"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
Vandra tidak langsung menjawab. Pertanyaan Ratih masih menggantung di udara.
"Sejak pulang ke rumah Ayahnya, Levia banyak berubah. Apa kamu benar-benar ingin menceraikannya? Gak mau kasih dia kesempatan?"
Vandra menunduk. Jemarinya yang berada di atas meja perlahan saling bertaut.
Entah kenapa, pertanyaan itu membuat pikirannya kembali mengingat beberapa hari terakhir.
Sejak Levia tenggelam di sungai, wanita itu tidak pernah lagi mengganggunya.
Sejak tinggal di rumah Gultom, tidak ada satu pun pesan masuk. Tidak ada panggilan. Tidak ada ancaman. Tidak ada tangisan yang memintanya membatalkan perceraian.
Padahal dulu, setiap kali Vandra menghapus pesan Levia tanpa membacanya, ia tahu beberapa menit kemudian akan ada pesan berikutnya.
Sekarang...
Tidak ada apa-apa. Bahkan ketika Vandra datang ke rumah keluarga Gultom, Levia hanya menyambutnya dengan sikap sopan. Tidak memeluk lengannya. Tidak mendekat. Tidak memohon agar dirinya tidak pergi.
Di minimarket pun sama. Levia melihatnya bersama Risa, tetapi wanita itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kecemburuan.
Lalu tiba-tiba Levia menghadiri kegiatan Persit. Padahal selama hampir setahun menjadi istrinya, wanita itu selalu menghindari perkumpulan para istri prajurit.
Dan semalam...
Vandra mengembuskan napas pelan. Kejadian kecoa itu seharusnya menjadi kesempatan Levia untuk membuat drama.
Namun setelah kecoa berhasil dibuang, wanita itu justru menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan tidak keluar lagi.
Bahkan pagi ini...
Tatapan Vandra beralih pada hidangan yang tersaji di atas meja. Masakan itu dibuat dengan begitu rapi. Aromanya menggugah selera, dan beberapa hidangan bahkan tidak pernah ia lihat tersaji di rumah ini sebelumnya.
Ketika Bi Dami mengatakan Levia yang memasaknya, Vandra sempat mengira dirinya salah dengar.
Levia memasak?
Levia yang selama ini bahkan enggan masuk dapur?
"Kenapa aku terus mikirin dia?" batin Vandra.
Ratih yang duduk di seberangnya memerhatikan perubahan wajah putranya. Ia mengenal Vandra sejak kecil.
Pria itu mungkin pandai menyembunyikan perasaan, tetapi sebagai seorang ibu, Ratih bisa melihat keraguan yang perlahan muncul di matanya.
"Kamu ragu?" tanyanya pelan.
Vandra mengangkat wajah. "Aku cuma..." Ia terdiam sebentar. "Aku gak ngerti, Bu."
Ratih menunggu.
"Levia berubah," gumam Vandra.
"Ya."
"Dan aku gak tahu kenapa."
Ratih tersenyum tipis. "Mungkin karena kejadian di sungai membuat dia sadar."
Vandra terdiam.
"Atau mungkin," lanjut Ratih, "dia akhirnya berhenti memaksakan sesuatu yang memang gak bisa dia dapatin."
Kalimat itu membuat Vandra menatap ibunya. "Berhenti memaksakan?"
Ratih mengangguk. "Selama ini kamu selalu menganggap Levia akan terus mengejarmu. Menangis kalau kamu menjauh. Marah kalau kamu bicara dengan perempuan lain. Mengancam akan menyakiti dirinya kalau kamu ingin pergi."
Ratih menarik napas panjang. "Tapi sekarang semua itu berhenti."
Vandra menunduk lagi. Entah kenapa, mendengar ibunya mengatakannya dengan gamblang justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Bukankah itu yang ia inginkan?
Levia berhenti mengejarnya. Levia berhenti mengganggunya. Levia tidak lagi memaksanya menjadi suami yang tidak pernah ia inginkan.
Seharusnya ia merasa lega. Namun mengapa justru terasa ada sesuatu yang hilang?
"Van."
Vandra kembali menatap ibunya.
"Kalau kamu memang masih ingin bercerai, Ibu gak akan menghalangi." Ratih berhenti sejenak. "Tapi jangan menceraikan Levia hanya karena kamu sudah terbiasa membencinya."
Vandra terdiam.
"Pastikan kamu benar-benar yakin," lanjut Ratih. "Karena kalau suatu hari nanti kamu sadar bahwa yang berubah bukan cuma Levia, tetapi juga perasaanmu sendiri..."
Ratih tidak meneruskan kalimatnya.
Vandra menatap hidangan di depannya. Kemudian tanpa sadar, pandangannya kembali tertuju pada pintu kamar tempat Levia berada.
Entah apa yang sedang dilakukan wanita itu sekarang. Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu muncul di benaknya tanpa ia kehendaki.
"Kalau aku benar-benar pergi selama satu tahun... apa dia masih akan seperti ini saat aku kembali?"
Pintu kamar terbuka.
Levia keluar dengan pakaian yang rapi dan sederhana. Rambutnya ditata dengan baik, sementara riasan di wajahnya tampak natural. Tidak berlebihan, tetapi membuat wajahnya terlihat lebih segar.
Vandra yang sedang duduk di meja makan tanpa sengaja mengangkat kepala. Tatapannya berhenti beberapa detik.
Tubuh Levia memang masih besar. Belum banyak perubahan yang terlihat dari luar. Namun wajahnya tampak berbeda. Lebih segar. Lebih terawat. Dan entah kenapa...
Lebih cantik.
Vandra segera mengalihkan pandangan ketika sadar dirinya terlalu lama memerhatikan.
"Pagi, Bu," sapa Levia lembut.
Ratih yang duduk di kursinya langsung tersenyum.
"Pagi, Via."
Levia kemudian menoleh kepada Vandra.
"Pagi."
"Pagi," jawab Vandra singkat.
Setelah itu, Levia kembali memusatkan perhatian kepada Ratih. "Ibu sudah mendingan?"
"Sudah. Jauh lebih baik." Ratih tersenyum. "Terima kasih, ya. Semalam waktu tengah malam kamu bahkan sempat masuk ke kamar Ibu. Kamu bantu kompres, ambilin air minum, dan mastiin Ibu tidur lagi."
Vandra yang semula menunduk langsung mengangkat wajah. Tatapannya berpindah kepada Levia.
"Levia melakukan semua itu?" Semalam ia sama sekali tidak tahu.
Levia hanya tersenyum kecil. "Semalam aku kebangun. Ingat Ibu lagi sakit, jadi sekalian aku lihat."
Ratih mengangguk haru. "Kamu gak perlu sampai begitu."
"Kenapa gak perlu?" Levia menarik kursi dan duduk. "Ibu sudah seperti keluarga sendiri."
Vandra kembali terdiam.
Ratih kemudian melirik hidangan yang memenuhi meja. "Ngomong-ngomong, Bi Dami bilang sebagian masakan ini kamu yang buat?"
"Iya, Bu."
"Sejak kapan kamu suka masak?"
Levia tertawa kecil. "Sejak tinggal di rumah Ayah." Ia mengambil segelas air putih sebelum melanjutkan. "Ayah punya kolesterol dan tekanan darah tinggi. Dokter juga menyarankan beliau menjaga pola makan."
Ratih mengangguk.
"Jadi aku mulai belajar masak makanan yang lebih sehat." Tatapan Levia turun pada hidangan di atas meja. "Aku juga sekalian harus mulai menjaga tubuhku sendiri."
Vandra memiringkan kepalanya ke arah istrinya.
Levia mengatakannya begitu santai, tanpa nada mengasihani diri sendiri.
"Aku memang masih banyak yang harus diperbaiki," lanjutnya. "Berat badanku juga gak mungkin turun dalam beberapa hari."
Ia tersenyum kecil. "Tapi aku gak mau terus biarin diri sendiri kayak dulu."
Ratih menatap menantunya dengan mata berkaca-kaca.
Levia melanjutkan dengan nada ringan. "Aku gak mau mati muda cuma karena obesitas, Bu."
Vandra langsung mengangkat wajah.
Levia justru tersenyum. "Aku masih pengen nemenin Ayah lebih lama." Ia berhenti sejenak. "Dan aku juga masih ingin sering-sering ngobrol sama Ibu."
Ratih terdiam. Dadanya terasa penuh. Selama hampir setahun, yang paling sering ia dengar dari Levia adalah tentang Vandra.
Vandra begini. Vandra begitu. Vandra marah. Vandra pergi. Vandra bersama siapa.
Kini, untuk pertama kalinya, Levia berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Tentang kesehatan. Tentang ayahnya. Tentang Ratih. Tentang keinginannya untuk hidup lebih lama.
Ratih meraih tangan Levia di atas meja. "Ibu senang dengernya."
Levia tersenyum. "Jadi Ibu jangan khawatir lagi."
Sementara itu, Vandra hanya menjadi pendengar. Pandangannya kembali tertuju pada Levia.
Wanita itu masih memiliki tubuh yang sama. Belum menjadi langsing. Belum berubah drastis. Namun ada sesuatu yang berbeda dari wajah dan caranya berbicara.
Dulu, Levia seperti seseorang yang takut kehilangan Vandra.
Sekarang...
Ia justru terlihat seperti seseorang yang takut kehilangan dirinya sendiri.
Vandra menunduk. Entah mengapa, kalimat sederhana Levia tadi terus berputar di kepalanya.
"Aku masih pengen nemenin Ayah lebih lama."
Dan tanpa sadar, muncul pertanyaan lain dalam pikirannya.
Kalau Levia benar-benar sudah mulai menghargai hidupnya... Lalu, apakah dirinya masih menjadi alasan wanita itu ingin bertahan?
“Via.”
Suara Vandra membuat Ratih dan Levia menoleh bersamaan.
Levia mengangkat alis. “Iya?”
Vandra terdiam beberapa detik. Entah mengapa, pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya terasa sulit untuk diucapkan.
Ratih diam-diam memperhatikan putranya.
Vandra akhirnya membuka mulut. “Kalau aku bener-bener ceraiin kamu..."
Ia berhenti sejenak. Tatapannya bertemu dengan mata Levia. “...kamu bakal nikah sama orang lain?”
...✨“Ketika seseorang mulai menghargai hidupnya sendiri, ia tak lagi bertahan demi orang lain. Dan saat itulah orang yang dulu ingin ditinggalkan mulai takut benar-benar kehilangan.”✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄