Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2: Apotek dukun di dalam gua
Matahari pagi menembus celah-celah akar gantung, membangunkan Shen Ruozi dari tidur nyenyaknya. Tubuhnya terasa pegal-pegal karena tidur di atas lantai batu, tetapi energi dari Buah Lima Rasa yang ia makan kemarin membuat badannya terasa jauh lebih segar.
Di sampingnya, si kelinci abu-abu yang entah sejak kapan sudah resmi ia beri nama si Bocil sedang asyik mengunyah rumput liar.
"Pagi, Cil. Bagus ya, kamu sarapan duluan enggak bagi-bagi," gerutu Ruozi sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang kerempeng.
Perutnya langsung berbunyi protes. Mengandalkan buah-buahan liar saja tidak akan cukup untuk membuatnya bertahan hidup. Ruozi memutar otak geniusnya. Sebagai mahasiswi kedokteran, ia tahu tubuh ini butuh asupan protein agar tidak mati lemas. Namun, berburu kelinci atau ayam hutan dengan tangan kosong jelas mustahil bagi fisiknya yang lemah saat ini.
"Kalau enggak bisa pakai otot, mari kita pakai otak," gumam Ruozi dengan seringai jahil.
Ia mengambil beberapa lembar Daun Biduri yang ia temukan di dekat sungai kemarin. Di dunia modern, daun ini dikenal mengandung getah racun ringan yang bisa menyebabkan mati rasa atau kantuk pada hewan jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Ruozi menumbuk daun itu, lalu mengoleskannya pada beberapa buah beri manis yang disukai burung dan hewan pengerat. Ia kemudian menyebarkan buah-buahan "jebakan" itu di dekat semak-semak tak jauh dari gua.
Sembari menunggu jebakannya bekerja, Ruozi kembali ke dalam gua untuk melakukan pekerjaan favoritnya: meracik obat. Tanpa peralatan laboratorium yang canggih, ia memanfaatkan batu cekung sebagai mortar dan kayu keras sebagai alu penumbuk.
Dengan telaten, Ruozi menumbuk Daun Dewa hingga menjadi pasta kental untuk obat luar pembeku darah. Sementara itu, Akar Angelica yang sudah ia bersihkan, diiris tipis-tipis menggunakan batu tajam lalu dijemur di depan gua agar kering dan bisa diseduh seperti teh penambah darah.
"Jaman modern mau beli ginian harus nebus resep mahal di apotek. Di sini tinggal metik di halaman rumah. Anggap saja aku lagi buka cabang apotek dukun gratisan," ucap Ruozi santai sambil bersenandung kecil. Sifat selengeannya kumat lagi, ia malah menata botol-botol bambu rakitannya dengan rapi di sudut gua layaknya rak obat rumah sakit.
Dua jam berlalu, Ruozi pergi memeriksa jebakannya. Benar saja, di dekat semak-semak, seekor burung puyuh hutan berbadan gemuk tampak tergeletak pingsan dengan mata merem-melek akibat efek Daun Biduri.
"Wahahaha! Kena kau! Maaf ya burung gembul, demi kelangsungan hidup sang dokter, kamu harus rela berkorban," ujar Ruozi girang. Ia langsung membawa buruannya kembali ke gua untuk dibakar.
Malam harinya, aroma daging bakar yang harum memenuhi seisi gua. Ruozi makan dengan sangat lahap, berbagi sedikit bagian dengan si Bocil yang hanya menatapnya heran karena kelinci tentu saja tidak makan daging.
Sudah hampir satu minggu Ruozi bertahan hidup di hutan tersebut. Kulitnya yang semula pucat dan kotor kini mulai terlihat bersih dan segar berkat ramuan herbal yang rutin ia konsumsi. Pengetahuannya tentang obat-obatan alami membuatnya tumbuh menjadi gadis hutan yang mandiri dan ditakuti oleh hewan-hewan kecil karena jebakan-jebakan jeniusnya.
Namun, ketenangan Ruozi tidak bertahan lama. Pada hari ketujuh, saat ia sedang berjalan agak jauh ke hulu sungai untuk mencari tanaman Temulawak liar demi menambah nafsu makan tubuh kerempengnya, embusan angin sore mendadak membawa aroma yang sangat ia kenali sebagai seorang calon dokter.
Aroma anyir yang sangat pekat dan tajam. Bau darah segar, bercampur dengan bau busuk yang aneh.
Ruozi seketika menghentikan langkahnya. Matanya menyipit waspada. "Bau darahnya pekat banget... dan tunggu, bau busuk ini... ini bau racun Arsenik atau sejenisnya! Sial, ada apa di depan?"
Rasa kepo tingkat akut khas anak modern-nya langsung bergejolak. Alih-alih putar balik dan menyelamatkan diri seperti orang normal, Ruozi justru menyingsingkan lengan bajunya dan mengendap-endap mendekati arah hulu sungai dengan senyum penuh rasa penasaran. Petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Langkah kaki Ruozi bergerak seringan kapas di atas hamparan daun kering. Di belakangnya, si Bocil mengikuti dengan gelisah, telinga panjangnya tegak lurus seolah merasakan bahaya yang sangat besar sedang mengintai di depan mereka. Bau anyir darah bercampur racun kimia kuno itu semakin pekat menusuk hidung, membuat insting medis Ruozi berteriak bahwa korban di depan sana sedang berada di ambang kematian yang sangat kritis.
Setelah menyibak rumpun bambu liar yang lebat, mata Ruozi langsung tertuju pada bentangan rumput di tepi hulu sungai. Jantung mahasiswi kedokteran itu sempat berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena pemandangan tragis sekaligus menakjubkan di depannya. Sesosok manusia tergeletak pasrah dengan posisi separuh tubuhnya nyaris menyentuh air sungai yang jernih.
Pria itu mengenakan jubah hitam legam yang terbuat dari kain sutra kualitas tertinggi, dihiasi sulaman benang emas berbentuk awan yang hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan tingkat atas. Namun, jubah mewah itu kini robek besar di bagian dada akibat sabetan pedang. Luka menganga itu terlihat mengerikan; pinggiran kulitnya mulai menghitam dan mengeluarkan cairan pekat berbau busuk. Jelas sekali, pedang yang melukainya telah dilumuri racun berdarah dingin.
Ruozi segera berlari kecil dan berlutut di samping tubuh pria itu. Sifat selengeannya mendadak kumat saat matanya menatap wajah sang pria dari dekat. "Gila... Spek pangeran dari negeri dongeng ini mah! Pahatannya sempurna banget, hidungnya bisa buat perosotan semut," gumam Ruozi dengan nada kagum yang santai, bahkan sempat-sempatnya mencolek pipi pria itu yang terasa sedingin es.
Namun, ekspresi santainya langsung berubah serius saat tangannya beralih mencengkeram pergelangan tangan pria itu. Sebagai calon dokter, ia langsung menganalisis denyut nadinya yang berantakan. "Napasnya senin-kamis, detak jantungnya lemah berantakan. Racunnya sudah mulai menyerang pembuluh darah utama. Kalau dibiarkan sepuluh menit lagi, mas-mas ganteng ini bakal innalillahi dan tinggal nama!"
Ruozi tahu, mencampuri urusan orang asing yang sekarat karena senjata tajam di zaman kuno bisa mendatangkan masalah besar, apalagi pria ini jelas merupakan buronan atau target pembunuhan politik. Tapi melihat kantong obat di pinggangnya yang sudah penuh dengan pasta Daun Dewa pembeku darah dan ekstrak penawar racun, jiwa oportunis dan sumpah medisnya bergejolak hebat. "Daripada ketampanan ini mubazir terkubur tanah, mending aku jadikan dia investasi masa depan. Siapa tahu kalau selamat, aku dikasih imbalan sekarung emas buat modal bikin rumah sakit!" pikirnya dengan seringai jahil.
Tanpa membuang waktu sepeser pun, Ruozi langsung membuka kantong bambunya. Karena tidak ada alat medis steril, ia menggunakan batu tajam yang sudah dibasuh air sungai untuk membersihkan jaringan kulit mati beracun di dada pria itu terlebih dahulu. Pria misterius itu sempat melenguh kesakitan dalam pingsannya, membuat guratan di dahinya yang tampan semakin terlihat tegas.
Ruozi kemudian mengambil segenggam pasta herbal racikannya yang super dingin, lalu dengan santai menepuk sediaan obat hijau itu langsung ke atas luka menganga di dada sang pria dengan cukup keras. Plak! "Nah, rasakan khasiat ajaib dari ramuan rahasia Dokter Shen!" seru Ruozi bangga dengan wajah tanpa dosa. Tepat di saat itulah, keajaiban sekaligus petaka kecil bagi Ruozi dimulai.