Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 Hari
Hari berganti hari tidak tersakiti hari ini adalah hari ke tujuh meninggalnya Pak Zakir. Pagi ini di rumah almarhum ramai orang bantu-bantu. Karena untuk malam ke tujuh biasanya menyiapkan besek yang berisi nasi, lauk serta kue untuk orang yang ikut tahlil. Jadi mereka saat ini sibuk mengupas bumbu untuk memasak lauk. Sebagian ada yang membuat kue dan roti. Tiyas kebagian membuat roti donat. Meski hatinya masih kalud, namun ia harus tetap semangat di hadapan banyak orang. Saat ini sudah sampai di tahap proving.
"Tiyas, donatnya mau di toping apa?"
"Misis saja, dri. Orang sini mana suka sama keju. Ya kan?"
"Iya juga sih. Sudah beli misisnya? "
"Iya sudah."
"Nanti mau bikin kue apa lagi?"
"Kue putu sama onde-onde."
"Kalau itu sih bagiannya emakku jagonya."
Tiyas membalasnya dengan senyuman.
"Bapak, ndak terasa hari ini sudah tujuh hari bapak meninggalkan aku. Setelah ini, Tiyas akan benar-benar merasa kesepian, pak." Batinnya.
Beralih ke rumah Zain.
Sat ini Zain sedang bingung. Apa lagi semalam ia mimpi didatangi Pak Zakir. Dalam mimpinya Pak Zakir seakan mengharap bantuannya.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan."
Tiba-tiba handphone nya berdering. Ternyata Pak Jali yang menelponnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Mas Zain apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat, Pak. Bapak sendiri gimana?"
"Alhamdulillah saya juga sehat, mas. Apa mas Zain jadi mau ke rumah Pak Zakir hari ini?"
"Em... saya masih di Surabaya, Pak. Saya belum memberitahu orang tua saya soal kejadian itu. Hati saya rasanya tidak tenang, Pak. InsyaAllah setelah ini, saya mau bicara dengan orang tua saya dulu."
"Memang lebih baik jujur, mas. Saya yakin bapak dan ibu mendukung mas Zain."
"Iya Pak."
"Kalau begitu saya tutup dulu telponnya. Nanti hubungi saja saya kalau memang jadi ya."
"Baik, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah menutup telponnya, Zain menaruh handphone nya di atas nakas. Dengan keyakinan yang penuh, akhirnya ia pergi menemui kedua orang tuanya sebelum sarapan.
Tok tok tok
Zain mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Tunggu sebentar."
Ummi membuka pintu kamarnya.
"Abang, ada apa?"
"Em... ummi boleh Zain bicara?"
"Sama ummi apa abi?"
"Dua-duanya."
Ummi menoleh ke arah suaminya. Abi pun mengangguk.
"Ayo masuk, bang."
"Terima kasih, ummi."
Nampak abi sedang duduk di sofa kamarnya. Zain duduk di samping abi. Ummi pun duduk di samping Zain. Jadi posisi saat ini Zain di tengah-tengah mereka.
"Sepertinya ada hal penting, bang. Ada apa?" Tanya abi.
Zain menghela nafas panjang.
"Ummi, abi, maaf Zain sudah membuat kesalahan."
Melihat ekspresi wajah Zain yang sangat serius membuat ummi dan abi ketar-ketir. Mereka takut putra sulungnya melakukan kesalahan besar.
"Bang, kamu tidak sedang menghamili anak orang, kan?" Tanya abi.
"Astaghfirullah... abi, mana mungkin Zain begitu." Sahut Zain.
"Iya nih abi. Dengerin dulu anaknya."
Zain pun mulai bercerita tentang kejadian yang menimpanya beberapa hati yang lalu. Ia tidak menutup-nutupi apa pun.
Mendengar cerita putranya, abi dan ummi cukup terkejut. Namun mereka yakin Zain tidak sengaja. Kejadian tersebut begitu cepat. Dan keadaan yang cukup gelap tentu akan membuat siapa pun bisa melakukan kesalahan.
"Bagaimana dengan keluarga korban, bang. Mereka tidak menuntut, kan?"
"Ummi, Pak Zakir hanya memiliki seorang anak perempuan. Keluarganya sudah tidak ada semua. Jadi saat ini tinggal anaknya saja seorang diri. Anaknya mungkin masih menyalahkan Zain. Zain terima itu. Mungkin dia masih syok dan emosi. Siapa pun pasti akan begitu."
"Anaknya laki-laki?"
"Perempuan."
"Ya Allah, kasihan sekali. Ummi tidak bisa membayangkannya perasaannya, bang."
"Lalu apa yang harus Zain lakukan, ummi, abi?"
Ummi dan abi saling berpandangan.
"Pantas saja saat itu perasaanku tidak enak. Ternyata sesuatu telah terjadi kepadamu. Firasat seorang ibu memang tidak pernah salah."
"Maafkan Zain, ummi. Zain merasa sangat bingung dan takut membuat ummi
"Penuhi tanggung jawabmu kepada ahli waris korban. Jika memang anaknya mau menuntutmu hadapi saja. Abi yakin kamu akan menang. Tapi semoga saja anaknya menyadari bahwa semua ini adalah takdir dan bisa memaafkanmu."
"Iya, abi."
"Begini saja, kalau memang hari ini kamu ingin berkunjung ke sana, kami mau ikut. Kita naik pesawat saja biar cepat. Biar abi minta Wawan belikan tiket online." Ujar abi.
"Serius, abi?"
"Iya."
Akhirnya Zain pamit keluar dari kamar mereka. Ia merasa lega karena sudah bercerita kepada orang tuanya.
Beberapa saat kemudian, Zain, Zean dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang makan untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan, abi memberitahu soal rencana perjalanannya bersama ummi dan Zain ke Semarang hari ini.
"Kok mendadak, bi? Ke rumah Om Raka apa soal proyek?" Sahut Zean.
"Ada urusan yang harus diselesaikan. Zean, kamu handle dulu kantor pusat."
"Siap, abi."
Sebenarnya Zean penasaran. Namun ia akan menanyakan nanti kalau abangnya sudah kembali.
Akhirnya abi, ummi, dan Zain bersiap-siap untuk pergi ke Bandara. Zain pun segera menghubungi Pak Jali.
Singkat cerita, mereka sudah berada di dalam pesawat. Sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Di tengah perjalanan, ummi pun mengajak Zain ngobrol santai. Ummi tidak ingin Zain tertekan.
"Bang, anaknya Pak Zakir umur berapa?"
"Kurang tahu ummi, tapi sudah cukup dewasa. Mungkin 19 atau 20 tahun-an."
"Oh... belum menikah?"
"Sepertinya belum."
"Tapi biasanya kalau perempuan di kampung itu umur muda sudah tunangan."
"Mungkin."
Tidak terasa pesawat mereka sudah sampai di Bandara Semarang. Waktu menunjukkan pukul 13.30.Dan sebentar lagi mereka akan turun dari pesawat. Di Bandara mereka sudah dijemput oleh Pak Jali. Setelah mengambil barang-barangnya mereka segera keluar. Hampir satu jam Pak Jali menunggu.
Nampak dari kejauhan Pak Jali melambaikan tangan seraya tersenyum.
"Selamat siang, Pak, bu, mas Zain. "
"Selamat siang, Jali." Sahut abi.
Sedangkan ummi dan dan Zain menganggukkan kepala.
"Mari saya bantu bawakan."
Mereka berjalan menuju ke parkiran.
"Kita langsung ke mana ini, pak? "
"Ke rumah Pak... Pak siapa yang meninggal?"
"Pak Zakir."
"Iya, Pak Zakir."
"Baik, Pak. "
Pak Jali pun segera tancap gas menuju rumah Pak Zakir.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Semua persiapan untuk acara tahlilan baru saja rampung. Para tetangga sudah pulang. Tinggal Tiyas dan Indri saja yang saat ini sedang menemui beberapa tamu yang melayat.
Perjalanan dari Bandara ke rumah Pak Zakir kurang lebih dua jam. Beruntung hari ini jalanan tidak macet, jadi mereka bisa sampai lebih cepat.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf Othor revisi ceritanya. Zain di sini bukan anak pertama tapi anak keempat. Othor lupa kalau ternyata triple A yang anak pertama kedua dan ketiga di novel yang dulu. Dan di sini berarti triple A sudah berkeluarga. Jadi sekali lagi mohon maaf🙏
maju Zain pantang mundur.. hehehehe