Karena suami dari putrinya miskin, seorang ayah rela menjual putrinya kepada pria lain untuk membayar hutang judinya. Tapi ayah brengsek itu tidak tau jika pria yang membeli putrinya adalah putra menantunya sendiri. Semua rasa bersalah dari perbuatan ayahnya itu ia tanggung sendiri kepada sang suami. Tapi herannya, suaminya tidak marah saat mengetahui jika istrinya dijual dan dihamili oleh pria lain. Apakah Gina Penelope akan memaafkan sang suami karena telah mempermainkannya? Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Gina dan suaminya setelah kejadian satu malam dengan pria lain? Baca novel ini dan dukung untuk jadi favorit ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANIK MODE ON
Ben, asisten Abraham yang ada di California untuk mengawasi Gina masih panik karena tidak bisa mengabari kondisi istri bosnya itu.
"Aduh! Kemana sih bos! Sekarang sudah jam 9 malam disini seharusnya di London sudah jam 6 pagi, kenapa belum terhubung juga" keluhnya yang saat ini berada didepan rumah orang tua Gina karena Gina pulang kesini.
Sambil menunggu, Ben pun masuk ke mobilnya lagi dan tak lama kemudian tertidur saat dirasa bos istrinya tidak akan keluar malam malam.
Sedangkan saat ini di London, jam 6 pagi, Abraham berada di kantor polisi. Tadi malam setelah makan malam bersama keluarga, ia pergi ke club bersama teman teman prianya termasuk Yohanes karena salah satu temannya itu besok akan menikah.
Namun karena mabuk, ia dan Yohanes kecelakaan ringan dan membuat keduanya saat ini berada di kantor polisi dengan alasan mengemudi dalam keadaan mabuk.
HP Abraham sudah lowbat sejak berada di club sehingga Ben dan Gina tidak bisa menghubungi.
Yang datang pagi pagi untuk mengurus Abraham dan Yohanes di kantor polisi adalah Abram.
"Ck...kalian itu seperti masih anak kecil aja senang melanggar aturan" celetuk Abram yang menjadi supir untuk kedua pria itu.
"Maafkan aku, Kak, dan terima kasih sudah mau menjadi kontak daruratku" ucap Abraham.
"Aku juga sangat berterima kasih kepada Tuan Abram, karena telah bersedia menyelamatkan kita dari kantor polisi" timpal Yohanes yang memang memanggil kakak sahabatnya dengan panggilan Tuan sejak Abram menjadi direktur perusahaan.
Dulu saat masih sekolah, ia memanggil Abram dengan panggilan kakak juga, namun mengingat posisi Abram yang sudah menjadi pewaris dan direktur sebuah perusahaan, ia lebih menghormati.
Abram hanya bisa menghela nafas berat.
"Dengan sikapmu yang seperti ini, apa kamu sudah benar benar kembali kesini, Ham?" tanyanya kepada sang adik.
"Belum, Kak. Kemarin itu kita bertemu karena Rodeo akan menikah jadi ada acara lepas lajang. Aku berniat akan kembali pergi nanti siang" jawab Abraham.
"Sudahlah, kembali saja kesini dan urus perusahaan IT mu dengan baik bersama Yohanes agar kamu tidak diremehkan lagi sama daddy" ucap Abram.
"Tidak bisa, aku masih harus bersama istriku di California" balas Abraham.
Tiba tiba Abraham mengingat sesuatu.
"Astaga! Aku belum tau kabar ibu mertuaku!" paniknya.
Lalu ia menyadari hp nya sudah lowbat sejak berada di club.
"Kak pinjam charger. Mobilmu bisa buat cas hp kan ?" tanya Abraham.
"Hmm..taruh saja di situ. Sudah ada magnet chargernya" balas Abram lalu Abraham meletakan ponselnya di tempat charger secara otomatis.
Yohanes diam saja karena dia hanya orang lain dari hubungan adik kakak Alexander itu.
"Tuan, turunkan saya di perusahaan Wonderland IT saja" mintanya kemudian.
"Hari ini hari Minggu, apakah kamu tetap bekerja?" tanya Abram heran.
"Tidak, hanya saja aku perlu mengambil tas laptopku yang tertinggal" balas Yohanes.
"Baiklah, sejalan dengan arah mobil ini" ujar Abram.
"Terimakasih" ucap Yohanes.
Lalu tak lama kemudian, sudah sampai di kantor Wonderland IT. Yohanes turun dari mobil Abram.
Kini Abram dan Abraham berdua saja di mobil.
"Kamu sangat ceroboh, Ham. Kamu tau itu?" kesal Abram.
"Hmm..iya.." sahut Abraham pasrah.
"Mobil yang kamu pakai itu mobil terbaru ku yang kau pinjam tadi malam sekarang berakhir di bengkel" ucap Abram.
"Hmm iya, Kak. Aku tau..aku akan memperbaikinya seperti baru, tenang saja" balas Abraham.
"Ck..mentang mentang sudah memiliki perusahaan seakaan akan kamu bisa membeli semuanya dengan uang. Jika begitu, beli saja mobilku dengan harga aku membelinya kemarin. Aku tidak suka mobil baru yang terluka" minta Abram.
Kini Abraham menatap tajam sang kakak.
"Oke oke..aku akan membeli mobilmu, puas?" sahutnya.
Abram diam saja tapi memberikan senyum tipis.
Lalu Abraham melihat hpnya yang sudah menyala.
Ada sekitar 50 pesan dari Ben dan banyak panggilan tidak terjawab dari asistennya itu serta 1 panggilan tidak terjawab dari sang istri.
"Bos, ada kabar buruk"
"Bos, angkatlah panggilanku"
"Bos, kamu dimana?"
"Bos! Astagaaa!!"
"Bos, ibu mertua anda tidak selamat dalam operasi hari ini"
"Bos! Angkat teleponnya!"
"Bos, dokter George membantu Nyonya Gina selama pemakaman ibu mertua anda"
"Bos! Tolong angkat teleponnya"
"Bos! Nyonya Gina pulang ke rumah orang tuanya"
"Bos, anda dimana?"
"Bos, kasihan nyonya bos"
Pokoknya pesan pesan Ben membuat Abraham langsung mengenggam hp nya lalu membuka aplikasi perjalanan untuk membeli tiket menuju California secepatnya.
"Kak, antar aku ke bandara" mintanya membuat Abraham mengerutkan kening.
"Kenapa?" tanya Abram.
"Ibu mertuaku meninggal karena operasi kemarin. Gina sendirian" jawab Abraham jujur karena kakaknya sudah tau kehidupannya.
"Baiklah" sahut Abram menurut tanpa berkomentar lain.
Abraham langsung menelepon Ben.
"Sekarang gimana keadaan Gina?" langsung pertanyaan ini yang terlontar saat panggilannya terhubung.
"Kemana saja anda, Bos. Nyonya benar benar sendirian" malah mendapatkan omelan dari asistennya.
"Jawab saja pertanyaanku" balas Abraham.
"Hmmm, Nyonya saat ini sudah dirumah orang tuanya, Bos. Kasihan, sendirian tanpa ada yang menemani. Nyonya juga pasti marah karena anda tidak bisa dihubungi disaat terpuruknya" sahut Ben.
"Awasi dia ya. Ini aku sedang perjalanan ke California" ujar Abraham.
"Siap, Bos. Cepatlah datang" ucap Ben.
Lalu panggilan selesai.
"Jam berapa pesawatnya?" tanya Abram.
"Jam set 10 pagi, Kak" jawab Abraham.
"Masih ada waktu untuk kamu sarapan di bandara nanti, jangan sampai lupa mengisi perutmu" ucap Abram perhatian kepada sang adik.
"Iya kak" sahut Abraham.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke bandara.
Sesampainya di bandara, Abram menurunkan adiknya dan dia tidak turun.
"Thank you, Kak" ucap Abraham.
"Cepat selesaikan urusanmu disana dan kembalilah kesini" sahut Abram.
Abraham mengangguk ragu ragu.
Lalu mereka berpelukan singkat.
Abram meninggalkan bandara dan Abraham masuk untuk boarding pass.
Saat sudah berada diruang tunggu, Abraham mencoba menelpon istrinya meskipun tau jika di California masih sekitar pukul 12 malam alias tengah malam.
"Halo, Gina" sapa Abraham saat panggilan ternyata terhubung.
"Kamu dimana?" tanya langsung sang istri.
"Aku perjalanan kembali ke California. Tunggu aku pulang" jawab Abraham.
"Kamu tidak usah pulang. Kita akan bercerai. Senin besok aku akan meminta William membantu perceraian kita" sahut Gina.
Deg!
Abraham langsung mengepalkan tangannya.
"Tunggu aku, aku akan segera pulang" ucapnya.
"Kamu tau apa yang terjadi pada ibuku? Dia sudah tiada, ayahku di penjara, dan suamiku tidak ada disampingku. Buat apa lagi aku menunggu seseorang? Sudah cukup semua masalah dalam keluargaku. Lebih baik aku tidak memiliki siapa siapa" balas Gina.
"Aku benar benar turut berduka cita atas kepergian Ibu. Kamu memiliki ku dan anak kita. Kita akan jadi keluarga bahagia, sayang" bujuk Abraham.
Suara tawa kikihan yang terdengat menyakitkan dari Gina.
"Anak kita? Hahaha, ini bukan anakmu, Abraham. Aku sudah mengkhianati mu. Jadi tanda tangani surat cerai kita besok senin" jujur Gina, pada akhirnya ia memilih membuka aib baginya untuk bisa menjadi alasan perceraian.
"Tidak mungkin bukan anakku, kita saling mencintai i dan kamu gak mungkin berselingkuh dariku" sahut Abraham.
Gina terdiam dan tidak langsung menyahuti.
"Gina..sayang..dengarkan aku.." panggil Abraham.
"Tidak ada yang perlu aku dengarkan lagi darimu, Abraham. Kita tidak harus tetap bersama hanya untuk saling menyakiti. Lebih baik kita berpisah sebelum kita sama sama kehilangan jati diri" sahut Gina.
"Ta..." belum juga selesai memberi balasan, Gina sudah mematikan panggilannya.
Abraham jadi panik.
Lalu menelepon Ben.
"Awasi Gina, jangan sampai kelepasan. Dia akan menceraikanku dan aku tidak akan membiarkannya" ucapnya.
"Siap, bos!" seru Ben.
Tapi ternyata, Ben tertidur saat matahari mulai terbit. Tubuhnya kelelahan karena semalaman tidak tidur dan berada di tempat persembunyian.
lanjut thor