Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Siapa yang Terjebak
Setengah jam sebelumnya, Nala sudah tahu ada yang salah dengan jus itu.
Dia hanya meminumnya dua teguk. Cukup untuk merasakan sesuatu yang getir di belakang lidah, di bawah rasa manis jeruk. Rasa yang sama seperti teh di atas kapal menuju Batam.
Dia meletakkan gelas itu, tersenyum pada tante tuli di sebelahnya, dan berkata pada Laras bahwa dia mau cari angin sebentar.
Taman danau di belakang rumah Menteng gelap dan lembap. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak menyala redup. Di tengah danau buatan itu, sebuah gazebo kayu berdiri di atas tiang, dihubungkan ke tepi oleh jembatan kecil.
Nala berjalan ke gazebo itu dan duduk di bangku kayunya. Udara malam menyentuh wajahnya. Kepalanya terasa ringan, seperti balon yang talinya hampir lepas. Tangannya sedikit gemetar. Dua teguk. Kalau tadi dia minum segelas penuh, sekarang dia mungkin sudah tidak bisa berdiri.
Dia membuka tas tangannya. Pisau lipat itu ada di sana, di dasar tas, di bawah dompet. Dia tidak bisa mengikatnya di paha malam ini, kebaya ini terlalu sempit. Jarinya menyentuh gagang pisau itu dan berhenti di sana.
Langkah kaki di jembatan.
Pelayan muda yang tadi memberinya jus datang membawa nampan. Seteko teh panas dan dua cangkir porselen.
"Teh hangat, Bu. Biar enakan."
"Siapa yang suruh?"
"Dari dapur, Bu."
Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja gazebo. Ketika dia menunduk, serbet di sudut nampan tersibak sedikit. Di bawahnya ada sebungkus kertas kecil yang sudah dirobek di ujungnya. Bubuk putih menempel di pinggiran sobekan itu.
Nala bergerak lebih cepat dari pikirannya. Tangannya menyambar bungkusan itu dari bawah serbet.
Pelayan itu tersentak. Matanya membelalak, menatap bungkusan di tangan Nala, lalu wajah Nala. Lalu dia berbalik dan lari kembali menyeberangi jembatan tanpa sepatah kata.
"Nggak usah dikejar."
Suara itu datang dari bayangan di belakang gazebo, dari arah tepi danau yang tidak diterangi lampu.
Gilang melangkah keluar. Dia memegang gelas wiski di satu tangan. Kemeja hitamnya rapi, rambutnya tersisir ke belakang. Dia berjalan dengan sedikit kaku, satu tangan menekan perut bagian bawahnya, tempat pisau lipat itu masuk hampir sebulan lalu.
"Kamu tahu, aku udah nunggu kesempatan ini." Dia tersenyum. "Di sini nggak ada pintu STAF buat kamu lari."
Nala berdiri. Lututnya hampir menyerah, tapi dia berdiri.
"Damar ada di dalam."
"Damar?" Gilang tertawa. "Damar lagi sibuk sama Bianca. Sebentar lagi seluruh keluarga akan tahu dia nidurin calon istrinya sebelum nikah. Eyang nggak akan bisa narik pertunangan itu lagi. Dan kamu..." Dia meletakkan gelasnya di pagar gazebo dan mendekat. "Kamu jadi bagianku."
Dia meraih lengan Nala.
Nala menamparnya.
Bunyi tamparan itu bergema di atas air. Kepala Gilang terlempar ke samping. Ketika dia menoleh kembali, matanya berubah. Tidak ada lagi senyum di sana.
Dia mencengkeram bahu Nala dan mendorongnya ke tiang gazebo. Kancing kemeja Gilang terlepas ketika Nala mencakar dadanya. Satu, dua, tiga, kancing-kancing itu jatuh ke lantai kayu. Gilang tidak peduli. Dia menahan Nala dengan berat tubuhnya, satu tangan meraih gelas wiski di pagar.
"Minum," desisnya. "Biar kamu lebih jinak."
Dia mendekatkan gelas itu ke bibir Nala.
Nala menggenggam bungkusan kertas di tangannya. Dalam satu gerakan, dia menumpahkan isinya, separuh, ke dalam gelas yang hanya sejengkal dari wajah mereka berdua. Lalu dia menepis gelas itu ke atas.
Wiski dan bubuk putih itu tumpah ke wajah Gilang. Ke mulutnya yang terbuka. Ke matanya.
Gilang tersedak. Dia mundur, terbatuk-batuk, menyeka wajahnya dengan punggung tangan, meludah. Tapi sebagian sudah tertelan. Nala melihat jakunnya bergerak.
Dia menendang lutut Gilang sekuat tenaga.
Gilang jatuh. Dalam jatuhnya, tangannya menyambar taplak meja gazebo, dan nampan itu ikut tertarik. Teko dan dua cangkir porselen terlempar ke lantai batu di tepi gazebo dan pecah berkeping-keping. Bunyinya keras sekali, tajam, memantul di permukaan danau.
Nala tidak menunggu. Dia memasukkan sisa bungkusan kertas itu ke dalam tasnya, mengangkat kain kebayanya sampai lutut, dan lari menyeberangi jembatan.
***
Lorong sayap barat terang di ujung, gelap di tengah.
Dia berlari ke arah cahaya, napasnya terengah, kepalanya berputar. Di tikungan, dia menabrak sesuatu yang keras dan hangat.
Tangan-tangan menangkapnya. Dia mengangkat wajah.
Damar.
Bibirnya berdarah. Kemeja batiknya basah oleh keringat, kancing atasnya terbuka. Matanya tidak fokus, pupilnya lebar. Dia bersandar ke dinding seperti dinding itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri. Tapi kedua tangannya mencengkeram lengan Nala erat-erat.
"Kamu..." suaranya serak. "Kamu tidak apa-apa?"
"Kamu juga diberi obat."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa."
Damar memejamkan mata. Seluruh tubuhnya seperti mengendur sedetik. Lalu matanya terbuka lagi, menatap ke balik bahu Nala.
Gilang terhuyung-huyung masuk ke lorong dari pintu taman. Kemejanya terbuka lebar tanpa kancing. Wajahnya basah oleh wiski. Langkahnya tidak lurus. Dia melihat mereka berdua, dan dia tertawa, tawa yang kacau.
"Damar... sepupuku sayang..."
Damar melepaskan Nala, berjalan tiga langkah ke depan, dan meninju rahang Gilang.
Satu kali. Gilang jatuh terlentang di atas karpet lorong dan tidak bergerak lagi.
Nala menatap tubuh yang tergeletak itu, lalu laki-laki yang berdiri di atasnya dengan buku-buku jari berdarah dan napas tersengal.
Damar mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. Dia membuka pintu kamar tamu di ujung lorong. Dari dalam, suara perempuan menjerit, "Damar? Damar, akhirnya kamu..." dan berhenti.
Bianca.
Damar menyeret Gilang dengan kedua tangan di bawah ketiaknya, melewati ambang pintu, dan meninggalkannya di lantai kamar itu. Lalu dia menarik kemeja Gilang yang sudah terbuka itu sampai terlepas dari bahunya, dan melemparnya ke atas ranjang.
Dia keluar dan mengunci pintu itu lagi.
"Ke mobil," katanya pada Nala tanpa menoleh. Dia mengeluarkan ponsel. "Lewat pintu samping. Tunggu aku di sana."
"Damar..."
"Anala. Ke mobil."
Nala berjalan ke ujung lorong. Tapi dia tidak keluar lewat pintu samping. Dia berbelok ke balik sebuah lemari jati besar di tikungan, di tempat lampu tidak sampai, dan berdiri di sana.
***
Tujuh menit kemudian, lorong itu dipenuhi orang.
Eyang berjalan paling depan dengan tongkatnya. Di belakangnya, sekitar empat puluh orang. Om-om dari keluarga besar, tante-tante berkebaya, sepupu-sepupu, beberapa tamu penting dari bank dan kementerian. Tagih berjalan di sisi Eyang dengan wajah datar.
"Tadi ada suara ribut dari kamar ini, Eyang," kata Tagih.
Eyang mengetuk pintu dengan ujung tongkatnya. Tidak ada jawaban. Hanya suara isakan dari dalam.
"Buka."
Seorang staf rumah tangga datang membawa kunci cadangan. Pintu itu terbuka.
Nala tidak bisa melihat ke dalam dari tempatnya. Tapi dia bisa melihat wajah-wajah di ambang pintu. Seorang tante menutup mulutnya. Seorang om mundur selangkah. Seorang perempuan muda, salah satu sepupu, sudah mengangkat ponselnya.
"Turunkan," kata Eyang tanpa menoleh. Ponsel itu langsung turun.
Lalu Nala melihatnya, ketika kerumunan itu bergeser. Bianca duduk di ujung ranjang, tubuhnya terbungkus selimut sampai leher, gaun putihnya teronggok di lantai. Maskaranya luntur sampai ke pipi. Dan di lantai, di dekat kakinya, Gilang terkapar telanjang dada, mulai bergerak, mengerang.
"Bukan..." Bianca menggeleng-geleng. "Eyang, bukan begini... Damar yang..."
"Damar?" Gilang mengangkat kepalanya. Matanya masih kabur, tapi suaranya keras. "DAMAR! Damar yang jebak aku! Dia mukul aku! Dia..."
"Pak Damar sudah pulang, Pak."
Suara itu datang dari belakang kerumunan. Pelayan yang tadi membawa sup buntut, yang berdiri di dekat Tagih, berbicara dengan kepala tertunduk.
"Pak Damar pulang sekitar sejam yang lalu. Saya yang antar sampai depan. Katanya beliau kurang enak badan."
Bisik-bisik meledak di antara kerumunan.
"Sejam yang lalu? Terus mereka berdua..."
"Ya ampun. Di rumah Eyang."
"Pantesan Bianca dari tadi nggak kelihatan."
Gilang mencoba berdiri dan jatuh lagi. "Bohong! Dia bohong! Damar!"
Eyang tidak bergerak. Dia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bertumpu di kepala tongkatnya, dan menatap ke dalam kamar itu untuk waktu yang lama sekali. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Nala, dari balik lemari jati, menahan napas.
Akhirnya Eyang berbicara. Pelan. Tenang. Seperti seorang hakim membacakan putusan.
"Perjodohan Hadiwijaya dengan Wibisono tetap berjalan." Dia menatap Bianca, lalu Gilang di lantai. "Gilang yang akan menikahi Bianca."
Bianca menjerit tertahan. Kerumunan itu terdiam.
Gilang menatap Eyang dengan mata merah. Lalu dia menatap ke arah lorong, ke arah tikungan, seolah dia bisa melihat menembus dinding.
"Aku akan ambil semuanya kembali," desisnya. "Semuanya. Dengar itu, Damar."
Eyang berbalik dan berjalan pergi. Kerumunan membelah memberinya jalan.
Nala menyelinap keluar lewat pintu samping sebelum ada yang menoleh.
***
Damar sudah di kursi penumpang ketika dia sampai di mobil. Kepalanya bersandar ke jendela. Matanya terpejam. Napasnya masih terlalu cepat.
Nala masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin.
Jalan Menteng sudah sepi. Dia menyetir pelan, kedua tangan mencengkeram kemudi. Kepalanya masih sedikit berputar. Dua teguk. Di dalam tasnya, di pangkuan, separuh bungkusan kertas itu masih ada.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Damar tanpa membuka mata. Untuk ketiga kalinya malam itu.
Nala tidak menjawab.
Dia memikirkan kamar tamu itu. Kunci di saku Damar. Pelayan yang bersaksi. Tagih yang membawa Eyang tepat waktu. Laki-laki di sebelahnya, yang tubuhnya penuh obat dan bibirnya berdarah, yang dalam keadaan seperti itu masih sempat menyusun semua ini.
Untuknya.
Lampu merah di perempatan Jalan Sudirman. Nala menginjak rem.
Damar membuka mata. Dia menoleh dan menatapnya. Di bawah lampu jalan yang kuning, wajahnya pucat dan matanya gelap.
"Pulang," katanya.
Nala menatap lampu merah di depan. Jari-jarinya mengencang di kemudi.
"Pulang ke mana, Pak?" tanyanya pelan. "Ke rumahmu. Sebagai apa?"