Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raya: Saya tidak kuat lagi, Pak Kansa.
Sementara Raya yang kini tengah menyetir. Pandangannya tak beralih sedikitpun ke arah jalanan kota yang kini mulai ramai oleh aktivitas orang-orang yang berkendara.
Padahal tadi pagi ia berharap menemukan ibu mertuanya di pelantaran rumah, agar ia bisa mengambil kembali cincin peninggalan ayahnya.
Sayangnya ia tak menemukan wanita paruh baya itu. Mungkin saja sudah kabur.
Drrrttt.
Suara getaran dari ponsel dari dalam tas, membuatnya mengalihkan pandangannya sekilas dari tas yang bersinggah di kursi sebelahnya, lalu kembali menatap ke arah jalanan. Sembari mengulurkan tangan untuk meraih tas tersebut, tetapi posisinya cukup jauh. Raya pun sedikit menoleh ke samping, berusaha mengambilnya tanpa menghentikan laju mobil.
Namun, baru saja pandangannya beralih—
Tiiiiiiiin!
Suara klakson keras mengagetkannya.
Raya spontan menoleh ke depan. Matanya terbelalak saat sebuah mobil sudah berada sangat dekat di hadapannya.
Raya refleks mencoba membanting setir, tetapi semuanya terjadi terlalu cepat.
Brak!
Tubuhnya terdorong ke depan. Kepalanya terbentur setir, tetapi sabuk pengaman yang terpasang menahan tubuhnya agar tidak terlempar.
Untuk beberapa detik, Raya hanya terdiam. Napasnya memburu, berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi, sementara pandangannya sedikit berkunang-kunang.
Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekitar, dan mendapati orang-orang mulai beramai-ramai mengitari lokasi kecelakaan.
Dengan tangan gemetar, Raya melepaskan sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil dan keluar.
Hingga seorang wanita menghampiri.
“Mbak, nggak apa-apa?”
Raya mendongak. Menatap wanita itu dengan lirih sebelum akhirnya ia menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa, Bu. Cuma terbentur sedikit,” jawabnya.
“Maaf, Mbak. Rem mobil saya blong,” ucap seorang pria pemilik truk berdiri tidak jauh darinya.
Raya menoleh tak berkata apapun.
“Saya akan ganti kerusakan mobilnya, Mbak.”
Raya menggeleng. “Nggak perlu. Bukan sepenuhnya kesalahan Bapak, lain kali di cek dulu kendaraannya.”
Setelah mengatakan itu, Raya kembali masuk ke dalam mobil untuk mengambil tasnya.
Tangannya masih gemetar ketika merogoh tas dan mengambil ponsel.
Begitu ponsel berada di tangannya, Raya membuka daftar kontak. Matanya menyusuri beberapa nama yang muncul di layar.
Mas Zevan.
Rara.
Ibu mertua.
Ketiganya ia pandangi beberapa saat.
Namun, tak ada di dalam benaknya untuk menghubungi mereka. Mengingat bagaimana mereka tak perna peduli padanya. Hingga pandangannya berhenti pada satu nama terakhir.
Pak Kansa.
Tanpa berpikir panjang, Raya memilih menghubungi pria itu. Berharap pria itu mau dimintai tolong.
Tak lama kemudian, sambungan telepon terangkat.
“Halo, Raya.”
“Pak, bisa minta tolong?”
“Apa?”
“Saya kecelakaan, Pak. Bisa jemput saya.”
“Apa?! Kamu baik-baik saja, kan?”
Raya terdiam sesaat. Tidak menyangka Kansa akan langsung memberikan respons seperti itu.
“Iya, Pak. Saya baik-baik saja.”
“Di mana sekarang?”
“Saya di Jalan Simpang PU.”
“Tetap di sana. Saya jemput, jangan tutup teleponnya.”
“Baik, pak.”
Raya menatap layar ponselnya yang masih terhubung dengan sambungan telepon.
Kemudian ia berjalan ke pinggir jalan dan duduk di bawah sebuah pohon.
Kedua kakinya masih gemetar setelah kejadian yang baru saja ia alami.
Raya memeluk kedua lututnya. Ia menundukkan kepala, berusaha menenangkan dirinya sendiri sembari menunggu Kansa datang.
Suara orang-orang yang masih berkerumun di lokasi pun masih terdengar.
“Ayah… Raya takut sekali. Nggak ada yang peduli sama Raya sama sekali, hanya Ayah yang selalu peduli."
Air mata yang tak bisa ia tampung lagi, akhirnya pun luruh membasahi pipinya.
“Mereka hanya peduli sama Rara dan uang Raya saja.”
Wajahnya ia tenggelamkan di antara kedua lututnya.
Hiks…
“Hanya Ayah yang peduli sama Raya.”
.
.
Beberapa waktu berlalu. Raya masih duduk di bawah pohon sambil memeluk kedua lututnya yang masih gemetar. Sementara kepalanya masih terasa sedikit pusing akibat benturan tadi.
Kerumunan itu bahkan menghambat kendaraan lain yang lewat.
“Raya.”
Raya mengangkat wajah saat suara familiar memanggil namanya.
“Pak Kansa...?” gumamnya lirih.
Raya lalu mengusap wajahnya.
Hingga akhirnya pria itu berjalan mendekat, kemudian mensejajarkan tubuhnya.
“Raya… kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Kansa, tangannya terangkat dan menyentuh sisi wajah Raya dengan lembut
Raya tak langsung menjawab, tatapannya masih tertuju pada pria itu. Bahkan ia bisa melihat kekhawatiran pria itu kepadanya.
“Ada yang sakit?” tanya Kansa.
“Hanya pusing saja, Pak,” jawab Raya lirih.
“Raya, keningmu berdarah. Bagaimana bisa terjadi?”
Raya menunjuk ke arah mobil yang mengalami kecelakaan dengannya.
“Mobil itu remnya blong, Pak.”
Kansa tampak menoleh mengikuti arah yang ia tunjuk. Setelah beberapa saat, Kansa kembali menatap wajahnya dengan tatapan yang sama.
“Ayo. Saya bawa kamu ke rumah sakit.”
Raya menggeleng pelan. Lalu ia memeluk Kansa.
“Saya tidak kuat lagi, Pak Kansa,” ucapnya lirih.
Tangis yang ia tahan sejak tadi akhirnya pecah begitu saja di pelukan pria itu.
Sebuah tangan mengusap punggungnya.
“Saya capek sekali.”
Namun, tiba-tiba tubuhnya sudah lebih dahulu terangkat.
“Pak!”
Raya refleks melingkarkan kedua tangannya ke leher Kansa agar tidak terjatuh.
“Ceritanya di dalam mobil saja, sambil ngobatin dahimu,” ucap Kansa.
Raya terdiam, membiarkan dirinya di gendong oleh pria itu dan berjalan menuju mobil milik Kansa yang terparkir tak jauh dari lokasi.
Bahkan ia bisa melihat, bagimana kondisi mobilnya yang rusak parah dibagian depannya.
Setibanya, Kansa lalu mendudukan di kursi belakang dengan hati-hati.
“Saya belikan minum buatmu dulu,” ucap Kansa.
Namun saat Raya hendak membuka suara, pria itu sudah pergi lebih dulu.
Raya mengusap dadanya yang terasa sesak, bersuara mengatur napas sembari menghilang kejadian yang hampir menimpanya.
“Ya Allah, untung saja aku selamat,” gumamnya. “Bagaimana kalau hari ini aku mati, mereka pasti akan senang dan menikmati harta dan uangku. Aku bahkan belum sempat membuat mereka menderita.”
Tak lama kemudian, pria itu datang dan masuk kedalam mobil dan duduk di sebelahnya.
“Minum dulu, Ray.”
Kansa menyodorkannya sebotol minuman.
Raya mengambil botol itu dan meneguknya, hingga air di botol itu hampir tinggal separuhnya.
Namun saat belum sempat ia mengatur napas, sebuah tangan menarik dagunya pelan hingga pandangannya bertemu dengan wajah Kansa.
“Saya obati dulu lukanya,” ucap Kansa.
Raya tak menjawab, ia masih memperhatikan pria itu.
‘Aku kira… gak ada orang yang perhatian apalagi khawatir sama aku, ternyata masih ada rupanya.’
Matanya terpejam saat sebuah cairan dioleskan pelan di keningnya. Lalu tak lama sesuatu tertempel di dahinya.
“Sudah selesai, saya hanya menempelkan perban sama betadine. Karena kamu tidak ingin ke rumah sakit.”
Raya membuka matanya dan menatap pria itu sejenak, sebelum akhirnya ia menundukkan kepalanya.
“Pak... terimakasih, sudah jadi orang paling pertama yang peduli sama saya,” suara Raya Terdengar bergetar.
Kansa menoleh dan mendapati mata Raya yang sudah berkaca-kaca.
“Kamu asisten saya, saya bertanggung jawab atas kesehatanmu.”
Raya menundukkan kepalanya sejenak sebelum akhirnya ia kembali menatap ke arah Kansa.
“Pak, apa ucapan yang waktu itu masih berlaku?”
Kansa terdiam sesaat sebelum menatapnya lebih serius.
“Kamu ingin cerai?” tanyanya.
Raya mengangguk tanpa ragu. “Iya, Pak.”
“Apa alasannya?” tanyanya.
Raya mengangguk pelan. “Pria itu sudah menyakitiku terlalu dalam?”
Satu air mata akhirnya jatuh melewati pipinya.
Kansa menjulurkan tangannya ke arah pipi Raya yang basah karena air matanya.
“Ceritakan saja pada saya, jangan di tutupi.”
Raya menatap Kansa lekat-lekat.
“Mas Zevan membiarkan ibunya mengambil cincin peninggalan ayahnya saya, Pak Kansa. Saya justru sudah memohon agar cincin itu tidak di jual untuk acaranya Rara.”
Kansa terdiam, tapi ia menunggu cerita selanjutnya dari wanita itu sembari mengepalkan tangannya.
“Mas Zevan bahkan minta aku buat ikhlaskan cincin itu.” Raya menggeleng. “Bagaimana bisa?” lirihnya.
Raya menundukkan kepalanya, tangannya gemetar.
“Saya cuma ingin cincin dari Ayah saya kembali. Dan mengusir mereka dari rumah itu tanpa membawa apa-apa, Pak.”
Raya kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Kansa yang kini menatapnya.
“Apa bisa?” tanya Raya.
“Baik,” akhirnya. “Saya akan telepon pengacara saya buat datang hari ini ke kantor, kita urus bersama.”
Raya mengangguk, pandangannya kembali menatap lurus ke depan. Jemarinya mengepal di atas pahanya.
‘Soal yang terjadi tadi pagi, aku nggak bisa mengalahkan kalian... tapi aku bisa membuat kalian hidup sengsara setelah aku dan Mas Zevan bercerai. Jadi jangan menyalakan ku, karena aku sudah memberikan kalian kesempatan, tetapi kalian justru meremehkan ku.’
Raya tersenyum getir. Mengingat perjuangannya selama ini selama menjadi seorang putri tunggal dan istri.
Berjuang demi membuat ekonomi keluarganya lebih baik.
Mengalah demi sang adik agar tidak seperti dirinya setelah lulus sekolah.
Di sudutkan saat ibu mertuanya selalu merasa tak puas dengan apa yang ia lakukan.
Tak adil karena ibunya, ibu mertuanya dan suaminya hanya memperhatikan Rara.
‘Seharusnya aku keluar dari zona yang membuatku tersiksa batin ini dari dulu.’
Raya menghela napas, guna membuang rasa sesak di dadanya.
“Ayo, Pak. Kita ke perusahaan sekarang,” ucap Raya.
“Hari ini kamu libur dulu.”
Raya menatapnya. “Tapi, Pak—“
“Tidak ada tapi-tapian,” potong Kansa. “Kamu duduk saja di ruangan saya, temani saya bekerja.”
Raya hanya terdiam. Tak berkata apapun.
.
Sementara itu, di toko Emas yang cukup besar di pusat kota. Riana.
“Setelah kami cek, harga cincin ini sekitar tujuh puluh juta rupiah. Tapi karena tidak ada kertas transaksi, kami potong lima juta.”
Mata Riana langsung terbelalak.
‘Tujuh puluh juta?’
Bibirnya perlahan membentuk senyum tipis.
‘Banyak sekali, pantas saja Raya larang buat di jual, ternyata ini alasannya. Ternyata dia ingin menguasai uang itu sendiri’
Cincin yang semula ia kira hanya bernilai belasan juta ternyata jauh lebih mahal dari perkiraannya.
“Kalau begitu, saya mau menjualnya.”
Pegawai itu mengangguk.
“Mau dibayar tunai atau transfer?”
“Transfer saja,” jawab Riana tanpa ragu.
Pegawai tersebut kemudian meminta nomor rekening Riana dan memproses transaksi penjualan.
Tidak lama kemudian, ponsel Riana berbunyi.
Sebuah notifikasi masuk.
Uang hasil penjualan cincin itu telah berhasil ditransfer ke rekeningnya. Riana menatap angka yang tertera di layar dengan puas.
Akhirnya, cincin milik Raya telah berubah menjadi uang di tangannya.
Setelah memastikan uang hasil penjualan cincin sudah masuk ke rekeningnya, Riana memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Sekarang ke katering. Harus yang murah tapi mewah dan berkelas,” gumamnya. “Aku tahu tempatnya.”
Riana pun berjalan menuju tempat katering langganannya, ketika memesan makanan untuk acara arisan.