Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Tantangan Resmi
Hei San tiba di kediaman Klan Zhao dengan pergelangan tangan masih bengkak dan wajah pucat pasi, memaksa dirinya menghadap Zhao Feng meski setiap langkah terasa seperti menginjak bara.
"Bagaimana?" tanya Zhao Feng, menatap tajam.
"Dia... dia bukan orang biasa, Tuan Muda," Hei San berkata, suaranya gemetar. "Aku bahkan tidak sempat melihat gerakannya dengan jelas. Satu genggaman, dan tanganku terasa seperti diremukkan besi panas. Dia menyuruhku pulang membawa pesan—Lin Mu yang lama sudah mati."
Zhao Feng terdiam lama, jarinya mengetuk meja dengan ritme yang semakin cepat, tanda kegelisahan yang jarang ia tunjukkan. Ia tidak bisa melaporkan kegagalan ini secara terbuka—percobaan pembunuhan diam-diam adalah aib yang bisa menghancurkan reputasi Klan Zhao jika sampai terdengar klan-klan besar lainnya. Tapi membiarkan ancaman ini tumbuh tanpa tindakan sama saja bunuh diri perlahan.
Ia memutuskan untuk pergi menemui ayahnya sendiri.
Zhao Kang, Kepala Klan Zhao, mendengarkan laporan putranya dengan wajah tanpa ekspresi, meski di balik matanya yang tua tersembunyi kewaspadaan yang tajam.
"Kau bodoh," katanya akhirnya, dingin. "Mengirim pembunuh bayaran murahan untuk menguji seseorang yang bahkan tetua klan lain sendiri mulai berikan perhatian khusus? Kalau sampai ketahuan, kita bisa diseret ke hadapan Aliansi Kota karena melanggar perjanjian damai antar klan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ayah? Membiarkan sampah itu tumbuh sampai benar-benar menjadi ancaman?"
Zhao Kang berpikir lama, jarinya mengelus janggutnya yang mulai memutih. Sebagai kepala klan yang telah bertahan dalam politik antar keluarga besar selama puluhan tahun, ia tahu betul: kekerasan diam-diam adalah senjata orang bodoh yang terburu-buru. Cara yang lebih elegan—dan jauh lebih sulit dibantah secara hukum—selalu ada.
"Ada satu cara," katanya akhirnya, seringai tipis muncul di wajahnya. "Sebentar lagi Turnamen Generasi Muda diadakan, seperti setiap tiga tahun sekali, dihadiri seluruh klan di wilayah Perbatasan Utara. Kita ajukan tantangan resmi—duel satu lawan satu antara perwakilan generasi muda Klan Zhao dan Klan Lin, dengan taruhan Ladang Obat Utara sebagai hadiahnya."
Zhao Feng mengerutkan kening. "Ladang Obat Utara adalah sumber penghasilan utama Klan Lin, Ayah. Mereka tidak akan pernah menerima taruhan sebesar itu."
"Justru itu intinya," Zhao Kang tersenyum dingin. "Kita umumkan di depan seluruh klan yang hadir bahwa jika Klan Lin menolak, itu tandanya mereka pengecut yang takut membela kehormatan mereka sendiri setelah insiden memalukan kemarin di alun-alun. Tekanan sosial akan memaksa Lin Hao menerimanya, dan ia pasti akan mengirim putra sulungnya, Lin Kai, sebagai perwakilan terbaik klan mereka—bukan sampah bernama Lin Mu itu. Jika Lin Kai kalah, mereka kehilangan ladang mereka. Dan jika seseorang senekat Lin Mu justru memaksa maju sebagai wakil klan menggantikan kakaknya... maka duel resmi di depan seluruh saksi klan adalah cara paling sah untuk 'menyingkirkan' seorang sampah, tanpa ada yang bisa menyalahkan kita."
Zhao Feng akhirnya tersenyum, mengerti sepenuhnya rencana ayahnya. "Licik sekali, Ayah."
"Bukan licik," Zhao Kang menjawab tenang, "ini yang disebut politik."
Tiga hari kemudian, utusan resmi Klan Zhao tiba di Aula Leluhur Klan Lin, membawa gulungan tantangan yang disegel dengan lambang Klan Zhao. Seluruh anggota klan berkumpul menyaksikan Lin Hao membuka gulungan itu di depan umum, wajahnya berubah pucat begitu membaca isinya.
"Mereka menantang kita untuk Turnamen Generasi Muda," gumamnya, "dengan taruhan Ladang Obat Utara."
Bisik-bisik cemas menyebar di antara para tetua. Ladang Obat Utara adalah jantung ekonomi Klan Lin—kehilangan itu sama saja dengan kehancuran perlahan bagi seluruh klan.
"Kita harus menerimanya," kata salah seorang tetua senior. "Menolak berarti seluruh Aliansi Kota akan menganggap kita pengecut. Reputasi klan bisa hancur lebih parah dari kehilangan ladang itu sendiri."
Lin Hao mengangguk berat. "Aku akan mengirim Lin Kai sebagai perwakilan kita. Ia telah mencapai puncak Pengumpulan Qi lapis ketujuh, jauh di atas rata-rata pemuda seusianya."
Di sudut ruangan, Lin Mu—yang sejak diusir ke Halaman Belakang jarang diundang ke pertemuan klan seperti ini, namun kali ini sengaja hadir setelah mendengar kabar dari Lin Wan—melangkah maju sebelum keputusan itu benar-benar ditetapkan.
"Aku akan maju menggantikan Kakak Lin Kai," katanya tegas, suaranya menggema di ruangan yang mendadak hening.
Semua mata beralih padanya, campuran antara terkejut dan mengejek.
"Kau?" Lin Hao menatapnya seperti melihat lelucon terburuk yang pernah ia dengar. "Kau bahkan baru membuka sebagian kecil meridianmu minggu lalu. Kau ingin mempermalukan klan ini lebih jauh di depan seluruh Aliansi Kota?"
"Aku justru ingin membuktikan sesuatu di depan mereka," Lin Mu menjawab tenang, matanya bertemu pandang dengan Tetua Qing yang duduk diam di sudut ruangan, memberikan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat—tanda dukungan diam-diam.
Lin Kai, kakak sulungnya yang selama ini memandangnya dengan campuran kasihan dan malu, akhirnya angkat bicara. "Biarkan dia mencoba, Ayah. Turnamen ini masih dua bulan lagi. Jika dalam dua bulan ia benar-benar tidak menunjukkan kemajuan berarti, aku akan tetap maju menggantikannya di hari-H."
Setelah perdebatan panjang, Lin Hao akhirnya menyerah, lebih karena lelah daripada setuju sepenuhnya. "Baik. Dua bulan, Lin Mu. Buktikan kata-katamu, atau jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapan klan ini."
Lin Mu membungkuk hormat, lalu berbalik meninggalkan Aula Leluhur tanpa berkata apa-apa lagi.
Di luar, Tetua Qing sudah menunggunya, wajahnya serius. "Dua bulan bukan waktu yang panjang, bahkan untuk seorang legenda yang harus memulai dari nol."
"Cukup," Lin Mu menjawab, senyum tipis mengembang di wajahnya untuk pertama kalinya sejak ia bangkit kembali. "Aku pernah menaklukkan Sembilan Langit dalam tiga abad. Dua bulan untuk membungkam seorang Lin Kai dan seluruh Klan Zhao yang meremehkanku? Itu bahkan tidak butuh sepersepuluh dari kesabaran yang dulu pernah kumiliki."
semngat thor/Determined/