Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26: Rumah yang Hancur
____🌺
Nayara mengangguk.
"Ibumu tahu persis, soal perselingkuhan itu. Ibumu sengaja memasukkan perusahaan Selena, ke dalam proyek Mas Adrian ... supaya mereka bisa kembali berhubungan dengan leluasa. Sekarang, ibumu bahkan memintaku menerima bayi itu, demi menjaga nama baik keluarga."
Dimas memukul meja dengan tangan kanannya, hingga cangkir kopi di dekatnya sedikit terguncang.
"Gila! Ini benar-benar gila!" serunya geram. "Aku tahu, Mama memang sangat ambisius kalau menyangkut nama keluarga, tapi aku tidak menyangka, Mama, sama Mas Adrian bisa bertindak sejauh ini untuk mengorbankan Mbak Nay."
"Aku akan menggugat cerai kakakmu, Dim." Nayara menatap Dimas dengan tegas. "Hari ini juga aku akan mencari pengacara."
Ia menarik kembali surat kuning itu ke hadapannya.
"Surat ini akan menjadi bukti, bahwa pernikahan kami memang bermasalah sejak awal."
Namun, saat Nayara hendak melipat surat tersebut dan memasukkannya ke dalam tas, tatapan Dimas tiba-tiba tertuju pada bagian bawah kertas.
Dahinya mengernyit.
"Tunggu sebentar, Mbak," tahan Dimas cepat. "Bisa aku lihat surat itu lagi?"
Nayara menghentikan gerakannya, lalu menyodorkan kertas tersebut kembali.
"Ada apa?"
Dimas menunjuk bagian paling bawah surat, tepat di bawah tanda tangan ayah Nayara dan ayah Adrian. Di sana terdapat satu tanda tangan tambahan yang tercantum sebagai saksi mediasi.
"Bramantyo," eja Dimas pelan.
Ia mengangkat wajah dan menatap Nayara. "Mbak tahu siapa Bramantyo ini?"
Nayara menggeleng. "Mungkin pengacara ayahmu, atau notaris?"
"Bukan," jawab Dimas cepat.
Ia segera meraih tas kerjanya, membuka ritsleting dengan tergesa-gesa, lalu mengeluarkan laptop. Setelah meletakkannya di atas meja, ia menyalakan perangkat tersebut.
"Nama ini familiar sekali. Aku melihatnya beberapa hari lalu saat memeriksa laporan audit internal perusahaan cabang Mas Adrian."
Nayara langsung menegakkan tubuh.
"Laporan audit?"
"Iya. Ada beberapa aliran dana mencurigakan yang keluar dari rekening perusahaan," jelas Dimas sambil memasukkan kata sandi. "Dana itu disamarkan sebagai biaya operasional proyek dan biaya konsultan. Namun, jumlahnya terlalu besar dan ditransfer secara rutin setiap bulan."
Nayara menatapnya dengan tegang.
"Kamu curiga, Mas Adrian menggelapkan uang perusahaannya sendiri?"
"Bukan, Mas Adrian yang memiliki wewenang mengelola dana operasional gabungan itu, Mbak. Melainkan tim dari perusahaan investor."
Jari Dimas bergerak cepat di atas papan ketik.
"Tim yang dikepalai sama, Selena."
Mata Nayara melebar.
"Maksud kamu mu, Selena yang mengatur pencairan uang itu?"
"Tunggu sebentar. Aku cari arsip transfernya di pangkalan data keuangan," ujar Dimas.
Suasana di meja mereka mendadak menegang.
Nayara memperhatikan layar laptop yang mulai menampilkan deretan angka dan nama dari sistem keuangan perusahaan.
Dimas mengetikkan nama Bramantyo pada kolom pencarian, kemudian menunggu hingga data yang dibutuhkan muncul.
Beberapa detik berlalu.
Layar akhirnya menampilkan belasan baris catatan transaksi.
Wajah Dimas seketika berubah tegang. Ia menelan ludah, lalu perlahan memutar laptop agar layarnya menghadap Nayara.
"Mbak Nay ...," panggilnya dengan suara bergetar.
Nayara segera mencondongkan tubuh, memperhatikan layar yang dipenuhi angka-angka bernilai besar serta tanggal transaksi yang tercatat secara teratur selama enam bulan terakhir.
Enam bulan.
Jangka waktu yang sama persis dengan awal perselingkuhan Adrian dan kembalinya Selena ke dalam kehidupan pria itu.
Nayara terdiam.
Kebohongan keluarga Mahendra, kemunculan kembali Selena, dan aliran uang perusahaan dalam jumlah tidak wajar itu seolah saling terhubung.
Dimas akhirnya menemukan bukti transfer dari rekening perusahaan kepada seseorang yang namanya tercantum dalam surat tersebut.
____🌺
Nayara berdiri diam di tengah dapur. Sebuah cangkir keramik putih berada di tangannya, tetapi tatapannya kosong, tertuju pada meja makan di hadapannya.
Sehari setelah meninggalkan rumah dengan membawa kopernya, pagi ini Nayara terpaksa kembali untuk mengambil sisa dokumen kerja dan perlengkapan desain yang masih tertinggal.
Ia mengira rumah akan kosong karena Adrian biasanya berada di kantor pada pukul sepuluh pagi.
Nayara meletakkan cangkir itu kembali ke rak, lalu menyapu sekeliling ruangan dengan pandangan kosong.
Dulu, dapur ini merupakan salah satu tempat favoritnya. Di meja makan itulah ia selalu menunggu Adrian pulang setiap malam.
Di sofa ruang tamu, ia kerap menemani suaminya minum kopi sambil mendengarkan keluh kesah pria itu tentang pekerjaan.
Namun, hari ini semuanya terasa berbeda.
Setiap sudut rumah justru membangkitkan rasa muak. Ruangan yang dahulu terasa hangat kini tampak asing dan dingin.
Rumah ini bukan lagi tempat yang ingin ditinggalinya. Tempat ini hanyalah saksi bisu bagaimana dirinya ditipu mentah-mentah selama dua tahun, sementara suaminya pulang dengan aroma parfum perempuan lain.
Suara pagar besi yang digeser dari luar membuyarkan lamunannya.
Semenit kemudian, pintu utama terbuka. Adrian melangkah masuk dengan wajah tegang. Kemeja kerjanya masih melekat rapi, tetapi dasinya sudah dilepas.
Langkah pria itu terhenti ketika melihat Nayara berdiri di dekat ruang tengah, di samping dua kardus berukuran sedang yang berisi buku-buku desain.
"Kamu pulang, Nay?" tanya Adrian.
Raut wajahnya sedikit melunak. Senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya saat ia berjalan mendekat.
"Aku melihat ada taksi di depan. Aku pikir kamu menyuruh orang mengambil barang-barangmu. Ternyata kamu sendiri yang pulang ke rumah."
"Aku ke sini cuma mengambil sisa barang-barangku, Mas. Setelah ini, aku langsung pergi" jawab Nayara datar.
Ia menunduk, melipat penutup kardus di hadapannya, lalu merekatkannya dengan lakban.
Senyum Adrian seketika menghilang. Pria itu mengembuskan napas panjang sebelum berdiri di depan kardus yang sedang dikemas istrinya.
"Tinggalkan kardus itu, Nayara. Kamu tidak akan ke mana-mana hari ini," perintah Adrian.
Nayara menghentikan gerakannya, lalu menegakkan tubuh untuk menatap suaminya.
"Aku sudah bilang kemarin, urusan kita sudah selesai. Aku tidak mau berdebat lagi sama kamu."
"Urusan kita belum selesai," potong Adrian cepat. "Malam ini ada acara makan malam besar keluarga Mahendra di restoran hotel. Acara perayaan ulang tahun perusahaan. Semua kolega bisnis, paman, dan bibi akan datang. Kamu harus bersiap-siap. Kita berangkat pukul enam sore nanti."
Nayara menatap suaminya seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehatnya.
"Kamu menyuruhku datang ke acara keluargamu? Setelah semua kenyataan yang aku ketahui kemarin?"
"Iya. Kamu harus datang bersamaku sebagai istriku," tegas Adrian.
"Aku tidak mau, Mas."
Nayara kembali menunduk dan menarik lakban dari gulungannya hingga terdengar suara nyaring.
"Pergi saja sendiri."
Adrian segera mencengkeram tangan Nayara, menghentikan aktivitas perempuan itu.
"Kamu harus datang, Nay!" serunya. "Sejak kemarin, gosip di keluarga besar sudah mulai menyebar. Ada sepupu yang melihatmu keluar rumah sambil membawa koper. Mama juga terus-menerus meneleponku sejak pagi. Kalau kamu tidak datang malam ini, semua orang akan curiga kalau rumah tangga kita sedang bermasalah!"
Nayara menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Adrian.
"Memang rumah tangga kita sedang bermasalah! Sangat bermasalah!" balasnya dengan suara meninggi.
"Lalu kenapa kalau mereka tahu? Kamu takut nama baikmu hancur di depan paman dan bibimu?"
emang lu doang yang bisa 🤣🤣