. Begitu melihat sang Ratu melangkah keluar tanpa pengaman, Danu langsung bergegas mendekat dengan raut wajah cemas bercampur amarah.
"Nona Sindi! Kenapa Anda keluar?! Biar aku saja yang menghabisi semua sampah ini!" seru Danu tegas, mengokang senjatanya.
"Bahkan biarkan aku memenggal kepala Baron sekarang juga! Sudah cukup banyak kekacauan yang dia buat di teritori kita!"
Sindi mengangkat sebelah tangannya, memberi gestur agar Danu tenang. Wajah cantiknya berubah menjadi luar biasa dingin, memancarkan aura pembunuh yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Tidak perlu, Danu. Biar aku sendiri yang mencabut nyawa pemimpin bodoh itu malam ini," ucap Sindi datar.
Tanpa menunggu lama, Sindi melesat maju bagaikan bayangan merah menyala. Gerakannya sangat cepat, presisi, dan mematikan.
Dua orang anak buah Baron yang mencoba menghadangnya dengan senapan langsung disikat habis dalam hitungan detik.
Sindi menendang senjata di tangan mereka, memutar pergelangan tangan musuh, lalu melayangkan hantaman siku telak ke arah rahang hingga mereka tersungkur pingsan bersimbah darah.
Melihat pasukannya tumbang dengan begitu mudah, Baron—pimpinan sektor timur Red Dragon yang berdiri di balik pintu mobil jip kedua—membrengsekkan wajahnya karena murka.
"Sialan kamu, Sindi!" teriak Baron penuh kebencian, menghunuskan pisau tempur besar ke udara dan langsung menerjang ke arah Sindi secara membabi buta.
Sindi menyambut terjangan Baron dengan senyuman sinis. Saat tebasan pisau Baron mengarah ke lehernya, Sindi meliukkan tubuhnya dengan sangat anggun, menghindari bilah pisau itu hanya dalam jarak beberapa milimeter, lalu melayangkan tendangan telak tepat ke dada Baron hingga pria gempal itu terpelanting keras menabrak kap mobil.
"Argh!" jerit Baron kesakitan, memuntahkan sedikit darah segar dari mulutnya.
Namun, di saat Sindi hendak melangkah maju untuk memberikan pukulan pamungkas pada Baron, sebuah ancaman tersembunyi bergerak di atas kegelapan atap gedung sebelah.
Syuuung!
Suara desingan angin yang memecah keheningan malam mendadak terdengar tajam. Di balik kegelapan lantai dua bangunan tua yang menghadap ke pelataran, tangan kanan Baron yang bertindak sebagai penembak jitu rahasia ternyata sedang membidik sasaran menggunakan busur silang modern beracun mematikan!
"Nona, Awas!" teriak Danu histeris saat melihat kilatan panah meluncur deras ke arah punggung Sindi.
Mendengar teriakan Danu, refleks Sindi langsung berputar arah. Namun, lesatan panah itu bergerak terlalu cepat.
Meskipun Sindi berhasil menghindari telak bagian jantungnya, ujung mata panah beracun itu tetap merobek lengan baju gaun merah delimanya dan menggores kulit mulusnya dengan cukup dalam.
Jleb!
"Ugh!" Sindi mendengus tertahan, merasakan sengatan panas yang luar biasa menjalar seketika dari goresan luka di lengannya akibat racun pada ujung panah tersebut.
Melihat darah segar menetes dari lengan Sindi, kemurkaan Ratu Black Viper itu mendadak mencapai puncaknya.
Aura dingin dan mematikan yang terpancar dari tubuh Sindi meluas berkali-kali lipat, membuat siapa pun di sekitar tempat itu merasa sesak napas.
"Berani sekali kalian membuatku terluka..." desis Sindi dengan suara rendah yang luar biasa mengerikan, matanya memerah menatap tajam ke arah Baron.
Sebelum Baron sempat bangkit, Sindi menerjang pria itu bagaikan iblis tanpa ampun.
Ia menghajar Baron secara membabi buta—pukulan demi pukulan bertubi-tubi mendarat tanpa ampun di wajah dan tubuh Baron hingga pria gempal itu menjerit histeris meminta ampun.
"A-ampun, Nona Sindi...! Ampuni aku! Aku menyerah! Jangan bunuh aku...!" ratap Baron histeris dengan wajah babak belur, air mata dan darah bercampur menjadi satu di lantai aspal.
Sindi menghentikan pukulannya, berdiri tegak dengan napas memburu dan lengan yang meneteskan darah segar. Ia menatap rendah ke arah Baron yang sudah tak berdaya di tanah.
"Bawa dia," perintah Sindi dingin pada Danu tanpa menoleh. "Seret Baron dan anak buahnya yang berani memanahku ke markas bawah tanah malam ini juga. Kita akan beri mereka sambutan istimewa."
"Baik, Nona Sindi!" jawab Danu patuh, langsung memberi gestur pada anak buahnya untuk memborgol dan menyeret tubuh Baron yang lemas.
Setelah memberikan instruksi tersebut, Sindi berbalik perlahan. Langkah kakinya sedikit melambat akibat pengaruh racun yang mulai menjalar di lengannya. Ia berjalan kembali menuju ke arah pilar beton tempat suaminya bersembunyi.
Di balik pilar, Mike menyaksikan seluruh pertarungan brutal itu dengan mata kepala sendiri.
Jantungnya bergemuruh hebat, antara rasa kaget yang luar biasa melihat sisi lain istrinya yang seorang petarung berdarah dingin, dan rasa cemas yang mendadak mencengkeram dadanya saat melihat darah segar mengucur dari lengan Sindi.
Begitu Sindi tiba di dekatnya, Mike langsung bangkit berdiri, menyambar lengan Sindi dengan gerakan cepat namun hati-hati.
"Sindi...!" seru Mike panik, matanya membelalak melihat cucuran darah di lengan gaun istrinya.
"Lengan kamu berdarah! Kamu... kamu tidak apa-apa?!"
Sindi mendongak, menatap Mike dengan senyuman tipis yang menyakitkan.
"Tidak apa-apa, Mas... Cuma goresan kecil," jawab Sindi lirih dengan suara yang mulai sedikit melemah.
"Goresan kecil dari mana darahnya sebanyak ini?!" bentak Mike khawatir, tanpa sadar menunjukkan kepedulian yang begitu besar.
"Ayo kita pulang sekarang! Sebagai dokter, aku harus segera membersihkan dan mengobati luka kamu!"
Tanpa menunggu persetujuan Sindi lagi, Mike merangkul pundak dan menggenggam tangan istrinya erat-erat, membimbing wanita itu berjalan cepat meninggalkan area pelataran menuju mobil mereka yang terparkir aman di sudut halaman.
Bersambung....
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,