Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngidam
Gara-gara amplop yang Anggara tinggalkan di hotel tidak disentuh oleh Elisa. Anggara mulai penasaran dengan gadis tersebut.
Satu bulan setelah pemakaman.
Elisa akhirnya kembali ke kampus. Bukan karena ia sudah sembuh dari dukanya. Tapi karena kalau ia terus di dalam kos, ia takut akan ikut menyusul ibunya. Rasanya sakit dan menyesakkan. Tinggal dalam kenangan dan merindukan orang yang sudah tidak ada di dunia.
Ia memutuskan untuk pindah kos.
Kos lama di dekat pemukiman itu terlalu banyak menyimpan bayangan Ibu Utami. Aroma minyak kayu putihnya, suara batuk pelannya di malam hari, lipatan daster yang masih tergantung di belakang pintu. Semua membuat Elisa sesak setiap kali menarik napas.
Sekarang ia ngekos di sebuah gang kecil belakang kampus. Kamar 3x3 petak, dengan jendela yang hanya menghadap tembok. Tapi tidak apa-apa. Sepi. Dan tidak ada yang mengenalinya sebagai "anaknya Bu Utami yang sakit itu".
Ia juga ganti nomor. Nomor lama ia buang. Di nomor itu, hanya ada dua kontak yang sering menghubunginya: Rumah sakit, dan Tante Rita.
Rumah sakit sudah tidak perlu lagi. Dan Tante Rita, ia tidak pernah ingin mendengar suaranya lagi seumur hidupnya.
Kampus Elisa.
Di kantin kampus, Susan, satu-satunya teman dekatnya, langsung memeluk Elisa begitu melihatnya datang di hari pertama setelah cuti lama.
"Lis! Akhirnya kamu masuk! Aku kira kamu beneran mau cuti setahun!"
Elisa tersenyum tipis. Senyum pertama setelah satu bulan.
"Kalau cuti, nanti beasiswaku dicabut, San. Aku harus lulus."
Mereka duduk. Susan memperhatikan Elisa. Lebih kurus, mata sembabnya masih terlihat meski sudah ia tutupi, tapi ada yang berbeda. Lebih dewasa. Lebih diam.
"Kamu tinggal di mana sekarang? Kos lama kosong katanya."
"Pindah ke belakang kampus. Gang Mawar No. 7. Kecil, tapi enak."
"Nomor WA kamu ganti juga? Aku chat gak centang dua."
"Iya, maaf. HP ku yang lama hilang waktu di rumah sakit," bohong Elisa. Bohong yang paling mudah.
Sinta tidak curiga. Ia hanya menggenggam tangan Elisa.
"Yang kuat ya, Lis. Kamu sekarang hebat banget. Sendirian tapi tetap mau kuliah."
Elisa mengangguk. Kata "sendirian" itu menghantam dadanya, tapi ia tahan.
Hari-hari Elisa kembali seperti dulu. Pagi kuliah, siang jadi relawan di panti asuhan dekat kampus, mengajar anak-anak baca tulis untuk menambah uang jajan, malam mengerjakan skripsi.
Sebatang kara. Tidak ada lagi yang menunggu di kos dengan masakan hangat. Tidak ada lagi yang menanyakan "Sudah makan, Nak?".
Kalau rindu, ia hanya membuka foto ibunya di HP dan menatapnya lama sampai tertidur.
Di tempat lain.
"Pak, dia ganti nomor dan pindah kos."
Alex meletakkan map di meja Anggara. Di dalamnya ada fotokopi KTM atas nama Elisa.
"Kata penjaga kos lamanya, dia pergi buru-buru seminggu setelah ibunya meninggal. Tidak bilang pindah ke mana. Tante Rita juga tidak tahu. Malah Rita marah-marah karena katanya Elisa bawa uangnya dan tidak bisa dihubungi lagi."
Anggara menatap foto KTM itu. Foto mahasiswi tersebut, wajah polos tanpa make-up. Sama persis seperti wajah yang ia lihat malam itu setelah mandi.
Gadis yang bahkan tidak mengambil amplop berisi uang sekian juta yang ia tinggalkan di meja kamar hotel. Pihak hotel meneleponnya pagi itu:
'Pak Garra, tamu wanita di kamar 4208 sudah check out, tapi amplop Bapak masih utuh di atas meja. Apa perlu kami simpan?'
Tidak ada wanita yang pernah menolak uang darinya. Elisa yang pertama.
"Pak, mau dilanjutkan pencariannya lewat kampus?" tanya Alex.
Anggara menutup map itu pelan.
"Jangan lewat kampus. Aku mau lihat dari jauh saja."
Anggara tidak tahu kenapa ia melakukan ini. Ia hanya tahu, sejak malam itu, bayangan gadis yang pergi tanpa mengambil uangnya, justru menjadi satu-satunya jejak yang tidak bisa ia hapus dari kepalanya.
Di sisi lain, Tante Rita dibuat kesal. Ia tidak bisa menemukan Elisa.
"Kemana perginya anak sialan itu? Hem ... aku akan cari di kampusnya!"
Wanita itu mencari Elisa seperti Elisa telah membawa kabur hartanya. Padahal, justru sebaliknya. Transferan dari Anggaran, hanya berapa persen saja diberikan pada Elisa. Itupun untuk rumah sakit. Dan beberapa juta saja diberikan pada Bu Utami saat menjenguk dulu.
Padahal sekarang sodaranya sudah meninggal dunia. Bukannya kasian pada Elisa, dia justru mau membawa Elisa masuk dalam kubangan lumpur hitam bersamanya. Hati nuraninya sudah lama mati, karena menganggap uang adalah segalanya.
Suatu pagi, Elisa terbangun dengan sakit kepala. Seperti habis naik rollercoaster, kepalanya pusing.
Di kos cuma sendiri, sambil memegangi kepalanya, ia mencari obat bodrek. Biar sakit kepalanya berkurang. Setelah minum, dia kemudian rebahan. Malah berlanjut sampai ketiduran dan bangun sudah jam 8 pagi.
Lisa pun buru-buru mandi, tanpa sarapan, dia langsung menyambar tas ransel miliknya. Ia jalan kaki ke kampus, tidak jauh. hitung-hitung sambil olahraga.
Namun, baru sampai pertigaan perutnya langsung nyeri, seperti mau datang bulan.
"Sakit banget!" gumamnya lirih.
Elisa berhenti dulu, dia mampir ke sebuah warung di dekatnya. Minta teh hangat dan mie goreng.
"Bu, teh anget satu sama mie goreng ya. Pakai telur."
"Iya, neng!"
Belum juga pesanan dihidangkan, Elisa meringkuk menekan perutnya. Ditambah PD nya nyeri sebelah.
"Bu ... ada obat pereda nyeri?" tanya Elisa dengan muka pucat dan menahan sakit.
"Sakit, Neng? Tunggu ... Ibu Carikan!"
Dua menit kemudian, Elisa minum obat pereda nyeri. Barulah ia merasa sedikit mendingan. Ia sarapan dulu, mengabiskan teh hangat nya. Duduk lima menitan, lalu jalan lagi ke kampus, karena memang sudah sangat dekat.
Jam 2 siang.
Elisa duduk sendiri di bangku taman, Susan langsung berlari dan mendekat. Ia duduk tepat di sebelah Elisa.
"Tadi kenapa telat?" tanya Susan.
Elisa senyum kecil, "Kesiangan."
"Kamu ini, untung bukan dosen killer. Oh ya. aku punya nih. Oleh-oleh dari Abang, kemarin dari luar kota."
Susan mengeluarkan makanan, sejenis dodol. Rasanya rasa durian. Aromanya menyengat, kepala Elisa yang sejak pagi agak pusing, langsung menyipitkan matanya.
"Masukin lagi! Sorry Susan ... lagi sensitif sama bau. Kepalaku pusing sejak semalam."
"Eh ... Kamu ini. Biasanya paling doyan makanan apapun rasa duren. Ya sudah, kamu bawa pulang saja ya!" pinta Susan.
Elisa menggeleng, saat kotak itu disodorkan ke arahnya. Ia refleks satu tangannya menutup hidung.
"Ih. Lebay banget kamu, Lis. Macam orang ngidam saja!" celetuk Susan dibarengi tawa yang renyah.
Namun, ekspresi wajah Elisa langsung berubah kaku.
(Ngidam? Tidak ... itu tidak mungkin)
Bersambung
♥️ komen ya besty....
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,