NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sring!

Sebuah gelombang energi tak kasat mata memancar dari tubuh Husen dan menembus kaca jendela kelas secara perlahan.

Gelombang hangat itu mengalir masuk ke dalam kepala setiap murid kelas XI-7 yang sedang dilanda keputusasaan mendalam.

Tiba-tiba, suara Husen menggema di dalam benak mereka masing-masing dengan intonasi yang sangat jelas.

"Jangan pernah meletakkan pulpen kalian di atas meja, anak-anak."

Rico, Bara, dan semua murid lainnya langsung tersentak kaget mendadak menengok ke arah jendela luar.

Mereka melihat Husen masih berdiri tegak di sana dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengunci pandangan mereka.

"Itu beneran suara Pak Husen kan barusan di kuping gue?"

Rico berbisik pelan pada dirinya sendiri sambil mengucek kedua telinganya karena merasa tidak percaya.

"Dengar suara saya baik-baik di dalam kepala kalian dan jangan hiraukan dua guru picik di depan itu."

Suara Husen kembali terdengar bergema, kali ini jauh lebih tenang dan membawa rasa aman yang tidak masuk akal.

"Soal itu memang sulit dan sengaja mereka tukar dengan curang, tapi bukan berarti itu mustahil untuk dipecahkan."

"Nisa, kamu tahu persis rumus dasar menyebalkan yang membentuk soal jebakan itu, kan?"

Nisa yang tadinya merasa buntu dan ingin menangis kini mulai bisa mengatur napasnya dan berpikir dengan sangat jernih.

"Ya, rumus jebakan sialan ini hanya modifikasi berlapis dari persamaan linear dua variabel yang kita pelajari hari Rabu lalu."

Nisa membatin dengan sangat kuat seolah dia sedang menjawab pertanyaan lisan Husen secara langsung.

"Bagus sekali analisamu Nisa, sekarang ketuk penamu di meja untuk memberikan ritme semangat pada teman-teman sekelasmu."

Tuk tuk tuk.

Nisa mulai mengetukkan ujung pulpennya ke atas meja kayu secara konstan dan berirama menyebarkan suara berisik.

"Rico, Bara, kalian ingat apa yang Nisa teriakkan saat kalian salah mengerjakan soal di papan tulis hari Kamis kemarin?"

Suara Husen kembali membimbing mereka menggali memori perjuangan berdarah-darah saat belajar tambahan selama seminggu terakhir ini.

Bara memejamkan matanya rapat-rapat dan bayangan Nisa yang sedang marah-marah sambil membawa penggaris langsung muncul di kepalanya.

"Jangan lihat variabel angkanya yang ribet, buang angka tipuannya dan fokus sama angka utama di depannya saja, dasar bodoh!"

Bara mendadak mengingat perkataan kasar Nisa itu dan langsung menatap soal rumit di depannya dengan sudut pandang baru.

"Bener kata si kacamata galak itu, angka di belakang X ini cuma tipuan murahan buat bikin mata pusing."

Bara mengambil kembali pulpennya dengan mantap dan mulai mencoret-coret kertas buram dengan semangat yang kembali menyala.

Srek srek srek.

Rico yang melihat bos preman kelasnya mulai menulis akhirnya ikut memaksakan otaknya mengingat omelan pedas Nisa.

"Gue nggak boleh gagal sekarang, kaki gue bisa beneran dipatahkan sama si Bos kalau gue nyerah di jam pertama ini."

Satu per satu, murid-murid di kelas buangan itu mulai menegakkan punggung mereka kembali dari keterpurukan.

Suara gesekan pulpen dengan kertas terdengar semakin riuh dan kasar memenuhi ruangan yang tadinya sesunyi kuburan itu.

Pak Anton dan Bu Ratna saling pandang dengan ekspresi kebingungan yang sangat kentara di wajah mereka berdua.

"Kenapa anak-anak bodoh ini tiba-tiba menjadi sangat rajin menulis rumus?"

"Padahal sepuluh menit yang lalu wajah mereka sudah pucat pasi seperti orang mau menangis putus asa."

Pak Anton membatin curiga sambil perlahan berdiri dan mulai berkeliling ke meja-meja murid untuk memastikan mereka tidak menyontek dari HP.

Dia melangkah tanpa suara dan berdiri tepat di belakang punggung Rico untuk melihat kertas buram siswa berambut merah itu.

Mata Pak Anton membelalak lebar melihat coretan rumus yang meskipun terlihat acak-acakan, tapi arah penyelesaian logikanya sangat benar.

"Ini sama sekali tidak mungkin terjadi, anak idiot ini tidak mungkin tahu cara memecahkan soal analisis level ini."

Pak Anton bergumam dalam hati sambil menahan rasa kagetnya setengah mati melihat pemandangan mustahil itu.

Dia berpindah cepat ke meja Bara, dan melihat ketua geng itu sedang fokus menghitung angka tanpa memedulikan sekelilingnya.

"Minggir, Pak, badan Bapak yang besar itu menghalangi cahaya lampu dari jendela."

Bara berkata dengan nada sangat ketus tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari lembar jawaban di atas meja.

Wajah Pak Anton langsung memerah padam menahan rasa marah sekaligus rasa malu karena diusir mentah-mentah oleh murid buangan itu.

Di luar jendela, Husen tersenyum bangga dan terus menyalurkan energi mental untuk menjaga fokus mereka tetap setajam pedang.

"Teruslah berjuang mengalahkan kertas itu, buktikan bahwa keringat lelah kalian seminggu ini tidak akan bisa dikalahkan oleh kecurangan murahan ini."

Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tegang bagi semua pihak yang berada di dalam ruangan kelas tersebut.

Kring kring kring!

Bel panjang tanda berakhirnya jam ujian pertama berbunyi sangat nyaring menggema di seluruh penjuru gedung sekolah.

"Waktu sudah habis, letakkan pulpen kalian sekarang juga atau jawaban kalian tidak akan saya terima dan dianggap hangus!"

Bu Ratna berteriak galak sambil berkeliling merampas paksa lembar jawaban dari atas meja murid satu per satu.

Banyak murid yang menghela napas panjang dan menyenderkan punggung mereka ke kursi kayu dengan tubuh lemas.

Rico menyeka keringat sebesar biji jagung di dahinya sambil tertawa pelan saking leganya.

"Gila bener, otak gue rasanya mau meledak ngerjain soal jebakan Batman kayak gitu terus-terusan selama sejam lebih."

Bara tersenyum miring dan melempar pulpennya ke atas meja dengan perasaan lega yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Seenggaknya kita nggak nyerah gitu aja kayak pecundang jalanan yang putus asa, Rico."

Nisa meregangkan kedua lengannya yang terasa kaku dan menatap Pak Anton dengan pandangan yang sangat merendahkan.

"Bapak seharusnya mencari soal yang jauh lebih rumit lagi kalau niatnya memang mau menyabotase kelasku."

"Soal rendahan seperti tadi sama sekali tidak cukup untuk menghancurkan hasil usahaku mengajari mereka seminggu ini."

Wajah Pak Anton langsung berubah pucat pasi bercampur ungu mendengar sindiran telak dari siswi berkacamata itu di depan kelas.

Dia segera membereskan kertas ujian yang terkumpul itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar menahan amarah.

"Kalian jangan terlalu sombong dulu, menulis panjang lebar belum tentu jawaban kalian itu masuk akal dan benar semua."

"Saya sangat yakin nilai kalian akan tetap berada jauh di bawah standar kelulusan ujian kali ini."

Pak Anton mendengus kasar membuang muka dan melangkah keluar kelas dengan cepat diikuti oleh Bu Ratna yang ikut kebingungan.

Begitu dua guru licik itu keluar, Husen masuk perlahan ke dalam kelas dengan tepuk tangan yang pelan namun penuh dengan rasa kebanggaan.

Plok plok plok.

"Kalian melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa hebat hari ini, anak-anak."

"Saya sangat bangga pada kalian semua karena menolak untuk menyerah pada kelicikan mereka tadi."

Seluruh murid kelas XI-7 tersenyum lelah membalas pujian Husen, sebuah senyum ketulusan yang belum pernah ada di kelas itu sebelumnya.

Mereka telah berhasil melewati badai ujian tersulit pertama mereka, dan kini mereka hanya tinggal menunggu waktu pengumuman hasil tersebut.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!