Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Sebuah Keputusan
Petugas tetap tersenyum profesional. "Apakah Ibu sudah menikah secara sah dan memiliki buku nikah?"
"Sudah."
"Baik. Secara umum, gugatan cerai diajukan ke Pengadilan Agama sesuai domisili istri. Nantinya Ibu perlu melampirkan identitas diri, buku nikah, serta surat gugatan yang berisi alasan perceraian."
Milka mengangguk sambil mencatat poin-poin penting. "Apakah harus ada alasan tertentu?"
"Iya, Bu. Dalam surat gugatan perlu dijelaskan alasan mengapa rumah tangga tidak dapat dipertahankan lagi. Nanti majelis hakim yang akan menilai berdasarkan fakta, bukti, dan keterangan para pihak."
Milka terdiam sejenak. "Kalau ... suami berselingkuh?" tanyanya pelan dan lirih.
Petugas mengangguk pelan. "Perselingkuhan dapat menjadi salah satu alasan yang diajukan dalam gugatan apabila memang ada fakta dan bukti yang mendukung. Namun, penilaiannya tetap menjadi kewenangan majelis hakim."
Milka menggigit bibir bawahnya. "Bukti seperti apa?"
"Macamnya bisa berbeda-beda, Bu. Misalnya dokumen, rekaman, percakapan, foto, atau saksi yang relevan. Hakim akan melihat keseluruhan bukti yang diajukan, bukan hanya satu jenis bukti saja."
Jantung Milka berdetak sedikit lebih cepat. Rekaman di kamar rumah mereka. Pakaian Vando yang masih terkemas dalam plastik segel. Pesan singkat mesra dari Irana.
Ia memiliki semua itu.
"Bagaimana kalau ... kami belum memiliki anak?" bisiknya pelan.
Petugas mengangguk memahami. "Kalau belum memiliki anak, berarti tidak ada perkara mengenai hak asuh anak yang perlu diputus. Persidangan akan lebih berfokus pada gugatan perceraiannya dan hal-hal lain yang memang dimohonkan dalam gugatan."
Milka kembali menulis beberapa catatan. Ia mengangkat wajah.
"Kalau kami belum pernah hidup sebagai suami istri sepenuhnya?" Dua jari kedua tangan Milka bergerak naik turun.
Petugas tampak paham tapi sedikit terdiam, lalu menjawab dengan hati-hati.
"Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga bisa disampaikan apabila memang dianggap relevan dengan alasan gugatan. Namun nanti tetap akan dinilai dalam proses persidangan."
Milka hanya mengangguk. Dadanya terasa sedikit lega. Selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang setia. Tak pernah meminta apa pun padanya. Tak pernah membandingkan status sosial mereka.
Namun ternyata, di saat ia sudah siap melebur menjadi istri seutuhnya, suaminya malah memberikan semua yang seharusnya menjadi hak istrinya kepada perempuan lain.
Petugas kemudian menyerahkan sebuah lembar informasi. "Ini panduan umum mengenai alur perkara perceraian di Pengadilan Agama, Bu."
Milka menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih."
"Sama-sama. Semoga apa pun keputusan Ibu nanti menjadi keputusan yang terbaik."
Milka tersenyum tipis. Ia pamit, lalu melangkah keluar dari ruang pelayanan. Lembar informasi itu masih berada di tangannya.
Sejak awal, pernikahan ini memang bukan lahir dari cinta. Ia menerimanya karena menghormati pilihan ayahnya. Dalam pikirannya saat itu, cinta bisa dipelajari, sementara kepercayaan dan komitmen adalah hal yang harus dijaga.
Karena itulah, sejak hari pertama menjadi seorang istri, ia selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka bisa menjalani semua meski tak harus diawali dengan cinta.
Namun kenyataannya, pekerjaannya sebagai penyidik terus menuntut waktunya. Kasus demi kasus datang silih berganti. Ia sering pulang larut malam, bahkan beberapa kali tidak pulang sama sekali.
Karena itu, ia jarang benar-benar memiliki waktu untuk mengenal suaminya sendiri.
Dan ketika akhirnya ia memutuskan mengambil cuti agar hubungan mereka bisa lebih dekat, Vando justru lebih dulu menghancurkan kepercayaan yang perlahan mulai ia biarkan tumbuh di dalam hati.
Milka mengembuskan napas panjang. "Mungkin..."
"Memang sejak awal kami tidak pernah ditakdirkan berjalan di jalan yang sama."
Setelah mendatangi tempat ini, langkahnya terasa begitu ringan. Bukan karena ia bahagia.
Melainkan karena akhirnya ia tahu, keputusan apa yang harus ia ambil.
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣