Tiga puluh dua panggilan tak terjawab. Satu kotak putih kecil yang dibuang seperti sampah. Dan seorang suami yang memilih menemani perempuan lain.
Dua tahun Maya Nugroho menjadi istri yang tak boleh dikenal siapa pun. Ketika mobilnya dilempar ke sungai dan ia kehilangan bayinya, Dimas Wiratama, pewaris Grup Wiratama yang dingin dan selalu merasa benar, bahkan tak sempat bertanya apa yang terjadi padanya.
Maya memilih pergi.
Yang tak diketahui keluarga itu: perempuan yang mereka remehkan sebagai "analis junior" adalah Aro, nama paling ditakuti di dunia teknologi, orang yang bisa menahan kontrak bernilai miliaran hanya dengan satu laporan penilaian. Dan ada satu rahasia lain yang Maya sembunyikan rapat-rapat dari Dimas.
Kini keluarga Wiratama menekan lewat perawatan ayahnya, musuh lama memasang jerat, dan sebuah kebohongan besar mulai retak dari dalam. Maya harus bertahan demi satu-satunya hal yang tak akan ia biarkan hilang lagi.
Ketika kebenaran akhirnya terbuka, Dimas hanya punya satu kata untuk dirinya sendiri: terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
capitulo-007
Bab 7 — Hasil Pemeriksaan yang Tak Cocok
Rania menemukanku di kamar mandi setelah makan siang.
"Kamu muntah lagi?"
Aku mengangguk dan membasuh wajah.
"Mungkin karena pemulihan."
Dia membawakan air minum, tapi tidak beranjak dari ambang pintu.
"Mungkin. Tapi kamu tetap harus kembali ke dokter. Surat-surat dari rumah sakit itu tidak menjelaskan dengan benar apa yang terjadi."
Aku sudah mencoba membacanya. Laporan pemeriksaan kehamilanku menyebut satu janin. Setelah tindakan, mereka bilang ada dua dan aku kehilangan keduanya.
Memikirkan konsultasi baru membuatku takut. Aku tak mau berbaring lagi di depan layar lain untuk mendengar bahwa tak ada siapa-siapa lagi di sana.
"Mama bisa menerimamu besok," kata Rania. "Aku ikut."
Aku setuju.
Dokter Hesti Farida membaca hasil-hasil pemeriksaan dan laporan rumah sakit sebelum memeriksaku. Dia memisahkan dua lembar dan kembali ke lembar pertama.
"Siapa yang memantau kehamilanmu?"
"Dokternya berganti-ganti tiap kontrol. Saya menerima siapa pun yang mereka tunjuk."
"Dan kapan mereka bicara soal kembar?"
"Setelah tindakan. Saya tanya apakah saya kehilangan keduanya. Mereka bilang ya."
Dia memeriksa lembaran itu sekali lagi.
"Rekam medisnya tidak lengkap. Saya ingin memeriksamu dan meminta catatan yang kurang."
Hesti memintaku menceritakan kejadian itu sesuai urutan yang bisa kuingat. Dia tidak mulai dari apa yang tertulis di laporan.
Kuceritakan soal mobil, air, dan penantian. Ketika sampai pada saat aku sadar setelah tindakan, urutannya hilang. Rania membuka tas untuk mencari kertas-kertas itu, tapi dokter memberi isyarat agar tidak mendesakku.
"Kamu ingat siapa yang bicara denganmu?"
Kugambarkan wajah dokter pertama. Aku tak tahu namanya. Aku lebih ingat kotak putih itu daripada tanda pengenal siapa pun.
"Seharusnya saya bertanya lebih banyak," kataku.
"Kamu sedang menghadapi keadaan darurat. Kita cari informasinya sekarang."
Jawaban itu sedikit melegakanku. Sejak pulang, aku terus mengulang dalam hati semua yang seharusnya kulakukan lain, seakan satu pertanyaan tambahan bisa mengembalikan anak-anakku.
Hesti menunjukkan formulir yang harus kusetujui untuk permohonan rekam medis. Kuperiksa nomor rumah sakitnya, lalu kutandatangani.
"Sakit, Dokter?" tanyaku ketika dia menunjuk ranjang periksa.
Suaraku pelan. Biasanya aku tak takut pada pemeriksaan sederhana. Di ruangan itu, aku takut pada apa yang akan muncul di layar.
Rania melepas jaketnya dan menaruhnya di kursi.
"Aku tidak akan ke mana-mana."
Dokter menjelaskan apa yang akan dilakukannya sebelum menyentuhku. Kutunggu dia menyingkirkan kertas dari ranjang, lalu duduk hati-hati. Sesaat, karena kebiasaan, mataku mencari Dimas di pintu, padahal aku tahu dia tak akan datang.
Lalu kupandang Rania. Dialah yang menemaniku. Kuulurkan tangan, dan sahabatku menggenggamnya tanpa perlu diminta.
Aku berbaring, Rania di sisiku. Dia menggenggam tanganku selagi dokter menggerakkan alat di atas perutku.
Hesti berhenti, menyesuaikan gambar, dan memeriksa titik yang sama lebih lama.
"Ada apa?" tanyaku.
Dia memutar layar ke arahku.
"Maya, saya melihat satu bayi dengan detak jantung."
Kupandangi monitor itu tanpa mengerti.
"Bayi yang hidup?"
"Ya."
Rania meremas tanganku. Kudengar bunyi detak itu dan mulai menangis.
"Tapi mereka bilang saya kehilangan keduanya."
"Saya tahu. Apa yang saya lihat sekarang bertentangan dengan kesimpulan itu."
Dokter melanjutkan pemeriksaan sambil menjelaskan apa yang bisa dia amati. Salah satu bayi kembar itu selamat. Dia masih perlu meninjau catatan penanganan untuk memahami bagaimana rumah sakit menyimpulkan bahwa kehamilannya berakhir.
"Jadi kotak itu..."
Aku tak sanggup menyelesaikannya. Teringat petugas yang membenarkan bahwa isinya jenazah keduanya.
Hesti mendekat.
"Saya tidak bisa memastikan apa yang mereka masukkan ke dalamnya. Saya akan meminta dokumentasinya. Sekarang kita harus merawat kamu dan bayi ini."
Kuminta dia menunjukkan detaknya sekali lagi. Aku takut berpaling lalu mendapati aku salah paham.
"Bisa tahu jenis kelaminnya?"
Dia memeriksa sedikit lebih lama.
"Dari gambarnya, tampaknya perempuan. Kita pastikan di pemeriksaan berikutnya."
Seorang anak perempuan. Kuletakkan tangan di perut sambil terus menangis. Aku lega untuknya dan sedih untuk bayi yang tidak selamat. Aku tak tahu bagaimana merasakan keduanya sekaligus.
Rania menempelkan dahinya ke dahiku.
"Dia di sini, May."
Hesti menunggu sampai aku bisa duduk, lalu menjelaskan pemantauan selanjutnya. Dia harus meninjau ulang hasil-hasil pemeriksaan, memeriksa obat-obatan yang kuterima, dan memantau kehamilan ini dengan ketat setelah trauma.
"Golongan darahmu Rh negatif. Saya juga akan memeriksa perawatan yang tercatat di rumah sakit itu," katanya. "Saya ingin kamu pulang dengan jadwal kontrol dan nomor yang bisa dihubungi kalau ada keluhan."
Kuceritakan bagaimana pemulihanku, termasuk pembicaraan di kantor Dimas.
"Dia masih mengira saya hamil. Dia tak pernah sanggup mendengar saya menceritakan kehilangan itu. Katanya saya tidak boleh pergi selagi menunggu anaknya."
"Kamu merasa aman di dekatnya?"
Aku menggeleng.
Pertanyaan itu memperjelas ketakutan yang berusaha kututupi sejak kemarin. Kalau Dimas sudah memakai ayahku untuk menekanku, apa yang akan dia lakukan saat aku mencoba membawa putri kami pergi?
"Saya tidak mau dia tahu tentang konsultasi ini," pintaku. "Juga tentang kelalaian rumah sakit. Saya masih harus memutuskan bagaimana melindungi kami."
Hesti menjelaskan bahwa dia akan menjaga kerahasiaan data pasiennya. Rania berjanji menemaniku di setiap kontrol.
Sebelum pergi, aku minta salinan gambar USG. Kusimpan di tas, terpisah dari laporan yang menyatakan aku kehilangan kandunganku.
Aku ingin memercayai pemeriksaan itu. Di perjalanan pulang, berkali-kali aku membuka tas hanya untuk memandanginya lagi.