Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.Aturan di sangkar emas
Sinar matahari sore mulai menyusut, membiaskan rona jingga di sepanjang jalanan kota Jakarta. Di Cahaya Kopi, aroma kopi yang harum dan tawa renyah Rian masih memenuhi ruangan. Namun, bagi Aruna, setiap detik yang berlalu terasa seperti ketukan jarum jam yang menakutkan.
Ponsel murah milik Aruna di atas meja kasir bergetar singkat. Satu pesan baru masuk dari nomor yang sama dengan kemarin—nomor Kaivan Adikara.
"Batas waktu kamu berada di luar rumah adalah pukul tujuh malam. Lebih dari itu, pintu depan akan dikunci dari dalam. Saya tidak menggaji ART di rumah ini, jadi seluruh pekerjaan rumah tangga—memasak, mencuci, dan membersihkan ruangan—adalah tugasmu sebagai bayaran atas fasilitas tempat tinggal yang kamu nikmati gratis."q
Aruna menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Dada Aruna terasa sesak membaca kata demi kata yang terukir tajam di sana. Tentu saja... bisiknya dalam hati.
Kaivan mana mungkin membiarkannya tinggal di rumah megah itu tanpa imbalan. Bagi pria serba perhitungan seperti Kaivan, tidak ada hal gratis di dunia ini, apalagi untuk seorang wanita yang dianggap sebagai jaminan utang.
"Na? Kok melamun?"
Suara berat Bagas memecahkan lamunan Aruna. Pria itu berdiri di samping meja bar sambil membawa kain lap bersih. Matanya yang tajam menangkap sekilas guratan cemas yang mendadak muncul di wajah Aruna.
Aruna terburu-buru mematikan layar ponselnya dan menyunggingkan senyum tipis.
"Nggak apa-apa, Mas Bagas. Cuma... liat jam. Udah hampir jam enam ya."
Bagas mengernyitkan alis. "Jam pulang kamu biasanya kan jam delapan malam pas shift dua selesai. Kenapa? Kamu ada urusan mendadak?"
"Iya, Mas..." Aruna menunduk, meremas jemarinya yang mulai dingin. "Ada... ada hal yang harus Aruna kerjakan di rumah. Boleh enggak kalau Aruna minta izin pulang jam enam lewat lima belas hari ini? Nanti sisa shift Aruna ganti di hari lain."
Rian yang sedang mengelap mesin espresso langsung menoleh. "Wah, tumben banget Aruna minta pulang cepet? Nggak biasanya kamu begini, Na. Biasanya kamu yang paling rajin mau lembur."
Mbak Maya keluar dari ruang belakang dan mendengar percakapan mereka.
Melihat ekspresi Aruna yang tampak begitu tegang dan tak tenang, Mbak Maya langsung mengangguk lembut.
"Boleh kok, Na. Pulang aja duluan. Lagipula pengunjung sore ini nggak terlalu ramai. Pekerjaan sisanya biar dibantu Rian sama Mas Bagas," ujar Mbak Maya hangat.
"Tapi Mbak..." Aruna merasa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, Aruna," sela Bagas cepat. Tangannya memeras kain lap dengan agak kencang, menahan rasa penasaran dan kecemasan yang bergejolak di dadanya. Pria itu bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Aruna, namun ia tidak ingin mendesaknya lebih jauh.
"Pulanglah. Naik angkutan yang aman. Jangan jalan kaki di gang sepi sendirian."
"Terima kasih banyak ya, Mas Bagas, Mbak Maya, Rian..." Aruna membungkuk pelan, rasa haru kembali menyelinap di benaknya.
Dengan terburu-buru, Aruna mengganti celemeknya, mengambil tas kainnya, lalu melangkah cepat keluar dari kafe.
Bagas berdiri di dekat pintu kaca, memerhatikan langkah tergesa-gesa Aruna yang menyusuri trotoar hingga bayangannya menghilang di balik belokan jalan. Dada Bagas terasa berat. Ada sebentuk rasa tidak rela dan khawatir yang menyengat tenggorokannya.
Ia ingin mengejar Aruna, menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, tetapi batas posisi sebagai rekan kerja dan koki kafe memaksanya untuk tetap berdiri diam di tempatnya.
Pukul 18.50 WIB.
Aruna berlari kecil menembus gerbang kompleks perumahan elite Adikara. Napasnya terengah-engah, peluh tipis membasahi keningnya. Tepat sepuluh menit sebelum tenggat waktu pukul tujuh, langkah kakinya sampai di pelataran rumah megah berornamentasi hitam dan kaca tebal itu.
Ia mendorong pintu depan yang beruntung belum terkunci. Begitu melangkah masuk ke dalam foyer yang dingin, aroma pengharum ruangan beraroma kayu cendana dan lavender langsung menyambutnya.
Di ruang tengah yang luas, Kaivan sudah duduk di sofa kulit berwarna abu-abu gelap. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memegang sebuah tablet finansial di tangan kirinya. Di atas meja kaca di hadapannya, terdapat cangkir kopi hitam yang sudah dingin.
Kaivan tidak langsung mendongak. Ia melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya, lalu menatap Aruna dengan pandangan dingin dan tak bersahabat.
"Tepat waktu," kata Kaivan singkat, suaranya berat dan bernada datar. "Saya benci orang yang tidak disiplin."
Aruna berdiri mematung di dekat area foyer, mencoba merapikan deru napasnya yang belum teratur. "Saya... saya sudah pulang sebelum jam tujuh, Pak Kaivan."
Kaivan meletakkan tabletnya di atas meja dengan bunyi ketukan pelan yang mengintimidasi. Ia bangkit berdiri, menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangannya tertuju pada pakaian Aruna yang sederhana dan sedikit lusuh—sisa debu jalanan dan aroma kopi yang masih samar-samar menempel di bajunya.
"Karena kamu sudah sampai, kamu bisa mulai pekerjaanmu," ucap Kaivan tanpa sedikit pun nada keramahan.
"Dapur belum dibersihkan. Baju-baju di ruang cuci belum disetrika. Dan untuk makan malam, saya hanya mau makanan sehat tanpa minyak berlebih. Jangan berharap ada asisten rumah tangga yang akan melayani kamu di sini. Kamu tinggal di sini bukan sebagai tamu, apalagi Nyonya rumah."
Kata-kata itu menghantam kedalaman hati Aruna. Namun, alih-alih menangis atau menunjukkan rasa terpukul di depan pria angkuh ini, Aruna hanya menegakkan bahunya dan menatap Kaivan dengan tenang.
"Baik, Pak Kaivan. Saya mengerti," sahut Aruna pelan namun penuh keteguhan.
"Saya akan bersihkan dapur dan selesaikan cucian sekarang."
Tanpa menunggu balasan lagi dari Kaivan, Aruna berjalan menuju arah dapur di bagian belakang rumah.
Kaivan sempat terdiam sejenak di tempatnya berdiri. Alisnya bertaut tipis. Ada rasa heran yang timbul di dalam benaknya. Ia sengaja memberikan syarat-syarat yang berat dan melelahkan ini untuk memicu keputusasaan Aruna, berharap wanita itu akan menunjukkan keluhan, menangis, atau memohon-mohon agar diperlakukan lebih layak. Namun, Aruna justru menerima seluruh perlakuan dingin itu dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.
Cuma pura-pura bertahan, batin Kaivan menepis rasa herannya dengan sinis. Kita lihat berapa lama dia sanggup bersikap sok tegar.
Area dapur rumah Kaivan sangat luas dan modern, dilengkapi perlengkapan memasak berbahan baja tahan karat yang berkilau.
Namun, ruangan itu begitu dingin dan tak tersentuh—mencerminkan pemiliknya.
Aruna melepas sepatu ketsnya dan menggantinya dengan sandal rumah sederhana. Setelah mencuci tangan, ia mulai bergerak lincah.
Pertama-tama, ia menyapu lantai dapur, mengelap konter dapur yang berdebu, dan merapikan peralatan makan yang berserakan.
Setelah dapur bersih, Aruna membuka lemari pendingin besar di sudut ruangan. Hanya ada beberapa bahan makanan segar: dada ayam, sayuran hijau, telur, dan beberapa botol air mineral.
Dengan terampil, Aruna menyiapkan bahan-bahan itu. Jemarinya yang terbiasa bekerja keras memotong sayuran dengan presisi dan rapi. Ia menumis sayuran dengan sedikit minyak zaitun dan memanggang dada ayam dengan bumbu rempah sederhana yang harum.
Hampir satu jam berlalu. Rasa lelah mulai menggerogoti tubuh Aruna. Kakinya terasa pegal karena harus berdiri seharian di kafe dan dilanjutkan dengan mengurus rumah tangga tanpa jeda istirahat. Namun, Aruna menahan rasa letih itu rapat-rapat.
Pukul delapan malam, Aruna menyajikan makan malam yang hangat di atas meja makan panjang berkonsep minimalis. Ia menyeduh secangkir teh herbal hangat untuk Kaivan sebagai penutup.
Kaivan melangkah ke meja makan dengan langkah tegap. Ia duduk di kursi utamanya, memperhatikan piring yang telah tertata rapi di hadapannya.
Aromanya sangat menggugah selera—sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya sendiri karena biasanya ia hanya memesan makanan dari restoran mahal atau memakan masakan katering dingin.
Kaivan mengambil sendok dan garpu, meraih satu suapan tumis sayur dan potongan dada ayam panggang.
Ketika rasa gurih yang pas dan bumbu yang meresap sempurna menyentuh lidahnya, Kaivan sempat menghentikan kunyahannya sejenak.
Masakan ini terasa sangat lezat dan pas di lidahnya—berbeda jauh dari bayangannya tentang masakan seorang gadis rumahan biasa.
Namun, gengsi dan rasa benci yang tertanam kuat di hatinya membuat Kaivan enggan menunjukkan pujian. Ia menelan makanannya lalu menyapu pandangan ke arah Aruna yang berdiri agak jauh di sudut dapur, menunggu dengan tenang.
"Lumayan," ujar Kaivan dingin, berusaha memangkas rasa kagumnya. "Tapi garamnya sedikit terlalu banyak. Besok kurangi."
"Baik, Pak Kaivan. Terima kasih masukannya," jawab Aruna tulus tanpa nada tersinggung sedikit pun.
"Kamu sendiri tidak makan?" tanya Kaivan lirih saat menyadari tidak ada piring kedua di meja itu.
"Saya sudah makan tadi di kafe, Pak," dusta Aruna halus.
Sebenarnya, Aruna belum sempat menyantap apa pun sejak sore tadi selain botol susu kurma pemberian Bagas. Namun, Aruna tahu posisinya. Ia tidak ingin lancang duduk satu meja dengan Kaivan atau mengambil bahan makanan di rumah ini untuk dirinya sendiri jika tidak diizinkan.
Kaivan tidak bertanya lebih lanjut. Ia kembali melanjutkan makan malamnya dalam keheningan yang kaku.
Setelah Kaivan selesai makan dan kembali ke ruang kerjanya, Aruna merapikan piring kotor, mencucinya hingga bersih, lalu melangkah menuju ruang cuci di lantai bawah. Di sana, tumpukan kemeja kerja dan jas milik Kaivan sudah menunggu untuk disetrika.
Aruna menyalakan setrika uap. Pelan-pelan, dengan kesabaran luar biasa, ia merapikan setiap lipatan kemeja putih milik pria yang kini menjadi suaminya itu. Punggungnya terasa pegal, dan matanya mulai memberat ditimpa rasa kantuk yang teramat sangat.
Pukul sepuluh malam lewat, seluruh pekerjaan rumah tangga akhirnya selesai.
Aruna berjalan layu menuju kamarnya di lantai dua sebelah barat. Kamar itu cukup luas, namun perabotannya sangat minim: hanya ada satu tempat tidur berukuran sedang, sebuah lemari pakaian kayu, dan satu meja kecil.
Aruna merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di atas kasur empuk itu. Ia menatap langit-langit kamar yang asing dalam kegelapan malam. Air mata tipis akhirnya menetes di sudut matanya—bukan karena menyesali nasibnya, melainkan karena rasa lelah fisik dan mental yang akhirnya pecah saat ia sendirian.
Ia teringat senyuman hangat Mbak Maya, gurauan konyol Rian, dan botol susu kurma hangat dari Bagas pagi tadi. Kehangatan kecil dari kafe itulah yang menjadi pegangannya untuk tetap bertahan hidup hari demi hari.
Aruna memeluk dirinya sendiri, memejamkan mata rapat-rapat dalam kesunyian sangkar emas yang dingin itu, menyusun kekuatan untuk menghadapi hari esok yang mungkin akan terasa lebih berat.
_Bersambung