Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Langkah yang Kembali Pulang
Waktu terus berjalan dengan tenang. Bunga di bukit itu makin lama makin rimbun dan mekar dengan indahnya. Kadang aku lupa betapa cepatnya hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Tapi setiap kali aku melihat ke luar jendela saat pagi hari aku sadar satu hal. Hidup itu terus berjalan. Bukan berarti luka sudah hilang sepenuhnya. Cuma luka itu sudah tidak lagi mengatur ke mana aku harus melangkah. Aku yang menentukan arah kakiku sekarang, dengan semua pelajaran dan kebaikan yang pernah kuterima.
Suatu sore aku dapat telepon dari ibunya Bima. Suaranya terdengar hangat dan ada sedikit kegembiraan di sana. Dia bilang ada sesuatu yang sudah lama ingin dia berikan kepadaku dan dia merasa sekarang adalah waktu yang tepat. Aku berangkat ke rumahnya keesokan harinya dengan perasaan penasaran tapi juga tenang. Saat sampai di sana dia sudah menungguku di teras dengan senyum yang tulus. Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil yang warnanya sudah mulai memudar karena usia. Dia menyerahkannya kepadaku dan bilang ini milikmu sekarang. Bima selalu bilang kalau dia pergi lebih dulu, kotak ini harus sampai ke tanganmu.
Aku duduk di sebelahnya dan membuka kotak itu pelan-pelan. Di dalamnya ada sebuah dompet tua, beberapa foto lama, dan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya terbuat dari kain kasar. Itu bukan buku sketsa yang sudah aku miliki. Ini buku catatan harian yang berbeda. Halaman-halamannya sudah agak menguning dan baunya persis seperti bau yang selalu menempel pada pakaian Bima saat dia masih ada. Aku membuka halaman pertamanya dengan hati yang berdebar. Tulisan tangannya rapi dan jelas. Tanggal pertama di sana ternyata bertahun-tahun sebelum kita benar-benar berbicara untuk pertama kalinya di taman itu.
Aku mulai membacanya pelan. Dia menulis tentang harapannya menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara tanpa banyak kata. Tentang ketakutannya bahwa dia mungkin tidak punya banyak waktu. Tentang bagaimana dia sering duduk sendirian di taman itu dan berharap ada seorang gadis yang akan duduk di bangku yang sama dan membiarkannya bercerita tanpa terburu-buru. Semua itu dia tulis jauh sebelum kita bertemu. Rasanya seperti menemukan bagian lain dari dirinya yang dulu dia sembunyikan supaya aku tidak khawatir. Ada satu halaman yang membuat air mataku jatuh tanpa suara. Dia menulis bahwa jika suatu hari dia tidak bisa lagi berjalan bersama orang itu, dia berharap orang itu tahu bahwa dia adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Dia berharap orang itu akan terus berjalan dan tidak berhenti di tempat perpisahan mereka.
Ibunya meletakkan tangan di punggungku pelan. Dia bilang Bima selalu tahu dia tidak akan hidup selamanya. Itulah sebabnya dia selalu berjalan seakan setiap langkah adalah langkah terakhirnya. Itulah sebabnya dia begitu tulus pada siapa pun yang dia temui. Dia tidak menunggu hari esok untuk menjadi baik. Dia melakukannya hari itu juga. Mendengar itu aku mengerti segalanya sekarang. Semua yang dulu terasa membingungkan dari kepergiannya perlahan menjadi terang. Dia tidak pergi untuk meninggalkan aku. Dia pergi karena dia sudah selesai melakukan apa yang harus dia lakukan di sini. Dia sudah menyebarkan kebaikannya. Dia sudah mengajarkan aku apa itu cinta yang tulus. Dan sekarang tugasku adalah meneruskannya.
Aku pulang dengan membawa kotak itu di pangkuanku. Rasanya berat sekaligus ringan. Berat karena aku memegang bagian paling pribadi dari seseorang yang sangat aku cintai. Ringan karena akhirnya aku merasa dia sudah mempercayakan rahasia terbesarnya kepadaku. Aku bukan sekadar orang yang ditinggalkan. Aku adalah orang yang dipercaya untuk menjaga kebaikannya tetap hidup di dunia ini. Itu tanggung jawab yang besar tapi sekaligus kehormatan terbesar yang pernah aku terima.
Malam itu aku membaca setiap halaman buku itu dari awal sampai akhir. Di halaman paling belakang ada satu kalimat yang tertulis dengan tinta yang sedikit pudar tapi masih terbaca jelas. "Cinta yang sejati tidak pernah membuatmu terjebak di satu tempat. Cinta yang sejati memberimu keberanian untuk terbang lebih tinggi dari yang pernah aku bisa capai sendiri." Kalimat itu seakan ditujukan langsung kepadaku seolah dia sedang berdiri di depan mataku dan mengatakannya sendiri dengan suaranya yang tenang.
Keesokan harinya aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Bukan sedih dan bukan juga pura pura bahagia. Aku cuma merasa utuh. Aku menyadari bahwa cerita kita sebenarnya sudah selesai dengan indahnya. Tidak ada yang kurang dan tidak ada yang berlebihan. Semua berjalan sesuai waktunya. Dan sekarang giliranku menulis ceritaku sendiri dengan semua yang diajarkannya kepadaku. Aku tidak lagi hidup di bawah bayang bayang masa lalu. Aku hidup membawa masa lalu itu bersamaku sebagai kekuatan yang mendorongku maju.
Beberapa hari kemudian aku mengajak Dimas berjalan ke taman tempat pertama kali kita bertemu. Bangku kayu itu masih ada di sana, sama seperti dulu. Pohon besar di tengahnya masih meneduhkan siapa pun yang duduk di bawahnya. Aku duduk di bangku itu dan menceritakan semua isi buku catatan Bima kepada Dimas. Dia mendengarkan dengan saksama tanpa memotong cerita. Saat aku selesai bercerita dia menggenggam tanganku pelan dan bilang Bima pasti bangga melihat kamu hari ini. Kamu tidak menyia nyiakan semua yang dia berikan kepadamu.
Aku menatap ke arah jalan masuk taman itu seakan aku bisa melihat siluet Bima yang berjalan mendekat sambil tersenyum seperti dulu. Terima kasih Bima. Terima kasih sudah berjalan 38.000 langkah hanya untuk menemukan aku. Terima kasih sudah mengajarkan aku bahwa mencintai seseorang bukan berarti memilikinya selamanya. Mencintai seseorang berarti tumbuh bersama meski akhirnya kalian harus berjalan ke arah yang berbeda. Terima kasih karena kamu pernah ada di hidupku dan mengubahnya menjadi jauh lebih indah dari yang pernah aku bayangkan. Selamat jalan. Sampai kita bertemu lagi di tempat yang tidak ada perpisahannya. Dan sampai saat itu tiba, aku berjanji akan hidup dengan sebaik baiknya. Itulah cara terbaikku mencintaimu selamanya.
Matahari mulai terbenam perlahan dan menyebarkan cahayanya yang keemasan ke seluruh permukaan tanah. Angin sore berhembus lembut menyapu dedaunan di sekitar kita. Aku berdiri dan berjalan meninggalkan taman itu beriringan dengan Dimas. Langkah kakiku terasa mantap dan hatiku terasa penuh. Aku tidak tahu ke mana jalan ini akan membawaku nanti. Tapi aku tidak takut lagi. Karena aku tahu aku tidak pernah berjalan sendirian. Di belakangku ada kenangan yang menuntunku. Di sampingku ada kehadiran yang menemani. Dan di depanku ada hari esok yang menunggu untuk aku tulis ceritanya dengan tulus.
Langkah demi langkah. Satu per satu. Dengan hati yang terbuka dan tangan yang siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Itulah warisan terindah yang kuterima. Dan itulah yang akan kuberikan kepada dunia selama aku masih bisa melangkah.