Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkutuk
Rumah Sabdo
Begitu sinar matahari menyingsing. Semua yang terlihat remang-remang di waktu malam tampak lebih jelas.
Pagi hari di rumah Sabdo. Gombloh dan Bokir dikenalkan kepada kedua orang tua Sabdo yang masih sehat walafiat meski umur sudah kepala tujuh.
"Aku bapaknya Sabdo, namaku Prawiro",
"Ibunya Sabdo namanya Lentik",
"Kalau nak Gombloh sama nak Bokir aslinya darimana?",
"Kebetulan kami dari kabupaten tua yang sama pak",
"Kampungnya saja yang beda",
"Kalau sudah sarapan, sana jalan-jalan keluar",
"Di sini pasti beda dengan tempat tinggal kalian",
"Di sini alamnya masih syahdu dan romantis",
Sabdo mengajak dua temannya berjalan ke kebun.
Mereka akan memetik apa yang sudah masak dan bisa dimakan.
"Kenapa rumah orang-orang di sini banyak menyimpan senjata?",
Pertanyaan yang dimaksud Bokir adalah tongkat serupa tombak yang ada di setiap dekat pintu dan jendela rumah.
"Itu buat jaga-jaga saja kalau ada tamu yang tidak diundang",
"Seperti hewan buas, serangga beracun",
"Memangnya pernah ada?",
"Ya sesekali",
"Ular, celeng, kalajengking, tawon",
"Macan pernah macan?",
"Macan tidak sampai sini",
"Mereka tinggal jauh di dalam hutan yang masih belantara",
"Kalau yang di foto itu siapa saja Do?",
Pertanyaan yang dimaksud Gombloh adalah foto keluarga yang dipajang di ruang makan.
"Selain aku, ibu dan bapak",
"Aku masih punya dua saudara lagi",
"Mereka kakak-kakak ku",
"Sekarang mereka sudah tidak tinggal lagi bersama kami",
"Mereka sudah punya keluarga sendiri",
"Kalian sudah kasih kabar sama orang rumah?",
"Sudah tadi pagi-pagi",
"Aku telpon video tapi gambarnya goyang-goyang",
"Tapi suaranya lumayan jelas",
Dalam perjalanan ke kebun itu Sabdo berpapasan dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu.
"Sabdo... ",
"Kapan kamu pulang?",
"Kalian mau kemana?",
"Bapak di rumah?",
"Ayo naik... ",
"Ikut aku balik",
"Ada apa memangnya?",
"Penting",
Mereka adalah Unang dan pak Alex.
"Ada masalah apa Nang?",
"Anak dan istri pak Alex dibawa Suwanggi",
"Mereka (suwanggi) masih ada?",
"Suwanggi itu apa Do?",
Gombloh dan Bokir sama sekali tidak tahu mahkluk apa itu Suwanggi.
Begitu juga dengan pak Alex yang awalnya sangat tidak percaya.
"Suwanggi... ",
"Makhluk jelmaan dari manusia yang mempraktekkan ilmu hitam",
"Maksudnya?",
"Setan",
"Setan?",
"Kalian berdua temannya Sabdo?",
"Iya... kami teman satu mes di pabrik",
"Aku Unang, kakaknya Sabdo",
"Ini pak Alex, kepala peneliti di hutan Simponi",
Setibanya di rumah. Unang dan Alex menjelaskan situasi pelik mereka kepada Prawiro.
Kenapa Unang membawa pak Alex ke rumah orang tuanya?
Pada masa dahulu. Ada sebuah pemukiman di dalam hutan belantara.
Awalnya masyarakat sama sekali tidak menaruh rasa curiga.
Sampai pada akhirnya.
Teror demi teror bermunculan mendatangi rumah-rumah warga.
Hingga mengakibatkan korban-korban jiwa.
Rupanya pemukiman di dalam hutan yang suram itu adalah tempat tinggalnya orang-orang yang menekuni ilmu hitam.
Mereka yang mengabdi kepada iblis dan bekerjasama dengan setan.
Dibuatlah pemukiman tandingan oleh orang-orang alim pada masa lalu yang ditempatkan di dekat hutan.
Sebelumnya mereka sudah berlatih dan dibekali dengan ilmu.
Mereka disebut sebagai para penjaga.
Sebagai seorang penjaga wajib hukumnya memiliki keimanan, keberanian, keterampilan, ketangkasan dan pengetahuan.
Berhadapan dengan para pengikut iblis. Taruhannya adalah nyawa.
Tugas mereka adalah untuk mencegah orang-orang dari pemukiman hutan belantara yang berwujud setan membuat celaka.
Bahkan memburunya.
Tempat itu disebut kampung dalam.
Dan yang tersisa sampai hari ini sebagai keturunan dari orang-orang asli para penjaga adalah keluarga Sabdo.
Itulah alasan mengapa Unang membawa pak Alex menemui Prawiro.
"Masih ada waktu sebelum ritual kematian",
"Kami akan membantu bapak (Alex) untuk menemukan anak dan istri bapak",
"Biarkan mereka (anak-anak ku) bersiap-siap terlebih dahulu",
"Terimakasih sekali pak Prawiro",
"Berapa pun biaya operasionalnya akan saya tanggung... ",
"Saya lebihkan... ",
"Asalkan anak dan istri saya bisa pulang... ",
"Mohon tolong......... saya... ",
"Insya Allah anak dan istri bapak akan kembali",
"Sekarang sebaiknya bapak istirahat",
Percakapan Unang dan Sabdo
"Bukankah mereka (suwanggi dan kuyang) sudah lama tidak muncul?",
"Bagaimana dengan perjanjian damai?",
"Mereka tidak melanggar perjanjian",
"Perjanjian damai hanya berlaku untuk orang sini",
"Kuyang dan Suwanggi itu muncul karena mencium bau orang asing",
"Yang mereka ambil adalah orang jauh",
"Lantas kenapa kita meski ikut campur?",
"Aku sedang bekerja kepada pak Alex",
"Tentu saja aku bertanggungjawab",
"Kamu mau bantu tidak?",
"Tentu saja aku akan ikut pergi",
"Siapa lagi yang akan menjagamu?",
"Bapak sudah menyuruhku membeli perbekalan untuk berburu",
"Bagus kalau begitu",
"Pergilah sana",
"Dan sebaiknya suruh kedua teman mu itu untuk pulang",
"Aku akan pergi ke rumah Karyo",
"Aku disuruh bapak untuk membujuk dia supaya mau ikut",
Mendengar nama yang terakhir itu.
Sabdo menahan senyum.