yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENCI JADI CINTA (bab 2)
Pagi pertama di rumah itu terasa sunyi sekali. Cahaya matahari menembus tirai jendela, tapi tidak ada kehangatan yang ikut masuk. Aku bangun lebih awal, merapikan diri dengan sederhana . pakaian yang sopan, rambut terikat rapi, tidak berlebihan. Aku tidak ingin memberi alasan apa pun baginya untuk marah.
Saat turun ke ruang makan, meja panjang itu sudah dipenuhi berbagai macam hidangan. Sangat mewah, sangat lengkap. Tapi ruangan itu kosong melompong. Hanya aku, dan kesunyian yang menekan dada.
Aku duduk di ujung meja, berusaha menenangkan diri. Tiba-tiba langkah kaki terdengar — berat, tegas, dan membuat suasana langsung berubah. Marco muncul di ujung lorong. Dia sudah berpakaian rapi, setelan hitam yang pas di badan, aura berbahayanya terasa lebih kuat dari kemarin. Wajahnya tanpa ekspresi, seakan seluruh dunia di bawah kakinya tidak ada yang berarti.
Dia duduk di ujung meja yang jauh dariku, bahkan tidak melirik sedikit pun ke arahku.
"Silakan sarapan," ucapku pelan, mencoba bersikap biasa.
Dia berhenti mengupas buah, lalu menoleh perlahan. Tatapannya tajam seperti pisau
"Aku tidak butuh perhatian mu Yuna. Dan jangan pernah bicara padaku seolah kita adalah suami istri yang saling mencintai. Itu menjijikkan bagiku."
Hatiku terasa teriris, tapi aku menelan rasa perih itu. "Aku hanya bersikap sopan. Tidak lebih."
Marco meletakkan pisau dan garpunya dengan kasar di atas piring. Suara denting itu membuatku tersentak.
"Sopan? Kamu pikir aku butuh kesopanan dari seseorang yang dipaksa masuk ke hidupku? Dengar baik-baik. Di rumah ini, jangan harap aku akan berbicara manis padamu. Jangan harap aku akan tersenyum. Dan kalau bisa… kurangi keberadaan mu di depanku. Semakin jarang aku melihatmu, semakin tenang hariku."
Dia berdiri, belum menyentuh makanan sedikit pun. Saat berjalan melewati ku, dia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Peringatan kedua:Hidupku bukan urusanmu. Dan kalau suatu hari kamu melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat… lebih baik kamu pura-pura buta. Karena aku tidak akan ragu menyingkirkan apa pun yang menghalangi jalanku. Termasuk kamu."
Dengan itu dia pergi. Pintu tertutup rapat. Suasana kembali hening, tapi kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.
aku menarik napas dalam-dalam. Air mata memang sempat menggenang, tapi aku menyekanya sebelum jatuh. Tidak boleh lemah. Tidak boleh kalah.
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama. Marco akan bangun pagi, pergi tanpa menyapaku, pulang larut malam bahkan kadang tidak pulang sama sekali. Jika kita bertemu, hanya ada tatapan dingin dan kata-kata yang menohok. Dia tidak pernah menyinggung perasaanku secara fisik — dia tidak sekejam itu. Tapi ketidakpeduliannya terasa jauh lebih menyakitkan daripada pukulan apa pun.
Suatu sore, hujan turun deras. Aku sedang berjalan menuju perpustakaan kecil di sayap kanan rumah, tempat favoritku untuk bersembunyi. Saat melewati ruang kerjanya yang pintunya sedikit terbuka, aku tidak sengaja mendengar suaranya. Dia sedang berbicara di telepon. Suaranya berbeda — lebih rendah, lebih serius, terancam.
"…Beri tahu mereka, siapa pun yang berani menyentuh keluargaku, aku akan hapus mereka dari muka bumi ini. Hingga tidak ada satu pun keturunannya yang tersisa. Aku Qing. Mereka tahu aku tidak bercanda."
Jantungku berdebar kencang. Aku mundur perlahan, takut ketahuan. Tangan gemetar, kakiku terasa berat. Ini adalah dunia yang sebenarnya — dunia yang berbahaya, gelap, dan mematikan. Dan aku… berdiri tepat di tengah-tengahnya.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Marco berdiri di sana, menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya — marah, waspada, dan berbahaya.
"Kamu mendengar ku?" tanyanya tajam, langkahnya mendekat dengan cepat.
Aku mundur sampai punggungku menabrak dinding. "A..aku… aku tidak sengaja… aku hanya lewat…"
Dia berdiri tepat di hadapanku, tangannya menempel di dinding di samping kepalaku, mengurungku. Matanya menatap lurus ke mataku, penuh amarah.
"Siapa yang menyuruhmu menguping? Kamu pikir kamu siapa, Yuna?" suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan.
"Aku tidak bermaksud… aku janji tidak akan menceritakannya pada siapa pun… Percayalah padaku…" suaraku bergetar, mataku berkaca-kaca.
Marco terdiam sejenak, seakan terkejut melihat ketakutan di mataku. Dia menatap mataku lekat-lekat, seakan mencari kebohongan di sana. Perlahan, tangannya di dinding itu turun. Dia mundur selangkah, ekspresinya kembali tertutup rapat.
"Lain kali… jangan pernah berhenti dan mendengarkan. Pergi. Sekarang."
Aku berlalu pergi dengan langkah tergesa-gesa, jantungku berpacu kencang. Tapi di tengah rasa takut itu, ada hal aneh yang kurasakan… saat dia menatapku tadi, sepersekian detik… aku melihat sesuatu di matanya yang bukan kebencian. Mungkin rasa lelah. Mungkin beban yang berat.
Atau mungkin… itu hanya imajinasiku saja.
BERSAMBUNG...