Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
devan menahan diri
Layar ponsel Devan yang memantulkan pesan ancaman itu bagaikan selimut es yang menyergap seisi meja kafe.
Foto-foto pribadi Aura yang selama ini tersimpan rapat di kamar gelap Devan kini nyata berada di tangan orang asing.
"Devan..." Suara Aura bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi, kedua tangannya mencengkeram tepi meja kayu untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa lemas.
"I-itu foto-foto aku... Gimana kalau besok pagi orang itu benar-benar menyebarkannya di papan pengumuman kampus?"
Devan langsung mematikan layar ponselnya dengan gerakan cepat, memasukkannya ke dalam saku jaket kulitnya.
Wajahnya yang semula tampak hangat saat mengerjakan desain visual tadi kini kembali membeku, berubah menjadi topeng dingin yang asing dan berjarak.
"Jangan panik, Aura," kata Devan datar, meski matanya memancarkan kemarahan yang amat pekat. "Kamu pulang sekarang. Biar gue yang urus masalah ini."
"Nggak! Aku ikut kamu!" potong Aura cepat, menyambar tali tasnya.
"Nomor itu minta kamu datang ke gudang kosong belakang kampus, kan? Itu pasti jebakan, Devan! Aku nggak mungkin membiarkan kamu ke sana sendirian!"
Aura melangkah mendekat, tangannya terulur hendak memegang lengan Devan untuk menahannya. Namun, tepat sebelum jemari Aura menyentuh kulitnya, Devan secara refleks mundur satu langkah besar.
Aura menghentikan tangannya di udara, tertegun kaget melihat gerakan menghindar dari Devan.
"Jangan sentuh gue, Aura," bisik Devan.
Suaranya terdengar sangat rendah, penuh penekanan yang menusuk, tapi jika didengar lebih teliti, ada nada kesakitan yang mendalam di dalamnya.
"Devan... kenapa?" tanya Aura lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa kamu mendadak bersikap kayak gini lagi?"
Devan mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di dalam saku jaket, berjuang setengah mati menahan dorongan di dadanya untuk merengkuh cewek di depannya itu.
Setiap kali ia membiarkan dirinya merasa dekat dengan Aura, bahaya selalu saja mengintai gadis itu.
Foto-fotonya dicuri, namanya terancam tercemar, dan karier akademisnya berada di ujung tanduk—semuanya karena Devan.
"Lihat pesan tadi, Aura!" sentak Devan pelan, matanya menatap Aura dengan pandangan tajam yang dipaksa keras.
"Semua kekacauan ini terjadi karena gue! Karena gue yang lancang memotret kamu dan menyimpan foto-foto itu! Kalau dari awal gue sadar diri dan nggak pernah masuk ke kehidupan kamu, kamu nggak bakal mengalami ancaman gila kayak begini!"
"Ini bukan salah kamu, Devan!" pangkas Aura, air matanya menetes melewati pipi.
"Kamu mengambil foto-foto itu bukan buat hal jahat! Aku udah melihat semuanya, aku tahu perasaan kamu!"
"Tapi orang-orang kampus nggak bakal peduli sama perasaan gue, Aura!" bentak Devan, suaranya serak menahan sesak di dada.
"Di mata orang kampus, gue cuma bajingan urakan! Dan semakin kamu membela gue, semakin kamu terseret ke dalam lumpur hitam hidup gue!"
Devan membuang mukanya ke samping, menolak menatap mata jernih Aura yang dibasahi air mata.
Ia memaksakan dirinya mengambil jarak, menahan benteng pertahanan yang semalam sempat runtuh.
"Mulai detik ini," kata Devan dingin, tiap katanya terasa bagai sembilu yang mengiris hatinya sendiri, "jangan pernah berjalan di samping gue lagi. Kalau kita ketemu di kampus, berpura-puralah kita nggak saling kenal. Jangan bicara sama gue kalau nggak ada hubungannya sama tugas kelompok."
"Devan, tolong jangan begini..." bisik Aura memohon, matanya menatap Devan penuh luka.
"Kamu nggak harus menanggung semuanya sendirian."
"Gue emang dari dulu sendirian, Aura," potong Devan tanpa ampun. Ia melangkah mundur lagi, makin menjauhkan dirinya dari jangkauan Aura.
"Tugas visual buat pameran udah ada di flashdisk kamu. Besok pagi serahkan itu ke Reno. Urusan foto-foto di pesan tadi... biar gue selesaikan pakai cara gue sendiri."
Tanpa menunggu balasan dari Aura, Devan membalikkan badannya dan melangkah lebar keluar dari kafe.
Aura berdiri mematung di tengah kafe yang mulai sepi. Ia memandangi punggung Devan yang makin menjauh menembus kegelapan malam.
Rasa sakit di dadanya begitu nyata. Ia tahu Devan tidak benar-benar membencinya; sebaliknya, Devan sedang menahan diri setengah mati dan mengorbankan perasaannya sendiri hanya demi menjaga Aura agar tetap aman dari bahaya yang mengintainya.
Sementara itu, Devan berjalan cepat menembus dinginnya malam menuju area belakang kampus.
Setiap langkah kakinya terasa berat, bayangan tangisan Aura terus membayang di dalam kepalanya.
Rasa frustrasi dan amarah bercampur menjadi satu, membakar darahnya hingga mendidih.
Ia mengambil jalan pintas melewati lorong-lorong sempit di dekat area laboratorium tua.
Tangannya mencengkeram erat tali tas kameranya, siap menghadapi siapa pun bajingan yang berani memeras dan mengancam kehidupan Aura.
Namun, saat Devan baru saja melewati belokan lorong sepi yang gelap di dekat gudang kosong, langkah kakinya mendadak terhenti.
Suara gesekan langkah sepatu di atas semen basah terdengar dari balik kegelapan.
"Akhirnya datang juga si pahlawan kesiangan..."
Sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari balik bayangan tiang beton.
Sosok cowok berpakai rapi melangkah keluar dari kegelapan, menggenggam sebuah amplop cokelat tebal di tangannya sambil tersenyum culas.
Reno.
Devan tidak terkejut. Rahangnya mengeras seketika, matanya menyala penuh dendam. "Jadi emang lu pelakunya, Reno."
Reno terkekeh pelan, mengayun-ayunkan amplop cokelat itu di udara.
"Gue cuma memanfaatkan kesempatan, Dev. Lagian, gampang banget ya membobol kontrakan kumuh lu itu. Dan gue nggak menyangka... isi kamar gelap lu se-fantastis ini."
Reno menarik keluar beberapa lembar foto fisik dari dalam amplop—foto-foto Aura yang sangat indah dan penuh perasaan—lalu memamerkannya di depan wajah Devan.
"Gila ya," puji Reno dengan nada melecehkan.
"Cewek secantik dan seanggun Aura... ternyata dikoleksi sama preman jalanan kayak lu. Kalau Pak Surya sama seluruh anak kampus melihat foto-foto ini besok pagi di papan pengumuman... kira-kira gimana ya nasib jabatan ketua panitia dan nama baik Aura?"
Devan melangkah maju satu tindak, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah sangat mencekam.
"Serahkan foto-foto itu ke gue, Reno. Sebelum gue habiskan lu malam ini."
"Eits, santai!" Reno tertawa sinis, merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pemantik api (zippo) berenamel perak. Ia menyalakan apinya, membiarkan lidah api kecil itu menari-nari tepat di bawah sudut lembaran foto-foto Aura.
"Satu langkah lagi lu maju, Dev..." ancam Reno dengan mata berkilat gila, "...semua foto ini beserta file digitalnya bakal gue bakar habis malam ini, dan cetakan sisanya langsung gue sebar ke grup angkatan kampus!"
Devan mendadak membeku di tempatnya. Tangannya mengepal begitu keras hingga perban luka di pergelangan tangannya kembali meneteskan darah segar.
Bersambung...