Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 8
Suara derap langkah empat ekor kuda berbulu hitam menggetarkan tanah kuning Desa Ping-an tepat saat fajar menyembul di balik bukit. Kereta kayu jati berukir awan dengan bendera biru berkibar kencang membelah kabut pagi, berhenti anggun di depan balai desa. Lambang gelombang laut keemasan yang terukir di kain bendera itu langsung memicu gelombang histeria di seluruh penjuru desa: utusan Akademi Canglan telah tiba.
Hanya dalam hitungan menit, alun-alun desa yang biasanya sepi kembali dipenuhi warga. Berbeda dengan suasana pasrah saat Ritual Panggilan Jiwa tiga hari lalu, hari ini udara dipenuhi oleh rasa tegang yang pekat. Seleksi akademi adalah jembatan nyata bagi anak-anak desa untuk keluar dari kasta bawah dan menjadi petarung resmi kekaisaran.
Di tepi jalan setapak yang menuju alun-alun, Shen Jue berjalan santai dengan kedua tangan terselip ringkas di saku celananya. Baju linen abu-abunya bersih, dan ikatan kain hitam di rambutnya tertata rapi. Tubuhnya terasa jauh lebih bertenaga setelah dua hari berturut-turut mengonsumsi daging babi asap dan sup akar ramuan penyeimbang meridian.
"Shen Jue! Tunggu aku!" seru sebuah suara nyaring dari arah belakang.
Shen Jue menghentikan langkahnya, menoleh pelan. Ruan Xi'er berlari kecil menghampirinya. Gadis itu mengenakan pakaian berburu berwarna hijau zamrud yang rapi, dengan dua kuncir rambutnya yang bergoyang lincah di udara. Seulas senyum berseri hiasi wajah cantiknya yang diterpa sinar fajar.
"Pagi sekali kamu jalan," puji Xi'er sambil menyejajarkan langkah di samping Shen Jue, napasnya sedikit terengah. "Aku takut kamu terlambat gara-gara ketiduran!"
"Seleksi baru dimulai jam delapan," jawab Shen Jue tenang sambil melirik ke arah matahari yang masih rendah. "Lagipula, untuk apa terburu-buru?"
Xi'er tertawa renyah, menepuk pelan bahu Shen Jue. "Gaya bicaramu itu selalu santai banget, ya! Padahal anak-anak lain di alun-alun dari tadi malam sudah tidak bisa tidur nyenyak."
"Ketegangan cuma membuang-buang energi yang tidak perlu," sahut Shen Jue datar. "Bagaimana kakimu? Masih terasa pegal?"
Xi'er menghentakkan kaki kanannya ke tanah beberapa kali sambil tersenyum lebar. "Sama sekali tidak! Resep kompres daun salam liar yang kamu suruh kemarin manjur banget. Sekarang kakiku terasa ringan sekali!"
"Bagus," pungkasi Shen Jue singkat. "Hari ini penguji pasti akan menguji daya tahan fisik dan kelincahan refleks. Pastikan kakimu tidak goyah."
Kedua anak itu melangkah berdampingan memasuki area alun-alun. Kehadiran mereka langsung menarik perhatian beberapa pasang mata warga yang menepi di pinggir panggung kayu.
Di tengah lapangan, sebuah tenda megah berwarna biru tua telah didirikan. Di bawah naungan tenda tersebut, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah biru tua khas instruktur Akademi Canglan. Di dada kirinya tersemat lencana perak berbentuk dua pedang bersilang. Tatapan matanya yang tajam bagai elang menyapu puluhan anak desa yang berbaris di depan panggung.
Di barisan paling depan, Gao Han berdiri tegak dengan dada terangkat busung. Pedang perunggu di pinggangnya mengilap bersih, dipamerkan dengan bangga di depan teman-teman sebayanya. Ayahnya, sang tuan tanah desa, berdiri di dekat panggung sambil tersenyum lebar kepada setiap warga yang lewat.
Saat pandangan Gao Han tak sengaja menangkap sosok Shen Jue dan Xi'er yang berjalan masuk, wajah anak tuan tanah itu seketika bertekuk sinis.
"Lihat siapa yang datang," cemooh Gao Han cukup keras, memicu kekehan dari dua pengikut di belakangnya. "Si belati rongsok dan si gadis musang. Untuk apa kalian datang ke sini? Akademi Canglan tidak menerima tukang rosok atau pemburu kelinci liar!"
Xi meletakkan kedua tangannya di pinggang, matanya berkilat marah. "Mulutmu itu perlu disumbal pakai akar pohon ya, Gao Han? Jangan sombong dulu sebelum tes dimulai!"
"Hmph, aku cuma bicara kenyataan!" balas Gao Han angkuh sambil menepuk gagang pedangnya. "Instrutur dari kota hanya mencari pengguna Roh Senjata tajam dan Roh Binatang penyerang. Belati tumpul milik Shen Jue itu bahkan tidak layak sebut!"
Xi'er hendak maju dan membalas lagi, tetapi tangan kanan Shen Jue terangkat pelan, menahan lengan baju gadis itu.
"Tidak usah dilayani," bisik Shen Jue sangat pelan, suaranya mengalir tenang bagai air telaga. "Anjing yang paling bising biasanya anjing yang paling takut menggigit."
Gao Han yang mendengar bisikan itu langsung memerah padam wajahnya. "Apa kamu bilang, bocah sialan?!"
Sebelum keributan pecah lebih jauh, sebuah deheman berat bergaung dari bawah tenda biru.
Ehem!
Suara sederhana itu mengandung sedikit dorongan energi spiritual yang membuat gendang telinga semua orang di alun-alun bergetar pelan. Gao Han seketika bungkam, menelan kembali makiannya sambil menunduk takut.
Pria bertubuh tegap dengan jubah instruktur itu berdiri dari kursinya. Ia melangkah maju ke tepi panggung, memandang dingin ke arah puluhan anak usia sepuluh tahun yang berkumpul di bawah.
"Nama saya Lin Dong, Instruktur Tingkat Tiga dari Akademi Canglan," ucap pria itu dengan suara dalam dan berwibawa yang bergema bersih di seluruh lapangan.
Seluruh warga desa menahan napas, menyimak setiap patah kata dari sang utusan kota.
"Akademi Canglan dibangun bukan untuk menampung pemanja yang hanya mengandalkan nama besar keluarga atau tampilan luar roh yang indah," lanjut Instruktur Lin Dong, matanya sengaja menyapu Gao Han dan beberapa anak kaya lainnya yang langsung salah tingkah. "Dunia di luar sana sangat kejam. Binatang roh dan musuh tidak akan peduli seberapa mahal pedang yang kalian gantung di pinggang jika tubuh kalian lemah dan otak kalian tumpul."
Xi'er menyikut lengan Shen Jue pelan sambil berbisik gembira, `"Dengar itu? Instrukturnya mantap banget bicara begitu!"`
Shen Jue hanya tersenyum tipis tanpa bersuara, matanya mengamati postur dan teknik bernapas Instruktur Lin Dong. Dari cara berdiri dan kerapatan aura di sekeliling jubahnya, Shen Jue tahu pria ini adalah seorang petarung yang sudah kenyang makan garam di medan perang nyata.
"Hari ini, seleksi akan dibagi menjadi dua tahap," sambung Instruktur Lin Dong sambil menunjuk ke arah lintasan tiang-tiang kayu yang telah ditancapkan para pengawal di pinggir lapangan. "Tahap pertama adalah Tes Kelincahan dan Refleks Fisik. Kalian harus melewati jalur rintangan tiang berputar ini dalam waktu kurang dari dua menit tanpa jatuh."
Instruktur Lin Dong memajukan badannya sedikit, menatap tajam ke seluruh barisan anak-anak. "Hanya mereka yang lolos tes fisik yang berhak menunjukkan Roh Manifestasi mereka di tahap kedua. Yang tidak memenuhi syarat, langsung gugur!"
Kasak-kusuk ketakutan langsung mendengung di antara barisan anak-anak desa. Jalur rintangan tiang berputar itu terlihat sangat tinggi dan licin, ditambah dengan balok-balok kayu tebal yang berayun acak di antaranya.
"Gila... rintangannya tinggi sekali," gumam Xi'er pelan, raut wajahnya agak cemas saat menatap balok berayun tersebut.
Shen Jue menepuk pundak Xi'er pelan dengan telapak tangannya. `"Fokus pada ritme ayunannya, bukan pada tingginya tiang. Kaki kananmu sudah sembuh total, pergerakan musangmu pasti bisa melewatinya dengan mudah."`
Xi'er menoleh menatap mata gelap Shen Jue yang penuh ketenangan absolut. Rasa cemas di dadanya perlahan menyusut, digantikan oleh rasa percaya diri yang hangat. `"Iya! Aku pasti bisa!"`
"Pendaftaran ditutup!" seru asisten penguji dari samping meja kayu. "Anak pertama yang dipanggil, segera maju ke garis start!"
Shen Jue melangkah mundur satu tindakan bersama Xi'er, bersiap menunggu giliran mereka dipanggil. Di barisan depan, Gao Han melangkah percaya diri menuju garis start sambil melirik sinis ke arah Shen Jue, yakin betul dirinya akan menjadi bintang utama dalam tes hari ini.
Shen Jue menyilangkan tangan di dada, menatap lintasan rintangan itu dengan binar mata yang santai. Baginya yang pernah melewati berbagai ujian hidup dan mati di kehidupan masa lalu, rintangan kayu ini tidak lebih dari sekadar permainan anak-anak yang sangat mudah diprediksi.