NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - MATA YANG TAK PERNAH BOHONG

Pintu ganda ruang konferensi tertutup rapat di belakang mereka, tapi Valeria tahu persis kalau atmosfer tegang dari dalam sana masih ngikutin mereka sampai ke lorong.

Langkah *heels* Valeria beradu dengan lantai marmer, berdentang nyaring memecah keheningan koridor lantai 45. Di belakangnya, Kael berjalan dalam diam. Tapi ini bukan diam yang tenang. Valeria bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa pekat memancar dari tubuh pengawalnya itu. Napas Kael terdengar lebih berat dari biasanya, seolah pria itu lagi nahan tenaga buat nggak ngehancurin tembok di sekitarnya.

Baru aja Valeria mau menekan tombol lift pribadi di ujung lorong, suara pintu ruang konferensi dibanting terbuka dengan kasar dari belakang.

"Jangan pikir kau sudah menang, Valeria!" teriak Tetua Haris menggema di sepanjang koridor.

Valeria menghentikan jarinya di udara. Wanita itu mendesah malas, perlahan memutar tubuhnya. Tetua Haris berjalan cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam karena amarah dan gengsi yang terluka. Di belakang Haris, Tetua Brata mencoba menahan lengan pria tambun itu, tapi ditepis dengan kasar. Beberapa anak buah klan yang berjaga di ujung lorong langsung berdiri tegang, nggak tahu harus berbuat apa.

"Belum puas ngocehnya, kakek tua? Butuh permen pelega tenggorokan?" sindir Valeria santai, menyilangkan tangan di depan dada.

"Kau pikir kau siapa berani mengusirku dari ruang rapat?!" geram Haris, berhenti sekitar tiga meter di depan Valeria. "Ayahmu membangun klan ini dengan darah kami! Dan kau, anak kemarin sore, berani menantang kami cuma karena kau punya anjing pembunuh di belakangmu?!"

"Tutup mulutmu sebelum anjing pembunuhku ini beneran gigit lehermu," peringat Valeria pelan. Suaranya dingin, matanya mulai menatap Haris dengan tatapan membunuh.

Tapi Haris udah dibutakan oleh harga dirinya yang diinjak-injak di depan tetua lain. Pria itu menyeringai jijik, matanya menatap Valeria dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan, lalu beralih menatap Kael.

"Anjing peliharaan yang setia, huh? Kesetiaan omong kosong!" ludah Haris sinis. "Semua orang di klan ini juga tahu rahasia kotormu, Valeria! Kau pikir kami bodoh?! Kau menahan Kael di sisimu bukan dengan uang atau kekuasaan. Kau menahannya dengan tubuhmu! Dasar perempuan murahan yang cuma bisa mengangkang untuk budaknya—!"

*ZRAAAASH!*

Ucapan Haris terputus dengan sangat brutal.

Sebelum Valeria sempat bereaksi, sebelum Tetua Brata sempat berteriak, dan sebelum para penjaga di lorong sempat berkedip, Kael sudah melesat maju layaknya iblis yang lepas dari neraka. Kecepatannya benar-benar di luar nalar manusia normal.

Tangan kiri Kael yang besar dan kokoh mencengkeram leher Tetua Haris dengan kekuatan penuh. Pria tambun itu langsung terangkat dari lantai. Kael membanting tubuh Haris ke dinding marmer dengan suara *BRAK* yang luar biasa keras, sampai membuat beberapa bingkai lukisan di dinding itu jatuh berserakan.

"Urgh! G-gakh...!" Haris meronta-ronta panik.

Kaki pria tambun itu menendang-nendang udara. Tangannya berusaha mencakar lengan Kael yang mencengkeram lehernya seperti capit baja, tapi Kael sama sekali nggak bergeming.

"Kael!" jerit Tetua Brata ketakutan setengah mati, sampai mundur beberapa langkah hingga terjatuh ke lantai.

Valeria mematung di tempatnya. Matanya membelalak kaget. Dia belum pernah, seumur hidupnya, melihat Kael semarah ini. Pria yang selalu tenang, kaku, dan perhitungan itu kini kehilangan seluruh kendali rasionalnya.

Kael berdiri menjulang di depan Haris. Urat-urat di leher dan punggung tangan Kael menonjol tebal seakan mau pecah. Namun, yang paling mengerikan adalah wajahnya. Rahang Kael mengeras begitu kuat, dan matanya...

Mata elang Kael menatap tepat ke manik mata Haris yang mulai melotot karena kehabisan napas. Di dalam sepasang mata Kael, tidak ada lagi ketenangan seorang pengawal. Yang ada hanyalah badai hitam pekat berisi amarah murni, niat membunuh yang absolut, dan sesuatu yang lain—sebuah obsesi yang terluka.

"Ucapkan satu kata lagi tentang Nyonya-ku," bisik Kael. Suaranya tidak keras, sangat pelan malah. Tapi nadanya terdengar seperti geraman monster pemangsa dari dasar jurang. Bergetar, serak, dan penuh ancaman maut. "Ucapkan... dan aku akan mencabut lidahmu dari tenggorokanmu, lalu kuberikan pada anjing liar di jalanan."

"K-Kael... a-ampun..." Haris mulai membiru. Air mata ketakutan keluar dari sudut matanya. Pria sombong itu kini mengompol di celananya saking takutnya menatap wajah sang malaikat maut dari jarak lima sentimeter.

Valeria melangkah maju. Dia tahu, lima detik lagi Kael menekan leher itu, tulang leher Haris bakal patah berkeping-keping.

"Kael, cukup," perintah Valeria pelan namun tegas.

Kael tidak bergerak. Pria itu seolah tuli. Cengkeramannya malah semakin mengerat, buku-buku jarinya memutih. Napas Kael memburu kasar, seluruh tubuhnya diliputi insting untuk menghabisi siapa pun yang berani merendahkan ratunya. Haris sudah hampir kehilangan kesadaran, matanya mulai berputar ke atas.

"Kael, aku bilang lepas!" bentak Valeria lebih keras, kali ini sambil menyentuh bahu kiri Kael.

Sentuhan tangan Valeria bagaikan sengatan listrik yang langsung memutus sirkuit amarah di otak Kael. Pria itu tersentak pelan. Dia memutar kepalanya, menoleh ke arah Valeria.

Tepat pada detik itulah, mata mereka terkunci.

Valeria terdiam, napasnya seolah berhenti di tenggorokan. Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata Kael yang masih menyala oleh amarah. Mulut manusia bisa berbohong seribu kali, wajah bisa dipasang topeng paling kaku sekalipun, tapi mata tidak akan pernah bisa berbohong. *Mata yang tak pernah berbohong.*

Di dalam mata Kael yang gelap itu, Valeria melihat kebenaran yang selama ini terkunci rapat. Itu bukan tatapan seorang bawahan yang marah karena atasannya dihina. Itu adalah tatapan seorang pria yang hatinya terkoyak karena wanita yang paling dipujanya, wanita yang paling dicintainya dengan cara yang gila dan obsesif, direndahkan oleh orang lain. Ada keputusasaan, perlindungan yang posesif, dan pemujaan mutlak di sana.

Untuk sepersekian detik, Valeria merasa seperti disedot ke dalam kedalaman perasaan Kael yang menakutkan sekaligus luar biasa memabukkan itu. Jantung Valeria berdebar begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari rusuknya.

"Lepaskan dia, Kael. Tanganku kotor nanti kalau dia mati di sini," ucap Valeria pelan, suaranya sedikit bergetar, berusaha memutus kontak batin mereka yang terlalu intens.

Kael mengerjap. Badai hitam di matanya perlahan mereda, digantikan oleh kesadaran dan rasa bersalah yang langsung menghantamnya. Pria itu menelan ludah, lalu membuka cengkeramannya.

Haris jatuh berdebum ke lantai marmer bagaikan karung beras. Pria tambun itu langsung batuk-batuk hebat, meraup udara sebanyak-banyaknya sambil memegangi lehernya yang kini tercetak memar merah berbentuk cetakan tangan Kael.

Kael mundur satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Valeria, menghindari tatapan wanita itu.

"Maafkan saya, Nyonya. Saya kehilangan kendali," bisik Kael serak. Napasnya masih belum teratur.

Valeria mengalihkan pandangannya ke arah Tetua Brata yang masih gemetar di lantai, lalu melirik para penjaga yang mematung di ujung lorong.

"Seret Haris keluar dari gedung ini. Dan pastikan dia nggak pernah menginjakkan kakinya lagi di lantai 45," perintah Valeria mutlak kepada para penjaga.

"B-baik, Nyonya!" Para penjaga itu buru-buru berlari mendekat, memapah Haris yang masih setengah pingsan dan menarik Tetua Brata menjauh menuju lift seberang.

Valeria berbalik menatap lift pribadinya. Dia menekan tombol, lalu melangkah masuk saat pintunya terbuka. Kael mengikuti di belakang dengan langkah berat dan diam.

Di dalam lift yang turun menuju ruang kerja Valeria, suasana terasa luar biasa canggung dan tebal. Ketegangan yang menguar di antara mereka bukan lagi ketegangan karena amarah, melainkan ketegangan emosional yang belum terucap.

Valeria melirik ke arah Kael lewat pantulan pintu lift. Pria itu berdiri tegap di sudut, tapi wajahnya tertunduk menatap lantai. Tangan kirinya tanpa sadar memegangi bahu kanannya.

Mata Valeria langsung menangkap noda merah kehitaman yang mulai merembes pelan menembus jas hitam Kael. Lukanya robek gara-gara pergerakan ekstrem tadi.

"Lukamu berdarah lagi," tegur Valeria datar.

"Hanya sedikit, Val. Tidak masalah," jawab Kael tanpa mengangkat wajahnya.

*Ting.*

Pintu lift terbuka di ruang kerja Valeria. Wanita itu melangkah keluar lebih dulu, membuang tas kecilnya ke atas sofa, lalu berjalan menuju jendela kaca besar di belakang mejanya. Dia berdiri membelakangi ruangan, melipat tangan di dada, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih belum normal.

Kael masuk, mengunci pintu ruangan secara otomatis, lalu berdiri mematung di dekat pintu seperti biasa. Dia menunggu hukuman atau teguran dari bosnya karena sudah bertindak ceroboh hampir membunuh salah satu petinggi klan.

"Kael, sini," panggil Valeria tanpa menoleh.

Kael melangkah mendekat, berhenti tepat tiga langkah di belakang Valeria. "Ya, Val?"

Valeria memutar tubuhnya. Matanya menatap Kael dengan tajam, menyelidik, mencoba membongkar habis semua topeng kaku yang kembali dipasang oleh pria itu.

"Buka jasmu," perintah Valeria tegas.

"Val, darahnya tidak banyak, saya bisa—"

"Buka jasmu sekarang atau aku yang robek pakai gunting," ancam Valeria melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.

Kael menghela napas pasrah. Dengan satu tangan yang berfungsi normal, pria itu melepas jas hitamnya perlahan, menyisakan kemeja hitam yang kini lengket oleh darah segar di bagian bahu kanannya.

Valeria berjinjit sedikit, menarik kerah kemeja Kael dari belakang untuk mengintip perbannya. Benar saja, beberapa jahitan sepertinya merenggang karena otot punggung Kael berkontraksi terlalu keras saat mencekik Haris tadi.

"Dasar keras kepala. Udah kubilang jangan banyak gerak," omel Valeria dengan nada yang tidak terlalu galak. Wanita itu menekan pelan perban Kael dari luar kemeja untuk menahan rembesan darahnya.

"Maaf, Val. Saya tidak bisa diam saja mendengar mulut kotornya menghina Anda," ucap Kael pelan.

"Hinaan itu cuma angin lalu, Kael. Aku udah sering dikatain jalang, wanita murahan, atau apa pun itu sama musuh-musuhku. Aku nggak peduli," ucap Valeria melangkah ke hadapan Kael, mendongak menatap wajah pria itu dari dekat. "Tapi kamu... reaksimu tadi berlebihan. Kamu hampir ngebunuh dia di depan saksi mata."

Kael membuang muka, menatap ke arah samping. Rahangnya kembali mengeras. "Bagi saya, kehormatan Anda adalah segalanya. Siapa pun yang berani mengotori nama Anda dengan kata-kata menjijikkan seperti tadi, tidak berhak bernapas di udara yang sama dengan Anda."

Valeria terdiam. Dia memandangi wajah tegas Kael, lalu ingatannya kembali pada sorot mata pria itu di lorong tadi. Mata yang memancarkan badai cinta dan keputusasaan.

"Kael... tatap mataku," pinta Valeria pelan. Suaranya melembut, kehilangan semua aura ratu mafianya.

Kael ragu-ragu sejenak. Sangat perlahan, dia memutar kepalanya, menunduk menatap sepasang mata cantik milik Valeria. Saat pandangan mereka bertemu, udara di sekitar mereka seakan tersedot habis. Tensi di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi sangat intens, mengalirkan hawa panas yang membuat ujung jari Valeria kesemutan.

"Apa sebenarnya yang kamu sembunyiin dari aku selama sepuluh tahun ini?" tanya Valeria berbisik. Tangannya perlahan terangkat, jari-jarinya yang lentik menyentuh dada bidang Kael, tepat di atas jantung pria itu yang ternyata berdebar sama gilanya dengan jantung Valeria.

Kael menahan napasnya. Sentuhan Valeria di dadanya terasa seperti bara api yang membakar seluruh pertahanan logikanya.

"Aku melihat matamu tadi, Kael," lanjut Valeria, suaranya terdengar seperti sebuah desakan lembut. "Matamu nggak bisa bohong. Amarah tadi... itu bukan amarah seorang pengawal. Itu amarah seorang pria yang kepemilikannya diusik."

Mata elang Kael sedikit membelalak. Topeng kakunya retak parah. Pria itu menelan ludah susah payah. Dia ingin mundur, ingin lari dari tatapan mengintimidasi namun memikat dari ratunya ini, tapi kakinya dipaku ke lantai.

"Anda salah paham, Val. Saya hanya—"

"Jangan bohong padaku," potong Valeria cepat, jari-jarinya di dada Kael sedikit meremas kemeja hitam pria itu. "Kamu mengabdi padaku, mengorbankan nyawamu ribuan kali buatku, bukan cuma karena tugas, kan?"

Kael memejamkan matanya kuat-kuat. Kepalanya terasa pening. Bertahun-tahun dia membangun dinding baja yang membatasi posisinya sebagai budak dan Valeria sebagai ratu, tapi hari ini, cuma butuh satu tatapan dari wanita itu untuk membuat dindingnya hancur berantakan.

Dengan tangan kiri yang sedikit gemetar, Kael perlahan mengangkat tangannya. Pria itu menyentuh punggung tangan Valeria yang menempel di dadanya, menggenggamnya dengan sangat lembut. Kael lalu membuka matanya, dan kali ini, dia membiarkan Valeria melihat seluruh isi hatinya yang telanjang tanpa topeng sedikit pun.

"Jika saya berkata jujur..." bisik Kael parau, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan Valeria. "Apakah Anda masih akan mengizinkan saya berdiri di belakang Anda sebagai bayangan, Val?"

Valeria tertegun. Kalimat itu diucapkan dengan nada yang begitu rapuh, sangat kontras dengan sosok monster yang mencekik Haris beberapa menit lalu. Kael tidak takut mati di medan perang, pria ini hanya takut kehilangan tempatnya di sisi Valeria jika dia berani melewati batas.

Valeria tidak menjawab. Bukan karena dia menolak, tapi karena tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Sensasi usapan ibu jari Kael di punggung tangannya mengirimkan aliran kehangatan aneh yang menjalar lurus ke perutnya.

Mereka berdua berdiri mematung dalam keheningan yang memekakkan telinga. Nggak ada yang berani bergerak lebih jauh, nggak ada yang berani menarik diri. Di dalam ruang kerja yang mewah itu, benih dari hasrat terlarang yang selama ini dikubur dalam-dalam, akhirnya mulai menampakkan pucuknya ke permukaan.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!