NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Nadira terbangun bahkan sebelum matahari terbit. Malam itu panjang, dan ia hanya tidur sebentar.

Setiap kali memejamkan mata, ia teringat pernikahan, pelukan Drilon, belaian lembutnya, dan terutama saat pria itu cuma mengucapkan selamat malam lalu keluar dari kamar.

Tak pernah ia bayangkan akan kesal justru karena suaminya menghormati batas-batasnya. Ia membuka mata dan menghela napas.

"Dasar mafioso itu..."

Ia menggeleng, nyaris menertawakan dirinya sendiri, lalu bangun dengan tekad. Ia mandi lama, mengenakan gaun ringan, dan menyisir rambut dengan rapi.

Menatap cermin, ia tersenyum tipis.

"Hari ini kamu tidak lolos."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Albania, dialah yang mencari Drilon. Ia keluar kamar. Koridor sunyi. Ia melewati ruang kerja, kosong.

Ia menengok perpustakaan, tak ada. Lanjut ke beranda, juga tak ada. Ia menuruni tangga.

Hanya beberapa pegawai yang sedang merapikan rumah.

"Ada yang lihat Drilon?"

"Tidak, Bu."

Ia berterima kasih dengan senyum dan terus berjalan. Ia melewati taman, sampai ke kandang kuda, tak ada.

Keningnya berkerut.

"Aneh..."

Ia kembali ke dalam rumah. Mendekati ruang makan, ia mendengar banyak suara dan tawa. Ia masuk, dan seluruh keluarga sudah sarapan.

Bintang duduk di kursi makan bayi, bermain dengan sendok. Begitu melihat ibunya, ia tersenyum lebar.

"Ma-ma..."

Nadira langsung menghampiri dan mengecup lama dahi putrinya.

"Selamat pagi, Sayang."

Gadis kecil itu bertepuk tangan. Ratna tersenyum melihatnya.

"Dia mencarimu tadi."

"Aku juga sedang mencari seseorang."

Ia melirik sekeliling meja. Tak ada satu pun dari para saudara, bahkan Agim pun tidak. Nadira duduk pelan-pelan. Hana yang menyadari ekspresinya.

"Mencari anak-anak laki-lakiku?"

Nadira mengangguk.

"Ya."

Hana menghela napas.

"Mereka harus berangkat dini hari tadi."

Nadira langsung mengangkat pandangan.

"Berangkat?"

"Ada masalah organisasi."

"Mereka semua?"

"Agim, Drilon, Altin, dan Besnik." Nadira terdiam. "Perjalanannya diputuskan mendadak."

"Mereka bahkan tak sempat memberi kabar?" tanya Ratna.

Hana menggeleng.

"Tak sempat." Ia memandang menantunya dengan sayang. "Drilon ingin bicara denganmu sebelum pergi."

"Ingin?"

"Iya, tapi mereka menerima telepon masih dini hari dan harus segera berangkat." Nadira menunduk. "Dia minta Ibu menjelaskan semuanya begitu kamu bangun."

"Aku mengerti."

Hana tersenyum menenangkan.

"Jangan khawatir, mereka akan segera kembali."

"Semoga."

Haryo melihat putrinya jadi lebih pendiam.

"Itu bagian dari hidup mereka."

"Aku tahu."

Ia memang tahu, tapi tetap tak bisa menyembunyikan kecewanya. Setelah malam sebelumnya, ia bangun dengan tekad mengajak suaminya bicara, tapi sekarang harus menunggu. Erlangga mencoba mencairkan suasana.

"Setidaknya kita punya beberapa hari lagi bersama."

Nadira tersenyum.

"Benar juga."

"Kami akan tinggal sedikit lebih lama," kata Sinta sambil mengelus perut. "Alya masih kuat untuk perjalanan pulang."

Semua tertawa.

"Mama juga ingin menikmati putri dan cucu Mama beberapa hari lagi," kata Ratna.

"Papa juga," kata Haryo.

Nadira tersenyum pada orang tuanya.

"Syukurlah."

Dimas menyesap kopi sebelum bicara.

"Sayangnya aku harus pulang hari ini."

"Sudah?"

Dimas mengangguk.

"Ibu anak-anak sudah menunggu."

Vania memonyongkan bibir.

"Aku mau di sini."

"Aku juga," kata Ayu.

"Aku juga ingin mereka tinggal," kata Bimo.

Semua tertawa.

"Kalian sudah puas bermain banyak," kata Dimas.

"Tapi aku suka di sini," kata Vania.

"Aku juga," kata Ayu.

"Nanti kita kembali."

Bagas tetap tenang di kursi bayi portabel, mengamati semua kehebohan itu.

"Rumah ini akan lebih sepi tanpa kalian," kata Ratna.

"Nggak juga." Vania tersenyum. "Bintang bikin berisik."

Bintang menjawab dengan celoteh keras, memancing tawa semua orang.

"Itu benar," kata Hana.

Nadira mengambil sepotong buah untuk putrinya. Sambil menyuapi Bintang, pikirannya terus kembali pada Drilon.

Apakah dia berangkat dengan selamat? Apakah dia aman? Apakah dia akan cepat pulang?

Ia sadar, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang dirindukannya sedemikian rupa. Hana memperhatikan menantunya diam-diam.

"Jangan cemas."

Nadira mengangkat mata.

"Anakku pandai menjaga diri."

"Aku tahu."

"Dan dia selalu pulang."

Nadira tersenyum tipis.

"Aku akan memercayainya."

Hana menggenggam tangannya dengan lembut.

"Lakukan itu."

Obrolan di meja berlanjut dengan tawa anak-anak, cerita perjalanan, dan rencana hari-hari mendatang.

Meski ikut bicara, sesekali Nadira melirik ke jendela, seolah berharap melihat mobil-mobil memasuki gerbang properti.

Mereka baru berangkat beberapa jam, tapi rumah terasa aneh dan kosong tanpa Drilon, Altin, Besnik, dan Agim.

Ia menarik napas dalam dan kembali memperhatikan Bintang, yang tersenyum sambil menggenggam jarinya dengan tangan mungil.

"Kayaknya hari ini cuma kita berdua, ya?"

Bintang membalas dengan senyum lebar, memancing senyum lain dari ibunya.

Dalam hati, Nadira yakin Drilon akan menepati janji dan pulang. Ia hanya tak menyangka akan sebegitu merindukannya di pagi pertama sebagai istrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!