Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - PENGEMUDI CEROBOH
Pendaran cahaya silau dari lampu tembak LED di atas atap kabin pick-up rakitan itu memotong kegelapan fajar, menembus kabut tipis spora yang menggantung di atas atap Apotek Sentral. Luna memicingkan matanya, mengangkat tangan kirinya untuk melindungi pandangan seraya tetap mempertahankan genggaman jemarinya pada riser busur recurve. Di sisinya, Steve melangkah maju satu pukulan ke depan pembatas atap, menatap monster besi di bawah sana dengan rasa penasaran yang bercampur kekaguman murni.
"Woi! Kamu berniat menjemput kami atau cuma mau pamer klakson lagu dangdut?!" teriak Steve penuh selera humor seraya menyeimbangkan pipa besi tebalnya di atas bahu tegapnya.
Dari balik celah kawat ram jendela pintu pengemudi, sosok di dalam kabin itu tertawa renyah. Suara tawanya terdengar nyaring dan lepas, sama sekali tidak mencerminkan suasana mencekam Kota Mati yang dikepung lautan monster terinfeksi.
"Dua-duanya dong, Abang Ganteng! Sayang kan kalau klakson sebagus ini cuma didengar zombie!" balas suara dari dalam kabin, terdengar amat kenes dan ceria.
"Nancy, di mana titik pendaratan terendah untuk turun ke bak mobil itu?" tanya Luna cepat tanpa berpaling dari pengamatannya.
Nancy dengan lincah menggeser layar tablet digitalnya, memindai ketinggian struktur bangunan Apotek Sentral dari sisi samping. "Di atap kanopi seng gudang belakang! Ketinggiannya cuma dua meter dari lantai atap ini, dan langsung sejajar dengan bak truknya!"
"Bagus. Bergerak ke kanopi belakang sekarang!" perintah Luna tegas seraya memimpin barisan menyeberangi lantai beton atap.
"Woi, Pengemudi Eksentrik! Muncurkan mobilmu ke lorong belakang dekat kanopi seng!" teriak Steve memberi petunjuk arah dari atas.
"Siap, Kapten! Pegangan ya, Jeng! Aku putar mobilnya dulu!" sahut suara dari balik kabin.
Di bawah sana, pengemudi pick-up rakitan itu tidak menyia-nyiakan waktu. Namun, bukannya memutar arah kendaraan dengan perhitungan tenang dan perlahan, ia justru menginjak pedal gas dalam-dalam secara mendadak.
BRRRUMMM! BRRRUMMM!
Raungan mesin diesel berturbo ganda itu melengking tinggi, menyemburkan asap hitam tebal dari dua pipa knalpot tegaknya. Ban-ban raksasa bergerigi tebal berukuran tiga puluh lima inci berputar liar di atas aspal basah, memercikkan serpihan oli dan air kotor ke segala arah.
Pengemudi itu membanting setir ke kanan secara ekstrem, berniat melakukan manuver putar balik di lorong jalan raya yang sangat sempit. Bumper peremuk berbentuk bajak besi segitiga di depan mobil menyapu deretan tiang telepon dan bangkai sepeda motor di tepi jalan, menciptakan deretan dentuman keras yang memekakkan telinga.
PRANGGG! DENTANG!
"Astaga! Dia mau mutar mobil atau mau merubuhkan jalanan?!" seru Endru panik seraya merapatkan dua ransel medis merah di dadanya.
"Gaya mengemudinya benar-benar tidak punya perhitungan keselamatan!" gumam Nancy seraya membetulkan posisi kacamatanya yang agak miring akibat terkejut.
Luar biasanya, kendati manuvernya tampak amat brutal dan serampangan, mobil pick-up berlapis baja itu berhasil memutar arah seratus delapan puluh derajat tanpa terbalik. Pengemudinya langsung memindahkan tuas transmisi ke posisi mundur, lalu kembali menekan pedal gas tanpa ampun.
BRRRUMMM!
Mobil raksasa itu meluncur mundur dengan kecepatan tinggi memasuki lorong sempit di samping gudang belakang apotek. Kecepatan meluncurnya yang terlalu kencang di lorong sempit berukuran tiga meter itu membuat bodi samping plat besi truk beberapa kali menggesek dinding semen bangunan, memercikkan deretan bunga api oranye yang menyambar kegelapan.
Sssssst! Sssssst!
"Awas! Dia meluncur terlalu kencang!" teriak Rian terbelalak histeris.
Mobil pick-up rakitan itu membuntut mundur lurus ke arah tiang beton penyangga kanopi seng tempat Luna dan timnya bersiap untuk turun. Jarak antara bumper belakang plat baja truk dan tiang semen gudang menyusut drastis dari lima meter menjadi dua meter dalam hitungan detik.
"Dia bakal menabrak tiang kanopi ini!" seru Steve seraya merentangkan tangan kanannya untuk melindungi Luna dan Nancy.
Endru seketika memejamkan matanya rapat-rapat, menjerit kecil seraya pasrah menunggu dentuman benturan keras yang akan merubuhkan tempat mereka berdiri.
Namun, tepat di pecahan detik terakhir ketika jarak bumper baja dan tiang semen tinggal selapis telapak tangan—sekitar sepuluh sentimeter saja—pengemudi ceroboh itu menginjak pedal rem dan menarik rem tangan secara serentak dengan kekuatan penuh.
CITTTTTTTT! BASHHH!
Suara cicitan rem hidrolik bertekanan tinggi menggema menyakitkan telinga. Keempat roda raksasa mobil itu terkunci kaku seketika, menggerus lantai aspal lorong hingga menciptakan kepulan asap karet terbakar yang sangat pekat.
Bodi truk bermuatan tonase berat itu bergoyang hebat ke depan dan belakang akibat dorongan momentum, namun bumper belakangnya berhenti persis menempel halus di dinding tiang kanopi tanpa merusak struktur semen sedikit pun.
Hening seketika melingkupi lorong samping gudang tersebut, hanya disisakan oleh deru halus mesin diesel yang tetap menyala stabil.
Endru perlahan membuka matanya, mengembuskan napas panjang yang amat gemetaran seraya mengusap dadanya. "K-kita... tidak tertabrak?"
"Gila... rem hidroliknya kuat sekali," gumam Steve takjub seraya tertawa terkekeh pelan.
"Jarak berhentinya cuma delapan sentimeter dari dinding. Itu nekat atau keberuntungan murni," analisis Nancy seraya menghembuskan napas lega dari balik kacamatanya.
Luna menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah pintu kabin pengemudi yang kini terbuka perlahan.
Sesosok pria bertubuh agak kurus melangkah keluar dari kabin pengemudi dengan gerakan yang sangat fleksibel dan penuh gaya konyol. Pria itu mengenakan kaos rompi denim tanpa lengan yang dipenuhi jahitan pin warna-warni, celana kargo longgar, dan kacamata hitam berbingkai merah menyala yang didorong naik ke atas dahi. Wajahnya yang tirus diphias kumis tipis yang dirawat rapi, sementara tangannya yang dilapisi sarung tangan kain merah melambai-lambai santai ke arah atap kanopi.
"Halo semuanya! Maaf ya kalau rem mendadaknya agak bikin jantung mau copot!" seru pria itu dengan vokal genit seraya menyunggingkan cengiran lebar yang memamerkan deretan giginya yang putih.
"Kamu gila, ya?! Kalau remmu blong sedikit saja, kita semua bisa tertimpa reruntuhan tiang kanopi ini!" tegur Steve setengah berteriak namun diwarnai senyum geli di bibirnya.
"Duh, Abang Kekar jangan galak-galak dong! Namaku Onad, sang mekanik tampan tiada tanding!" balas pria itu menepuk dadanya penuh percaya diri seraya mengedipkan mata kanannya.
Onad melangkah ke bak belakang truknya yang telah dimodifikasi menyerupai benteng berjalan. Bak bagian belakang kendaraan itu dipagari oleh plat baja tebal setinggi dada yang dilengkapi pegangan besi dan dudukan amunisi di sekelilingnya.
"Ayo cepat turun loncat ke bak belakangku! Zombie-zombie di jalan depan mulai sadar kalau aku cuma mutar mobil!" seru Onad seraya menunjuk ke arah persimpangan lorong yang mulai dipenuhi erangan serak.
Luna menatap Onad dengan pengamatan taktis yang mendalam. Meski gaya mengemudinya sangat ceroboh dan kepribadiannya terkesan eksentrik serta tidak serius, keahlian mekanik dan keberanian pria ini dalam menerobos lautan monster adalah fakta yang tak terbantahkan.
"Satu per satu loncat ke bak truk! Steve, bantu Endru dan Nancy!" perintah Luna tegas tanpa membuang waktu lagi.
"Siap, Komandan!" jawab Steve mantap seraya memegang lengan Endru untuk membantunya melompati pembatas kanopi seng menuju bak truk yang aman di bawah sana.
Gaya mengemudi Onad yang gila dan ceroboh baru saja membawa hembusan keselamatan bagi mereka, membuka jalan bagi kelima penyintas ini untuk menyatukan takdir di atas kendaraan tempur buatan tangan yang siap menembus kiamat Cordyceps.